PERNIKAHAN MENDADAK

PERNIKAHAN MENDADAK
Episode 45


__ADS_3

" Buktinya dia masih saja mengejar istri orang sedangkan dulu dia lengah menjaganya dan anaknya." Ucap Ricki dan disaat da mengucapkan kata anak dia memelankan suaranya dan Nino menganggukkan kepalanya membenarkan.


" Terus apa rencanamu sekarang aku gak mau ya kejadian yang dulu terulang kembali." Ucap Nino yang pengen tau apa yang akan dilakukan Ricki selanjutnya karena dia tidak mau hal yang dulu terjadi dengan Mutia terulang kembali.


" Belum ada." Jawab Ricki, lalu menghelakan nafasnya berat. Jika Nino meliah wajah Ricki dia pasti akan langsung tau kalau Ricki sedang banyak fikiran.


" Kamu tu santai banget kalau kesampean istrimu direbut bagaimana." Ucap Nino sedikit kesel karena dia menganggap Ricki terlalu menyepelekan lawannya.


" Pukkk." Ricki memukul bahu Nino keras.


" Awww sakit tau Ric main pukul aja gak lihat apa kalau aku itu lagi nyetir mau apa kalau kita ketabrakan." Ucap Nino mengelus bahunya yang dipukul.


" Lagian salahmu sendiri sembarangan bicara itu semua gak akan aku biarkan selama aku masih hidup dan yang pastinya anak-anakku gak akan setuju memiliki papi baru." Ucap Ricki dingin tanpa rasa bersalah dia tidak terima ucapan Nino untuk mendapatkan Mutia saja memerlukan waktu 2 tahun menunggunya untuk siuman dari komanya ditambah dengan 3 bulan dia harus meyakinkan Mutia untuk menerima lamaranya.


" Rey gak mau punya papi baru, apa lagi kata kak Arsy dia sampai gak bisa ketemu dengan papanya dari lahir hiks... hiks.... hiks...." Ucap Rey yang langsung memeluk Mutia erat sambil menangis histeris.


Arsy adalah teman baru Rey yang beda usianya 5 tahun lebih tua dari Rey mereka bertemu secara tidak sengaja saat Arsy berliburan ke Amerika yang pada saat itu Rey sedang menunggu jemputannya diganggu oleh 2 orang dewasa dan Arsy menolongnya, walaupun pertemuan mereka singkat Rey selalu mengingat Arsy bahkan mereka sempat berfoto bareng dan mengatakan untuk selalu menjaga mama dan papanya karena dia memiliki mama baru sehingga tidak bisa ketemu dengan papanya mulai dari lahir.


Sifa melototkan matanya menyiratkan kamu sih sayang pakai sembarangan bicara jadi nangis kan Rey nya gak ada jatah malam ini Nino yang melihatnya dari kaca menelan ludahnya kasar.


" Rey benci sama om mendingan tante Sifa yang cari papi baru aja buat kak Nindi kalau sampai mami cari papi baru." Ucap Rey membuat Nino menjadi tersudutkan apa lagi dia sekarang ditatap oleh 2 orang yaitu Sifa dan Ricki.

__ADS_1


" Sial aku terpojok dasar bapak sama anak sama aja nyebelinnya, apa lagi anaknya mulutnya cerewet banget kayak mulut perempuan," Gerutu Nino dalam hati apa lagi mengingat setiap malamnya selalu direcokin oleh Rey yang meminta Sifa menupuk-nepuk pantatnya sampai tidur kalau enggak dia tidak akan tidur-tidur ditambah lagi Roy membuatnya selalu tidur di sofa.


Keesokan harinya


"  Kalian berdua dari mana saja? kenapa lama banget? kasihan anak-anak kalau terlambat berangkat ke sekolahnya apa kalian mau tanggung jawab kalau mereka nantinya dihukum hah?." Tanya Sifa yang mode cerewetnya mulai on terlebih mereka sudah menunggu keduanya lama sampai-sampai sarapan anak-anak sudah habis mereka berdua baru datang dan yang membuat Sifa heran Nino sudah menghilang sejak dia membuka matanya.


" Maaf tadi ada urusan sebentar." Ucap Nino yang langsung menduduki kursi bersiap untuk menyantap sarapan paginya sedangkan Ricki menghampiri Mutia yang sekarang sedang mencoba dekat kembali kepada Roy mencium kening dan memeluknya dari belakang dengan mesranya.


" Eh eh mau ngapain?." Tanya Sifa yang melihat Nino akan mengambil sandwich dan melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan.


" Makan emangnya apa lagi sayang." Jawab Nino santai.


" Makannya nanti aja antarkan dulu anak-anak ke sekolah." Ucap Sifa


" Iya benar gak apa-apa kan sayang makannya nanti setelah mengantar anak-anak." Ucap Mutia yang mengerti maksud dari Nino dan dia juga tidak enak hati.


" Iya sayang gak apa-apa." Ucap Ricki.


" Yang penting amunisinya harus diisi terus biar gak lemas." Bisik Ricki setelahnya agar tidak kedengaran dan Mutia hanya menganggukkan kepalanya


" Ck modus." Ucap Nino yang melihat Ricki membisikkan sesuatu dan sebagai sesama laki-laki dia tau itu

__ADS_1


" Ayo anak-anak kita berangkat sekolah." Ajak Ricki dan anak-anak langsung berdri dari duduknya dan menyalimi Mutia, Sifa dan Nino tidak lupa menciumi Roy dan Rea sebelum pergi.


Setelah keberangkatan Ricki dan anak-anak Mutia mulai membicarakan apa yang dia dan Ricki sudah bicarakan tadi malam untuk pindah ke rumah yang baru Ricki beli beberapa hari ini.


" Sifa Nino terima kasih ya selama ini telah membantu aku." Ucap Mutia tulus dan dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengannya kalau dia tidak memiliki sahabat seperti mereka berdua sebenarnya Mutia memiliki 6 orang sahabat dari dia SMA dan semuanya hanya ada di saat dirinya senang ketika dirinya susah semuanya menjauh dan hanya tersisa Sifa yang selalu ada di saat dia susah maupun senang. Hal itu yang membuat Mutia mulai sedikit-sedikit menjauh dari mereka dengan berpura-pura tidak memiliki uang sepeserpun yang pada akhirnya mereka sendiri yang menjauh, pada saat dia melanjutkan sekolahnya ke jenjang kuliah Mutia memilih berteman dengan laki-laki dari pada perempuan yang pernah merasakan pasti taulah.


" Apaan sih Mutia kita kan saudara harus saling membantu." Ucap Sifa.


" Iya betul kamu gak harus berterima kasih seperti itu." Ucap Nino ikut menyahuti karena tidak suka mendengar ucapan Mutia kalau dirinya merepotkan mereka dan membalasnya dengan tersenyum.


" Ehem... Fa No aku dan Ricki sepakat kalau kami akan pindah." Ucap Mutia yang langsung dipotong.


" Maksudmu kalian mau pergi ke Amerika lagi, terus bagaimana sekolah anak-anakmu kan kasihan kalau mereka harus pindah-pindah sekolah." Ucap Sifa sedih dia juga sudah terbiasa dengan suasana yang rame dengan anak-anak.


" Kami gak ke Amerika, kami hanya pindah rumah saja kamu jangan sedih gitu dong." Jelas Mutia.


" Kenapa harus pindah rumah? kenapa tidak tinggal di sini saja? atau kalian gak betah tinggal disini?." Tanya Sifa dengan memanyunkan bibirnya.


" Ya kami juga mau punya rumah sendiri gak numpang terus, kamu tenang aja Fa aku pindahnya gak jauh-jauh kok dari sini dan untuk sekolah anak-anak gak akan pindah mereka akan tetap sekolah disana kecuali Rey yang akan masuk sekolah yang sama dengan Ray." Jelas Mutia yang tidak mau sahabatnya itu sedih.


" Serius." Ucap Sifa masih tak percaya dan Mutia menggangukkan kepalanya.

__ADS_1


" Oh ya No tadi kalian ada urusan apa sampai selama itu?." Tanya Mutia penasaran Nino yang sedang mengunyah makanannya langsung tersedak.


" Uhuk... uhuk." Sifa langsung menyodorkan gelas yang berisi air putih dan langsung diminum sampai habis.


__ADS_2