PERNIKAHAN MENDADAK

PERNIKAHAN MENDADAK
Episode 46


__ADS_3

" Urusan kerjaan." Jawab Nino cepat mengelak.


" Kerjaan? kamu gak lagi membohongi aku kan?." Tanya Mutia menyelidik melihat ada gelagat yang mencurigakan.


" Eng gak ngapain juga aku ngebohogin kamu untungnya apa coba mendingan aku cari usaha baru ya kami lagi cari usaha baru." Ucap Nino yang mulai gelisah takut ketahuan apa yang telah dia bicarakan tadi dengan Ricki.


" It's ok aku percaya, tapi kalau sampai kamu membohongiku kamu akan tau akibatnya." Ucap Mutia santai, tapi dari kata-katanya mengandung ancaman yang membuat Nino harus waspada.


1 jam sudah Ricki mengantar anak-anak ke sekolah sekarang dia sudah balik ke rumah dan rencananya mereka akan pergi ke rumah papa Zainal untuk menyelesaikan masalah yang sudah bertahun-tahun belum terselesaikan karena Mutia yang lebih memilih pergi menghilang tinggal menunggu jam pulang sekolah anak mereka untuk mengenalkan mereka kepada papanya walau bagaimana pun mereka juga adalah cucu-cucunya.


"Gimana barang anak-anak sudah selesai dibereskan?." Tanya Ricki.


" Sudah emangnya kenapa?." Tanya Mutia heran.


" Nanti akan ada orang yang akan membawa barang-barang kita ke rumah baru sedangkan kita dan anak-anak akan ke rumah orang tuamu sekaligus memperkenalkan semua anak-anak kita dengan kakeknya." Jelas Ricki panjan lebar.


" Siap komandan, langsung aja yuk jalannya sekalian belikan apa gitu kan gak enak bertamu ke rumah orang gak membawa apa-apa." Ucap Mutia memberikan hormat dan karena dia sudah lama tidak ke Jakarta dia memutuskan untuk jalan-jalan dulu sambil menunggu jam pulang kedua anaknya sekaligus mendekatkan diri mereka lagi kepada Roy agar anak itu tidak takut lagi kepada mereka.


" Bukan rumah orang rumah orang tuamu." Ucap Ricki memperbaiki ucapan Mutia.


" Iya ya yuk." Ucap Mutia malas berdebat yang ada nantinya dia tidak jadi jalan-jalannya kan bosan kalau harus di rumah terus.


" Eh kalian sudah mau jalan aja." Ucap Nino yang melihat Mutia dan Ricki sudah rapi.


" Iya No biar nanti pulangnya gak kemalaman lagian kita harus beres-beres rumah baru." Ucap Mutia agar keduanya tidak terus menahan lebih lama di rumah mereka.

__ADS_1


" Yuk anak mami digendong sama papi ya kita naik mobil." Ucap MUtia dan Roy menganggukkan kepalanya senang akan naik mobil.


" Ya pi bu." Ucap Roy dengan suara cadelnya dan memanggil Sifa serta melihat ke arah Sifa


" Pergi saja sayang sama papi dan mami ibu gak apa-apa kan ada ayah dan kak Nindi." Ucap Sifa membuat Roy menatap Mutia dan Ricki berbarengan dengan wajah imutnya.


" Yaudah pamit dulu sayang sama ibunya." Ucap Ricki berpamitan karena dia takut kalau Roy nantinya akan berubah fikiran dan Roy menurutinya.


Mereka pergi ke mall untuk berbelanja dengan Ricki yang memangku Roy sedangkan Mutia mengendong Rea setelah sampai di mall Ricki menurunkan stroller untuk menaruh Roy dan Rea di dalamnya akar Ricki bisa mengandeng tangan Mutia dengan tangan satunya lagi mendorong stroller.


" Roy mau main atau beli mobil atau robot-robotan?." Tanya Ricki.


" Eli helitote." Ucap Roy tidak jelas, tapi Ricki tidak mengerti dengan ucapannya mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Ok Roy mau helikopter." Ucap Mutia yang langsung dianggukkin dengan antusias oleh Roy.


" Hoye Yoi au yang ecai." Ucap Roy dengan melompat-lompat membuat Mutia dan Ricki tersenyum senang langsung mengajaknya ke toko mainan sesampainya di sana Mutia mengelangkan kepalanya melihat Ricki yang membelikan Roy banyak mainan.


" Jangan lupa belikan juga mainan untuk anak-anakmu yang lain." Peringat Mutia agar yang lainnya tidak iri dan menganggap mereka memilih kasih.


" Iya sayang tenang aja aku ingat aku masih mempunyai 3 orang anak ini aku sudah pilihkan sesuai dengan yang mereka suka." Ucap Ricki dan menunjuk mainan-mainan yang di sukai oleh Ray dan Rey.


" Kalau untuk Rea belikan boneka aja karena di perempuan." Ucap Ricki yang hanya tau kalau anak perempuan itu menyukai perempuan.


" Jangan boneka." Tolak cepat Mutia karena dia mengetahui kalau Rea anaknya sensitif seperti dirinya.

__ADS_1


" Kenapa?." Tanya Ricki heran.


" Gak kan Rea masih kecil mana mengerti dia mendingan biarkan dia mendengarkan ayat-ayat Al-qur'an yaudah jagain dulu anak-anak aku mau beli kue dulu." Ucap Mutia.


Iya hati-hati matanya jangan bintitan kalau lihat yang sedikit gantengan ingat suamimu ini sudah ganteng maksimal." Ucap Ricki yang tidak dihiraukan oleh Mutia.


" Iya juga sih mendingan anak-anak di bekali oleh ilmu agama." Ucap Ricki membenarkan apa yang telah Mutia ucapkan tanpa curiga sedikit pun.


Setengah jam Mutia mencari kue yang dia cari akhirnya ketemu juga dan itu juga bukan di mall melainkan pedagang kaki lima karena kue yang Mutia cari adalah kue tradisional yang bernama kue Rangi, kue yang berasal dari betawi yang dulu sering di jual oleh pedagang kaki lima. Tetapi sekarang sudah jarang ditemui untungnya Mutia mendapatkan nomor hp penjual kue Rangi dari salah satu karyawan toko kue yang dia masuki dan dengan segera Mutia menghubungi orangnya.


" Assalamu'alaikum." Ucap Mutia saat terhubung.


" Walaikumsalam ini siapa?." Jawab orang disebrang sana dan bertanya.


" Saya tadi mencari kue Rangi di toko kue, tetapi tidak ada dan ada karyawan yang bernama mbak Lita memberikan nomor telvon ibu katanya ibu penjual kue Rangi." Jelas Mutia niatnya menghubungi nomor yang diberikan Lita karyawan kue tadi.


" Iya neng benar ibu jual kue Rangi." Jawab ibu disebrang sana.


" Apakah saya bisa membeli semua kue Rangi ibu?." Tanya Mutia yang ingin memborong kue kesukaan papahnya.


" Iya neng bisa, tapi kuenya ini banyak dan kebetulan ada yang mengcencelnya mendadak neng bisa membelinya seperempat atau setengahnya." Jelas ibu penjual yang baru mendapatkan musibahkarena orang yang memesan kue Ranginya umayan banyak tiba-tiba langsung mengcencelnya di hari akan diantar dan sekarang ada orang yang tiba-tiba menelvonnya langsung ingin membeli semua kue Ranginya kalau dibilang senang pasti senang karena dia tidak jadi rugi akan, tetapi dia juga kasihan kalau semuanya kerugiannya ditanggung oleh orang yang menelvonnya.


" Enggak apa-apa bu saya akan membeli semuan" ya, apa kuenya bisa saya ambil sekarang bu." Ucap Mutia tetap kekeh ingin membeli semua kue, apa lagi dia mendengar kalau kue ibu itu dicancel tiba-tiba yang pastinya ibu itu rugi.


" Bisa neng, tapi neng yakin." Ucap ibu itu memastikan dan Mutia meyakinkannya tidak lupa dia juga meminta alamat rumah ibu itu biar dia langsung bisa mengambil kuenya langsung.

__ADS_1


" Sayang kuenya ini aja." Ucap Ricki yang melihat Mutia hanya membawa 2 paper bag.


__ADS_2