
" Ada apa sayang?." Tanya Ricki bingung melihat Mutia yang melihat ke arah tempat tidurnya.
" Oh tidak apa-apa hahaha." Ucap Mutia , lalu tertawa garing.
" Mbak bisa pindah dari rumah ini setelah keadaan sudah aman, tapi untuk sekarang tetaplah disini." Ucap mbok Ratih yang hanya bisa didengar oleh Mutia saja.
" Iya mbok, tapi disini begitu gelap tidak ada pencahayaan sama sekali Rea pasti ketakutan." Ucap Mutia dalam hati.
" Iya mbok tau, tapi diluar ada yang mencari mbak." Ucap mbok Ratih membuat Mutia membuang nafasnya kasar.
" Kenapa sayang?." Tanya Ricki bingung dengan tingkah Mutia yang aneh.
" Kita lihat ke depan apa ada orang yang mencurigakan." Ucap Mutia yang langsung berjalan ke arah ruang tamu dan mengintip dijendela terlihat ada beberapa orang yang berjalan diluar.seketika membuat Ricki mengerti.
Di luar rumah
" Ada apa ya mas-mas disini?." Tanya ibu yang baru saja ingin masuk ke dalam pagar rumahnya sedikit takut mrlihat banayak laki-laki berada didekat rumahnya.
" Kami sedang mencari istri bos kami yang dibawa kabur oleh seorang laki-laki yang katanya ada yang melihatnya ada di daerah sini, ini bu fotonya siapa tau ibu pernah melihatnya." Jawab salah satu dari mereka yang tidak lain adalah anak buah dari Nando menunjukkan foto Mutia.
" Saya tidak pernah melihatnya mas, tapi kalau boleh saya kasih saran jangan dekat-dekat dengan rumah itu." Ucap ibu itu dan menunjuk rumah yang ada diujung untuk tidak mendekatinya.
" Kenapa memangnya?." Tanyanya kembali mengenyit keningnya.
" 5 tahun yang lalu di rumah itu telah terjadi perampokan serta pembunuhan terhadap perempuan paruh baya yang bekerja menjadi pembantu disana dan mulai senja seperti ini akan terdengar jeritan minta tolong serta kesakitan." Jelas ibu itu.
" Jadi rumah itu tidak ada yang dihuni lagi maksudnya." Tanyanya memastikan dengan sedikit senyum diwajahnya.
__ADS_1
" Iya, kalau gak salah namanya mbok Ratih dengar-dengar ceritanya dia bekerja karena untuk membantu anak dan cucunya, padahal dia baru bekerja 1 tahun kasihan sekali." Jelas ibu itu tanpa diminta membuat seseorang diantara mereka sedikit terkejut mendengarnya
" Mbok Ratih?." Tanya temannya yang berada di belakangnya.
" Iya." Jawab ibu itu yakin karena yang dia dengar dari cerita-cerita tetangganya begitu.
" Lu kenapa si To? lu kenal dengan ibu itu?." Tanyanya kepada temannya yang bernama Kamto dengan menaikan sebelah alisnya heran.
" Enggak apa-apa gue cuma kasihan aja mendengarnya emangnya lu gak kasihan Di." Elak Kamto dan memalingkan wajahnya agar temannya itu tidak mengetahui kalau dirinya sekarang sedang berbohong.
" Kayak nama panggilan ibu, kira-kira ibu sekarang ada dimana? aku merindukanmu bu, aku menyesal telah berkata kasar kepada ibu maafkan aku bu. Tolong kembalilah bu ini sudah 6 tahun, aku sudah mendapatkan pekerjaan dan aku sekarang bisa kembali menghidupi ibu." Gumam Kamto dalam hati teringat akan ibunya yang sudah lama menghilang menatap kosong ke depan.
" Kasihan sih, tapi mau bagaimana lagi itu sudah terjadi dan kita tidak bisa mencegahnya." Elak Ardi.
" Emangnya dia siapa harus gue kasihani orang tua bukan keluarga apa lagi." Gumam Ardi dalam hati.
" Pakaiannya boleh sih mahal, tapi masa untuk menyewa hotel saja tidak mampu malah memilih rumah yang ada penghuninya dan sudah lama tidak ditinggalin atau memang dasarnya aja pelit." Gumam ibu itu dalam hati dengan memaksakan tersenyum.
" Boleh-boleh saja sih, tapi rumah itu berhantu dan lampunya juga sudah diputus karena tidak lagi membayar bebannya." Ucap ibu itu menatap rumah dengan bergindik ngeri.
" Hahahaha...... jangan kan hantu bu manusia saja saya tidak takut." Ucap Ardi yang malah menantang, dimana dia tidak tau bahwa yang dilakukannya adalah sesuatu yang akan mencelakakan dirinya sendiri.
" Ya itu terserah mas saja kalau mau menginap dirumah itu yang penting saya sudah mengingatkan. permisi." Ucap ibu itu sinis dan berjalan langsung masuk ke dalam rumah.
----------
" Aduh gimana ini kalau mereka beneran mau nginap disini bisa ketahuan kita, lagian hamid kok gak kasih tau aku sebelumnya awas saja dia kalau samapai kita ketemu lagi ku bikin jadi prekedel." Ucap Mutia yang mulai gelisah, khawatir dan kesel.
__ADS_1
" Sudah jangan banyak mengerutu yang penting sekarang mencari jalan keluarnya, apa disini gak ada jalan untuk kita keluar dari rumah ini selain didepan?." Tanya Ricki sambil membuang nafasnya perlahan mencoba untuk tenang walau dirinya juga gelisah, tapi dia mencoba untuk menutupinya kalau dia ikutan panik yang ada bukan menyelesaikan masalah malah menambah masalah lagi.
" Ada sih, tapi gak tau kalau sudah ditutup." Jawab Mutia yang teringat akan jalan tikus yang sering mereka gunakan kalau malas keluar memakai motor karena jalan tikus yang mereka lalui hanya bisa untuk jalan kaki karena mereka berjalan diatasgot kecil tempat pembuangan air.
" Iya kita coba aja dulu namanya juga usaha." Ucap Ricki dan Mutia mengambil alih Rea, lalu menunjukkan ke sudut tembok rumah yang dulunya ada pintu untuk mereka pergi membeli makanan tanpa harus berkelilin dengan motor cukup berjalan kaki 5 menit sudah sampai warung makan.
" Sudah didinding dan dipasang atap berarti tidak bisa lagi kita pakai." Keluh Mutia dengan bibir manyunnya
" Ya mau bagaimana lagi gak ada pilihan kita bongkar saja atapnya." Ucap Ricki memberikan saran Mutia hanya menganggukkan kepalanya, lalu mencari tangga untuk dia naik, tapi tidak mendapatinya.
" Sial gak ad tangga sama sekali." Umpat Ricki yang sama sekali tidak melihat tangga.
" Terus gimana dong sekarang?." Tanya Mutia juga yang pusing sekaligus panik.
" Tenang dirimu disini ada aku yang akan melindungi kalian." Ucap Ricki, lalu mengecup bibir merah muda Mutia. Awalnya dia hanya akan mengecupnya, tapi karena hasrat yang sudah lama ditahan oleh Ricki kecupan itu menjadi ciuman yang panas Ricki menarik tengku leher untuk memperdalam tidak lupa tangan satunya memeluk pinggang Mutia hingga menyudutkan Mutia didinding dan tidak berapa lama dinding itu tergeser dengan sendirinya membuat Ricki dan Mutia yang mengendong Rea terkejut hampir terjungkang kebelang, tapi untungnya Ricki yang tadinya hampir tidak seimbang dengan sigap menarik Mutia dengan cepat agar mereka tidak terjatuh.
" Hampir saja aku jatuh sama Rea kamu sih sayang." Ucap Mutia sedangkan matanya menatap dinding yang tergeser.
" Itukan bukan salahku salahkan saja itu dindingnya kenapa langsung bergeser." Ucap Ricki yang tidak terima.
" Akhh sayang tmaaf ya aku sudah marahin kamu seharusnya aku bersyukur mempunyai suami sepertimu sudah ganteng, baik, perhatisn, selalu ada untukku dan anak-anak suami idaman banget. Tapi untung kamu mendorongku kalau tidak aku tidak tau kalau dinding ini bisa tergeser dan kita bisa keluar dari sini sebelum mereka datang, yaudah aku ambil barang kita dulu kamu disini aja sama Rea tungguin aku." Ucap Mutia ingin memberikan Rea kepada Ricki sedangkan Ricki menatap tajam Mutia dan tidak mengambil Rea.
" Kamu kenapa sayang?." Tanya Mutia yang tidak mengerti akan perubahan sikap Ricki menjadi dingin.
" Kamu itu yang kenapa aku itu laki-laki yang seharusnya mengambil dan membawa barang atau kamu tidak menganggap aku." Ucap Ricki yang merasa tidak dianggap membuat Mutia menelan ludahnya kasar, Ricki langsung masuk ke dalam mengambil barang mereka tanpa berbicara dengan Mutia lagi.
" Mati aku salah bicara maksudku kan biar aku bisa berkomunikasi dengan mereka." Gumam Mutia dalam hati mengigit bibir bawahnya dan
__ADS_1