
Atas kehamilannya membuat Cinta menjadi depresi berat...Kalau bukan karena perjodohan ini, mungkin dirinya tidak akan pernah hamil anak Toni.
Andai waktu bisa di putar kembali, mungkin Cinta akan melawan akan problem yang menimpanya tersebut. Kini harus menjadi taruhan untuk membayar hutang orangtuanya.
Saat dalam kamar. Cinta menangis selama 2 hari, meratapi nasibnya yang 7 bulan lagi akan mempunyai anak.
Toni ketakutan dan sungguh panik, saat istrinya tersebut tidak mau makan dan lebuh memilih berdiam dirinya di dalam kamar.
Toni menghubungi orangtua Cinta, meminta tolong pada mertuanya untuk membujuk Cinta supaya mau makan karena Cinta sudah mogok makan selama 2 hari.
"Pak mertua, tolong dong bujuk anak Bapak biar mau makan, sudah dua hari, anak Bapak tidak mau makan." Kini Toni sudah memanggil dengan sebutan Papa mertua.
"Kenapa dengan anak kami?" tanya Bambang merasa Cinta bertingkah.
Selama Cinta sudah menikah dengan Toni.
Mereka jarang memperhatikan Cinta lagi karena sudah mendapatkan banyak transferan setiap bulannya.
"Ihh Cinta ini bertingkah... Sudah enak-enak dalam genggaman pria kaya , malah bertingkah." Gumam Toni dalam hati.
"Baik, saya akan menghubungi anak saya sendiri Ton." Kata bambang mematikan telponnya.
__ADS_1
"Kenapa Pa?" tanya Salsa, istri muda Bambang.
" Itu si Cinta bertingkah, mogok makan dua hari, karena tidak terima dia hamil." Ngomel-ngomel.
"Sudah hubungi anak kamu dong sayang. Nanti kita gak dapat transferan lagi kalau Cinta bertingkah." Salsa lebih mementingkan transferan yang masuk.
Saat menghubungi putrinya. Cinta tidak mengangkat telpon tersebut karena masih frustasi dengan kehidupannya.
" Ihh anak itu, gak angkat telpon dia." Kata Bambang kesal.
" Astaga."
"Sayang makan dong, kalau kamu tidak makan nanti kamu sakit." Menatap Cinta yang sudah berdiam diri selama 3 jam tanpa ada pembicaraan diantara mereka.
Mungkin saat ini Toni belum mengerti.
Bahwa istrinya masih menginginkan jiwa mudanya, tidak memikirkan perasaan istrinya yang belum pengin punya anak dalam tempo dekat ini.
Toni memaksakan. Cinta harus hamil dalam cepat ini, sehingga setiap malam, pria itu selalu gas istrinya di atas ranjang.
"Diammmmmmm... Kamu tidak akan mengerti dengan kehidupan aku." Cinta menangis.
__ADS_1
" Maksud kamu bagaimana sayang?" berpura-pura tidak mengerti.
" Kamu tahu aku belum menginginkan kehadirannya? Kamu ngebet banget pingin punya anak lagi?"
"Sayang, percayalah... Kehadirannya akan memberikan hidup kamu lebih berwarna kedepannya."
"Semakin gelap dan tidak berwarna." Jawab Cinta.
" Sudahlah sayang, suatu saat kamu akan mengerti sendiri."
Toni memberikan waktu untuk istrahat dan tidak mau menggangu Cinta. Soalnya Cinta butuh ketenangan untuk menjalani semuanya.
" Baik lah aku akan keluar." Mengalah untuk sementara waktu.
Saat Toni sudah keluar dari kamar. Cinta menangis terus menerus dan tidak mau mengurus dirinya dan mengapa betapa bodohnya dirinya, mengizinkan Toni untuk memasuk kan itu semua.
"Aku belum pengen, sudah cukup bagi aku.
Ratih yang akan menjadi anak aku dan mengapa aku harus punya anak lagi?" Gumam Cinta dalam hati dan mengambil tisu untuk mengusap air matanya tersebut.
Dua hari ini baginya capek sekali menangisi semua dan bahkan tubuhnya terasa lemas dan tidak bersemangat untuk menjalani semua nya dan tidak mau hal tersebut terjadi.
__ADS_1