Pernikahan Paksa Berakhir Cinta

Pernikahan Paksa Berakhir Cinta
Kasihan Ratih


__ADS_3

Toni mengimingi kepada Cinta, jika mereka bercerai. Maka yang akan menjadi kasihan adalah Ratih, sudah cocok menemukan seorang ibu sambung.


Kini harus di pisahkan, karena Cinta meminta pisah sama suaminya tersebut, menurut Toni mereka tidak perlu bercerai, karena anak masih butuh peran orangtua.


"Kita tidak perlu bercerai, anak masih butuh peran kita." Ujar Toni, menurutnya yang paling kasihan adalah anak.


Cinta masih bisa hidup sendiri, tanpa suami pun Cinta, masih pintar cari uang untuk kebutuhan hidup. Buat apa bertahan jika nanti berujung sakit hati kembali.


"Gua masih bisa mandiri, gue masih bisa cari nafkah sendiri." Dengan modal kepercayaan Cinta ngomong seperti itu.


Cinta sebenarnya takut, menjadi ibu singel parent sendiri. Mengurus anak seorang diri tentu berat. Tanpa ada seorang bapak menemani.


Toni tahu bahwa Cinta tidak bisa hidup sendiri. Karena Cinta masih butuh orang lain dalam hidupnya, hingga saat itu Toni masih berusaha meluluhkan hati Cinta yang sudah meledak dengan kemarahan.


"Kalau kita pisah? Apa sayang bisa mengurus anak sendiri?" tanya Toni, supaya Cinta bisa berubah pikiran. Untuk tidak menceraikan dirinya.


Gerald dan Shella merayakan pesta kemenangan. Karena sudah menghancurkan rumah tangga orang lain. Mereka akan mengira bahwa pernikahan tersebut akan berujung perceraian.


"Hahahaha, mereka bentar lagi akan bercerai Shella," mereka langsung tos dengan gelas yang sudah di isi minuman alkohol dan mereka akan parti.


Semenjak Gerald rumah tangganya hancur sama istri. Gerald menjadi kehilangan arah seakan salah jalan, karena tak ada lagi yang membimbingnya.


Shella juga merupakan anak sebatang kara dan tanpa orangtua. Wajar Shella melakukan pekerjaan seperti ini, karena untuk bertahan hidup dan cuan mengalir terus, walau pun jalan yang di ambil oleh Shella adalah jalan salah.


"Istri kamu gimana?" tanya Shella kepada Gerald.


"Iya begitu. Kami mau mengurus surat cerai lagi," jawab Gerald.


Gerald sebenarnya pikiran belum plong bercerai dengan istri. Ada tiga anak yang harus kehilangan kasih sayang orangtua mereka. Gerald memikirkan bagaimana anaknya, jika bertanya tentang seorang ayah pada mamanya.


"Anak kamu tidak pernah bilang kangen gitu sama kamu? Atau bertanya mengapa bisa cerai?" tanya Shella lebih gamblang.

__ADS_1


"Anak aku masih kecil, belum mengerti apa-apa, tetapi mungkin besar nanti mereka lah yang akan cari aku." Jawab Gerald.


Di pelupuk mata, ada kesedihan mendalam yang di rasakan Gerald. Karena istri berusaha menjauhkan anak-anak dari ayah yang telah berjuang selama ini.


"Apa mereka tidak rindu?" Shella semakin banyak pertanyaan.


"Mungkin rindu, tetapi ada ibunya ...!"


"Kenapa dengan ibunya?" Shella penasaran dengan Gerald.


"Istri melarang untuk bertemu mungkin bisa jadi."


Shella mengelus punggung sahabatnya tersebut. Untuk bersabar karena ini lah ujian rumah tangga yang begitu berat, untuk bapak tiga anak ini.


Maka dari itulah Shella tidak mau menikah untuk saat ini. Menurut Shella pernikahan itu sangat ribet, ada dua orang yang memegang prinsip di dalam rumah tangga. Pemikiran belum tentu sama.


Toni dengan Cinta masih di rumah Lucy pada waktu itu. Lucy belum pulang dari bekerja di kantor. Toni memeluk istrinya berjanji tidak akan nakal lagi kepada siapa pun wanita yang di temui.


"Sayang, maafkan aku. Marilah kita pulang sekarang." Toni mengucapkan maaf, sudah beribu kali Toni melontarkan kalimat maaf pada istri nya tersebut.


Tiga jam hanya untuk meminta maaf pada istri. Namun wanita yang menjadi istrinya tersebut, belum luluh karena masih sakit hati dengan suami sendiri.


"Bagaimana cara aku memaafkan kamu sayang? Sudah berulang kali kamu melakukan kesalahan ...!" kata Cinta bibirnya bergetar.


Cinta sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air mata dari pipi. Suaminya tersebut sudah kelewatan dalam bertingkah, jika Cinta tidak mau balik kerumah lagi, maka cara satu-satunya adalah dengan membawa paksa Cinta.


"Mari kita pulang sayang, jangan sia-siakan rumah tangga kita ini." Kata Toni, memegang tangan istri.


"Aku tidak mau pulang, aku mau tetap disini sekarang." Tanpa basa basi, Toni langsung menarik istri dalam pelukan Toni dan menggendong istri untuk di masukan kedalam mobil.


"Lepaskan aku ! Lepaskan aku ...!" Cinta memberontak untuk pulang.

__ADS_1


"Sayang, kita pulang sekarang." Toni masuk kedalam mobil, lalu mereka pergi.


"Kamu bahwa saja si wanita malam itu yaitu Shella." Ujarnya terlihat cemburu.


"Shella bukan istriku, aku tidak bisa membawa seseorang, yang bukan istri sah aku sendiri." Kata Toni kepada Cinta.


Cinta harus jadi milik nya selamanya, tak boleh ada pria lain yang memiliki istrinya tersebut. Jika ada pria lain yang mendekati Cinta, maka pria tersebut akan di habisi oleh Toni.


"Biarkan kita pisah, biar aku bisa dekat-dekat sama pria lain. Seperti kamu dekat sama perempuan lain." Pembalasan Cinta.


"Aku tidak mau! Kalau sayang dekat dengan pria lain! Pokoknya jangan macam-macam deh kamu sayang." Toni menunjukan kecemburuannya.


Toni semakin cemburu, apakah ada mantan yang belum bisa di lupakan oleh Cinta selama ini. Mengingat mantan istri hanya Alvin, adik dari Toni sendiri.


"Biarkan saja, aku dekat dengan pria yang bisa buat aku bahagia!" Cinta juga masih butuh kebahagiaan dalam hidupnya.


"Oh, jadi kamu masih ingat-ingat Alvin dalam hidup kamu." Toni tiba-tiba cemburu, kepada Alvin. Adik Toni sendiri.


"Aku tidak ingat Alvin! Sayang, jangan ngadi-ngadi deh! Lebih baik kamu menikah saja dengan Shella, biar kamu tahu gimana bahagianya dengan Shella." Cinta membahas Shella terus.


"Sudahlah, lebih baik kita pulang dan kamu jangan menolak."


"Turunkan aku... Aku mau keluar dari mobil ini sekarang, jangan paksa aku untuk mempertahankan rumah tangga bersama kamu, yang tidak jelas sekarang."


Toni tidak mau menurunkan Cinta di tepi jalan karena bahaya. Istrinya sedang hamil, pria mana yang tega. Menurunkan istri di tepi jalan walau pun mereka sedang bertengkar saat ini.


"Tidak ... Tidak ... Bertahan dalam mobil ini sekarang! Sayang jangan bertingkah pokoknya, selagi aku masih menjadi suami tidak akan ku biarkan itu terjadi," tidak mau menurunkan istri di tepi jalan.


"Kamu ini rada-rada aneh, aku bilang turun ya turun!" Cinta marah sekali, saat suami tidak mendengarkan omongannya.


Toni menghiraukan perkataan, tidak logis bagi Toni. Jika menurunkan ibu hamil, anak darah dagingnya sendiri. Toni ingin rumah tangga tersebut langgeng selamanya, tanpa ada drama yang mereka tutupi lagi.

__ADS_1


Cukup drama ini, drama ini harus di selesaikan mereka. Jangan sampai persoalan menjadi puncak masalah lagi.


__ADS_2