Pernikahan Paksa Berakhir Cinta

Pernikahan Paksa Berakhir Cinta
Kembali Siuman


__ADS_3

Semenjak Cinta terjatuh di lantai. Kini sudah siuman dan bisa dibawa langsung kerumah.


Membuat Toni semakin was-was untuk menjaga Istri dari bahaya.


Sambil menyetir mobil, saat membawa Istri pulang, selama di perjalanan. Toni pelan-pelan membawa mobil, supaya tidak terjadi guncangan di perut Cinta.


Sesampainya di rumah. Di garasi mobil miliknya. Toni langsung turun dari mobil dan membuka pintu bagian belakang dan mengendong Cinta masuk kedalam kamar untuk istrahat.


Sesekali Toni mencium kening sang Istri dan mengelus rambut Istri. Sebagai bentuk cinta kasih sayang pada Istri yang sudah membuatnya jatuh cinta tersebut.


Ratih ikut mengantarkan sang Mama sambung, sampai kedalam kamar. Di peluknya Mamanya tersebut dan di cium perut dimana menjadi tempat adiknya tersebut.


"Dedek, sehat-sehat dalam perut. Kakak sayang sama Dedek," ucapnya sambil mengelus perut Cinta.


Cinta menyambut elusan Ratih, memegang tangan Ratih, lalu mencium tangan Ratih sebagai bentuk cintanya, yang sudah 3 hari tidak bisa mengurus anaknya tersebut.


"Dedek akan baik-baik saja Kak ... Jaga kesehatan ya Kak, biar jangan sakit." Ucap Cinta sambil mencium pipi kiri dan kanan anaknya.


"Iya Mama." Memeluk Cinta.


Mereka bertiga saling berpelukan, ketika Cinta mau istrahat. Toni hendak memasakkan makanan untuk istrinya, sehabis tidur siang biar bisa makan dan minum obat.


Toni memang pandai memasak, ternyata dari dulu, pria itu telaten dalam mengurus rumah tangga, ketika Mama Tantri masih ada.


"Sayang, mau di masak apa?" tanya Toni pada Cinta.


"Terserah Sayang saja, aku mau istrahat suamiku, badan aku sakit semua." Jawab Cinta menyuruh suami dan anaknya untuk keluar dulu.


"Oke Sayang." Jawabnya.


Toni lalu pergi kedapur, memegang bumbu dapur dan menyuruh semua pembantunya.


Untuk mengurus pekerjaan lain saja, biarlah Toni hari ini menghabiskan banyak waktu di dapur.


"Bibi, kesana saja ... Biar Saya yang menangani urusan dapur." Kata Toni kepada Bibi Ninda.


Bibi Ninda tidak mungkin membiarkan seorang Bos, memasak di dapur sendirian.


Pekerjaan tersebut, adalah pekerjaan yang biasa Bibi Ninda lakukan dalam sehari-sehari.

__ADS_1


"Pak, biarkan saja Bibi yang memasak. Bapak juga sudah capek, mengurus Nyonya selama 3 hari di rumah sakit." Jawabnya, sambil mengambil sendok dapur dan menyentuh peralatan dapur.


"Sudah Saya bilang Bi ... Biarkan saja Saya yang bekerja di dapur." Toni geram, meminta untuk menuruti saja kemauan Toni.


Bibi Ninda mempunyai perasaan, bahwa majikannya tersebut mungkin capek, karena banyak menghabiskan waktu di rumah sakit untuk mengurus Nyonya.


Bibi Ninda akhirnya mengambil kain pel dan membersihkan rumah seluruhnya. Toni memang hobi dalam memasak, hari ini Toni mau masak makanan kesukaan Istri.


Yaitu Seafood, adalah makanan kesukaan dari Cinta. Jika ada jenis Seafood, maka Cinta akan lahap dalam makan.


Selain menyiapkan Seafood, ternyata Toni juga menyiapkan ayam goreng di sambal yang merupakan kesukaan dari anaknya Ratih .


Serta Toni juga memasak jenis sayuran seperti wortel, sayur manis, dan buncis.


Merupakan makanan kesukaan dari Istri,


walau pun Toni tidak menyukai sayuran.


Namun demi kesehatan orang rumah. Toni harus memasak sayur, semua demi kesehatan dan kepulihan sang Istri tercinta.


Selesai memasak. Toni menghidangkan makanan tersebut di atas meja makan berkisar 8 kursi, diatas meja makan marmer tersebut.


Toni juga membuatkan makanan-makanan khusus untuk asisten rumah tangga hari ini.


Sebagai rasa bentuk terima kasih terhadap orang-orang sekitar, yang sudah menolong dalam beberapa hari ini. Termasuk menyiapkan baju-baju dan peralatan yang akan di bawa kerumah sakit.


Serta Sopir yang direpotkan Toni, yaitu dengan mondar mandir antara rumah sakit dan rumah. Menyuruh mengambil alat-alat yang hendak dibawa kerumah sakit.


Mereka di persilahkan oleh Toni untuk makan di meja satu lagi, yaitu ruangan makan khusus untuk para staff di rumah.


"Hari ini kalian makan ya ... Sudah saya siapkan di meja khusus kalian." Menghampiri para bawaan untuk makan siang terlebih dahulu, baru melanjutkan aktivitas lain.


Toni tidak pernah membedakan manusia.


Siapa pun yang bekerja di rumah tersebut selalu di manusiawi oleh Toni, karena Toni tahu, tanpa dukungan orang-orang yang bekerja di rumah tersebut, tidak akan mungkin Toni bisa menghandle sendiri pekerjaannya.


"Terima kasih Pak." Sahut mereka bersama-sama.


Sekitar jam 1 siang. Toni membangunkan Cinta untuk makan terlebih dahulu, sebelum minum obat.

__ADS_1


"Sayang, makan dulu yuk." Memegang tangan Istri dan melap keringat Cinta yang membasahi wajahnya..


Cinta mendengar suaminya, memanggil sosoknya, lalu Cinta terbangun dan segera beranjak dari tempat tidur.


Sebenarnya Cinta sudah lapar, tetapi karena masih sakit seluruh badannya. Cinta meminta tolong Toni untuk mengendong ke meja makan.


"Ahhhh Aduhhhhhhh." Teriak Cinta.


"Kenapa Sayang." Toni was-was dan panik lagi.


"Sakitttt ... Saat badan mau digerakkan, jadi sakit begini." Cinta hampir menangis menahan sakit.


Serta tendangan aktif si kecil di dalam perut.


Membuat Cinta mengaung kesakitan, tendangan dari perut tersebut terlalu kuat di saat dirinya lemah tersebut.


"Sini Sayang, biar aku gendong saja." Toni mengendong Cinta.


"Terima kasih Sayang."


Cinta bermanja di gendongan suaminya. Ternyata sekali menikah tidak salah pilih suami. Yang setia menemaninya di saat sakit mau pun senang.


Menatap suami dengan penuh rasa kagum.


Saat kehamilan sudah 8 bulan tersebut. Cinta membayangkan tidak mungkin bersanding dengan duda satu anak tersebut, serta duda tersebut sudah berumur 42 tahun, sedangkan Cinta berumur 22 tahun pada waktu itu.


Kini ternyata Cinta tidak menyesali pernikahannya, serta pernah berpikir bahwa rumah tangga mereka tidak akan bertahan lama, karena sayang Cinta hanya untuk Alvin pada waktu.


"Sayang, terima kasih atas pengorbanan kamu selama ini." Mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada suami.


"Sudah tidak perlu mengucapkan terima kasih Sayang, aku ini suami kamu, serta suka dan duka kita akan hadapi bersama." Kata seorang suami yang family goals.


"Kini aku menyadari bahwa aku mencintai suamiku, aku mau bersama kamu selamanya sayang dan sempat terlintas dalam pikiran aku waktu itu, untuk menceraikan kamu." Ucapnya sambil memberitahu apa yang ada dalam isi hatinya tersebut.


Di gendongan erat. Toni bisa mendengarkan curahan hati orang yang di sayanginya tersebut, dulunya Cinta sangat cuek dan sama sekali tidak peduli pada Toni.


"Sudahlah tidak perlu dipikiri, aku memang mencintai Istriku juga." Mencium kening sang Istri.


Sesampai di meja makan. Toni memapah Cinta untuk duduk di meja makan, lalu mengambil dan menyendok nasi untuk Cinta supaya makan banyak.

__ADS_1


"Makan yang banyak Sayang." Ucapnya sambil mencium kening sang istri lagi.


__ADS_2