Pernikahan Paksa Berakhir Cinta

Pernikahan Paksa Berakhir Cinta
Aku Sayang Kamu Nak


__ADS_3

Ulang tahun Cinta yang ke 23 tahun. Ibu muda ini sudah disiapkan kado istimewa oleh suami sebuah apartemen mewah atas nama Cinta.


Harga apartemen mewah tersebut kisaran 5 milyar lebih. Cinta tidak pernah meminta pada suami, untuk di perlakukan khusus istimewa oleh suaminya tersebut.


"Sayang, aku akan memberi mobil dan apartemen," membawa Cinta keluar garasi untuk melihat mobil baru yang diberikan Toni.


"Sayang... Ini mobil untuk aku?" tanya Cinta kepada suaminya tersebut.


"Iya,,, mobil ini khusus untuk kamu sayang." Ucapnya pada istrinya tersebut.


Di ulang tahun yang ke 23 tahun tersebut, air mata cinta menetes menahan haru, ternyata ada maknanya ketika menikah dengan pria duda anak satu waktu dulu.


Menikah dengan duda merasa di perhatikan lebih dari apa pun. Cinta menoleh kearah suami lalu mencium pipi suami, saat hamil 7 bulan.


Di kehamilan 7 bulan. Cinta merasakan betapa berarti suami. Ketika memberi perhatian kecil, kasih sayang dan membuatnya lebih istimewa.


"Sayang, terima kasih," jawabnya, mendekati suami, lalu memeluk dan mencium pipi suami.


"Aku sayang sama kamu istriku ... Aku takut kehilangan kamu," katanya kepada istri sambil mengelus perut anaknya yang ada di dalam rahim.


Ratih akan menunggu kelahiran sang adik.


Baginya, akan ada teman sekaligus saudara yang akan menjadi teman curhatnya kelak.


"Adek. Cepat lahir ... Biar Kakak bisa lihat adek lahir di dunia ini," mengelus perut Mama.


Awalnya Cinta tidak bisa menerima kehamilan tersebut, karena akan menganggu waktu dan rutinitasnya kelak.


Cinta baru menerima kehamilan dirinya saat usia kandungan 5 bulan. Bahkan Cinta sempat membenci diri sendiri yang tidak seberuntung orang lain.


"Nak, terima kasih. Semoga si adek cepat lahir," menggenggam sang putri Ratih dengan erat.


Ratih tidak pernah mempersalahkan Papa menikah lagi. Malah Ratih senang Papa menikah lagi, karena anak ini merasa bahwa Papa sudah capek mengurusnya sejak Mama kandung meninggal.

__ADS_1


"Iya Ma... Tahu gak Ma? Ratih sudah anggap Mama seperti Mama kandung Ratih sendiri sekarang." Jawabnya kepada Mama.


Mata Cinta berkaca-kaca. Selama ini Cinta merasa belum cocok menjadi seorang Ibu dari duda punya anak satu.


"Sayang, lihatlah anakku... Begitu menyanyangi kamu." Sambung Toni memegang bahu istri.


Toni menguatkan istri, supaya kuat dan tegar dalam mengurus suami serta anak tercinta.


Toni mengakui sejak awal. Cinta memang tidak pernah mencintainya.


Tetapi lama kelamaan. Toni bisa menaklukan hati perempuan muda dan cantik ini. Bahkan bisa mendapatkan jiwa raga Cinta sekarang.


"Sayang semenjak aku melihat anak ini. Aku merasa panggilan menjadi seorang Ibu, mengurus suami dan anak yang tak pernah terbayangkan oleh aku." Kata Cinta sambil menangis.


Cinta mengingat kembali kenangan berapa bulan yang lalu. Saat Ayah dan Mama tiri memaksanya untuk menikahi pria duda anak satu tersebut, demi membayar hutang pada pria tersebut.


" Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untuk istri dan anakku." Jawabnya sambil memeluk Anak dan Istrinya tersebut.


Pelukan tersebut menghangatkan keluarga kecil mereka. Keluarga kecil mereka kini menjadi keluarga bahagia, mengingat kembali saat Cinta tidak bisa menerima kehadiran Ratih anak sambungnya tersebut.


Sudahlah Cinta tidak merasa untuk ada waktu lagi, kini saatnya fokus dengan keluarga dan membesarkan anak-anak.


Cinta memang belum pernah merasakan melahirkan dan mempunyai anak kandung sendiri. Walau pun kelak anak kandung sudah lahir. Cinta tidak mau membedakan kasih sayangnya terhadap anak sambungnya.


Anak sambung, anak suaminya tetaplah dianggap seperti anak sendiri. Cinta harus memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang Ibu yang baik untuk anak-anak.


"Mobil ini mau aku pakai kemana?" tanya Cinta kebingungan mau memakai mobil tersebut.


"Nanti bisa di pakai ketika mau keluar," kata Toni.


Tetapi dengan satu syarat, mobil tersebut bisa di gunakan oleh istri ketika pasca lahiran nanti. Toni ingin mencari aman, supaya tidak terjadi sesuatu pada istri yang berbahaya.


"Pakai keluar? Tetapi aku lagi hamil sayang?" ucapnya pada suaminya tersebut.

__ADS_1


"Iya Sayang, habis melahirkan nanti bisa dipakai keluar," jawab Toni.


Toni selama masa kehamilan istri. Meminta kepada asisten pribadi yang menjaga Cinta untuk selalu menjaga ketat istri, supaya tidak terjadi sesuatu yang berbahaya.


Meminta kepada asisten Cinta, untuk cekatan untuk menjaga Istri. Toni akan membayar gaji tinggi, asal Bibi Yusli bisa menjaga Cinta sampai lahiran nanti.


"Bibi, aku mau pergi. Aku meminta sama Bibi untuk menjaga Istri aku." Memberi perintah pada Bibi Yusli.


Bibi Yusli sudah 8 tahun bekerja pada Toni.


Semenjak Ratih kecil dulu. Bahkan Bibi Yusli sudah menggangap Ratih seperti anak sendiri karena Bibi Yusli tidak mempunyai anak dan belum menikah.


Walau sudah berumur 56 tahun. Bibi Yusli masih betah jomblo dan tidak menikah sampai usia tua begini karena sudah nyaman menikmati hidup seperti ini.


"Baik Pak! Saya akan menjaga Nyonya Cinta sebaik mungkin dan akan menjaga amanah Bapak." Jawab Bibi Yusli kepada Toni.


Lalu Toni memeluk Istri dan Anak, hari ini dihari ulang tahun istri. Toni ada urusan bisnis keluar kota untuk menjalankan bisnisnya yang belum selesai dan tidak bisa dibatalkan pertemuan hari ini dengan para pemegang saham.


"Sayang, aku tinggal dulu, aku mau keluar kota bersama Andi." Pamit pergi untuk keluar kota.


Ratih tidak terima. Dihari ulang tahun Mama tiri, papanya pergi untuk menjalankan bisnisnya dan menyeletuk, apakah pertemuan tersebut tidak bisa dibatalkan dengan para pemegang saham.


"Tidak dibatalkan pertemuan ini Papa?" tanya Ratih kepada orangtuanya tersebut.


"Tidak bisa Sayang ... Soalnya urusan ini penting sekali." Jawab Toni mencium kening anaknya.


"Ahh Papa tidak seru! Main pergi saja dan tidak bisa stay." Ratih memarahi.


Cinta tidak menuntut suami untuk stay di rumah. Bertepatan di hari ulang tahun suaminya tersebut hanya meminta saja supaya rumah tangga mereka langgeng selamanya.


"Nak, sudah biarkan saja Papa pergi. Soalnya Papa ada urusan," ucapnya pada Ratih memahami suaminya tersebut.


"Nak, benar yang dikatakan Mama, bahwa Papa tidak mungkin tega meninggalkan kalian disini, jika tidak ada urusan penting dan mendadak sekali." Memberi pengarahan pada putri kandungnya tersebut.

__ADS_1


Ratih masih cemberut saja dan menyeletuk mengatakan bahwa Papa sudah tidak sayang sama mereka lagi. Akhirnya Toni berubah pikiran dan tidak jadi pergi.


"Iya, iya deh. Papa tidak jadi pergi pokoknya sekarang," berubah pikiran dan tidak pergi demi bisa berkumpul bersama anak dan istrinya tersebut, mencubit pipi Ratih supaya jangan cemberut saja.


__ADS_2