Pernikahan Paksa Berakhir Cinta

Pernikahan Paksa Berakhir Cinta
Mental Seorang Ibu


__ADS_3

Mental seorang ibu di uji habis-habisan dengan anak sakit. Setelah Ceri sembuh yang sakit Ratih kembali, membuat kepala Cinta hampir buntu mengurus anak yang sakit bergantian.


Sedangkan suami belum pulang dari luar kota karena masih ada urusan. Cinta menjadi pusing sendiri saat melihat di pagi hari Ratih terbaring lemas meminta makan, saat Cinta hendak memberi makan anaknya tersebut ketika di sentuh tangan Ratih, tangan anaknya tersebut panas sekali.


"Sayang kenapa sekujur tubuh kamu panas Nak?" tanya Cinta kepada anaknya tersebut saat masih di tempat tidur.


"Ratih kemarin banyak minum es, Ma." Ratih takut sebenarnya untuk jujur, namun Ratih tidak mau berbohong.


"Nah itulah! Sudah tak bisa minum es diminumnya, dasar susah banget kamu dibilang." Cinta merepet sama anak sambungnya tersebut.


Ratih tidak bisa jika menahan haus, yang di cari oleh anak itu terlebih dahulu adalah es untuk melepas haus yang ada di dalam dahaganya tersebut.


"Ma ... Maafkan Ratih, namanya Ratih haus kemarin, Ma."


Cinta jarang merepet, menjadi suka merepet karena anak sambungnya tersebut sangat suka di bilangi. Jika melihat es maka akan lupa bahwa dirinya mempunyai masalah di tenggorokan.


Cinta memberi makan dahulu, nanti Cinta baru mengompres Ratih. Bahkan sudah seminggu Cinta tidak merasakan tidur enak karena harus terbangun di tengah malam sebab Ceri sudah seminggu sakit.


Mau mengeluh menjadi seorang ibu namun sudah sudah suratan takdir. Bahwa Cinta harus mengurus dua anak, di usia 23 tahun tersebut terasa banget capeknya.


Pengen ngeluh, namun suami tidak berada di rumah. Biasanya Cinta sering di bantu oleh suami namun karena suami sedang tidak ada di tempat terpaksa Cinta harus mengurus sendiri yang berkaitan dengan anak.


"Besok jangan minum es lagi Sayang, Mama tidak suka jika kamu minum es," ujar Cinta masih menyuapi anaknya tersebut.


"Iya, Ma." Ratih mendengarkan omongan mamanya tersebut.


"Sini Mama periksa dulu suhu tubuh kamu sayang." Cinta mengambil alat pengukur suhu dan ternyata badan Ratih, suhunya sangat tinggi.


"Berapa suhu Ratih, Ma?" tanya Ratih.


"Suhu Ratih tinggi, Nak. Pokoknya kalau Mama larang minum es, jangan di minum sayang, soalnya kalau kamu sakit orangtua kamu yang gelisah." Cinta masih tak berhenti mengomel.

__ADS_1


"Iya, Ma."


Setelah itu Cinta langsung mengompres kening anaknya. Melap ingus sang anak yang sudah banyak keluar, benar kata orang kasih sayang seorang ibu tak akan berhenti sampai besar.


Seberapa besar pun kesalahan anak, mama akan berusaha memaafkan. Namanya anak adalah harta yang ternilai harganya dan tidak bisa di tukar dengan yang lain seperti banyak harta.


" Nak, ketahuilah bahwa kebahagiaan orangtua. Hanya ingin melihat anaknya sehat selalu." Cinta selalu menginginkan hal tersebut.


Ratih memang tidak ada Cinta, namun kasih sayangnya yang tulus sama seperti mama kandung. Banyak yang bilang bahwa mama tiri banyak yang jahat, buktinya masih banyak mama tiri yang menyanyangi anak tirinya dengan tulus seperti Cinta.


"Iya, Ma. Ratih mengerti bahwa Mama sangat sayang sama Ratih,"


Ratih sudah merasakan kasih sayang mama tirinya tersebut. Kehadiran mama tiri membuat Ratih merasa tidak kesepian lagi karena kepergian mama kandung di waktu dulu.


"Nak, jangan bandingkan Mama. Dengan Mama kandung kamu," kata Cinta merasa takut bahwa suatu saat nanti Ratih membandingkan posisinya dengan mama kandung Ratih.


"Ma. Ratih tidak akan pernah membandingkan posisi Mama dan Mama kandung, sebab bagi Ratih, Mama tuh berharga banget," kata Ratih sebagai bentuk curahan kasih anak sambung terhadap mama tiri yang telah menyanyangi dan merawat.


Bahkan ilmu yang di terapkan untuk anak sangat luar biasa. Membuat anak menjadi lebih mengerti, bahwa Ratih mempunyai mama tiri yang tulus dalam menyanyangi dirinya selama ini.


"Janji sama Mama?" Cinta mengacungkan jarinya.


"Janji Ma ..."


Mereka sama-sama tersenyum, terbahak bahagia. Cinta merasa di hargai oleh anak tirinya tersebut, jauh dalam lubuk hati Cinta yang paling dalam. Cinta ingin dianggap sebagai orangtua yang benar dalam mendidik anak.


"Nak, tidak ada orangtua yang sempurna di dunia ini. Bahkan dalam mendidik anak pun mereka belum sempurna, namun yakinlah bahwa jika keduanya sama-sama berjuang untuk menyempurnakan maka akan berjalan mulus." Nasehat Cinta untuk anak sambungnya tersebut.


"Ratih mengerti, Ma. Maka dari itu untuk membuat sempurna, Ratih ingin belajar giat supaya cita-cita Ratih berhasil." Ratih memeluk mama tirinya tersebut.


"Terimakasih, Sayang."

__ADS_1


Lalu Ratih membahas masalah kehadiran adiknya. Jika adik sudah hadir dalam kehidupan keluarga mereka, pokoknya mama jangan pernah membedakan anak kandung dan anak tiri.


"Ma, Ratih boleh sampaikan sesuatu tidak sama Mama?" kata Ratih ingin menyampaikan sesuatu.


"Iya Nak, boleh. Ngomong saja sama Mama pasti akan Mama dengarkan." Cinta meminta anaknya untuk ngomong.


"Begini Ma ... Adik kan sudah hadir, jangan pernah Mama membedakan aku dan adik Mama." Ratih memang tidak suka di bedakan sama orangtua.


Dari kecil Ratih memang sudah sensitif jika orangtuanya, membedakannya dengan anak teman orangtuanya atau pun siapa pun mereka.


Bahkan jika ibu gurunya pun membandingkan anak ini. Maka yang ada Ratih akan merasakan kesal luar biasa serta marah kepada orang di sekelilingnya.


"Nak. Memang kamu pernah melihat Mama membandingkan kamu?" tanya Cinta kepada anaknya tersebut.


"Tidak pernah sih, Ma. Pokoknya jangan sampailah, Ma."


"Sudah istrahat lah sayang, soalnya Mama mau ngurus adik dulu, mau mandikan adik dulu."


"Oke Ma."


Cinta lalu mengurus anak bungsunya untuk memandikan di pagi hari. Begitu nikmat menjadi seorang ibu di saat diberikan kesibukan dengan mengurus dua anaknya tersebut.


Aura seorang ibu keluar saat telah mempunyai anak. Kini Cinta lebih dewasa dalam menyikapi sesuatu bahkan semua di lakukan demi keluarga kecilnya.


Suaminya selalu memuji ibu dua anak ini sangat pandai dalam menghandle tugas menjadi seorang ibu. Suami merasa di perhatikan dan anak juga merasa di perhatikan.


Tidak sia-sia Toni mempunyai istri telaten seperti Cinta. Bahkan Toni pernah ngomong bahwa cinta terakhir dalam hidupnya hanyalah Cinta tak ada yang lain.


Toni tidak mau kehilangan Cinta dan ingin menghabiskan waktunya, hanya bersama Cinta dan anak-anak. Kini Toni fokus mengembangkan sayap perusahaannya supaya kelak anak bisa menikmati hasil jerih payah kerja kerasnya tersebut.


Cinta juga menjadi kebanggaan adik ipar yaitu Ara dan Alvin. Mereka sangat menyanyangi kakak ipar nya tersebut dan merasa asik saja jika sudah mengobrol dengan kakak iparnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2