Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Rumah Sakit


__ADS_3

Ara merasakan dirinya sedang kacau balau. Setelah sang Ayah mengatakan kalau perjodohan dirinya dengan Jonathan di terima dan sudah di sepakati kedua keluarga Ara masih terus berpikir cara agar bisa menggagalkan perjodohan tersebut. Berharap banyak pada Jonathan yang juga tak ingin perjodohan ini terjadi, Ara nyatanya malah harus menerima perjuangan nya sia-sia saja untuk mengajak Jonathan berkerja sama agar menghentikan perjodohan mereka.


Lelaki yang pernah menjadi kakak idamannya semasa remaja itu benar sudah bukan idaman lagi bagi Ara. Sifat Jonathan kini, terlalu angkuh dan menyebalkan. Ara bahkan kesal setiap kali bertemu dengan lelaki itu.


Apalagi pertemuan mereka dua hari yang lalu di sebuah restoran mewah yang juga milik si angkuh. Rasanya Ara ingin sekali mencabik lelaki itu jika kini ada di hadapannya.


Drrrttt


Drrrttt


Drrrttt


Suara getaran ponsel Ara yang berada di atas nakas terus berdering tanpa henti sejak dua hari ini. Entah itu sebuah panggilan telepon atau sebuah pesan masuk. Ada begitu banyak nama yang tertera di sana, mulai dari Ayah, kakaknya Devan, Irena si kakak ipar, nomor tak di kenal, rumah sakit, sampai kekasihnya Jayden. Ara sangat enggan menerima satu panggilan atau pesan masukpun.


Dirinya terus menyembunyikan diri di bawah selimut tebal di kamar bernuansa putih milik Bianca. Ya, setelah bertemu Jonathan di sebuah restoran, Ara begitu enggan pulang ke rumah. Ia memutuskan menghubungi Bianca, menanyakan alamat rumah sahabat lamanya itu. Lalu pergi menginap di sana selama dua hari ini, dengan alasan ini menenangkan diri.


Gadis itu bahkan sampai tidak masuk bekerja tanpa kabar dan mengabaikan panggilan dari rumah sakit.


Ara bukan kabur. Ingat bukan kabur, ia hanya menenangkan diri. Tapi tak mengatakan nya pada siapapun di mana keberadaan nya sehingga membuat semua keluarga nya sangat cemas saat ini. Itulah sebabnya ponselnya berdering terus menerus.


"Ish.. berisik..!!" teriak Ara kesal, sambil menendang selimut yang menutupi tubuhnya saat ponsel masih berdering terus menerus tanpa henti.


Meraih ponselnya, Ara hendak mematikan daya. Tapi ketika melihat nama yang tertera di layar membuat Ara mengurungkan niatnya.


Nama Jayden dengan satu emoticon love yang kini sedang Ara lihat.


Ara bimbang sesaat, apa harus menerima panggilan itu atau tidak. Bingung.


Tapi, melihat kegigihan Jayden yang terus menghubungi nya membuat Ara merasa bersalah. Kekasihnya itu pasti sedang khawatir saat ini. Ara harusnya tidak bersikap seperti ini.


"Hal--- "


"Akhirnya di angkat.. hah.. astaga."


Suara Jayden di sebrang sana langsung memotong begitu Ara menjawab panggilan telepon.


Seketika membuat perasaan Ara semakin kacau saat mendengar suara milik kekasihnya.


"Jay... "


"Babe, where are you? Are you okay? Kenapa enggak menjawab telepon dan pesanku? Kamu baik-baik saja kan? Kamu enggak apa-apa kan?"


Pertanyaan beruntun di berikan Jayden. Terdengar begitu cemas dan khawatir dari nada bicaranya.


"Jay, aku baik-baik saja." jawab Ara.


Hanya itu kata yang bisa keluar dari bibirnya. Ingin menangis dan merasa bersalah karena telah melakukan itu pada Jay.


Terdengar hembusan nafas lega dari sebrang sana. "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku cemas Honey."


Ara menyeka air matanya yang hampir jatuh.


"Maaf Honey, maaf buat kamu khawatir."


"It's okay. Yang terpenting kamu enggak apa-apa. Aku jadi lega."


Astaga rasanya Ara ingin kabur saja, mengajak pergi Jayden sejauh mungkin. Tidak perduli dengan semuanya.


Haruskah Ara melakukannya? Oh, tentu tidak mungkin. Ara terlalu mencintai Ayahnya. Terlalu takut terjadi sesuatu pada ayahnya, mengingat penyakit jantung nya akan kambuh dan bisa merenggut nyawa sang Ayah. Dan Ara tidak akan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan nyawa Ayahnya. Karena hanya Ayahlah satu-satunya orang tua yang Ara miliki, yang terus mencintai dan melindunginya, serta sudah begitu banyak berjuang keras demi ia dan Kakak nya Devan.


Ara memang bukan anak yang sangat penurut, tapi ia juga bukan anak yang pembangkang. Yang sampai melawan orang tuanya hanya demi kebahagiaan dirinya sendiri. Meski ia gadis yang manja, sebenarnya ia termasuk anak yang dewasa kadang kala.


Karna terlalu larut memikirkan tentang nasibnya, Ara sampai tidak sadar jika Jayden terus memanggil namanya dari balik sambungan telepon. Hingga membuatnya sedikit terperanjat.


"Honey.. Ara kamu masih di sana?"


Ara mengerejap, sambil mengangguk meski Jayden tak dapat melihat. "Iya, aku masih di sini."


"Kamu mikirin sesuatu ya? Kalau ada hal yang buat kamu kepikiran coba cerita sama aku. Siapa tahu aku bisa bantu kamu." Ucap Jay.

__ADS_1


Ara terdiam, memikirkan apa ia harus jujur saja soal perjodohan ini pada Jay?


Atau ia harus merahasiakan nya saja, demi melindungi hubungan mereka?


Ara tampak bimbang.


"Jay... "


"Hm.. Iya honey."


Jay menunggu. Apa yang akan Ara katakan selanjutnya. Apa kekasih nya itu akan membagikan kesulitannya atau tidak.


"Jay, ada hal yang ingin aku ceritain sama kamu."


Ara menjeda ucapannya. Sejenak menguatkan hatinya, sebelum kembali melanjutkan.


Tapi baru Ara akan membuka suara kembali, suara pintu kamar itu terbuka. Menampilkan sosok Bianca yang datang dengan panik.


"Ra... " panggilnya membuat Ara mengerenyit.


"Kamu kenapa Bi?"


"Ra itu di depan, di depan. Malaikat, ganteng banget astaga." racau Bianca membuat Ara bingung.


"Apa sih?"


Ara masih tak mengerti. Begitupun Jayden yang hanya diam ikut mendengarkan suara keduanya.


"Ih di depan ada yang cariin kamu. Ya ampun ganteng banget. Baru pertama kali aku liat langsung, biasanya cuma di majalah. Muka nya wow, ganteng dan berkharisma. Kamu kok bisa-bisanya sih Ra kenal orang hebat kaya dia."


"Cariin aku? Siapa sih?"


"Jonathan Harvey."


Dan begitu nama itu di sebut, Ara sudah tidak peduli pada apapun lagi. Termasuk panggilan teleponnya dengan sang kekasih yang masih tersambung. Karena ia langsung turun dari ranjang dan berlari keluar kamar.


Tanpa sadar kalau suara Jayden masih memanggil namanya dari balik ponsel.


Selain tak suka dengan wanita, Jonathan Harvey juga sangat tak suka dengan anak-anak. Baginya anak kecil itu cengeng dan merepotkan. Mau selucu apapun Jonathan sangat enggan berhadapan dengan anak-anak.


Tapi yang kini ada di hadapan dirinya justru adalah hal yang ia tak suka. Yaitu anak kecil.


Seorang bocah dengan pakaian santai sedang menatap tajam padanya sambil melipatkan kedua lengannya di dada.


Terlihat seperti ingin menakuti Jonathan, tapi yang ada malah terlihat lucu.


"Hei Om galak, mau apa di sini? Mau apa datang ke rumah ku?" tanya Morgan di buat-buat sangar untuk menakuti.


Bukannya menanggapi, Jonathan malah berdecih samar. Tak perduli.


"Om galak kenapa enggak di jawab? Mau apa Om datang ke rumah aku? Om pasti mau mengganggu Kakak peri aku lagi kan?"


Jonathan mengerutkan keningnya mendengar ucapan Morgan. "Kakak Peri?"


"Iya Kakak peri ku yang cantik. Yang menolong aku waktu itu dari Om galak. Pasti Om mau marah-marah lagi kan sama Kakak peri, kaya waktu itu Om mau menabrak kami." cerocos Morgan.


Jonathan terdiam, ingatannya berputar sesaat pada kilas balik saat dia hampir menabrak Ara. Ia ingat saat itu memang ada seorang anak kecil yang Ara lindungi, tapi Jonathan tidak tahu siapa anak itu.


Apa anak itu adalah anak yang ada di hadapannya kini?


Tak mendapat respon apapun dari Jonathan, Morgan mendekat. Menarik tangan Jonathan, membuat Jonathan menunduk menatapnya.


"Pergi.. Pergi.. Om galak pergi dari sini. Om enggak boleh mengganggu Kakak periku." ucapnya.


Bocah kecil itu menggenggam tangan besar Jonathan dan terus menarik nya sekuat tenaga agar Jonathan bangun dan pergi, meski itu semua hanya sia-sia saja.


Tubuh Jonathan terlalu besar jika di bandingkan tubuh mungilnya, tenaga kuat yang Morgan kerahkan pun tak berhasil membuat Jonathan bergeser seinch pun.


"Ayo pergi Om, pergi dari rumahku. Om enggak boleh ada di sini. Jangan ganggu Kakak peri cantik ku." teriaknya.

__ADS_1


Jonathan mendengus kasar, malas sekali menghadapi bocah seperti ini. Sangat rewel.


"Hiyaaa... Ayo pergi Om, pergi dari rumahku." Morgan masih terus menarik.


Terdengar pekikan nyaring dari arah tangga. Yang ternyata itu adalah Bianca yang berlari saat melihat keponakan bersikap tidak sopan pada Jonathan.


"Morgan, apa yang kamu lakuin."


Bianca meraih Morgan, melepaskan tangan kecil Morgan dari lengan Jonathan. Membawa si keponakan pada gendongannya.


"Aunty usir Om galak itu. Jangan biarin dia di sini." teriak Morgan sambil berontak minta di turunkan.


"Morgan kamu enggak boleh bicara begitu, tidak sopan. Aunty enggak pernah mengajari begitu."


"Ish, Aunty... Om itu yang enggak sopan." Bianca langsung menutup mulut Morgan dengan telapak tangan nya.


"Aduh maafkan keponakan ku. Dia asal dan sudah mengganggu." ucap Bianca canggung pada Jonathan.


"Morgan benar. Dia memang enggak sopan, datang bertamu sembarangan ke rumah orang yang gak di kenal." ucap Ara yang tiba-tiba datang dari belakang Bianca.


Jonathan berdiri, menaikan satu alisnya begitu melihat Ara datang.


Bianca yang ada di samping nya langsung menyikut pelan sahabat nya itu. "Ngomong apa kamu ini." bisiknya.


"Kakak Peri, jangan dekat-dekat nanti Om galak itu mengganggu Kakak lagi." ucap Morgan.


Ara tersenyum sambil mengusak rambut Morgan.


Jonathan yang sudah mulai malas langsung membuka suara. "Aku enggak punya banyak waktu, jadi---"


"Kalau enggak punya banyak waktu buat apa datang ke sini?" ucap Ara memotong perkataan Jonathan.


"Kamu pikir aku mau datang ke sini? Harus susah-susah menyuruh orang untuk mencari kamu? Kalo bukan karena terpaksa aku juga enggak akan mau."


"Yasudah, cepat bilang buat apa kamu ke sini? Kalau buat menyuruh aku pulang enggak usah repot-repot. Aku bisa pulang sendiri."


"Jangan banyak bicara. Ayo ikut saja." ucap Jonathan menarik lengan Ara.


Ara berontak, menepiskan tangan Jonathan. "Apa-apaan. Aku enggak mau."


"Hei Om galak, jangan pegang-pegang Kakak peri." teriak Morgan.


Sementara itu Bianca tampak bingung.


"Ayo ikut, aku di suruh membawa kamu. Ini penting."


"Aku bilang gak mau. Penting apanya? Dua hari yang lalu saja kamu main pergi begitu saja."


Jonathan menghela nafas nya, mulai terlihat kesal. "Kamu benar-benar enggak mau ikut? Aku rasa kamu bakal menyesal."


"Cih, menyesal apanya." ucap Ara sambil melipat lengan di dada.


"Ayah kamu masuk rumah sakit. Ikut denganku atau kamu akan menyesal jika terjadi hal yang gak di inginkan." ucap Jonathan yang berhasil membuat Ara terbelalak seketika.


"A-apa kamu bilang?"


"Ayah mu masuk rumah sakit."


Hati Ara rasanya seperti terhantam oleh batu besar. Sesak, panik dan takut tiba-tiba menjalar.


Tanpa menunggu atau mengucapkan apapun, Ara langsung menggenggam tangan Jonathan. Menarik lelaki itu keluar rumah, menuju mobil milik Jonathan dengan perasaan yang campur aduk.


"Cepat. Cepat bawa aku ke sana."


Dan mobil Jonathan langsung melaju cepat begitu keduanya masuk.



__ADS_1



To be continued ...


__ADS_2