Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
First Kiss


__ADS_3

Marvel mendesah lelah di ujung pilar gedung yang kini sedang menjadi tempat resepsi pernikahan kakak nya Jonathan. Sedari tadi ia tak berhenti menyapa para tamu, terutama para kolega bisnis. Terpaksa harus menghabiskan waktu puluhan menit hanya untuk meladeni setiap kolega yang ia sapa dan akan berujung dengan membahas bisnis, yang membuatnya mau tak mau meladeni.


Marvel tidak mungkin bisa mengabaikan para kolega itu, meski ia sebenarnya lelah setiap kali di acara seperti ini selalu saja para tamu itu membahas pekerjaan.


Sambil menyesap minumannya, Marvel mencoba menikmati waktu luang nya sendiri kini tanpa gangguan. Mata nya menjelajah ke setiap sudut, memperhatikan kesana kemari.


Hingga tanpa sengaja kedua mata Marvel melihat sesosok yang mampu menarik dirinya.


Di ujung venue sana, berdiri seorang gadis cantik yang kini tengah berdiri menatap kedua pengantin yang mulai turun dari pelaminan menuju lantai dansa.


Menaruh minuman miliknya di atas meja, Marvel melangkahkan kaki untuk mendekat. Senyuman mengembang di kedua sudut bibirnya ketika ia semakin dekat dengan orang yang sangat ingin ia temui itu.


Lalu saat Marvel berdiri tepat di depan sang wanita cantik, sosok itu tampak sedikit terkejut.


"Marvel... "


Bersamaan dengan kata yang terlontar dari bibir si gadis, semua lampu utama yang padam. Tinggal menyisakan lampu-lampu temaram yang menyala di sekitar. Dan lampu utama menyala terang di tengah lantai dansa yang menyinari kedua sosok Raja dan Ratu sehari yang kini sudah siap merangkul satu sama lain, untuk memulai berdansa.


Dan ketika musik lembut dan romantis mulai mengalun lembut, keduanya mulai bergerak seirama.


"Mau berdansa, gadis cantik?" Marvel mengulurkan tangannya, sambil membungkuk di depannya.


Elisa terkekeh, sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu lagi apa?" tanya nya.


Tertawa lucu saat Marvel bertingkah bak seorang pangeran yang meminta seorang putri untuk menjadi pasangannya.


"Meminta seorang putri cantik buat menjadi partner dansa aku."


"Jadi apakah tuan putri yang cantik ini bersedia?" tanya Marvel masih mengulurkan telapak tangannya.


Elisa tersenyum, lalu mengangguk. "Sure." Ia sambut uluran tangan Marvel.


Kedua nya saling menatap dan melemparkan senyuman. Lalu mulai merangkul dan bergerak bersama seperti pasangan pengantin dan para tamu yang lain.


"Kapan kamu pulang ke Indonesia? Kok tiba-tiba ada di sini aja?" tanya Marvel di depan wajah Elisa.


Tak ada canggung di antara keduanya, meski sudah lama tidak bertemu.


"Baru sekitar dua bulan yang lalu." jawab gadis itu.


"Apa?" Wajah Marvel tampak terkejut.


"Aku bilang sekitar dua bulan yang lalu." ulang Elisa.


Marvel menggelengkan kepalanya, "Bukan, bukan aku enggak dengar. Tapi aku kaget, kamu sudah dua bulan pulang ke Indonesia tapi aku enggak tahu sama sekali."


"Aku emang sengaja enggak kasih tahu siapapun. Toh, aku mau pergi lagi." ucap Elisa.


Keduanya masih berdansa seirama.


"Pergi lagi?" tanya Marvel. Dan Elisa mengangguk.

__ADS_1


"Kenapa harus pergi lagi?"


Elisa terdiam sesaat, lalu matanya menatap ke arah di mana Jonathan dan Ara sedang berdansa dengan intim dan romantis.


"Sudah enggak ada alasan aku buat terus menetap di sini." jawabnya lirih.


"Apa karena Kak Jo sekarang sudah menikah?"


Marvel bertanya sesuatu yang bahkan tanpa perlu Elisa jawab pun ia sudah tahu jawabannya.


"Aku senang Kak Jo akhirnya memutuskan mau menikah, setelah apa yang dia lewatin. Dan istrinya, dia perempuan yang cantik dan keliatannya baik dan pintar." ucap Elisa.


Kedua mata besar itu menatap sendu ke arah Jonathan dan Ara.


Menghela nafas pelan, Marvel menatap wajah Elisa yang tak melepaskan pandangannya pada sang Kakak.


"Jadi kamu bakal tetap pergi?" tanya Marvel yang di jawab anggukan oleh Elisa.


"Apa aku masih belum bisa jadi alasan kamu buat tetap di sini?" pertanyaan Marvel membuat gadis itu mendongkak.


"Vel... "


"Aku masih belum menyerah El dan aku mau kamu tahu."


Elisa menatap Marvel dengan tatapan menyesal dan bersalah. "Marvel... "


"Maaf aku memaksa tapi, mungkin aku bakal perjuangin kamu kali ini."


"Vel kamu tahu, aku, Kak Jonathan dan Kak Monic-- "


*********


Musik di ballroom hotel masih mengalun indah, perpaduan harmonisasi lembut dari orkestra yang menjadi pengisi acara pernikahan Jonathan dan Ara. Suara gesekan biola berpadu dengan indah nya dentingan piano.


Pencahayaan yang temaram dengan lampu-lampu kecil yang bersinar indah, di tambah hiasan bunga-bunga indah menjadi pelengkap menambah suasana romantis.


Di lantai dansa sudah banyak pasangan yang saling merangkul, menikmati musik dan keromantisan dengan berdansa. Bersama dengan pasangan utama yang kini berada di tengah-tengah lantai dansa.


Lampu sorot terang terus berjalan mengikuti kemana pun pasangan raja dan ratu sehari itu bergerak. Kedua jemari mereka saling bertautan sedangkan tangan yang lain merangkul satu sama lain. Seperti pemeran utama dalam sebuah buku dongeng.


Indah dan romantis.


Itulah yang terlihat dari kasat mata orang-orang saat melihat Jonathan yang merangkul Ara dengan tatapan yang dalam. Tapi bukan kenyataan yang sebenarnya.


Jika pasangan pengantin pada umum nya, first dance atau dansa pertama mereka setelah resmi menjadi pasangan suami istri adalah hal yang sangat manis dan romantis, tapi tidak bagi Jonathan dan Ara.


Masalah nya bukan hanya karena mereka tidak saling mencintai dan menikah karena paksaan, tapi juga karena sedari tadi ujung kaki Ara tidak berhenti-henti nya menginjak sepatu Jonathan.


Membuat lelaki itu geram dan kesal.


"Bisa kamu jangan injak kaki aku terus?" ucap Jonathan berbisik. Nada bicara pria itu terdengar menahan kesal.

__ADS_1


"Ish, aku juga gak mau injak. Tapi gaun ini susah." balas Ara berbisik.


Ia pun risih dan merasa bersalah karena sedari tadi terus menginjak kaki Jonathan dan membuat lelaki itu sedikit meringis.


Tapi bagaimana lagi, gaun nya yang begitu mewah dan besar itu membuatnya kesulitan.


"Maka nya lebih perhatikan lagi langkah kaki mu."


"Iya, iya... "


Meski berdebat, mereka masih tetap melakukan dansanya.


Ara mencoba lebih berhati-hati melangkahkan kaki nya, tak ingin heels tajamnya kembali menginjak kaki suami nya.


Dan entah mengapa Ara merasa Jonathan lebih pengertian hari ini. Lelaki itu memperlambat gerakan mereka, membuat Ara lebih mudah mengatur gerak kaki nya agar tak kesulitan karena gaun yang ia pakai.


Bukan cuma saat berdansa, Jonathan juga seharian ini selalu bersikap lebih baik dan lembut saat di atas pelaminan tadi.


Hanya saja sikapnya kembali berubah Jonathan angkuh ketika gadis yang bernama Elisa tadi datang. Dan itu jelas membuat Ara sedikit terganggu.


'Siapa gadis itu sebenarnya? Apa dia perempuan yang ada di masa lalu Jonathan dulu?'


Sesaat Ara menatap ke arah Elisa yang tengah berdansa dengan Marvel dan tanpa sengaja tatapan kedua nya beradu. Dengan canggung Ara melemparkan senyum yang tak sama sekali di balas oleh gadis itu.


"Jangan sok bersikap ramah pada orang lain." tegur Jonathan membuat Ara sedikit mendongkak.


"Apa kamu bilang? Sok bersikap ramah?" tanya Ara, tak di gubris oleh Jonathan.


"Aku memang ramah ya, bukan sok ramah. Memangnya aku itu kamu, orang yang angkuh."


"Jaga ya ucapan kamu."


"Kenapa? Memang benarkan kamu itu angkuh. Kamu menjudge orang lain tapi enggak suka kalau ada yang menjudge kamu." ucap Ara telak, membuat Jonathan mengeram kesal.


"Mulut kamu itu kayanya harus di kasih pelajaran ya."


Ara tersentak saat Jonathan menarik pinggulnya mendekat, membuat tubuh keduanya semakin menempel.


Baru saja Ara berontak dan hendak melawan, Jonathan sudah lebih dulu membuat setengah tubuh Ara terhuyung kebelakang dengan di tahan oleh kedua tangan kekar milik nya.


"Ap--"


Belum sempat Ara melemparkan protes, bibir Jonathan lebih dulu membungkam bibir mungil gadis itu, membuat semua sorakan riuh dari para tamu yang menyaksikan.


Dan Ara merasakan tubuhnya seolah kaku, dengan kedua mata mata yang membulat sempurna serta debaran jantung nya yang tiba-tiba berdebar cepat.


Lelaki itu, Jonathan Harvey resmi telah mencuri ciuman pertama Ara.



__ADS_1



To be continued ....


__ADS_2