
Setelah sampai di luar lapas, barulah Keysa melepas cekalan tangannya di lengan Johan.
"Nggak usah Geer dulu, aku hanya melakukan ini untuk membuat Joni semakin panas dan cemburu. Bukan berarti aku ini telah berubah cinta padamu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah cinta padamu! camkan itu!" ucap Keysa lirih tetapi ketus.
Johan hanya diam saja mendengar ocehan dari istrinya, dia sama sekali tak meladeni ucapan Keysa. Dia hanya bisa berharap di dalam hatinya supaya suatu saat nanti yang kuasa memberikan sebuah keajaiban di mana Keysa bisa benar-benar menerima dirinya sebagai suami dan ayah dari anak yang saat ini sedang dikandungnya.
Selama dalam perjalanan pulang ke rumah tidak ada suatu percakapan antara Keysa dan Johan, mereka sedang asyik dengan pikirannya masing-masing.
Hingga sampai di rumah pun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Keysa, dia yang langsung saja melangkah masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya.
"Johan, kamu habis dari mana dengan Keysa?" tanya Betrand yang tak sengaja berpapasan dengan Johan pada saat di ruang tamu.
"Kami hanya keluar jalan-jalan sebentar, pah," ucap Johan tanpa bercerita jika dia habis dari lapas.
"Oh ya sudah, papah pikir kalian habis dari mana?" ucap Betrand menyunggingkan senyumnya.
Johan menyusul Keysa yang sudah ada di kamarnya terlebih dahulu.
"Johan, aku minta tolong padamu. Kakiku pegal sekali, tolong pijat kakiku seperti biasa," pinta Keysa.
"Baiklah, tetapi aku bergantu pakaian dulu ya?" ucap Johan lembut.
Keysa sama sekali tak membalas apa yang dikatakan oleh Johan dia hanya tidur berbaring miring menunggu dipijat kakinya oleh Johan. Tak berapa lama Johan telah berganti pakaian dengan pakaian rumahan dan segera memijat kaki Kesya dengan penuh perasaan.
Dia sama sekali tak pernah mengeluh atau menolak keinginan istrinya tersebut. Johan begitu mencintai Keysa sepenuh hatinya hingga dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang hanya tinggal beberapa bulan saja.
Dia sudah berjanji di dalam hati untuk mempergunakan sisa waktu yang tiga bulan tersebut untuk sepenuhnya menjadi suami yang baik untuk istrinya tersebut.
Selalu dan selalu setelah mendapatkan pijatan dari Johan, Keysa pasti tertidur nyenyak.
__ADS_1
"Jika kamu sedang tertidur seperti ini wajahmu terlihat sangat cantik, sangat lembut dan menawan hati. Apakah kelak aku bisa melepasmu dengan ikhlas?"
"Sepertinya aku juga tidak akan sanggup untuk berpisah dari anak kita karena selama ini aku juga telah mengharapkan kelahiran anak itu di dunia ini."
"Keysa, jika kamu bisa membalas perasaan cinta ini, dunia ini akan terasa indah karena tidak ada kata-kata perpisahan, tidak ada kata-kata perceraian. Yang ada hanyalah kebersamaan selalu selamanya sampai akhir hidup ini."
"Aku sama sekali tak bisa membayangkan tiga bulan yang akan datang apa yang akan terjadi kelak bagaimana hancurnya hati ini jika saat itu telah tiba."
Hampir setiap hari Johan selalu menghitung kebersamaan dengan Keysa, bahkan dia rutin selalu menandai kalender yang dimilikinya.
Setelah melihat Keysa tidur dengan pulas, dia pun keluar untuk mencari angin segar di teras halaman.
"Johan, kamu sudah pulang? apa kamu sudah sudah makan?" tanya Bu Sarah.
"Ibu, aku pergi hanya sebentar saja kok. Aku belum lapar, Bu," ucap Johan.
"Iya Bu, tapi aku tidak bisa begitu saja untuk tidak memikirkan hal ini. Karena biarpun dulu aku menikah dengan Kesya atas dasar perjodohan oleh Papahnya, tetapi sebenarnya aku sudah mencintainya sejak lama, Bu."
"Apalagi saat aku tahu Keysa sedang hamil anakku, rasa cinta ini bukannya surut atau berkurang tetapi aku malah semakin mencintainya Bu. Bagaimana aku bisa melepasnya dengan ikhlas kelak jika sudah waktunya tiba?"
Mendengar akan keluh kesah dari anaknya, Bu Sarah mencoba menasehati Johan kembali.
"Johan, hidup mati jodoh rezeki semua itu sudah ada yang mengaturnya. Kita hanyalah sebagai pelaku di dalam menjalankan semuanya itu, jadi kita tidak bisa menentukan apa yang kelak akan terjadi di dalam kehidupan kita semua itu adalah sebuah misteri."
"Iya, bu. Aku tahu akan hal itu, tetapi praktek lebih susah menjalaninya dari pada teorinya, Bu," ucap Johan.
"Bu, sudahlah kita jangan bahas hal ini. Karena aku tak ingin Papah Betrand tahu akan rahasia ini," ucap Johan mengingatkan.
"Baiklah, Johan. Tapi ibu minta kamu jangan terlalu banyak pikiran ya? ibu ikut sedih pada saat melihatmu seperti ini. Mana anak lelaki ibu yang dulu, yang selalu ceria dan selalu saja tersenyum," hibur Bu Sarah.
__ADS_1
"Hhee ibu tak usah khawatir. Aku bisa melalui semua ini kok, jadi ibu juga jangan bersedih hati ya?" pinta Johan.
Setelah bercakap-cakap, Bu Sarah masuk lagi ke dalam kamar. Begitu pula dengan, Johan. Dia juga kembali ke kamar dan dia tidur di samping Keysa.
Baru saja dia berbaring, tiba-tiba Keysa berbalik arah dan memeluk tubuh Johan tanpa dia sadar. Johan hanya diam saja, dia malah tersenyum senang dan memejamkan matanya.
Hingga sore menjelang, Keysa bangun dia tersentak kaget dirinya sedang bersandar di dada bidang Johan.
"Ih, apa-apaan ini? kenapa aku tidur di dada dia?" batin Keysa kesal.
"Heh, Johan! bangun kamu!" Keysa mengguncang tubuh Johan yang sedang tertidur pulas hingga dia tersentak kaget.
"Astagfirullah alazdim, ada apa Keysa?" tanya Johan seraya mengusap matanya dan menghela napas panjang.
"Heh, kenapa bisa aku tidur memeluk kamu? pasti ini rekayasa kamu kan, hayo ngaku!" bentak Keysa yang membuat Johan malah terkikik geli.
"Heh, kenapa malah kamu tertawa? berarti apa yang aku katakan barusan adalah benar ya?" tanya Keysa penasaran.
"Tidak, justru kamu yang tiba-tiba mendekatiku dan memeluk aku. Ya aku biarkan sajalah, toh itu kan wajar karena kita adalah suami istri," ucap Johan terkekeh.
"Wajar bagimu, tapi tidak wajar bagiku. Apa kamu masih saja lupa jika pernikahan yang kita jalani adalah karena terpaksa!" ucap Keysa lantang.
"Iya, sayang. Aku tidak lupa kok, tetapi bagiku tetap saja pernikahan kita ini sakral dan bukan sebuah permainan. Karena kita menikah di hadapan Allah SWT. Bersumpah di hadapan sang kuasa," ucap Johan lembut.
kruwuk kruwuk kruwuk kruwuk
Tiba-tiba perut Keysa berbunyi.
"Sayangnya papah sudah lapar ya. Keysa, kamu mau makan apa biar aku buatkan atau kamu mau makan di luar saja aku pesankan," ucap Johan yang tahu jika saat ini Keysa sudah lapar.
__ADS_1