Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Masih Abu-abu


__ADS_3

Keluarga Adrian dan Jeremy sudah menunggu di depan ruang ICU sekitar tiga puluh menit lamanya. Dengan perasaan cemas dan gelisah, akhirnya pintu ruang tersebut terbuka juga, membuat semua orang seketika berdiri ketika dokter keluar dari ruangan ICU.


Devan dan Ara lebih dulu menghampiri, berdiri di depan sang dokter. "Bagaimana keadaan ayah saya dok?" tanya Devan.


"Ayah saya baik-baik aja kan dok? Enggak ada hal buruk kan?" tanya Ara juga tak sabaran.


Dokter tersebut memandang Ara dan Devan bergantian, lalu tersenyum kecil. "Kalian tenang saja, kondisi Dokter Adrian sekarang lebih baik. Syukurlah dia tadi cepat di bawa ke rumah sakit, jadi bisa dengan cepat di tangani." jawab Dokter tersebut.


Semua yang mendengar itu menghembuskan nafas lega, terutama Devan, Ara dan Irena.


"Syukurlah... " ucap Sofia.


"Tapi ayah saya sudah sadarkan dok?"


"Iya sudah sadar. Jika kondisinya semakin membaik, kita bisa segera memindahkannya ke ruang perawatan."


"Dok apa Ayah saya sudah bisa di temui?" tanya Devan.


"Bisa, tapi hanya beberapa orang saja ya secara bergantian."


"Yasudah, Devan Ara saja lebih dulu masuk. Kita semua bisa melihat Adrian nanti jika sudah di pindahkan." ucap Jeremy.


Ara menganggukan kepalanya antusias, ia yang paling ingin sekali bertemu Ayahnya. Ingin melihat langsung kondisi nya saat ini.


"Baiklah, kalau tidak ada yang di tanyakan lagi saya pamit." ucap si Dokter.


Ara dan Devan mengiyakan, sambil terus mengucapkan terima kasih.


"Kalau begitu Om Tante, Ara dan Devan akan menemui ayah dulu."


"Iya kalian masuklah."


Ara dan Devan masuk ke dalam ruang Adrian, setelah mengikuti peraturan rumah sakit yang mengharuskan mereka mencuci tangan dan mengenakan pakaian pelapis yang telah di sediakan sebelum memasuki ruangan ICU.


Ara dan Devan mendekat, menatap Ayah nya yang terpejam dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya.


Air mata Ara kembali menetes dengan tubuh yang terasa kaku dan hati yang sakit saat melihat kondisi Ayah yang terlihat sangat lemah kini.


"Ayah... " gadis itu bergumam.


Adrian yang masih sadar, membuka kedua matanya begitu mendengar suara sang putri.


"Ara... " ucap Adrian di balik tabung oksigen nya.


Ara masih berdiri di tempatnya dengan berderai air mata, tak mampu mendekat.


Tubuhnya terasa kaku, setelah sepuluh tahun lebih ini pertama kali nya lagi Ara melihat orang yang ia cintai tergeletak lemah tak berdaya dengan berbagai alat. Membuatnya teringat masa lalu, saat-saat Ibu nya kritis dan akhirnya pergi untuk selamanya. Rasanya menakutkan.


Seolah mengerti dengan ketakutan yang di alami adiknya, Devan yang ada di belakang nya langsung menepuk lembut punggung Ara. Meminta gadis itu untuk mendekat pada Ayah mereka.


"Ayo... " ucap Devan, mengangguk meyakinkan.


Melangkah ragu, Ara berdiri tepat di samping monitor jantung Adrian yang berbunyi. Tubuhnya lemas menatap Ayah di hadapan kini.


"Ayah... ini Ara." ucapnya sambil menangis.


Adrian mengulurkan tangannya yang langsung di raih oleh Ara. "Kamu sudah pulang, sayang?" ucap Adrian.


Ara mengangguk berkali-kali dengan air mata yang tak berhenti mengalir.


Lalu ia berlutut, mendekatkan dirinya dengan Adrian.


"Ara sudah pulang Ayah. Maafin Ara Ayah... "


"Maaf... Maaf... Maafin Ara ya Ayah. Ara sayang sama Ayah, Ara enggak mau kehilangan Ayah."


Berkali-kali gadis itu ciumi telapak tangan Ayah nya.

__ADS_1


Adrian menggerakkan telapak tangannya ke pipi Ara, menghapus air mata Ara yang terus mengalir. "Jangan menangis, jangan meminta maaf."


"Ini salah Ara, Ayah. Ara yang buat Ayah sakit, Maafin adek Yah."


Bukannya sedih, Adrian malah terkekeh pelan saat melihat air mata Ara yang semakin deras.


Itu membuat Ara mendongkak, menatap sang Ayah.


"Ayah sudah lama sekali, enggak lihat kamu nangis seperti ini. Kamu jadi buat Ayah ingat pada Arabella si gadis cengeng yang selalu menangis."


"Si cengeng yang selalu berlari mengadu pada Ayah setiap kali Kakak kamu berbuat jahil." ucap Adrian sambil tertawa pelan.


Devan yang di belakang Ara tersenyum penuh arti sambil mengusap sudut matanya, ia tahu benar Ayahnya kini sedang berusaha menghibur Ara. Menghilangkan ketakutan dan rasa bersalah yang adik nya rasakan kini.


Ara sudah tumbuh menjadi gadis yang hebat dan kuat. Bahkan saking hebat dan kuat nya Ara, gadis itu tak pernah lagi menangis semenjak terakhir kali ia menangisi kepergian ibu mereka.


Ara seolah bersikap kuat dan tangguh demi Ayah dan juga Kakak nya. Padahal, Adrian maupun Devan pun melakukan hal yang sama berusaha kuat demi satu sama lain.


Keadaan sulit saat itu telah memberikan banyak hal.


"Sudah jangan menangis lagi. Ayah bahagia karena masih bisa bangun dan melihat kalian lagi. Jadi jangan menangis."


"Maaf Ayah... "


"Iya, benar kata Ayah. Jangan menangis lagi atau kamu bakal buat rumah sakit ini kebajiran karena air mata kamu itu." ledek Devan sambil terkekeh pelan.


"Kakak!" Ara mencabikan bibirnya, sambil memukul lengan Kakaknya.


Devan malah terkekeh pelan sambil mengusap surai adik kesayangannya.


Adrian pun mengusap sisa air mata di pipi Ara. "Ayah jangan sakit lagi ya" yang langsung di balas anggukan oleh Adrian.


"Pokok nya Ayah harus cepat sembuh agar bisa mendampingi pernikahan Ara dan Kak Jo nanti." ucapnya tiba-tiba yang membuat Adrian maupun Devan kaget.


*********


Setiap kali Adrian atau Devan bertanya, Ara akan selalu menjawab 'Tunggu sampai keadaan Ayah benar-benar pulih. Ara akan menjelaskan nya nanti.' ucap gadis itu.


Padahal Adrian keadaan Adrian sudah membaik dan sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Tapi Ara masih belum mengatakan apapun. Selain ingin Ayah nya pulih dulu, sebenarnya Ara belum siap membahas perihal perjodohan itu.


Rasanya masih terasa berat dan sulit. Terlebih, ia juga belum memutuskan hubungan nya dengan Jayden sampai saat ini.


Ia tak sanggup dan juga tak tega untuk memutuskan hubungan dengan Jayden begitu saja tanpa alasan yang jelas. Karena tidak mungkin Ara mengatakan pada Jayden kalau ia di jodohkan dan akan menikah.


Ara tak mau membuat Jayden lebih terluka jika sampai tahu.


"Ayah sudah makan dan minum obat nya kan?" tanya Ara begitu ia keluar dari kamar mandi.


Baru selesai mandi dan berganti pakaian. Setengah jam yang lalu ia baru saja selesai praktek dan langsung datang ke ruangan Ayahnya untuk bergantian menjaga.


"Irena, tolong katakan pada adikmu yang bawel itu. Dia sudah berapa kali menanyakan pertanyaan yang sama." keluh Adrian pada Irena.


Pasalnya Ara sudah bertanya tentang makan dan minum obat sebanyak tiga kali setelah masuk ke ruangan tersebut.


Irena yang mendengar ucapan ayah mertua nya itu terkekeh pelan. "Ayah sudah makan, sudah minum obat juga Ra. Kamu jangan bertanya itu terus, atau Ayah akan mengomel lagi nanti." ucap Irena.


Ara mendekat, duduk di kursi samping brangkar. "Ya kan cuma memastikan. Ayah kan sering lupa." ucapnya sambil memanyunkan bibir.


"Tapi kan di sini ada Kakak ipar mu, Sayang. Dia enggak mungkin lupa memberikan makan dan obat Ayah." jawab Adrian seakan gemas dengan putri bungsu nya itu.


"Ya siapa tahu, pekerjaan Kak Iren kan juga banyak." jawab Ara.


Irena yang duduk di sofa sambil menatap layar laptop dan beberapa berkas di tangannya hanya mampu menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat perdebatkan keduanya.


Sampai akhirnya suara pintu ruangan VIP itu terdengar di ketuk dua kali dan terbuka, mengalihkan perhatian ketiganya.


Dari ambang pintu tampak sosok Jonathan yang datang dengan membawa dua paper bag di tangannya.

__ADS_1


"Selamat malam semuanya." sapa nya.


Adrian sontak tersenyum begitu melihat sosok Jonathan. "Malam Nathan, ayo masuk."


"Iya Om."


Jonathan melangkah masuk, menyalami Adrian. "Jonathan di minta Mama buat mengantarkan makan malam untuk Ara dan Kak Iren." jelasnya.


Sudah beberapa hari ini Jonathan rutin datang ke rumah sakit, itu karena ibu nya yang selalu memaksa Jonathan untuk memberikan makanan hasil masakannya untuk Ara.


Padahal ibu nya itu jarang sekali memasak kecuali saat-saat tertentu saja, tapi akhir-akhir ini Sofia terus saja ke dapur untuk memasak banyak makanan enak.


Katanya untuk calon menantu kesayangan nya dan Jonathan yang harus menjadi korban mengantarkan agar bisa dekat kembali juga dengan Ara.


"Wah, terima kasih ya. Tante Sofia selalu repot-repot membuatkan makan. Padahal kami bisa beli." ucap Irena mendekat.


Bukannya mengambil paper bag yang di bawa Jonathan, Irena malah menyenggol Ara yang tampak acuh. Bibirnya seolah bergumam tanpa suara, seolah berkata 'Ambil dan bilang terima kasih.'


Dengan sedikit keterpaksaan akhirnya Ara mengulurkan tangan. "Sini." Jonathan menyerahkan kedua paper bag nya.


"Terima kasih ya." ucap nya sambil tersenyum. Senyum yang benar-benar di buat-buat, dan Jonathan tahu itu.


"Hem... "


Entah kenapa Ara malah merasa kesal saat hanya gumaman yang keluar dari mulut Jonathan. Entah atau Ara memang selalu merasa kesal pada lelaki itu.


Setelah menerima banyak makanan yang di antar Jonathan. Irena dan Ara memakannya bersama dan kebetulan Devan pun yang baru datang ikut makan bersama.


Sedangkan Jonathan mengobrol bersama Adrian. Banyak hal yang di bicarakan Jonathan dan Adrian, terutama ketika Jonathan mulai belajar bisnis dan mulai memperbesar bisnis milik ayahnya.


"Om benar-benar enggak menyangka kamu bisa jadi pebisnis sehebat ini. Padahal dulu kamu sangat kukuh bilang pada Om kalau kamu ingin jadi pelukis handal dan tidak mau jadi penerus Ayahmu." ucap Adrian menerawang jauh ke masa lalu.


"Ya, begitulah Om, Nathan sendiri juga gak menyangka." jawabnya.


Adrian yang bersandar menatap wajah Jonathan. "Nathan... boleh Om bertanya sesuatu?" tanya Adrian yang langsung di angguki oleh Jonathan.


"Sekarang kamu baik-baik saja kan?" tanyanya khawatir.


Jonathan terdiam sejenak, sampai akhirnya menganggukan kepala.


"Maafkan Om karena pergi saat itu, padahal Om tahu kamu masih membutuhkan kami saat itu." ucap Adrian. Ada nada penyesalan mendalam yang tersirat.


Jonathan mencoba tersenyum seadanya. "Enggak apa-apa. Nathan mengerti, Om pun sedang kesulitan saat itu. Nathan sudah melupakannya." ucap Jonathan.


Dan Adrian tahu, Jonathan tak sepenuhnya melupakan itu semua. Nada dan tatapan mata lelaki itu sangat berbeda.


Tapi, Adrian berpura-pura percaya dan mengerti semuanya.


"Om tahu kami mengecewakan kamu, lebih tepatnya Om sendiri. Tapi, Nathan... " Adrian menjeda ucapannya, lalu mengusap punggung tangan Jonathan.


"Om harap kamu enggak membenci Ara ya. Dia sama sekali gak tahu apapun yang terjadi, di masa lalu bahkan sampai saat ini." sambung Adrian.


Mendengar ucapan Adrian, Jonathan mengalihkan pandangannya ke depan di mana Ara, Devan dan Irena sedang makan di sofa yang ada di ujung dekat jendela. Ia menatap lekat di mana Ara sedang makan sambil sesekali tertawa karena lelucon Devan.


Sejak awal tahu Ara kembali, ada perasaan aneh dari diri Jonathan. Entah itu rasa kecewa dari masa lalu atau rasa rindu dari masa lalu.


Rasanya abu-abu bagi Jonathan.





To be continued ...


__ADS_1


Jonathan waktu menatap Ara


__ADS_2