
Sejak saat Ryan di penjara, Keysa malah sering ke rumah Johan. Hal ini membuat Rinjani semakin tak bisa menahan rasa cemburunya. Apa lagi jelas sekali terlihat jika Johan sangat perhatian pada mantan istrinya itu.
Rinjani wanita pendiam hingga dia tak mau mengatakan apapun akan rasa cemburunya itu. Justru ibu dan adik Johan yang menegurnya.
Pada saat Abian genap berumur satu tahun, di situlah puncak kecemburuan, Rinjani.
"Johan, tak terasa anak kita berumur satu tahun ya. Aku ingin kita foto bertiga ya, sebagai kenangan di hari ulang tahun anak kita." Keysa menarik paksa Johan untuk lebih dekat dengannya dan juga mengambil paksa Abian yang sedang di gendong Rinjani.
Keysa memasang kamera ponselnya dan mengabadikan kebersamaan tersebut, walaupun Abian memberontak menangis karena tak ingin di gendong Keysa.
"Johan, aku ingin Abian bisa dekat padaku. Apa kamu bisa menolongku?" rengek Keysa bergelayut manja di lengan Johan.
"Itu gampang, kamu harus sering dekat padanya pasti ia akan luluh."
Beberapa detik kemudian, Keysa berakting.
"Aduhh, perutku kenapa kram ya?"
Johan yang melihat hal itu langsung terlihat panik dan mengajak Keysa periksa ke dokter kandungan. Dengan memapahnya sangat pelan membawanya ke mobilnya. Keysa sempat melirik sinis pada Rinjani.
"Mas, kenapa sih kamu seperti ini padaku? masa iya kamu masih sangat peduli pada mantan istrimu itu sedangkan padaku kamu masih saja bersikap dingin. Padahal kita menikah bukan sebulan dua bulan, tetapi dari Abian umur beberapa bulan hingga satu tahun," keluh kesah Rinjani di dalam hati.
Hal ini bisa di lihat oleh Bu Sarah dan Lisa. Hingga mereka merencanakan untuk menegur dan menasehati Johan.
"Bu, lihat kan seperti apa raut wajah Mba Rinjani? pasti hatinya sangat sakit melihat Mas Johan begitu peduli pada, Keysa. Aku nggak suka, bu. Jika perlu ibu tegur juga si Keysa yang nggak tahu diri itu supaya jangan terlalu sering ke mari," ucap Lisa.
"Kalau untuk menegur Keysa ibu bukan nggak berani tapi nggak enak juga sama, Pak Betrand. Tetapi ibu akan menegur Johan saja supaya jaga jarak dengan, Keysa," ucap Bu Sarah.
__ADS_1
Hingga di situ sore pada saat selesai makan malam bersama, di sinilah Bu Sarah menegur anak lelakinya tepat di hadapan Rinjani.
"Johan, duduklah. Ibu dan Lisa ingin bicara sejenak ya, jadi kamu jangan pergi dulu tapi duduk diam di sini. Lagi pula Abian sudah tidur jadi kita bisa bicara nyaman tanpa ada gangguan. Rinjani, kamu juga jangan pergi dulu," pinta Bu Sarah.
Rinjani hanya mengulas senyum yang di sertai sebuah anggukan.
"Ada apa sih, Bu? sepertinya kok serius sekali?" tanya Johan.
"Johan, ibu perhatikan kamu itu terlalu peduli pada Keysa. Ingat nak, dia itu hanya mantan bagimu walaupun dia ibu kandung Abian," tegur ibunya.
"Bu, menurutku aku ini bersikap biasa saja kok. Kenapa ibu bilang seperti ini?" protes Johan.
"Mas, kamu bilang sikapmu itu biasa saja? tidak mas, masa iya sudah mantan di ajak foto bersama mau. Lantas mengantarkan ke dokter pula. Ingat, mas. Ada seorang istri di sisimu, masa kamu tak anggap Mba Rinjani," celetuk Lisa.
"Loh, Rinjani saja diam tak protes. Tapi kenapa ibu dan Lisa yang tak terima seperti ini. Lagi pula aku hanya kasihan padanya saja, masa iya ia sedang hamil besar kesakitan perutnya lantas aku diam saja? aku itu nggak enak juga sama, papah jika sampai terjadi sesuatu padanya di saat dia ada di sini," sanggah Johan.
"Rinjani, kamu juga seharusnya tegur saja jika tak suka dengan sikap Johan akhir-akhir ini. Jangan hanya pasrah diam dan mengalah. Seorang istri punya hak untuk menegur suaminya. Ibu tidak akan marah kok, apa lagi memang sikap Johan ini salah," ucap Bu Sarah.
Rinjani hanya diam tertunduk tetapi matanya berkaca-kaca. Dia memang sering menahan rasa sakit itu. Dia pernah protes tapi yang ada Johan berkilah. Hingga dia kini hanya bisa diam saja karena tak ingin terjadi sebuah pertengkaran.
"Mba Rinjani, kami selaku keluarga Mas Johan tidak akan menyalahkan Mba. Tegur dan larang saja Mas Johan jika keterusan dekat dengan mantan istrinya. Itu hak mba, dan kami selalu dukung," ucap Lisa melirik sinis pada Johan.
"Jika perlu, aku akan tegur langsung Keysa dan aku adukan pada, Pak Betrand. Aku akan minta beliau menasehati anaknya yang tak tahu malu itu."
"Apa kamu lupa, mas Bagaimana Keysa menghina kita dan mengusir kita dari rumahnya waktu itu. Dan apa kamu lupa, dulu bagaimana perlakuan dia padamu, hah?"
"Apa aku harus ingatkan sedetail mungkin tentang segala keburukan mantan istrimu itu, supaya terbuka mata hati dan pikiranmu itu."
__ADS_1
"Seharusnya kamu bisa membandingkan dengan Mba Rinjani itu sangat jauh berbeda. Dia benar-benar istri Solehah dan perhatian padamu, dia juga ibu yang sangat baik."
Mendengar Lisa berkata panjang lebar tak juga membuat Johan sadar apa yang dia lakukan adalah salah.
"Lisa, kok kamu malah menceramahi aku. Aku itu lebih tahu dan mengerti apa yang aku lakukan. Aku itu hanya mengangap Keysa masa lalu tak lebih dari itu. Masa iya aku melarang dia datang kemari bertemu dengan anak kandungnya? masa iya aku biarkan terjadi hal buruk padanya di saat dia di sini kesakitan perutnya?"
Segala bantahan di lontarkan oleh Johan. Hal ini membuat Lisa dan Bu Sarah menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Bu- Lisa, aku ke kamar dulu ya. Aku sudah mengantuk." Rinjani beranjak pergi dari ruang makan dan melangkah ke kamar Abian.
Di dalam kamar Abian dia sudah tak kuasa lagi untuk tidak menitikkan air matanya. Dia tak sadar jika Johan juga mengikuti dirinya.
"Rinjani, kenapa kamu menangis?" tiba-tiba Johan sudah ada di depannya.
"Kenapa kamu kaget, tanpa kamu sadari setiap malam aku menangis, mas." Rinjani menyeka air matanya.
Hati Johan penuh dengan tanda tanya. Selama pernikahan, Rinjani baik-baik saja. Setiap pagi Rinjani tersenyum menyiapkan keperluan ke kantor, menyiapkan sarapan, mengurus Abian. Dia melakukan hal itu penuh ceria dan tak pernah protes.
Juga pada saat Johan berkata," aku belum siap untuk malam pertama."
Rinjani menerima sepenuh hati, dia tak menuntut nafkah batin.
"Apa selama ini Rinjani hanya bersandiwara, Dia pura-pura terlihat baik?" batinnya heran.
"Kenapa kamu nggak bilang, Rinjani?"
"Bagaimana aku mau bilang, mas? kamu selalu sibuk sendiri."
__ADS_1