
Jonathan dan Ara sama-sama pergi ke taman halaman belakang rumah. Ara sebagai tuan rumah berjalan lebih dulu di depan, sedangkan Jonathan tampak mengikuti dari belakang. Masih sama-sama diam, Ara keluar dari pintu kaca yang dari dalam sudah menampakan keindahan taman buatan di belakang rumahnya. Dengan Jonathan yang masih mengikuti.
Taman minimalis yang di hiasi dengan tumbuhan dan beberapa bunga cantik, serta ada dua buah gazebo dari kayu yang berdampingan di sana. Biasanya gazebo tersebut di gunakan untuk bersantai. Keadaan taman itu masih belum berubah sejak dulu, sejak pemiliknya masih ada sampai kini sudah tiada setelah sepuluh tahun lamanya, yaitu si nyonya rumah Merry.
Ara duduk di salah satu gazebo sambil menghirup udara malam yang terasa dingin.
"Sedang apa berdiri di situ? Duduk." ucap Ara sedikit ketus.
Jonathan yang masih berdiri di dekat pintu kaca, mengerenyit sambil memasukan satu tangannya ke dalam saku celana. "Begitu cara kamu memperlakukan seorang tamu? Tidak sopan sekali." ucap Jonathan.
Ara mengerdikan kedua bahunya, sambil membalas tatapan tak suka dari Jonathan. "Tergantung. Bagaimana cara aku bersikap tergantung pada cara orang lain memperlakukan aku. Apa aku harus menjaga sopan santun sama orang yang sendiri nya tak punya sopan santun?" sarkas Ara.
"Kamu mengatai aku tidak punya sopan satun?"
"Bukan nya memang begitu?"
Jonathan geram, mendekat menghampiri gazebo tempat Ara duduk. Menarik lengan Ara sampai membuat gadis itu berdiri, kedua saling menatap nyalang.
Samar-samar bayangan masa lalu terlintas ketika Jonathan berdiri didepan Ara. Gazebo tempat mereka saling pandang kini adalah tempat kesukaan Jonathan dulu. Jika datang ke rumah ini, Jonathan sering menghabiskan waktu nya di tempat itu sambil menggambar. Lalu kan datang seorang anak gadis remaja cerewet yang kan mengganggu nya.
Gadis itu adalah gadis yang kini berdiri depannya, gadis yang sedang ia cekal, gadis sepuluh tahun lalu, yaitu Arabella.
"Jaga ucapan kamu, Arabella." Jonathan menatap mata Ara tajam, yang di balas dengan tatapan yang sama oleh Ara.
Pertama kali. Ini pertama kali nya Jonathan menyebut nama Arabella lagi, setelah puluhan tahun. Pertama kali nya mereka kembali sedekat ini. Tapi konteks nya benar-benar terasa berbeda.
Ara sudah tidak mengenali lagi Kakak tampan yang dulu sering melindungi nya.
"Jaga ucapan aku? Bukannya aku berbicara sesuai kenyataan? Kamu memang tidak punya sopan santun, hampir membuat celaka orang lain tapi bukannya meminta maaf malah bersikap arogan." ucap Ara.
Rasanya masih marah jika mengingat kejadian kemarin pagi.
Semakin mencengkram kuat pergelangan tangan Ara, Jonathan menarik lagi gadis itu. "Jangan sok tahu. Itu semua juga gara-gara kamu penyebabnya. Karena kau membuat kacau pagiku, moodku, bahkan rencana hidup yang sudah aku susun rapih." ucap Jonathan penuh penekanan.
Ara mengerutkan keningnya, merasa tak mengerti maksud ucapan Jonathan. "Apa maksud nya?"
"Kamu masih tidak mengerti dengan arti makan malam ini? Kalau tidak tahu sebaiknya tanya kan pada keluarga mu." ucap Jonathan. Bersamaan dengan itu, tampak seseorang baru saja keluar dari pintu. Masuk ke area taman. Jonathan langsung menghempaskan dengan keras tangan Ara hingga membuat gadis itu terjerembab duduk kembali di gazebo.
"Kakak... "
Jonathan melenggangkan kaki dari sana, pergi setelah mengetahui siapa yang datang. Tanpa melirik Ara sekalipun.
"Awas kalau mengadu pada Papa dan Mama!" ancam Jonathan saat tubuhnya berpapasan dengan Marvel. Lalu pergi.
Marvel yang melihat perlakuan kasar Kakak nya pada Ara langsung mendekat. Berdiri di depan Ara yang tengah mengusap-usap pergelangan tangannya.
"Kamu enggak apa-apa?"
Ara mendongak, mendapati wajah khawatir Marvel. "Enggak. Enggak apa-apa kok."
"Kakak enggak pukul kamu kan? Atau berbuat sesuatu?" tanya Marvel masih dengan tampang khawatirnya.
"Enggak sama sekali. Tenang aja." Ara coba tersenyum meyakinkan.
Marvel menghembuskan nafas leganya. "Syukurlah."
Ara masih mendongkak, menatap Marvel yang masih berdiri di depannya. "Kenapa?" tanya Marvel.
"Kamu adiknya Jonathan? Kok aku belum pernah liat ya? Ini pertama kali kita ketemu."
Marvel memanglingkan wajahnya, terlihat sedikit gugup. Tapi coba ia tutupi dengan duduk di samping Ara. "Oh, itu aku... aku sekolah dan tinggal sama Oma dulu. Jadi kita enggak saling kenal."
"Oh... pantas." Ara mengangguk pelan.
__ADS_1
"Tapi aku sering dengar tentang kamu dari Papa Mama dan juga Kak Jo kok. Makanya aku senang waktu dengar kamu yang mau di jodohkan dengan Kak Jo. Dan berhasil membuat kak Jo menerima perjodohan untuk pertama kalinya." ucap Marvel tersenyum tulus.
Ara terperangah. Bukan, bukan karena melihat senyuman tampan Marvel tapi karena ucapan terakhirnya.
"Tunggu. Apa tadi kamu bilang? Di jodohkan?"
"Loh kamu enggak tahu? Aku kira kamu sudah tahu kalau kalian di jodohkan." tanya Marvel.
Ara menggelengkan kepalanya, seketika bingung.
Apa maksudnya ini?
*********
Makan malam dan silaturahmi antara dua keluarga itu berlangsung lancar hingga akhir. Tanpa tahu bahwa kedua orang yang sedang mereka jodoh-jodohkan itu nyatanya berperang dingin. Jonathan sempat kaget ketika tiba-tiba tahu orang yang di jodohkan dengan nya itu Arabella, gadis kecil masa kanak-kanak nya. Dan begitupun Ara, kaget pria arogan yang hampir menabrak dirinya adalah Jonathan, kakak tampan yang merupakan pelindung kecilnya.
Tak pernah menyangka mereka akan bertemu lagi di situasi yang rumit. Keduanya saling tak menyukai satu sama lain. Semua kenangan manis masa kecil seakan memudar seiring nya waktu ke waktu karena perpisahan kedua nya.
Ara yang di bawa pindah ke luar negeri oleh sang Ayah tak pernah mendengar kabar Jonathan setelah beberapa bulan menetap di sana. Dan Jonathan pun tak pernah mendapatkan kabar lagi tentang Ara. Dan setelah kedua nya saling lupa satu sama lain, kini semesta mempertemukan mereka dengan cara yang sangat mengejutkan.
Perjodohan.
Terjalin di saat mereka sudah kembali menjadi dua orang asing.
Tok
Tok
Tok
Ara mengetuk pintu kamar sang Ayah. Ingin memastikan apa perihal apa yang ia dengar perihal perjodohan. Ketika Adrian memperolehkan nya masuk, Ara melihat ayahnya itu tengah bersiap untuk istirahat. Semua anggota keluarga Harvey sudah kembali sekitar setengah jam yang lalu.
"Ada apa sayang? Kenapa belum istirahat?" tanya Adrian ketika melihat putri bungsu nya itu masuk ke dalam kamar.
Adrian menggeleng, menepuk kasur kosong di sampingnya. Ara mendekat, duduk di samping Adrian. "Kenapa? tumben ke kamar Ayah malam-malam. Pasti ada yang mengganggu pikiran kamu ya?"
Adrian hafal. Sudah tahu benar tabiat sang putri.
Berdiam sebentar, Ara tampak gelisah. "Kenapa? Bicara sama Ayah."
"Em.. Ayah.. Ara mau tanya, seoal makan malam tadi. Apa benar maksud kedatangan keluarga Om Jeremy bukan hanya sekedar makam malam biasa?"
"Maksudnya?"
"Apa benar Ara mau di jodohkan dengan Kak Jonathan?"
Adrian tampak sedikit terkejut. Sebelum kemudian membuka suara lagi. "Kamu sudah tahu?"
"Jadi benar Ara mau di jodohkan?" ujarnya kaget. "Kenapa Ayah tega. Tidak bilang atau bertanya lebih dulu pada Ara." Nada suara nya sedikit meninggi dan bergetar.
"Tenang dulu sayang. Kenapa harus berteriak seperti itu." ucap Adrian. Mengusap bahu putrinya.
"Habisnya, kenapa Ayah tidak bilang apa-apa soal ini. Ara masih kaget saat tahu lelaki arogan itu ternyata Kak Nathan anak Om Jeremy. Sekarang Ara malah dengar akan di jodohkan sama dia." cerocos gadis itu.
Adrian tersenyum sambil menepuk-nepuk rambut Ara. "Iya Ayah tahu kamu kaget, ayah juga kaget saat tahu orang yang mau menabrak kamu itu Nathan." ucap Adrian.
"Dan soal perjodohan itu, Ayah memang sengaja belum memberitahu kamu karena itu baru rencana." sambung Adrian.
"Maksud nya?"
"Om Jeremy dan Tante Sofia memang menawarkan perjodohan antara kamu dan Jonathan. Tapi ayah belum menyetujui nya, itu sebabnya Ayah belum memberitahu kamu."
"Jangan setuju." ucap Ara tiba-tiba. "Ayah tidak boleh setuju. Ara gak mau, enggak mau di jodohkan." tolaknya.
__ADS_1
"Loh kenapa? Bukannya kamu dulu suka sekali sama Nathan? Kamu bahkan sampai menangis berhari-hari karena berpisah sama dia." ledek Adrian.
Ara jadi malu sendiri mengingat masa remajanya. "Tidak mau. Itu kan dulu, sekarang Ara sudah enggak suka lagi. Apalagi dia sekarang orang arogan."
"Ara, jaga bicara kamu nak." tegur Adrian.
"Kan memang benar Ayah, dia orang arogan. Ayah sudah tahu sendiri. Masih lebih baik Jay kekasih Ara di banding Jonathan si Arogan itu." ucapnya tanpa sadar.
"Jadi kamu masih berhubungan dengan anak itu?" tanya Adrian. "Kalian tidak benar-benar putus?"
Ara terhenyak, bungkam seketika karena telah salah berbicara.
"Jawab Ayah, Ara." ucap Adrian menuntut.
"Itu.. em.. "
"Bicara yang benar."
"A-ayah, maaf.. Ara sayang Jay, Ayah. Ara tidak bisa putus dari Jay." ucap Ara takut-takut.
"Jadi kamu selama ini membohongi Ayah?"
"Maafin Ara, Ayah."
"Kamu tega membohongi Ayah demi anak berandalan itu?"
"Ayah Jay bukan anak berandalan." bela Ara tak terima. "Lalu apa namanya orang yang jelas-jelas bergabung dengan anggota gengster berbahaya kalau bukan anak berandalan?"
"Tapi Jay enggak pernah berbuat kejahatan."
"Kamu masih yakin dia enggak berbuat kejahatan padahal kamu tahu benar kelompok seperti apa mereka Arabella."
"Ayah---"
"Kamu juga tahu bahkan Jay lebih memilih melepaskan kamu dari pada harus pergi dari kelompok itu saat Ayah minta baik-baik pada dia. Tapi kenapa kamu masih bisa seyakin itu sama dia?"
"Jay punya alasan sendiri Ayah."
"Alasan apapun Ayah tidak bisa menoleransi nya. Ayah tidak mau kamu berhubungan lagi sama dia, itu bisa berbahaya Ara." ucap Adrian tegas.
Menghentak turun dari kasur, mata Ara tampak berkaca-kaca. "Terserah! Ayah memang enggak bisa mengerti."
"Ara kesal sama Ayah." ucapnya marah lalu berlalu pergi keluar dari kamar Adrian.
Ara menutup pintu dengan bantingan cukup keras, membuat Adrian menggelengkan kepala dengan putri semata wayangnya itu.
"Astaga, aku harus apa Merry? Dia sangat keras kepala seperti mu." gumam Adrian sambil memandang foto mendiang sang istri dan Ara kecil yang sedang berpelukan.
•
•
•
To be continued ...
•
Maaf rada telat update, habis sibuk ngurusin hal menuju hari raya.
Minal aidzin wal faidzin semuanya, mohon maaf lahir batin ya, maafin kalau aku ada kesalahan yang di sengaja atau tidak di sengaja.
Selamat hari raya idul Fitri buat yang yang merayakan 🙏
__ADS_1