
Perdebatan antara Ara dan Ayah Adrian semalam ternyata masih terasa hingga beberapa hari lamanya. Ara yang masih merajuk selalu pergi kerja saat pagi-pagi sekali, menghindari acara sarapan bersama di setiap pagi. Lalu saat di rumah sakit, ia sebisa mungkin menghindar pertemuan dengan Ayahnya, begitupun saat tiba di rumah. Devan sampai menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik bungsu nya itu yang terkadang mengendap-endap di dalam rumah sendiri seperti seorang pencuri.
"Mau kemana kamu?" seruan Devano membuat Ara yang tengah mengendap ingin keluar rumah berjengkit kaget.
Gadis itu menoleh dengan tatap kesal. "Ih.. kakak kagetin aku aja." decak Ara sambil mengerucutkan bibirnya.
Devan berjalan menghampiri, sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Ya habis kamu ngendap-ngendap begitu. Kaya maling saja." ucap Devan.
"Mau kemana siang-siang begini?" tanya Devan saat tubuhnya sudah ada di depan sang adik.
Hari ini hari libur. Biasanya Ara hanya akan tidur di kamar seharian seperti beruang hibernasi.
"Keluar." jawab Ara. Mengulurkan tangan hendak memberi salam pada Devan, tapi tangannya malah di tahan sang kakak saat hendak pergi.
"Jangan pergi dulu. Ayo ke atas, Ayah mau bicara." ajak Devan.
Ara buru-buru menarik lengannya, ingin pergi. "Enggak bisa. Ara buru-buru, nanti aja." jawabnya.
Devan tentu tidak membiarkan, masih menahan saja. "Sebentar Ra. Ini penting."
"Ara juga ada urusan penting Kak. Mau bertemu orang."
"Enggak akan lama."
"Kak--- "
"Jangan seperti anak kecil Ara. Kamu sudah dewasa, sudah 26 tahun. Hadapi dan selesaikan masalah dengan benar, bukan terus menghindar seperti ini."
Ara diam sesaat, wajahnya tampak ragu. "Tapi kak, Ayah-- Ayah pasti masih marah sama Ara." cicitnya.
Devan mendekat, mengusap surai coklat adiknya itu.
"Ayah udah enggak marah kok. Malah Ayah khawatir banget sama kamu, beberapa hari ini kepikiran kamu terus."
Ara diam, menatap kedua manik Devano. "Udah jangan ragu, ayo temuin Ayah. Kakak temanin." tarik Devan tak sabaran membawa Ara menemui sang Ayah.
Meski ragu Ara akhirnya setuju. Ikut dengan Devan ke ruang kerja Ayah Adrian.
Devan mengetuk pintu berulang kali, tak ada jawaban dari dalam, membuka pintu perlahan Devan lalu masuk ke dalam bersama Ara. Pemandangan yang Ara lihat pertama kali adalah Ayah Adrian yang tengah duduk melamun di sebuah sofa.
Seruan pelan dari Devan baru mengalihkan kesadaran Ayah. Pria paruh baya itu tersenyum lembut begitu melihat putri kecilnya ikut masuk.
"Kemari sayang, Ayah mau bicara." ucap Ayah sambil melirik sofa panjang yang ada di depannya.
Ara yang mengerti lalu duduk di sofa panjang tersebut, sedangkan Devan di minta duduk di samping Ayahnya.
Hening tercipta sesaat, sampai akhirnya Ayah Adrian membuka suara lebih dulu.
"Kamu mau pergi keluar?"
"Iya." jawab Ara singkat.
"Mau kemana?" tanya ayah lagi.
"Ada keperluan penting." jawabnya singkat lagi.
Ayah Adrian menghela nafasnya pelan. Masih menatap putri bungsunya yang terus mencoba mengalihkan pandangannya kesana kemari.
__ADS_1
"Baiklah kalau kamu mau keluar. Ayah mau sampaikan langsung hal penting nya saja." ucap Ayah.
Ara masih diam. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan Ayahnya itu ucapkan.
"Soal perjodohan kamu dengan Jonathan." jeda Ayah.
Ara malas mendengar tentang ini, tapi juga ingin tahu apa yang ingin Ayah katakan. Ara berharap dalam hati, semoga saja Ayahnya menolak tawaran perjodohan di minta oleh Paman Jeremy. Mengingat beberapa hari ini ia sedang merajuk, biasanya Ayah Adrian akan luluh jika Ara sudah memasang mode merajuknya.
Tapi sepertinya semesta sedang tidak berpihak pada Ara karna ucapan yang di katakan Ayah Adrian setelahnya adalah kata yang paling Ara tak inginkan.
"Ayah menyetujui perjodohan kamu dan Jonathan."
"APA?"
Dan Ara merasakan waktu seketika berhenti berputar. Matanya membulat seketika dengan mulut yang terbuka lebar.
"Kak, A-Ayah... "
"Keputusan ini sudah Kakak dan Ayah diskusikan dengan baik, Ra. Kakak mendukung keputusan yang Ayah buat." ucap Devan yang semakin membuat Ara kehabisan kata.
"Kakak... "
"Ayah berharap kamu bisa menerima keputusan yang sudah ayah buat. Ini semua juga demi kebaikan kamu Ara."
"Tunggu Ayah... "
Ara benar-tidaknya tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Ayah sudah mengambil keputusan dan Ara tahu tidak akan bisa baginya untuk berontak, apalagi Kakak nya juga ikut andil dan mendukung.
"Ayah, Ara enggak mau menikah. Apalagi sama lelaki menyebalkan itu. Ara enggak mau, gak mau. Pokoknya enggak mau." ucapnya hampir setengah menangis.
Entah mengapa Ara seperti merasa tidak memiliki kekuatan saat ini.
Mencoba menahan sesak di dadanya, Ara berdiri dengan air mata yang sudah turun membasahi kedua pipinya. "Pokoknya Ara enggak mau. Ara enggak mau menikah sama dia." ucapnya keras sebelum pergi meninggalkan kedua pria kesayangan itu dengan rasa kecewa.
*********
Sungguh tidak ada hal yang paling menjengkelkan di dunia ini selain menunggu. Dan kini hal tersebut sedang di alami oleh seseorang sekelas Jonathan Harvey. Seseorang yang biasa akan membuat banyak orang menunggu kehadirannya, yang terjadi kini malah sebaliknya. Ia harus bersabar menunggu kehadiran seseorang yang bahkan bagi nya tak penting. Dan kini orang itu malah membuang waktu Jonathan yang berharga.
Mengeram kesal, Jonathan melihat lagi jam di pergelangan tangannya yang terus berputar. Sudah hampir tiga puluh menit ia menunggu, tapi tanda-tanda kemunculan orang yang ingin menemui nya secara mendadak itu pun tak terlihat.
Sudah berniat hendak pergi, tapi Jonathan urungkan niatnya itu saat melihat seorang yang sedari tadi ia tunggu datang juga.
Seorang gadis cantik yang kini berjalan ke arahnya sambil terus menundukan kepalanya.
"Maaf terlambat." ucap gadis itu.
Jonathan menatap. "Kamu membuang waktu ku yang berharga, Arabella." ucap Jonathan berusaha menekan rasa kesal.
"Maaf... " Ara mendongkak, membuat Jonathan dapat melihat wajahnya yang terlihat sembab.
Kedua matanya bengkak, dengan sisa jejak air mata di pipi yang tampak mengering. Juga ujung hidungnya terlihat memerah.
Dia habis menangis?
Menggeleng pelan, Jonathan tak ingin menelisik lebih dalam. "Duduk."
Mereka saling duduk berhadapan. Ara terlihat masih berusaha mengatur dirinya.
__ADS_1
"Cepat hal penting apa yang mau kamu bilang. Jangan buang waktu lebih lama." ujar Jonathan tanpa basa-basi.
Ara yang merasakan hal sama pun, tak ingin membuang waktu dengan lelaki di hadapannya kini.
Jadi ia akan langsung mengatakan maksud dan tujuannya meminta bertemu.
"Aku minta tolong, batu aku hentikan perjodohan ini." jujur Ara.
"Aku belum siap menikah. Meskipun aku siap untuk menikah, tapi itu bukan dengan orang lain. Tapi dengan seseorang yang aku inginkan dan aku cintai. Bukan terpaksa begini." sambung Ara.
Jonathan mengerenyit, dengan tampang yang meremehkan. "Kenapa aku harus ngelakuin itu?"
Ara menghela, menatap kedua mata Jonathan. "Bukan buat aku saja, tapi buat kita berdua. Kamu dan aku sama-sama enggak mau di jodohkan, jadi tolong hentikan perjodohan konyol ini."
"Kenapa bukan kamu sendiri saja yang melakukan kalau begitu?" ucap Jonathan yang membuat Ara mulai geram.
"Aku enggak punya cukup kekuatan untuk menolak nya, situasi aku enggak memungkinkan. Berbeda dengan kamu, kamu pasti bisa."
"Tapi, sayangnya aku pun sama. Aku pun enggak punya kekuatan untuk menghentikan perjodohan ini."
"Maksudnya?"
"Sama sepertimu, Situasi ku juga enggak memungkinkan untuk menghentikan perjodohan konyol ini. Jika aku bisa sedari awal pasti sudah aku lakukan." jawab Jonathan.
"Terus?"
"Ya.. tidak ada jalan keluar. Kecuali para orang tua itu sendiri yang memutuskannya sendiri." ucap Jonathan.
Bahu Ara terasa semakin lemas. Menjatuhkan kepalanya di atas meja restauran dengan kedua lengan sebagai penopang kening.
"Hah.. Gimana ini?" Ara rasanya ingin menangis lagi jika ia tak ingat kalau sedang berada di luar saat ini. Apalagi ada sosok Jonathan di hadapannya kini, sebisa mungkin ia menahan air matanya.
Jonathan sejenak memperhatikan perilaku Ara. Tapi yang di lakukan gadis itu hanya menghela nafas terus menerus sambil masih menyembunyikan wajahnya di atas meja.
"Kalau enggak ada yang mau di katakan lagi aku pergi sekarang." ucap Jonathan seraya bangkit dari duduknya.
Ara yang mendengar itu pun sontak bangun.
"Kamu mau main pergi saja?"
Jonathan mengerutkan kening. "Lalu aku harus apa?"
"Kita belum temuin jalan keluar." jawab Ara.
"Bukan nya sudah cukup jelas ya? Tidak ada jalan keluarnya. Tapi jika kamu bisa menemukan jalan keluar dan berhasil membuat perjodohan ini gagal aku akan sangat berterima kasih. Bahkan aku akan memberikan bayaran yang mahal buat keberhasilan kamu itu." ucap Jonathan.
"Apa katamu?"
"Sudahlah, aku enggak punya waktu lagi buat di buang sia-sia. Lakukan saja apa yang bisa kamu lakukan."
Lalu lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan Ara yang terlihat geram dan kesal.
"Dasar lelaki menyebalkan!!" teriak Ara yang bahkan tak di hiraukan sedikitpun.
•
•
__ADS_1
•
To be continued ...