
Jonathan Harvey, jika membicarakan nama itu orang-orang tentu akan tahu siapa dia. Pria tampan yang kini sedang hot-hot nya menjadi topik pembicaraan. Namanya dan foto dirinya tersebar luas di berbagai majalah bisnis dengan judul 'CEO Muda Tampan Berotak Brilian'.
Selain karena wajahnya yang tampan menjadi pusat ketertarikan, tapi juga karena kecerdasan nya. Di usai nya yang menginjak 30 tahun, Jonathan sudah mampu membuat perusahaan keluarganya meningkat pesat hanya dalam waktu 5 tahun masa jabatannya.
Kemampuannya pun di akui oleh berbagai orang, termasuk para perusahaan kompetitor sekalipun.
Menjadi pemimpin perusahaan yang terkenal, sering kali membuat Jonathan di undang untuk menjadi inspirasi narasumber untuk sebuah majalah. Nyatanya selain bisnis nya di jadikan sumber berita, kehidupan pribadi nya pun tak luput di sorot. Sering kali para media mempertanyakan alasan Jonathan masih singel di usia nya yang sudah menginjak kepala tiga.
Meski tak ambil pusing, tapi Jonathan kadang merasa risih jika membahas tentang status dirinya. Walau ia sering kali menjawab dengan blak-blakan alasan dirinya masih betah sendiri di usia itu, "Saya tidak tertarik pada cinta dan pernikahan. Atau semacamnya." Tegas dan berani. Jonathan tak merasa ada yang salah pada statement nya.
Padahal itu jelas-jelas statement tersebut membuat kecewa para rekan bisnis nya sering terbaca mempunyai maksud lain dengan mengenalkan para putri mereka pada Jonathan.
Statement Jonathan yang terang-terangan itu juga sudah membuat pusing kedua orang tua nya yang semakin hari semakin sulit untuk mendapatkan calon menantu.
Karena acap kali Jonathan menolak dengan sangat dingin para wanita yang mendekati nya atau dengan sengaja di dekatkan padanya.
Dia benar-benar enggan untuk berurusan dengan wanita. Kecuali satu wanita, yaitu ibunya.
"Sudah pulang, nak?"
Sofia beranjak, menghampiri sang putra yang baru saja tiba dan memasuki mansion mewahnya.
Langkah kaki Jonathan pun terarah pada ibunya yang datang menghampiri. Memeluk dan mencium kedua pipi ibunya, sehebat apapun Jonathan diluar sana ia akan tetap menjadi anak yang manis bagi sang ibu.
Seperti saat ini contohnya, untuk melepaskan jas juga dasi yang melekat pada tubuhnya. Itu juga harus memerlukan bantuan sang ibu.
"Bagaimana hari ini? Melelahkan?" tanya Sofia sambil memberikan jas, dasi dan tas milik Jonathan pada salah seorang maid.
Jonathan merenggangkan otot tubuhnya sambil melipat lengan kemeja yang ia pakai.
"Hm.. seperti biasa Ma. Cukup melelahkan." jawab Jonathan.
"Kamu sudah makan malam?"
"Sudah."
Sofia menarik lengan Jonathan untuk ikut keruang keluarga. Disana Jeremy terlihat sedang asik membaca sebuah majalah, dimana foto Jonathan lah yang menjadi covernya.
"Duduk dulu, Mama akan minta maid untuk buatkan teh hangat untuk mu"
Sofia meminta salah satu maid untuk membuatkan teh dan beberapa cemilan untuk Jonathan. Ia pun kemudian ikut duduk di sana.
"Tadi pagi kamu jadi melakukan interview lagi dengan salah satu majalah bisnis?" Jeremy membuka suara, tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang ia pegang.
"Hm... " Jonathan hanya bergumam. Sibuk memainkan ponsel di tangannya.
"Apa kali ini kamu membuat ulah lagi?"
"Apa maksud Papa?" bertanya, padahal Jonathan tahu maksudnya.
"Mengeluarkan statement frontal tentang pernikahan, seperti di majalah ini?"
Jeremy meletakan dengan kasar majalah yang sedari tadi ia pegang. Terbuka, halaman majalah tersebut berisi interview Jonathan.
Jonathan melirik sekilas, lalu kembali tak peduli. "Jo kan hanya menjawab sejujur nya saja. Lagi pula itu bagus bukan? Jadi dengan begitu Jo tidak perlu susah-susah menolak para penjilat itu yang berusaha mengenalkan putri-putri nya."
"Apa kamu katakan? Jonathan, mau sampai kapan kamu akan terus seperti ini. Usia mu sudah 30 tahun, sudah saat nya kamu menikah." ucap Jeremy. "Mama dan Papa sudah semakin tua, kami ingin melihat kamu memiliki pasangan dan juga keturunan. Untuk itu Papa sudah mengambil keputusan, Papa akan menjodohkan kamu dengan salah satu anak sahabat Papa. Lusa kita akan datang makan malam ke rumah mereka, dan kamu harus ikut"
Ucapan Jeremy sontak membuat Jonathan medongkak, menyentak tak suka.
"Pa, berhenti membahas soal ini. Papa juga sudah tahu bukan aku enggak mau menikah."
Nada suara nya terdengar sedikit meninggi.
"Jo, rendahkan nada bicara kamu. Yang sopan bicara dengan orang tua." Sofia sang ibu menginterupsi tegas.
__ADS_1
Ibunya memang perempuan yang lembut, tapi bisa juga menjadi tegas di saat-saat tertentu.
"Tapi Ma, Papa tidak bisa semau nya mengambil keputusan. Jonathan sudah katakan Jonathan tidak akan menikah. Jadi berhenti menjodohkan Jo"
"Kali ini kamu tidak bisa menolak. Keputusan Papa sudah sangat bulat. Jika kamu ingin menentang, silahkan. Maka Papa akan menggantikan Marvel sebagai ahli waris keluarga ini." ancam Jeremy.
"PA!"
"Keputusan ada di tangan kamu. Papa tahu kamu tidak akan mau harga diri kamu jatuh di bawah Marvel bukan"
Mendesah frustasi, Jonathan bangkit sambil menyentak kasar. "Terserah!"
Lelaki itu pergi keluar mansion dengan marah, tanpa memperdulikan Sofia yang terus memanggilnya dari belakang.
"Bagaimana ini sayang?" tanya Sofia khawatir setelah melihat kemarahan putranya.
Jeremy menghembuskan nafas pelan, "Biarkan saja dulu, hanya ini satu-satunya cara. Kita tidak bisa membiarkan nya terus begitu. Aku yakin dia tidak akan mau mengalah pada Marvel"
"Ya semoga rencana kita berhasil" gumam Sofia.
*********
Jonathan mengendarai mobil miliknya dengan kecepatan penuh. Seolah-olah meluapkan emosi yang kini sedang memuncak di dirinya.
Melajukan mobilnya membelah keramaian malam. Mobil Jonathan berhenti pada satu club malam mewah yang biasa ia datangi.
Memarkirkan kendaraan nya sembarangan, Jonathan langsung melempar kunci mobilnya pada salah seorang valet parking di sana.
Begitu memasuki club tersebut, Jonathan langsung di sambut oleh riuh nya dentuman suara musik dan manusia, serta bau alkohol yang menyeruak ke setiap sudut.
Kedatangan Jonathan yang secara tiba-tiba membuat Manager club malam tersebut terkejut. Meski tak sekali dua kali Jonathan datang tiba-tiba ke sana, tapi lebih sering Jonathan membooking lebih dulu agar bisa di layani dengan sempurna.
"Tuan Jonathan" sapa Manager berkepala botak itu dengan buru-buru.
"Apa room ku kosong?" tanya Jonathan sambil melangkah dengan gagah. Memasukan kedua tangannya pada saku celana.
Kedatangannya sedikit menjadi pusat perhatian. Orang-orang yang sering datang ke club tersebut, sudah tak merasa asing dengan kehadiran Jonathan.
Tamu-tamu di sana sudah sering melihat kedatangan CEO muda yang sedang terkenal-terkenal nya itu.
"Sendirian?"
"Bersama seorang gadis"
Langkah Jonathan terhenti di sebuah ruangan mewah yang bertuliskan VIP. Ruangan khusus yang hanya ia gunakan sendiri atau bersama sahabatnya.
"Apa saya perlu menyiapkan room yang lain saja?" tanya Manager takut-takut.
Karena terlihat jelas aura Jonathan sedang tidak baik.
Jonathan hanya menggerakkan sebelah tangannya dengan dua kali gerakan sebagai penolakan.
"Bawakan saja yang seperti biasanya."
Si manager langsung mengangguk patuh lalu langsung pergi dari sana begitu Jonathan memasuki VIP room nya.
Kehadiran Jonathan membuat dua orang manusia yang sedang bercumbu mesra di dalam sana tersentak kaget.
Jonathan melihat kemesraan itu hanya acuh tak acuh.
"Hei dude!" sapa Garry santai. Tak perduli pada rasa malu, padahal wajah wanita yang ada di samping nya sudah memerah.
Tak membalas sapaan Garry, Jonathan langsung menghempaskan tubuhnya dengan kasar di singel sofa. Sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran.
Garry yang sudah paham pada tabiat seorang Jonathan, langsung meminta wanita teman kencannya itu untuk keluar.
__ADS_1
"I'll call you later, baby" Garry mengedip genit.
Wanita tersebut keluar sambil tersenyum malu-malu.
"Hey Jo. What is wrong?" tanya Garry. Bergeser agar lebih dekat dengan sahabat nya, "Hal buruk apalagi yang kali ini?"
Jonathan membuka matanya, menatap lampu remang di atas langit-langit ruangan.
"Papa memaksa gue menikah. Dia mau jodohin gue."
Seorang pelayan masuk, membawa minuman sebotol Vodka yang biasa Jonathan minum.
"Bukannya itu sudah biasa ya?" tanya Garry. Pasalnya Garry sudah sering mendengar Jonathan yang mengeluh di jodohkan.
Setelah pelayan pergi, Jonathan meraih botol Vodka nya. Lalu menuangkan pada gelas berisi es.
Dan meminumnya dengan kasar. "Kali ini dia mengancam akan mengganti ahli waris pada si bocah tengik itu." ujar Jonathan frustasi.
"Marvel maksud lo?"
"Jangan sebut nama dia di depan gue!" ucap Jonathan tak suka.
Garry mengangkat kedua tangannya. Sudah salah bicara. "Iya maaf.. maaf."
"Jadi Paman Jeremy mau jodohin elo serius kali ini? Sampai menggunakan ancaman segala?"
"Hm... "
"Memang nya Jo, lo di jodohin sama siapa? Putri dari keturunan mana?" tanya Garry penasaran.
Jonathan mengedikan kedua bahu nya. "Tidak tahu. Dia hanya bilang putri dari sahabatnya."
"Hm.. siapa ya?" Garry berpikir. "Memangnya Paman punya sahabat?" tanya Garry. Seingatnya semua teman Jeremy hanyalah rekan bisnis semata.
"Tidak tahu. Dia memaksa gue ikut acara makan malam dan perkenalan besok lusa." jawab Jonathan kesal.
"Lalu bagaimana? Apa keputusan lo? Lo akan ikut? atau... " Garry menggantungkan ucapannya. "Merelakan Marvel menjadi ahli waris?"
Jonathan mendelik, menatap nyalang tak suka pada Garry. "Jangan marah, gue kan hanya bertanya." ucap Garry, takut melihat tatapan tajam Jonathan.
"Dari pada bocah si*lan itu yang harus menjadi ahli waris, lebih baik gue hancurkan saja semuanya!" ucap Jonathan dingin.
Bahkan gelas yang ada di tangannya di remas kuat. Seakan bisa hancur. Seperti ia ingin menghancurkan satu nama yang terus menjadi ancaman baginya.
•
•
•
To be continued ...
Jonathan si Arogan
•
Note : Hai karya baru ini nya akhirnya launching juga. Sebenernya ide ini udah cukup lama. Tapi baru terealisasi kan karena aku sibuk.
Semoga karya kali ini bisa aku kerjakan dengan baik dan konsisten sampai end. Dan juga semoga bisa banyak di sukai sama kalian.
Minta pendapatnya ya di kolom komentar, gimana episode ke 1 ini.
Dan juga minta dukungannya dengan cara di like dan di vote. Vote nya pake poin, poinnya gratis kok. Kalian cuma perlu sering-sering ke pusat misi aja hehe.
__ADS_1
Udah segitu aja ya takut kepanjangan note nya hehe.
I hope your appreciation guys. Love all