Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Hari Pertemuan


__ADS_3

Note : Judul di ganti jadi 'Pernikahan Terpaksa'


*********


Ini akhir pekan. Hari libur kerja, hari yang biasanya akan Jonathan untuk bersenang-senang melepaskan penat nya yang telah mengurus perusahaan. Biasanya sedari pagi Jonathan akan pergi keluar menyalurkan hobi-hobi nya sampai puas, seperti berenang, bermain golf atau berkuda.


Lalu malam hari nya ia akan bersenang-senang di club bersama Garry dan Daniel. Tapi hari ini Jonathan hanya berdiam diri di rumah dari pagi hingga petang, Sofia ibunya dari semalam sudah sangat mewanti-wanti Jonathan untuk tidak pergi kemanapun karena jika lelaki itu sudah keluar dari mansion, ia tidak akan ingat pulang hingga larut malam.


Karena malam ini mereka semua akan ada acara makan malam di rumah Adrian, sahabat Ayahnya. Jonathan juga terpaksa menurut karena ia sudah melakukan perjanjian dengan sang Ayah, akan tetap mengikuti perjodohan itu asalkan Jeremy menetapkan ahli warisnya pada Jonathan.


Tapi, semua itu belum di lakukan secara sah karena perjanjian antara anak dan ayah itu baru terjadi tadi malam di ruang kerja Jeremy.


Semuanya akan di sahkan secara hukum jika Jonathan sudah benar-benar resmi menikah dengan gadis pilihan Ayahnya itu. Yang bahkan Jonathan belum ketahui. Hanya saja Sofia ibu nya beberapa kali mengatakan kalau Jonathan pernah bertemu dan mungkin mengenal gadis yang akan menjadi calon istri nya tersebut.


"Jo.. kamu sudah siap? Ayo Papa dan Marvel sudah menunggu di bawah." panggil Sofia dari depan kamar Jonathan.


Pintu sudah di ketuk berkali-kali, tapi tak ada respon Jonathan dari dalam sana.


"Jo... "


Ceklek


Pintu terbuka, menampilkan sosok Jonathan yang sudah tampak rapi dan tampan. Dengan balutan pakaian semi formal, Jonathan mengenakan kaos hitam dengan celana bahan senada lalu di balut jas silver bermotif daun.


"Kamu sudah siap? Kenapa lama sekali, Papa dan Marvel sudah nunggu dari tadi." ucap Sofia sembari merapihkan jas yang Jonathan gunakan.


"Apa dia harus ikut?" tanya Jonathan, wajahnya terlihat tak suka.


Sofia mendongkak, menepuk kedua bahu Jonathan. "Tentu saja. Dia kan adik kamu, anak keluarga ini juga. Mana mungkin kita tidak mengajak dia dalam acara keluarga."


Jonathan mendengus, menunjukkan ketidaksetujuan pada ucapan Sofia. "Ck.. keluarga apanya." cemoohnya.


"Jo... " tegur Sofia. "Jangan ribut seperti ini. Mama enggak mau ada kekacauan di malam yang membahagiakan buat Mama ini." pinta Sofia.


Jonathan mengerutkan keningnya. "Malam membahagiakan buat Mama?"


"Iya malam membahagiakan. Pokoknya nanti kamu pasti tahu sendiri." ucap Sofia. Lalu perempuan paruh baya itu menarik Jonathan untuk turun ke bawah bersamaan. "Ayo kita harus berangkat sekarang."


Jonathan menurut saja, toh dia sudah tidak punya jalan pilihan yang lain. Mau tidak mau ini harus ia lakukan demi menyelamatkan ego dan harga dirinya.


Meski tak tahu apa keputusan nya ini akan mendatangkan penyesalan atau tidak kedepannya.


*********


Di rumah Adrian semua tampak sudah bersiap menyambut kehadiran keluarga Jeremy Harvey. Adrian benar-benar memperhatikan setiap hal yang di persiapkan secara detail untuk menjamu keluarga Harvey secara baik. Karena kedatangan Jeremy dan keluarga nya ini merupakan pertemuan pertama mereka lagi setelah 10 tahun lamanya.


Adrian tidak ingin mengecewakan sahabat nya yang selama ini sudah mendukung dia dalam keadaan apapun. Karena meski terpisah jauh, hubungan erat persahabatan mereka masih terjalin erat diantara keduanya.


"Semua nya sudah beres kan Dev?" tanya Adrian pada Devano sang putra.


"Sudah kok Yah, jangan khawatir."


Adrian mengangguk-anggukan kepalanya. "Bagus.. bagus.. terima kasih ya Dev Iren kalian sudah menghandle semua nya."


"Iya Ayah.. " jawab Irena.


"Oh iya, di mana Ara? Kenapa dia belum keliatan juga? Keluarga Om Jeremy sebentar lagi sampai." ucap Adrian.


Irena melirik pada suami nya sekilas. "Mungkin Ara masih siap-siap Ayah." jawab Devano.


"Sayang, coba kamu panggil Ara turun." pinta Devano. "Yasudah aku cek dulu."


Baru Irena beranjak, Ara terlihat sudah keluar kamar. Menuruni anak tangga.


"Ara sudah siap kok hehe. Maaf ya terlambat." ucap gadis itu tersenyum.


"Astaga kamu cantik sekali Ra." ucap Irena melihat penampilan Ara.


"Iya anak Ayah cantik sekali." puji Adrian.


Ara tersenyum, mengibaskan rambutnya bangga. "Iya dong, Ara kan memang sudah cantik dari lahir." ucapnya bangga.


Penampilan Ara tampak elegan dengan riasan sederhana, menggunakan dress brukat krem berlengan pendek, dengan panjang sampai selutut.

__ADS_1


Rambut panjangnya di biarkan tergerai dengan sedikit bergelombang. Tampak sangat cantik dan sopan.


Devano gemas, mengusak rambut adik kesayangannya itu. "Jelas cantik dari lahir, kalau ganteng dari lahir itu Kakak."


Ara mengerucut, menyingkirkan tangan Devano dari kepalanya. "Rambut aku rusak Kak. Katanya suruh dandan yang cantik dan rapih." gerutu Ara.


Ara sebenarnya merasa sedikit malas ikut acara makan malam ini, perasaan nya sedang tidak enak hari ini karena seharian ini Jayden kekasihnya tak bisa di hubungi.


Pikiran Ara sedang buruk, tapi ia tetap tidak mungkin menolak Ayahnya. Apalagi yang akan datang adalah sahabat Ayahnya.


Devano tertawa melihat Ara yang cemberut. "Kakak kan suruh kamu dandan yang cantik dan rapih biar kamu enggak malu kalau nanti bertemu dengan cinta pertama kamu."


Ara mengerutkan keningnya, bingung. "Cinta pertama?"


Devano menganggukan kepalanya.


"Kamu ingat? Kakak tampan yang dulu sering datang ke rumah kita bersama Ayah. Yang sampai bisa buat kamu nangis enggak mau ikut keluar negeri." ledek Devano.


Ara terdiam sesaat dengan kening yang berkerut dalam, mencoba mengingat seseorang yang di ceritakan Devano. "Kakak tampan?" gumamnya.


Tiba-tiba kedua mata Arabella membulat sempurna dengan mulut yang terbuka. "Jangan bilang tamu kita itu... Kak Jonathan yang tampan? Anaknya Om Jeremy dan Tante Sofia?"


"Ternyata kamu masih ingat dengan mereka semua. Ayah kira sudah lupa." ucap Adrian sambil tertawa.


"Astaga Ayah, jadi mereka yang datang? Kenapa Ayah tidak bilang dari kemarin." seru Ara.


"Memangnya kenapa? Ayah sengaja enggak kasih tahu biar menjadi kejutan."


Asik berbincang, bel pintu utama terdengar berbunyi. Asisten rumah tangga segera kedepan untuk membukakan pintu.


"Ayo kita kedepan, seperti nya itu mereka sudah tiba." ajak Adrian.


Ara, Devano dan Irena mengangguk. Mengikuti sang Ayah untuk menyambut tamu yang sedari tadi mereka tunggu.


Saat mereka sampai di ruang depan, Jeremy sekeluarga terlihat di depan pintu terbuka.


Adrian segera menghampiri mereka.


"Adrian.. " Seru keduanya bersamaan.


Segera menghambur, mereka memeluk satu sama lain.


"Astaga, Adrian.. Adrian.. sudah lama sekali kita enggak ketemu." ucap Jeremy sembari menepuk berkali-kali pundak sahabatnya itu.


"Iya Jeremy, sudah sangat lama sekali." balas Adrian.


Kedua tampak saling melepaskan rindu. "Kamu enggak banyak berubah. Malah semakin gagah" ucap Adrian, melepaskan pelukan keduanya.


"Kamu juga tidak banyak berubah, semakin terlihat awet muda." balas Jeremy sambil tertawa.


Yang lain memperhatikan sambil tersenyum melihat interaksi kedua sahabat itu.


"Halo Mas Adrian. Apa kabar?" sapa Sofia.


"Sofia.. aku baik, baik sekali. Kamu sendiri apa kabar?"


"Saya baik Mas, selamat ya atas kepindahan kembali Mas dan keluarga ke Indonesia." Mereka saling berjabat tangan.


"Terima kasih Sofia."


"Devan, Iren, Ara, ayo salam dan sapa Om Jeremy dan Tante Sofia."


Ketiga nya bergantian menyapa Jeremy dan Sofia.


Tapi ketika Ara menyalami Sofia, Sofia malah merengkuh Ara kedalam pelukannya.


"Ya ampun, kamu sudah besar sekali Ara. Sudah lama sekali Tante pingin ketemu sama kamu." ucap Sofia.


Ara sedikit kikuk menanggapi sikap Sofia.


Sofia melepaskan pelukannya, beralih memegang kedua pipi Ara. "Tante senang bisa bertemu lagi sama kamu, kamu semakin cantik saja. Mirip sekali dengan almarhum ibu mu." ucap Sofia berkaca-kaca.


"Terima kasih Tante" ucap Ara sambil tersenyum.

__ADS_1


"Marvel beri salam pada semuanya." pinta Jeremy.


Marvel yang sedari tadi berdiri di antara mereka mulai mendekat, menyapa dan memberi salam pada semuanya.


"Senang bisa bertemu lagi dengan Paman."


"Paman juga, senang bisa melihat kamu lagi. Kamu sudah dewasa sekarang."


Marvel lalu bergantian menyapa Devano, Irena dan Ara.


'Dia kakak tampan? Tapi kenapa namanya berubah?' batin Ara.


"Marvel."


Marvel memperkenalkan diri pada Ara yang tampak kebingungan melihat dirinya.


"Arabella."


Adrian yang tahu putrinya tampak kebingungan segera menanyakan keberadaan Jonathan.


"Dimana Jonathan?" tanya Adrian.


Jeremy tampak sedikit resah saat Adrian menanyakan keberadaan Jonathan.


Melihat jam di pergelangan tangan nya, lalu melirik ke belakang sekilas. "Kemana anak itu." gumam Jeremy.


"Jonathan tadi pisah mobil dengan kami, mungkin dia masih di jalan agak terlambat. Maaf ya Mas Adrian." ucap Sofia.


"Iya maaf Ad."


"Oh begitu, yasudah enggak apa-apa Jer. Bagaiman kalau kita masuk lebih dulu, kita tunggu Jonathan nya di dalam saja?" usul Adrian.


Semuanya setuju. Mereka semua masuk kedalam rumah.


Asisten rumah tangga membawakan minuman berserta makanan ringan. Sambil menunggu kedatangan Jonathan mereka saling berbincang satu sama lain.


Namun tidak lama pintu bel kembali terdengar berbunyi.


"Itu pasti Jonathan. Ara coba kamu yang buka pintu nya, nak." titah Adrian.


Ara menurut patuh. "Iya Ayah." gadis itu beranjak dari duduknya lalu membuka pintu utama.


Saat pintu terbuka, Ara dapat melihat tubuh Jonathan membelakangi nya.


"Kak Jonathan?" ucap Arabella.


Mendengar seseorang memanggilnya, Jonathan berbalik. Keduanya sama-sama tersentak kaget saat melihat satu sama lain.


"Kamu... "


"Kamu... "


Sama-sama bingung.


"Lelaki sombong, kenapa kamu ada rumah ku hah?" teriak Ara sambil menunjuk Jonathan dengan jarinya, yang seketika membuat Jonathan mengeram.





To be continued ...



Jonathan



Arabella


__ADS_1


__ADS_2