Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Mulai Gelisah


__ADS_3

"Dasar mulutnya manis seperti gula," batin Keysa yang mati-matian menahan senyumnya.


Pegawai salon itu pun mulai mengerjakan tugasnya dengan teliti tak butuh waktu lama akhirnya Johan sudah lebih rapi dari sebelumnya. Kini pria ini terlihat semakin tampan dengan gaya rambut yang Keysa pilihkan.


"Bagaimana, apa kamu suka dengan hasilnya?" tanya Johan tang sudah berjalan keluar dari salon itu bersama dengan Keysa.


"Biasa saja," ucap Keysa gengsi mengatakan jika Johan lebih tampan setelah merapikan potongan rambutnya.


"Aku tampan kan?" tanya Johan menaik turunkan alisnya pada Keysa. Keysa hanya mengangguk mengiyakan agar pria di hadapannya itu senang.


"Hem, setelah ini kita lantas ke mana lagi?" tanya Johan setelah memasuki mobilnya bersama dengan Keysa.


"Hem, kemana ya?" selagi Keysa berpikir tiba-tiba Johan berkata.


"Ke hatiku saja," godanya terkekeh.


"Hem, kamu itu sebentar-sebentar unjuk gigi. Kering nanti loh," ucap Keysa ketus pada saat melihat Johan nyengir.


"Hem jika kering bisa di basahi lagi dengan ciuman mautmu itu yang membuatku selalu candu," Johan malah semakin menggoda Keysa.


Keysa hanya diam saja mendengar Johan terus saja menggodanya. Percuma saja bagi dia untuk terus berkata karena pada akhirnya ya, Johan pintar menjawab perkataan dari Keysa.


"Sayang, kenapa kamu diam saja? marah ya padaku?" tanya Johan di sela mengemudinya.


"Nggak marah cuma cape saja jika aku berkata pasti kamu menjawab yang nyleneh," ejek Keysa ketus.


"Bukan nyleneh, tapi aku jawab yang sebenarnya kan?" ucap Johan terkekeh.


Tak berapa lama mereka telah sampai di pelataran rumah, Keysa langsung turun tanpa menunggu Johan. Dia melangkah ke kamarnya dengan penuh suka cita.

__ADS_1


"Apa iya aku telah benar-benar jatuh cinta pada, Johan? lantas aku harus bagaimana jika ternyata aku tak bisa melepaskan dirinya?" batin Keysa mulai gelisah tak menentu, karena dia juga memikirkan perjanjian yang dia buat sendiri.


Dia merasa gengsi jika harus membatalkan perjanjian itu, tetapi dia juga merasa tak bisa jauh dari Johan. Itulah yang membuat hatinya semakin hari semakin gelisah.


"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan? apa kada kata-kataku tadi yang menyinggung hatimu? aku minta maaf ya, tolong jangan murung seperti ini, nanti anak kita jadi ikut sedih loh," ucap Johan seraya jongkok di hadapan Keysa yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Johan, kamu tidak pernah salah padaku. Justru karena ketulusan cintamu padaku yang membuat aku akan sulit untuk melepaskan dirimu kelak. Aku juga tak tau dua bulan mendatang apakah aku tetap akan berpisah denganmu atau aku membatalkannya," batin Keysahsbua diam saja.


"Keysa, kenapa kataku tak kamu jawab? ya sudah, sebaiknya aku mandi lalu aku tidur saja dech. Karena entah kenapa aku kok lelah hari ini padahal aku tak melakukan aktivitas apapun." Ucap Johan seraya berlalu pergi ke kamar mandi.


Johan merasa akhir-akhir ini badannya mudah lelah dan kepalanya sering sakit. Tapi dia sama sekali tak ambil pusing dengan semua itu. Dia anggap hanya pusing dan lelah karena kecapean saja.


"Untuk apa sebentar-sebentar dokter, lagi pula semua harta yang ada padaku bukan milik aku seutuhnya tapi milik Keysa jadi aku tidak akan menggunakan dengan sembarangan. Semua juga demi masa depan anakku."


"Kepala pusing ya cukup dengan di bawa tidur atau berlibur sejenak ke suatu tempat yang indah. Nggak usah mahal-mahal ke danau atau pegunungan saja aku sudah cukup senang," batin Johan di sela mandinya.


Beberapa menit kemudian, dia telah selesai mandi dan memutuskan untuk tidur sejenak karena kepala terasa nyeri. Begitu pula yang dilakukan oleh Keysa. Dia juga ikut membaringkan tubuhnya di samping Johan.


"Kalau kamu sedang tidur seperti ini kok terlihat sekali ketampananmu yang pari purna." Keysa tersenyum seraya tangannya akan menghusao pipi Johan, ******* di urungkannya.


"Hem, jika nanti aku usap pipinya dan dia terbangun pasti aku akan malu sekali. Sebaiknya aku tatap saja wajah tampannya," batin Keysa."


Diapun sesekali menatap ke arah Johan dan sesekali tersenyum. Pada akhirnya dia pun memejamkan matanya hingga sore hari barulah dia terbangun dari tidurnya karena mencincium aroma masakan yang wangi.


Ternyata Johan telah membawa semangkuk SOP daging hangat untuk Keysa.


"Sayang, kamu sudah bangun. Ini aku buatkan SOP daging. Makan ya selagi hangat, aku suapin ya?" ucapnya antusias.


Keysa hanya mengangguk pelan tanpa ada satu katapun. Hingga Johan langsung menyusuapi Keysa.

__ADS_1


"Ya ampun, selalu saja aku suka dengan apa pun yang di masaks oleh Johan. Dan anehnya lagi lidah aku tidak bisa di bohongi jika menebak sebuah masakan," batin Keysa.


Pernah suatu ketika, Johan sedang tak ingin masak, hingga dia minta tolong ke salah satu asisten rumah tangganta untuk memasak makanan yang Keysa duka.


Walaupun Johan sudah berkata ini itu tetapi Keysa tak dapat di bohongi. Dia tetap bisa menebak makanan yang di sajikan dihadapan dia.


"Bagaimana, enak kan? mau nambah lagi nggak?" tanya Johan.


"Memangnya masih ada, kalau iya mau dech," ucap Keys menyunggingkan senyuman.


Johan membawa mangkuk yang telah kosong ke dapur dan dia isi lagi. Keberadaan dia membuat SOP daging begitu banyak. Karena dia tak ingin Keysa kecewa pada saat ingin menambah makanannya. Seperti yang sering terjadi, lagi pula jika tidak habis bisa di makan anggota keluarga yang lain.


Tak berapa lama, Johan telah datang dengan satu mangkuk SOP daging lagi. Keysa lebih suka di makan tanpa memakai nasi.


"Ini sayangku, makanlah dan habiskan ya." Johan memberikannya kepada Keysa tetapi Keysa tak mau menerimanya.


"Kenapa, apa ada yang kurang lagi?" tanya Johan mengernyitkan alisnya.


"Masa nggak apal juga sih, aku nggak mau makan jika tidak di suapi olehmu," ucapnya ketus.


Hati dan sikap Keysa sangat bertolak belakang. Entah kenapa bisa terjadi seperti itu. Hingga pada akhirnya Keysa tak bisa semakin menjauh dari Johan, tetapi dia malah semakin mendekat.


"Aku enggan mendekat, tetapi kenapa aku manja sekali padanya. Sungguh bertolak belakang, apa karena anak yang ada di dalam kandunganku ini ya?" batin Keysa.


Johan pun menyuapi Keysa kembali dengan sangat pelan hjgfa tak terasa satu mangkuk SOP daging telah habis kembali.


"Alhamdulillah, anak papah pintar ya makannya. Papah seneng banget, jadi masakan papah laris manis tidak mubazir." Johan mengusap perut Keysa seraya sesekali menciumi perut istrinya.


"Keysa, terima kasih ya. Sekarang aku di izinkan untuk setiap waktu mengusap perutmu untuk berinteraksi dengan anakku ini."

__ADS_1


Keysa hanya menyunggingkan senyuman.


__ADS_2