Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Keputusan Akhir


__ADS_3

Setelah mendengar saran dari ibunya, Johan masih saja belum yakin untuk mengambil keputusan. Kini dia pun meminta saran dari Lisa.


"Aku ingin tanyakan dulu pada Lisa, Bu. Aku ingin sekali tahu jika menurut dia bagaimana?" ucap Johan seraya berlalu mencari keberadaan Lisa.


Setelah menemukan Lisa, Johan pun menceritakan semua kegelisahan dirinya.


"Mas Johan sudah cerita hal ini pada ibu belum?" tanya Lisa.


"Sudah, makanya aku tinggal tanya padamu. Ingin tahu apa saran dari mu," ucap Johan.


"Hem begitu ya, ini kalau menurut aku sih lebih baik turuti saja isi hati Mas Johan. Karena Mas Johan kan sudah pernah gagal dalam rumah tangga, jangan sampai alami kegagalan lagi."


"Tapi di satu sisi juga, Abian butuh kasih sayang seorang ibu. Lagi pula jika mas terus saja minta tolong Mba Rinjani untuk menjaga Abian. Itu juga tidak baik, tidak enak juga."


"Mas Johan, kalau menurut aku sih Mba Rinjani itu baik dan penuh kasih sayang. Walaupun dia status masih gadis tapi sifat dia keibuan. Itu terbukti Abian lengket sama dia. Anak kecil kan peka, sama orang. Jika orang itu tulus atau tidaknya padanya."


Mendengar apa yang di katakan oleh Lisa, kini Johan sudah bisa tersenyum lega membuat Lisa mengernyitkan dahinya.


"Mas, kok senyum sendiri? apa sudah benar-benar dapat suatu keputusan?" tanya Lisa penasaran.


"Hhee, mau tahu saja dech. Terima kasih ya adikku sayang atas sarannya." Johan pun berlalu pergi begitu saja dari hadapan Lisa yang membuatnya menggelengkan kepalanya.


"Hem, sebaiknya aku tak egois dech. Aku akan menikahi Rinjani. Aku harus memikirkan Abian, dan apa yang di katakan oleh Lisa ada benarnya juga."


"Tak mungkinnya aku setiap hari merepotkan Rinjani untuk di mintai tolong menjaga Abian. Apa lagi aku benar-benar trauma dengan kinerja baby sitter."


"Bismillah saja, suatu saat aku bisa cinta padanya. Seiring berjalannya waktu pasti aku dapat mencintainya, karena memang tak mungkin aku terus berharap pada, Keysa."


Setelah dia mendapatkan keputusan yang matang, dia pun berniat datang ke rumah Rinjani untuk melamarnya. Dia mengajak Ibunya dan Lisa. Tak lupa dia juga memberi tahu terlebih dahulu pada mantan papah mertuanya tentang keputusan akhir dirinya.


Johan segera menelpon Betrand saat itu juga.


Kring kring kring kring


Betrand pun mengangkat panggilan telpon dari Johan.

__ADS_1


"Ada apa, Johan?"


"Pah, aku hanya ingin memberi tahu jika aku sudah memutuskan tentang yang kemarin kita bicarakan pada saat di kantor.'


"Lantas apa keputusan kamu, Johan?"


"Aku akan menikahi Rinjani, pah. Dan niatnya besok sore sepulang kerja aku akan ke rumahnya untuk melamarnya. Aku minta doa restunya ya, pah."


"Iya, Johan. Pasti papah akan memberikan restu untukmu, dan nanti papah yang akan atur untuk pernikahan kalian ya. Tapi papah nggak bisa ikut ke acara lamaranmu."


"Iya, pah nggak apa-apa. Terima kasih ya pah. Walaupun aku sudah tak menjadi menantu, tetapi papah masih saja baik padaku."


"Johan, bagi papah kamu itu bukan lagi menantu tapi sudah papah anggap anak lelaki papah. Kamu itu baik jadi papah ingin melihatmu bahagia, juga demi Abian."


Setelah cukup lama bercengkrama di dalam panggilan telpon, Johan pun menyudahi telponnya.


Pembicaraan di telpon antara Johan dan Betrand sempat terdengar oleh Keysa.


"Pah, Johan akan menikah lagi? lantas dengan siapa? nanti yang ada anakku punya ibu tiri, ibu tiri itu kan jahat!" Keysa merasa tak setuju.


"Pah, aku itu tidak cinta pada Johan. Jadi untuk apa pula aku bertahan dengan pernikahan tanpa cinta?" Keysa masih saja beranggapan jika dirinya itu adalah benar.


"Sudahlah, papah tak mau berdebat denganmu. Yang ada dada papah pasti sakit lagi."


Betrand berlalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan Keysa yang masih terpaku diam.


"Enak saja mau membuat anakku punya ibu tiri. Jika seperti ini aku harus ke rumah Johan sekarang juga. Aku akan menggagalkan niatnya untuk menikah lagi!"


Saat itu juga Keysa pergi melajukan mobilnya menuju ke rumah Johan. Kebetulan Johan sedang bersantai di teras halaman. Dia kaget pada saat melihat kedatangan Keysa.


"Aneh, ada apa Keysa datang kemari? dan wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat?" batinnya penuh tanda tanya.


"Johan, aku tadi tak sengaja mendengar percakapan antara kamu dengan papahku. Aku tak setuju jika kamu akan menikah lagi, aku tak ingin jika anakku punya ibu tiri!" ucapnya lantang.


"Jika kamu tak mau anak kita punya ibu tiri, lantas kenapa kamu mencampakkannya. Dan bahkan kamu berkeras hati ingin berpisah denganku? selama ini kamu sama sekali tak pernah peduli dengan, Abian? lantas kenapa pada saat Abian akan punya ibu kamu malah nggak suka?"

__ADS_1


"Calon ibu tiri Abian itu wanita yang sangat baik. Bahkan selama ini Abian sangat lengket padanya. Nggak mungkin juga aku terus merepotkan dirinya untuk menjaga Abian tanpa ada ikatan resmi."


"Hal ini juga pasti di lihat tetangga tak etis jika ada seorang wanita dan pria yang sering bersama. Walaupun kami tak pernah melakukan hal yang tak terpuji."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Johan, sejenak Keysa hanya diam. Pada akhirnya dia pun tak bisa membantah apa yang di katakan oleh Johan.


"Hem ya sudah, tapi jika suatu saat ibu tirinya jahat pada Abian. Dia akan berhadapan denganku!" Keysa pun berlalu pergi dari rumah Johan.


Seperginya Keysa, Johan hanya bisa mengha napas panjangnya.


"Dasar wanita aneh, aku pikir dia tak setuju aku menikah dengan wanita lain lantas dia mau rujuk padaku demi Abian. Ternyata tidak."


Sementara sepanjang perjalanan pulang, Keysa terus saja mengerutu.


"Aku tidak ingin kalah dengan Johan, jika dia akan menikah dengan wanita dalam waktu cepat. Aku juga akan mengajak menikah si Rian. Bahkan aku akan membuat pesta yang besar untuk pernikahanku dengan Rian." Gumamnya seraya menyunggingkan senyuman.


Keysa tak mau kalah dengan Johan. Dia pun akan menikah secepatnya dengan Rian. Saat telah sampai di rumah, Keysa langsung menelpon Rian dan menyatakan niatnya itu.


Kring kring kring kring


Panggilan telpon berdering pada ponsel Rian.


"Hay sayang, ada apa sih?"


"Mas, aku ingin kita menikah secepatnya dan tidak ada penolakan. Jika kamu menolak aku akan menikah dengan pria lain."


"Hah, kok mendadak kamu ingin menikah? kita kan belum punya persiapan apapun?"


"Nggak usah mikir itu, biar semuanya aku yang mengaturnya."


"Aku pikir dulu ya, nanti aku kabarin kamu."


"Hem, berarti kamu nggak beneran sayang dan cinta padaku ya? ya sudah dech kalau begitu."


Saat itu juga Keysa menutup panggilan telpon secara sepihak.

__ADS_1


__ADS_2