Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Seperti Musuh


__ADS_3

Rencana pernikahan tak pernah terbayang akan oleh Ara akan berlangsung secepat ini. Baru minggu lalu Ara menyetujui perjanjian pernikahan yang di ajukan Jonathan padanya. Kini kedua pihak keluarga sudah menentukan saja tanggal pernikahan mereka berdua yang akan di lakukan sebulan lagi.


Ara dan Jonathan, kedua nya sama-sama sempat kaget dengan penentuan tanggal itu karena terlalu cepat dan mendadak. Tapi akhirnya tetap menyetujui juga permintaan dari orang tua mereka. Toh, mereka kini sudah tidak bisa menghindar lagi dari perjodohan ini, apalagi perjanjian juga sudah di buat antara Arabella dan Jonathan.


Sama seperti di tuliskan di perjanjian bahwa keduanya harus terlihat memiliki hubungan yang harmonis di depan keluarga, semua kini sudah di mulai lebih awal. Sandiwara sudah di mulai dari saat ini, pura-pura terlihat akur dan mulai menerima satu sama lain. Contohnya saat ini, ketika Sofia meminta Jonathan dan Ara untuk ikut andil dalam rencana pernikahan mereka. Baik Ara dan Jonathan sama-sama patuh.


"Jadi gimana? Kalian suka tidak sama konsep yang di jelasin sama WO nya?" tanya Sofia.


Beberapa saat yang lalu dua orang dari pihak Wedding organizer yang di sewa Sofia menjelaskan perihal konsep pernikahan yang akan di pakai oleh Ara dan Jonathan.


"Iya... Ara suka kok Tante sama konsepnya."


Ara menjawab dengan jujur, saat mendengar konsep wedding yang di jelaskan oleh WO tadi Ara sangat menyukainya. Konsep pernikahan nya di buat benar-benar seperti apa yang ia inginkan, mungkin karena Sofia yang sudah meminta pendapat nya dan membicarakan nya dengan pihak Wedding organizer.


"Kalau kamu Jo?" tanya Sofia pada sang putra yang tampak sibuk dengan tablet di tangannya.


"Hmm.. Jo setuju saja." jawab Jo tanpa mengalihkan pandangannya.


"Bukan setuju Jo, Mama tanya apa kamu suka atau enggak dengan konsep nya. Jangan setuju-setuju saja dong. Kamu juga harus berpendapat."


"Jo terserah saja." Lelaki itu masih fokus pada tablet.


Sofia yang gemas langsung menarik tablet yang ada di tangan Jonathan, membuat anak lelaki nya itu protes. "Ma... "


"Kamu tuh dari tadi sibuk banget sih!" ucap Sofia.


"Ma, kembaliin tablet aku. Jo lagi kerjain beberapa kerjaan Jo, Ma."


"Jo, Mama tuh ajak kamu ikut juga biar bisa ikut andil di rencana pernikahan ini. Bukannya malah sibuk kerja."


"Tapi ini penting Ma."


"No. Biar Mama telepon Daniel buat handel semuanya, sekarang kamu tunggu di sini dulu. Sebentar lagi kita mau ke butik buat fitting wedding dress Ara dan Jas kamu." ucap Sofia.


"Ara sayang, kamu juga tunggu sebentar ya. Tante mau menelepon Daniel sebentar." ucap Sofia yang di angguki oleh Ara.


Jonathan hanya bisa menghela nafas pasrah, sedangkan Ara yang berada di sana hanya diam menyaksikan perdebatan ibu dan anak itu.


'Ternyata dia bisa nurut juga.' batin Ara tertawa.


Baru kali ini ia melihat Jonathan yang biasanya keras dan sok berkuasa kini hanya bisa menghela nafas dan tidak bisa berkutik. Ternyata lelaki itu amat sangat penurut pada ibunya, pantas saja ketika Sofia yang meminta Ara dan Jonathan untuk ikut meeting dengan WO, lelaki itu tidak protes dan menurut.


"Ara... "


Ara yang sedang asik melamun dengan dunianya tersentak ketika namanya di panggil oleh Jonathan.


Ia pikir ia salah dengar, tapi ternyata tidak. Ini pertama kali nya Jonathan menyebut namanya.


Tak mendapat sahutan dari si gadis, Jonathan kembali memanggil untuk kedua kalinya. "Arabella... " panggilan kedua sudah berubah, mulai tidak bersahabat.

__ADS_1


"Iya, kenapa?" sentak Ara.


Entah kenapa jadi kesal sendiri saat Jonathan menyebut namanya dengan lengkap. Padahal sesaat yang lalu Ara sempat merasa senang Jonathan memanggil nya dengan nama panggilan, membuat nya teringat pada masa lalu. Jonathan selalu memanggil namanya dengan lembut.


"Gimana?" tanya Jonathan membuat Ara bingung.


"Gimana? Gimana apa?" tanya Ara tak mengerti.


"Kamu sudah putus sama kekasih kamu itu?"


Pertanyaan dari Jonathan membuat mata Ara melebar. "Tunggu. Kamu kok bisa---"


"Bisa tahu kalau kamu punya pacar?" potong Jonathan, yang langsung di jawab anggukan oleh Ara.


"Itu mudah. Aku bisa tahu semuanya dengan mudah." jawab Jonathan sombong.


Ya, memang sifat sombong nya itu adalah bagian dari diri Jonathan.


Ara bungkam, masih bingung harus menjawab apa. Jujur saja, ia masih berkomunikasi dengan baik dengan Jayden. Ara tidak pernah terpikirkan untuk memutuskan kekasih nya itu meskipun sudah jelas Jonathan menuliskan dalam perjanjian bahwa dia antara kedua tidak boleh ada yang menjalin hubungan dengan siapapun selama masa pernikahan.


Jayden bisa amat sangat kecewa.


"Cepat putuskan sebelum pernikahan." ucap Jonathan.


Diamnya Ara membuat Jonathan sudah mengerti.


Menunduk, Ara menghela nafas. "Enggak bisa." jawabnya.


Berdiri dari duduknya, Jonathan mendekat. Meraih pergelangan tangan si gadis dan menariknya kuat. Membuat tubuh Ara berdiri terhuyung, di depannya.


Ara tersentak, jarak keduanya begitu dekat. Bahkan aroma tubuh dan hembusan nafas Jonathan begitu terasa di wajahnya.


"Ingat perjanjian nya Arabella, di larang menjalin hubungan dengan siapapun selama masa pernikahan. Cepat putuskan lelaki itu, karena aku tidak suka pada penghianat." ucap Jonathan tajam. Menekan kata penghianat pada ujung kalimatnya.


Dan Ara, gadis itu berdiri kaku dengan berdebar jantung yang sangat cepat. Entah berdebar untuk hal apa.


Entah karena merasa terintimidasi oleh ucapan Jonathan yang terasa sangat tajam atau... karena jarak dirinya dengan Jonathan yang begitu dekat?


*********


Seperti yang di katakan Sofia, seusai meeting dengan pihak Wedding organizer mereka kini mendatangi salah satu butik mewah yang ada di Jakarta. Sofia sudah mengatur janji dengan pemilik butik yang kebetulan memang sudah mengenal keluarga Harvey dengan baik.


Butik tersebut sengaja di booking siang itu untuk hanya untuk Sofia. Beberapa wedding dress dan tuxedo yang ekslusif juga sudah di pisahkan untuk Ara dan Jonathan coba.


Begitu sampai di butik tersebut, ketiganya langsung di sambut hangat oleh si pemilik. Menjamu dengan baik, pemilik butik yang berusia tak jauh dari Sofia itu begitu ramah ketika memperkenalkan diri pada Ara.


"Jadi ini yang akan menjadi menantu keluarga Harvey? Wah, cantik sekali. Suatu kehormatan bisa melihat lebih dulu." ucap Asmita.


Ara membalas dengan senyuman ramah.

__ADS_1


"Karyawan kamu tidak akan ada yang membocorkan soal ini kan ke media?" tanya Sofia memastikan.


Si pemilik butik mengangguk. "Tenang saja, pegawai ku semuanya orang jujur. Bisa di percaya, privasi calon menantu Harvey akan terjaga" jawab Asmita.


"Bagus kalau begitu." ucap Sofia puas.


Sofia sengaja memilih orang-orang atau jasa wedding yang terbaik dan terpercaya. Selain karena ingin membuat pernikahan yang luar biasa bagi putra semata wayangnya. Ia juga ingin melindungi privasi Ara dari orang-orang luar atau media, bukan karena tidak ingin memperkenalkan Ara tapi ini demi kenyamanan Ara. Gadis itu juga tidak ingin terlalu di kenal banyak orang hanya sebagai menantu dari keluarga Jonathan.


Meski nanti pernikahan kedua nya akan tetap di umumkan tapi, pernikahan mewah itu tidak akan mengundang media. Kemungkinan hanya bagi para kolega bisnis dari kedua keluarga atau kerabat saja.


"Gimana kalau kita langsung naik ke lantai dua. Beberapa gaun dan tuxedo yang terbaik sudah di siapkan, kalian juga bisa sekalian beristirahat lebih nyaman di sana." ajak Asmita.


"Iya ayo... "


Sofia dan Asmita berjalan lebih dulu. Sedangkan Ara yang hendak menyusul tiba-tiba merasa tangan nya di tarik oleh Jonathan.


"Kenapa?" tanya Ara.


Lelaki itu tidak menjawab, tapi malah menggenggam telapak tangan Ara. Menautkan kedua jemari mereka.


"Jangan salah paham. Ini agar orang tidak curiga kenapa kedua calon pengantin berjalan berjauhan seperti musuh." jelas Jonathan.


"Tapi kan memang kita berdua seperti musuh." jawab Ara santai.


Mendengar ucapan Ara, Jonathan mendelik seketika. Hendak membuka mulutnya lagi, tapi sudah di potong lebih dulu oleh Ara. "Bercanda.. bercanda, begitu saja sudah mau marah." selanya.


"Kalau enggak mau terlihat seperti musuh, jangan cuma tangan yang berpegangan. Atur juga ekspresi wajah kamu itu, mana ada calon suami yang terlihat dingin sekali pada calon istri nya." ucap Ara mengerucutkan bibir.


Jonathan bungkam, bingung harus bereaksi seperti apa.


Seolah mengerti, Ara langsung menarik saja tangan Jonathan. "Sudahlah, ayo naik saja keatas." ucap gadis itu.


Jonathan hanya mengikuti Ara dari belakang, sambil memandang genggaman tangannya dan punggung Ara secara bergantian.


Tanpa ia tahu calon istri nya itu sedang menggerutu di dalam hati.


'Ara.. Ara.. memang nya apa yang kamu harapkan? Dia mau mengubah ekspresi dingin nya itu lalu tersenyum hangat padamu begitu? Dasar bodoh!'


Mendadak ia kesal sendiri.


Eh, tapi kenapa Ara harus kesal?


Bukankah memang ia dan Jonathan hanya pasangan pura-pura?




__ADS_1


To be continued ...



__ADS_2