Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Orang Yang Sama


__ADS_3

Ara masih tidak percaya pada apa yang di dia lihat saat ini. Laki-laki yang kini tengah duduk di ruang tamu nya bersama seluruh keluarganya adalah laki-laki angkuh yang tempo hampir saja menabrak dirinya dengan seorang anak kecil.


Laki-laki yang malah berteriak memaki, padahal jelas-jelas dirinya yang salah.


Bagaimana bisa lelaki tersebut orang yang sama?


Seingat Ara, Jonathan si anak lelaki tampan yang sangat ia kagumi dulu adalah anak lelaki pendiam, cuek tapi punya hati yang hangat dan perhatian. Meski tak banyak berbicara, Jonathan dulu yang ia kagumi sering kali bersikap baik merupakan lelaki gentleman yang lebih banyak bertindak lembut pada Ara.


Tapi yang ada di hadapannya kini, sungguh bukan Jonathan yang ia kenal. Si Kakak tampan, yang selalu datang setiap Minggu ke rumahnya, yang selalu menepuk lembut kepalanya, selalu menggendongnya saat Ara terjatuh dan berhasil membuat Ara jatuh hati pertama kali di usianya yang baru menginjak 15 tahun.


Jonathan Harvey yang ia lihat sekarang sungguh sangat-sangat angkuh. Dari cara duduk dan tatapan matanya pun sudah membuat Ara jengah.


"Mama tidak menyangka kalian ternyata sudah pernah bertemu lagi. Tapi, kok kalian bisa-bisanya enggak saling kenal satu sama lain? Padahal dulu selalu menempel seperti magnet." ucap Sofia.


Setelah keributan yang Ara buat saat menyambut kehadiran Jonathan yang membuat semua orang bingung dan bertanya-tanya. Ara tidak menjelaskan kejadian sebenarnya, ia hanya mengatakan bahwa mereka sempat bertemu dan terlibat hal kecil tempo hari.


Ara masih mengerti sopan satun dengan tidak menjelaskan perilaku buruk dari seorang Jonathan Harvey kepada pasangan Harvey tersebut. Bagaimana pun ini pertemuan pertama kedua keluarga yang saling bersahabat setelah sepuluh tahun lamanya.


"Wajar saja mereka enggak saling mengenal sayang, sudah sepuluh tahun lebih mereka enggak ketemu dan berkomunikasi satu sama lain." ucap Jeremy menanggapi.


"Iya betul. Ara dan Jo kan sudah lama sekali tidak berhubungan, mungkin mereka sudah saling lupa. Dan itu pertemuan tanpa di sengajakan." tambah Adrian.


Sofia mengangguk. "Ia benar, mereka berdua juga sudah sama-sama banyak berubah. Pasti enggak saling mengenali. Tante pun sampai pangling melihat Ara yang sekarang, semakin cantik dan terlihat dewasa." puji Sofia.


Ara tersenyum, mengucapkan terima kasih atas pujiannya. Tapi saat matanya bertemu dengan tatapan Jonathan yang menatap tajam, Ara memutar bola matanya malas.


"Bagaimana kita lanjutkan mengobrol nya nanti, sekarang kita makan malam dulu. Kami sudah menyiapkan banyak hidangan untuk kalian." ajak Adrian.


Semua nya mengangguk setuju. Jeremy dan Adrian berjalan lebih dulu, sambil terus bercengkrama. Sementara itu Sofia menarik lengan putra sulungnya itu untuk berjalan di paling belakang bersamanya.


"Kenapa sih Ma?"


"Kamu tuh yang kenapa? Jangan di tekuk begitu dong wajahnya. Sudah gitu masa tatapan kamu itu di jaga loh, masa menatap orang lain tajam begitu. Yang sopan Jo, Mama gak suka ya." tegur Sofia berbisik.


Jonathan hanya bergumam malas, menjawab keluhan sang ibu. "Hm... "


"Bersikap baik."


"Iya Ma iya."


"Sekarang sana, dekati Ara. Jangan buat kesan buruk."


"Tapi Ma--"


"Tidak ada tapi-tapi. Sana, sana." potong Sofia sambil mendorong tubuh besar Jonathan untuk berjalan di dekat Ara.

__ADS_1


Dengan terpaksa Jonathan menurut, mendekati Arabella meski dalam hatinya mengumpat kesal.


*********


Makan malam berlangsung hangat, dengan di selingi oleh obrolan dan juga candaan riang. Dua sahabat atau lebih tepatnya dua keluarga yang telah lama berpisah lalu bertemu kembali, tentu saja menghadirkan banyak cerita untuk saling di bagikan satu sama lain.


Jeremy dan Adrian bukan hanya sekedar sahabat, mereka sudah layak nya saudara. Saling percaya, saling melindungi dan saling membantu. Bahkan kedua putra dan putri Adrian, Devan dan Ara sudah seperti putra dan putri sendiri bagi Jeremy dan Sofia. Begitupun sebaliknya, Jonathan sudah seperti putra sendiri bagi Adrian dan mendiang istrinya.


Tapi hubungan erat itu harus berjarak ketika Adrian memutuskan pindah ke London.


Saat itu Adrian mengalami banyak kesulitan, sang istri yang sakit parah membuat pekerjaan Adrian terbengkalai, bahkan anak-anak nya harus kekurangan kasih sayang karena Adrian sibuk mengurus Merry istrinya. Tapi, beruntung lah ia mempunyai Jeremy dan Sofia. Mereka yang menjaga dan melindungi Devan dan Ara, bahkan si kecil Jonathan saat itupun ikut menjaga dan melindungi Devan dan Ara.


Mereka bertiga sudah layaknya saudara.


Sayangnya, itu hubungan mereka dulu. Setelah sepuluh tahun, kini mereka seperti orang asing. Mungkin saat ini Devan dan Jonathan masih bisa di katakan satu frekuensi. Contohnya mereka sempat beberapa kali mengobrol, membicarakan tentang bisnis yang memang menjadi circle mereka.


Tapi, Ara dan Jonathan?


Kedua bahkan terlihat tak saling menyukai satu sama lain hanya dari tatapan mata saja.


Ternyata kesan pertemuan pertama mereka tempo hari lalu benar-benar buruk.


"Jo... "


Yang di panggil menoleh, mendapati ibunya tersenyum. "Katanya kamu bosan, bagaimana kalau jalan-jalan keluar cari udara segar?" tanya sang ibu tiba-tiba.


"Iya benar, Jonathan pasti suntuk karena dari tadi mendengarkan kita berbicara terus. Ada baiknya juga menghirup udara luar." ucap Jeremy.


Seperti nya Jonathan mulai mengerti maksud ucapan tersebut.


"Iya, Jonathan coba jalan-jalan di taman belakang rumah. Udara di sana sejuk, juga banyak tumbuhan, biar Ara yang menemani kamu berjalan-jalan." tambah Adrian.


Ara yang sedang mengupas buah-buahan seketika membelalak mendengar ucapan Ayahnya.


"Ayah, tapi Ara lagi mengupas buah."


Irena yang sudah mengerti ucapan Ayah mertuanya, mendekat pada Ara. Lalu mengambil alih buah dan pisau dari tangan Ara.


"Biar Kakak yang lanjutkan, kamu temani saja Jonathan." ucap Irena.


"Tapi Kak--"


"Ayo Ara... " ucapan Adrian lembut, tapi syarat akan perintah.


Ara pasrah, mendesah pelan. "Iya Ayah." jawabnya.

__ADS_1


Berjalan di depan, Ara melirik pada Jonathan yang masih setia duduk di kursinya.


"Ayo.. " ucap Ara. Masih coba menjaga kesopanannya di depan para orang tua.


Tapi sepertinya Jonathan itu benar-benar menyebalkan, buktinya lelaki itu masih saja duduk santai di tempatnya.


"Jo, ayo bangun. Ara sudah menunggu." ucap Sofia.


Mau tak mau Jonathan bangun dengan malas. Lalu beranjak dari tempatnya. "Iya iya." jawab Jonathan tak bisa membantah.


Kedua nya berlalu pergi meninggalkan ruang keluarga. Pergi ke halaman belakang rumah yang tampak sangat asri.


Setelah kepergian Ara dan Jonathan, para orang tua itu saling pandang khawatir.


"Mereka keliatan enggak saling suka satu sama lain." ucap Sofia. Tentu sebagai seorang ibu ia akan lebih peka.


Meski melihat Ara yang selalu berusaha tersenyum dan bersikap ramah, Sofia bisa tahu Ara terlihat tak suka pada Jonathan. Apalagi saat pertengkaran di depan pintu tadi.


"Iya, aneh sekali melihat mereka seperti itu. Dulu waktu remaja mereka sangat dekat sekali, bahkan Jonathan sempat sangat sedih ketika keluarga kalian harus pindah.


Aku sengaja tidak memberitahu Arabella yang akan aku jodohkan dengan dia. Aku kira dia bakal terkejut dan senang, tapi keduanya malah terlihat saling enggak suka." ucap Jeremy.


"Kamu sudah memberitahukan soal perjodohan itu?" tanya Adrian kaget.


"Hm... Memangnya kau belum?"


Adrian menggeleng. "Aku enggak bisa terburu-buru. Kepindahan kami saja baru, aku enggak mau Ara kaget."


Devan dan Iren juga ikut menyimak, saling pandang di tempatnya. Tapi tak mampu menyuarakan suaranya.


"Soal perjodohan itu gampang. Yang terpenting sekarang kita harus mendekatkan mereka lebih dulu." ujar Sofia.


"Benar itu yang lebih penting saat ini." jawab Jeremy.


Sedangkan Adrian tampak masih bimbang. Akankah putrinya itu menerima keputusan yang telah ia buat, atau malah menolak.


Tapi Adrian tak punya pilihan lain, ini satu-satunya cara yang harus Adrian ambil jika ingin menjaga putrinya.


Lebih dari itu, keputusan ini memang sudah ia pikiran sejak lama. Sejak Jeremy menghubungi nya dan mengutarakan niatnya untuk menjodohkan anak-anak mereka, sejak setahun lalu. Itu lah sebabnya ia berani kembali ke Indonesia demi masa depan Ara.




__ADS_1


To be continued ...


__ADS_2