
Di saat Keysa mencoba menghindari, Joni demi papahnya. Joni malah berusaha kembali mendekatinya dengan dia datang ke kantor, Keysa.
"Hey, siapa suruh kamu datang kemari setelah apa yang kamu lakukan pada papahku?" bentak Keysa.
"Memangnya aku melakukan apa pada papahmu? aku sama sekali tak berbuat apapun kok, bukannya aku membantumu mengatakan kebenaran tentang hubungan kita berdua?" Joni merasa tak bersalah, dia malah membenarkan apa yang pernah dia lakukan.
"Kamu itu memang tidak punya hati nurani ya, apa waktu itu kamu tidak melihat setelah apa yang kamu katakan terhadap papahku? papahku memegangi dadanya, hampir saja penyakit jantungnya kambuh karena mendengar segala ucapanmu itu," ucap Keysa ketus.
"Sayang, bukannya kebetulan jika terjadi sesuatu pada papahmu? jadi semua warisan papahmu jatuh ke tanganmu dalam waktu yang cepat," ucap Joni lagi.
"Hentikan ucapanmu itu! justru aku tidak ingin terjadi hal yang buruk pada papahku karena hanya tinggal dia yang aku punya di dunia ini."
"Aku tak menyangka pernah mempunyai rasa cinta pada pria jahat sepertimu, pria yang tak punya hati nurani sama sekali."
"Aku lebih memilih kesehatan papahku daripada dirimu, jadi aku minta kamu tak perlu lagi mendekati diriku! hari ini juga aku putuskan bahwa kita sudah tidak ada hubungan sama sekali, pergilah kamu dari sini dan aku harap kamu jangan pernah memperlihatkan wajahmu di hadapanku."
Mendengar semua perkataan yang terlontarkan dari mulut Keysa, Joni begitu sangat marah. Dan dia berjanji di dalam hati untuk membalas dendam atas penghinaan yang dilakukan oleh Keysa padanya.
"Baiklah, Keysa. Tapi perlu kamu ingat satu hal, aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini di mana kamu telah menghinaku. Aku pastikan suatu saat nanti kamu akan menderita menerima pembalasan yang setimpal dariku, bukan hanya dirimu saja tetapi juga papahmu!"
"Camkan itu baik-baik, aku bukan hanya sekedar mengancammu tapi aku akan benar-benar melakukan hal ini cepat atau lambat kalian akan mendapatkan balasan dariku!"
Setelah mengancam pada Keysa, Joni berlalu pergi dari ruang kerjanya dengan membanting pintu ruangan tersebut hingga Keysa sempat tersentak kaget.
"Dia pikir dia siapa, seenaknya saja mengancam diriku! Dia pikir aku ini akan takut dengan ancaman yang dia katakan. Paling juga gertak sambel doang," gumam Keysa tersenyum.
Keysa sama sekali tak takut dengan ancaman yang diberikan oleh, Joni. Lagi pula dia memang sudah tak cinta lagi pada, Joni. Dia mau kembali lagi hanya berniat untuk membuat cemburu, Johan. Tetapi setelah dia membuat surat perjanjian itu, dia merasa tak butuh Joni lagi.
__ADS_1
Keysa menjalani hari-harinya bersama Johan layaknya pasangan suami istri pada layaknya. Itu semua Keysa lakukan karena tak ingin terjadi hal buruk, Betrand.
"Keysa, sebentar lagi usia kandunganku memasuki umur lima bulan kan? apa kamu tak ingin mengadakan baby shower?" tanya Betrand di sela makan sorenya.
"Nggak lah, pah. Aku sana sekali tak suka acara seperti itu. Nanti saja jika usia kandungan aku sudah memasuki umur tujuh bulan kita adakan syukuran tujuh bulanan," ucap Keysa.
"Oh ya sudah, pikir papah kamu akan melakukan acara baby shower seperti pembisnis lainnya," ucap Betrand.
"Nggak lah pah, yang terpenting bukannya acara syukuran tujuh bulanan kan?" ucap Keysa lagi.
Baik Johan, Bu Sarah, maupun Lisa tak berani ikut berbicara hingga pada akhirnya Betrand menegur Johan.
"Johan, menurutku bagaimana? apa kamu punya keputusan sendiri, atau kamu menyetujui apa yang menjadi keputusan dari, Keysa?" tanya Betrand menatap menyelidik ke arah Johan.
"Kalau aku terserah bagaimana baiknya Keysa saja, pah. Yang penting dia senang," jawab Johan.
"Sudah tambah satu bulan lagi, jadi tinggal empat bulan aku hidup bersama dengan, Keysa dan anakku."
"Entah aku sanggup tidak jika kelak aku berpisah dengan anak dan istriku."
Hampir setiap hari, Johan melingkari kalendernya. Dia merasa sangat sedih karena begitu cepatnya wakt berjalan. Hari-hari semakin cepat berlalu.
"Johan, kenapa kamu terlihat murung setiap harinya? apa kamu sedang ada masalah?" tiba-tiba Bu Sarah mendekati dirinya yang sedang duduk termenung sendiri di teras halaman.
"Nggak ada kok, Bu. Aku tidak sedang ada masalah, hanya sedikit kurang enak badan saja." Ucap Johan mencoba tersenyum di hadapan ibunya.
"Tapi ibu merasakan jika kamu ini sedang punya masalah yang kamu pendam di dalam hatimu. Ceritakan saja pada, ibu. Siapa tahu ibu bisa bantu, setidaknya memberimu sebuah saran," ucap Bu Sarah terus saja mendesak anaknya.
__ADS_1
"Bu, aku benar-benar tidak menyimpan masalah apa pun kok. Untuk apa aku berbohong pada, ibu."
"Maafkan aku, Bu. Aku tidak mungkin cerita hal ini pada, ibu. Aku nggak ingin jika ibu tahu akan hal ini, malah jadi beban pikiran buat ibu. Makanya aku sengaja menyimpan hal ini seorang diri" batin Johan menggerutu.
"Ya sudah, kalau begitu kita masuk karena sebentar lagi waktu adzan Maghrib. Sebaiknya kamu temani istrimu di kamar sana." Bu Sarah bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Johan pun ikut pula masuk, dia menuju ke kamarnya. Di lihatnya istrinya sedang asik berkutat dengan laptopnya.
"Keysa, sebaiknya kamu jangan terlalu cape. Ingat kehamilanmu itu, istirahatlah sejenak," nasehat Johan.
"Nggak usah sok perhatian dch kamu, aku sama sekali tidak akan simpatik dengan perhatianmu itu," ucap Keysa ketus sembari terus saja memperhay laptopnya.
"Keysa, apa kamu sudah minum susu? atau kamu ingin makan sesuatu nggak, nanti aku carikan," ucap Johan lagi.
"Kamu bisa diam, nggak? aku itu sedang fokus mengerjakan banyak tugas kantorku, tapi kamu cerewet dari tadi ngomong terus!" bentak Keysa seraya tiba-tiba menutup laptopnya.
Dia pun akan melangkah pergi, akan tetapi Johan mencekal lengannya.
"Keysa, kamu akan kemana? wanita hamil di larang keluyuran saat Maghrib. Jika perlu apa-apa katakan saja padaku pasti aku akan bantu kamu," ucap Johan berusaha menahan rasa amarahnya.
"Aku butuh bantuanmu tapi paling kamu tak bisa bantu aku, secara kamu hanya mantan sopir. Dan aku juga tidak yakin jika kamu bekerja dengan baik di kantor, papah!" bentak Keysa.
'Kataksn saja, Keysa..Apa yang bisa aku bantu, atau apa kesusahanmu saat ini," ucap Johan.
"Aku sedang pusing merekap laporan keuangan kantor, menelitinya. Membuat kepalaku pusing menghitung banyaknya nominal jumlah uang," ucak Keysa.
"Insa Allah, aku bisa bantu kamu. Coba buka laptop kamu kembali. Biar aku yang cek semua laporan keuangannya dan merekap ulang," ucap Johan.
__ADS_1