
Pagi menjelang, tiba-tiba Keysa menatap menyelidik ke arah suaminya Yeng aksn berangkat ke kantor.
"Sayang, ada apa denganku? sehingga kamu menatap aku seperti ini?" tanya Johan merasa heran Keuda tak seperti biasanya.
"Hem, rambutmu ini sepertinya ada yang kurang loh. Bagaimana kalau kita ke salon saja hari ini? di kantor sedang tidak ada meeting penting kan? libur saja dulu ya?" pinta Keysa tak seperti biasanya dia kini terlihat senyumnya.
"Apa sih yang nggak buat istriku tercinta ini," ucap Johan.
Dia tak ingin menolak kemauan istrinya karena ini adalah hal yang di inginkan sejak awal pernikahan, yakni perhatian dari Keysa. Hingga pagi itu, Johan membatalkan niatnya akan berangkat ke kantor.
"Tapi kita ke salonnya tidak sepagi ini. Aku ingin kamu temani aku dulu membeli kue basah yang ada di pasar," pinta Keysa tanpa ada rasa sungkan.
"Baiklah, Tuen Putri."
Saat itu juga Johan merangkul Keysa melangkah ke luar kamar dan menuju ke pelataran rumah.
"Sayang, kamu di sini dulu ya. Aku akan ambil mobil dulu."
Selagi Johan mengambil mobil, Betrand menghampiri Keysa.
"Keysa, kamu lihat dan rasakan kan? jika pilihan papah tak seburuk yang kamu pikirkan, apa lagi sekarang dia sudah terlihat begitu tampannya," goda Betrand terkekeh karena dia juga menyadari Keysa sudah mulai jatuh cinta pada Johan.
"Papah ngomong apa sih, pah. Nggak jelas banget dech." Keysa menutupi rasa malunya dan rona merah pipinya di hadapan Betrand.
Tak berapa lama, Johan telah datang memarkirkan mobilnya di hadapan Keysa. Dia langsung turun untuk membuka pintu mobil untuk istrinya. Pada saat Johan membuka pintu mobil bagian belakang, Keysa protes.
'Aku ingin duduk di depan apa tidak boleh," rajuk nya menata tajam ke arah suaminya.
"Hee, maaf ya. Aku pikir seperti biasanya kamu kan lebih suka duduk di belakang dari pada di depan bersamaku." Johan langsung beralih membuka pintu mobil bagian depan.
Betrand yang melihat akan hal itu hanya bisa senyam senyum dan menggelengkan kepalanya. Dia turut senang melihat ada perubahan sikap pada diri Keysa terhadap Johan.
__ADS_1
Sebelum pergi, Johan juga tak lupa menyalami mertuanya. Etika dan sopan santun tak pernah hilang begitu saja pada diri Johan.
Saat itu juga, Johan melajukan mobilnya mengikuiti kemauan istrinya itu. Hanya beberapa menit saja, telah sampai di pasar. Keysa lekas melangkah mencari penjual kue yang dia inginkan dan langsung membelinya.
"Sudah, Tuan Putri?" tanya Johan menyunggingkan senyuman ke arah Keysa.
"Sudah, ini kye enak banget loh. Kamu coba sih."Tanpa sadar Keysa menyuapi Johan satu kue yang dia buka.
Johan dengan senang hati menyambut suapan kue dari Keysa. Sejenak keduanya saling berpandangan, Johan menatap penuh cinya ke arah istrinya seraya memegang tangannya yang sedang menyuapkan kue ke mulutnya.
"Ini pegang sendiri, enak saja minta di suapin kaya anak kecil." Tiba-tiba Keysa melepaskan kue yang ada di genggaman tangannya.
Untung saja Johan sigap hingga kue tersebut tak sampai terjatuh.
"Cinta bilang bos, jangan seperti ini dong," goda Johan terkekeh sambil melahap sisa kue tersebut.
"Geer banget sih kamu! aku tuh wanita yang punya hati nurani, makanya aku beli kue nawarin kamu. Nanti di kira aku pelit jika tak menawari dirimu," kilah Keysa masih saja gengsi jika dirinya sudah mulai jatuh cinta pada Johan.
"Iya dech, lagi pula mama mau seorang putri raja dengan kacungnya," ucap Johan mulai menyalakanesin mobilnya.
"Oh iya, kita akan kemana lagi Tuan Putri?" tanya Johan mengalihkan pembicaraan.
Beginilah sikap Johan yang selalu saja bisa menjaga hati Keysa. Dia bahkan tak pernah marah sedikitpun dengan segala yang di katakan oleh, Keysa.
"Hem, sepertinya kita langsung saja ke salon. Kalau kita jalan ke salon kan waktunya telat, di saat salon sudah buka. Dan kamu tak usah protes dengan salon yang aku pilihkan. Akun juga akan memilih salon yang tepat untukmu," ucap Keysa sambil sesekali melahap kuenya.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di salon yang Keysa inginkan. Salon yang begitu terkenal di kota itu.
"Silahkan mas, mau di pilih yang mana?" tanya pegawai salon itu dengan genit pada Johan. Keysa yang melihat hal ini langsung terbakar api cemburu.
"Mbak, lihat suami saya biasa saja dong. Apa nggak pernah lihat pria tampan! apa mau aku colok ya matanya pakai jariku ini!" ancam Keysa yang membuat pegawai salon itu malu sekaligus takut pada Keysa.
__ADS_1
"Eh iya mbak maaf."
Pegawai itu kikuk sementara Johan malah tersenyum senang melihat akan hal itu, hatinya berbunga-bunga karena Keysa cemburu terhadapnya.
"Lain kali jangan di ulangi lagi, kalau kerja tuh yang benar matanya jangan kemana-mana," ucap Keysa kesal dan jengkel pada pegawai itu.
Cup...
Tanpa permisi Johan mencium pipi Keysa yang membuat wanita itu terdiam seketika. Mulutnya tak lagi nyerocos seperti tadi, pipinya kini memerah karena malu akibat ciuman yang Johan berikan di tempat umum dan di saksikan oleh pegawai yang menatap dengan genit pada suaminya itu.
"Sudah jangan marah-marah , cintaku ini hanya untukmu istriku tersayang," Ucap Johan kali ini mengusap pipi Keysa yang memerah dan itu semakin membuat pipi itu merah kembali.
"Dasar mulut buaya."
Ucap Keysa memalingkan wajahnya karena malu sementara pegawai yang menyaksikan keromantisan itu pun langsung patah hati.
"Aku buaya hanya denganmu, tidak dengan wanita lain." Johan mengedipkan satu matanya ke arah Keysa.
"Dasar genit."
Maki Keysa lagi tapi Johan malah tersenyum dan mencium pipi Keysa lagi.
"Genitku hanya untukmu, sayang."
"Maaf mas, ini jadinya mau milih model yang mana?" tanya pegawai di samping Johan karena kesal sepasang suami istri ini malah mempertontonkan keromantisan di hadapannya.
"Terserah istri saya saja mbak, dia maunya saya model rambut yang mana," ucap Johan melirik Keysa yang saat ini tengah memperhatikan interaksi antara ia dan pegawai salon itu.
"Yang ini saja lebih simpel dan macho di kamu. Lagi pula kan hanya untuk merapikan potongan rambut yang telah ada." Tunjuk Keysa pada salah satu model potongan rambut kekinian khas anak muda jaman sekarang.
"Baiklah kalau begitu saya izin potong rambutnya ya mas."
__ADS_1
Izin pegawai itu dengan senyuman manisnya.
"Silahkan saja asal jangan pegang apapun kecuali rambut saya. Karena saya tak ingin membuat istri saya kesal karena miliknya di sentuh oleh wanita lain," ucap Johan mengedipkan mata ke arah Keysa.