
Waktu tak terasa berlalu begitu cepat, satu bulan telah terlewati. Hari pernikahan Jonathan dan Ara akan berlangsung besok. Acara besar itu akan di adakan di ballroom sebuah hotel mewah yang merupakan salah satu aset bisnis milik keluarga Harvey juga. Tamu yang di undang pun memang cukup banyak, mengingat kolega bisnis Harvey Group yang ada di mana-mana. Juga para kolega serta kerabat dari keluarga Ara.
Meski tergolong acara yang besar, tapi pernikahan Jonathan dan Ara tertutup dari liputan media. Meski berita pernikahan nya itu sudah tersebar kemana-mana, tapi tak ada media yang bisa meliputnya. Privasi dari acara tersebut sangat di jaga rapat. Membuat publik di buat penasaran dengan sosok calon menantu dari salah satu pebisnis besar yang ada di negara ini.
"Waw.. beritanya ada di mana-mana." ucap Devan saat melihat timeline berita di ponsel yang terus memberitakan tentang pernikahan Jonathan dengan adiknya.
Irena yang berada di sebelah suaminya ikut melirik. "Hem.. tadi juga di depan lobby banyak sekali wartawan yang sudah menunggu. Untung aja kita sudah sampai hotel lebih dulu." ucap Irena.
Ara yang sedang merebahkan dirinya di atas kasur merubah posisi, tengkurap dengan bantal yang menutupi kepalanya.
Beberapa saat yang lalu keluarga mereka baru sampai di hotel di mana acara besok akan berlangsung.
Malam ini semua anggota kedua keluarga akan bermalam di sini.
"Jangan di bicarain terus Kak. Kepala aku pusing dengarnya. " ucap Ara di balik bantal.
Ia pusing melihat begitu banyak media yang berusaha mencari tahu tentang dirinya. Padahal jelas-jelas keluarga Jonathan sudah dengan terang-terangan meminta media untuk tidak mencari tahu privasi calon menantunya.
Tapi, para awak media itu seolah tuli dan bebal. Tetap ingin mencari tahu berita pernikahan juga diri Ara demi persaingan berita terbaik.
Devan yang semula duduk di sofa dekat jendela, beranjak ke sisi ujung kasur Ara. "Calon pengantin jangan mengomel terus, nanti aura cantik nya hilang." ledek Devan.
"Masa bodo!" teriak Ara dari balik bantal.
Melihat itu, Devan menarik bantal Ara hingga terlepas membuat Ara berdecak.
"Ck.. Kakak apa sih! Jangan ganggu aku deh, aku lagi enggak mood." ucap Ara sambil berbalik, menengok ke arah Devan tanpa mengubah posisi nya.
"Jangan marah-marah terus, Kakak tahu kamu masih belum siap dan terima sama pernikahan ini. Tapi, kamu juga enggak bisa mundur lagi dek. Pernikahan kalian akan berlangsung besok, kamu harus bisa menerima hal ini dengan lapang hati bukan cuma menjalankan nya saja." ucap Devan sambil menatap adik kesayangannya itu.
Terdiam sejenak, mata gadis itu berkaca-kaca. "Ara takut, Ara belum siap." ucapnya pelan.
Tangan Devan terangkat, mengusap lembut surai hitam Ara. "Apa yang kamu takutin?" tanya Devan.
'Ara takut sudah salah ambil keputusan ini, Ara takut enggak bahagia kak.' ucapnya dalam hati.
"Enggak tahu. Cuma takut aja." jawab nya berbohong.
Devan tersenyum sambil masih mengusap lembut kepala adiknya.
"Kamu enggak perlu takut Ara, Kakak dan Ayah masih ada di sini. Meski sudah menikah nanti kamu tetap si bungsu kami, apapun yang terjadi sama kamu kedepannya Kakak dan Ayah janji akan selalu ada. Dan terlebih di tambah dengan Jonathan nantinya." ujar Devan.
Ara menatap lekat kedua mata Kakak sulungnya. "Janji ya... " ucap Ara sambil mengulurkan jari kelingking nya.
Devan terkekeh pelan, melihat Ara saat ini seperti melihat adik kecilnya yang selalu merengek dan meminta nya berjanji akan sesuatu.
"Iya Kakak janji." Devan kaitkan jari kelingking miliknya dengan jari mungil Ara.
Keduanya tersenyum lembut.
"Yasudah kamu istirahat, besok pagi kita akan pergi ke makam bunda sebelum acara akad sore hari." ucap Devan.
Ara menganggukan kepalanya. " Hemm.. " jawab gadis itu.
Devan mengusak lalu mencium puncak kepala milik Ara, "Selamat istirahat, dek." ucap nya seraya bangkit dari sisi ranjang.
Irena yang sedari tadi berada di sofa ikut bangkit, lalu menghampiri adik iparnya itu.
"Kalau kamu mau di temani atau perlu sesuatu, telepon Kakak saja ya." ucap Irena juga ikut mencium puncak kepala Ara.
__ADS_1
Ara mengangguk, "Hem.. Ara enggak apa-apa kok. Kalian istirahat juga ya."
Devan dan Irena mengiyakan sebelum akhirnya keluar dari kamar milik Ara.
Beberapa saat selepas kepergian Devan dan Irena, Ara mengubah posisi nya menjadi terlentang. Menatap sepinya dinding kamar hotel.
"Bunda... " gumam gadis itu.
Matanya berkaca-kaca. "Bunda, Ara rindu bunda. Apa bunda juga rindu Ara di sana?"
Menghela nafas pelan, Ara mencoba menahan air matanya. "Bunda, besok Ara akan menikah dengan lelaki pilihan Ayah, lelaki yang Ayah percaya. Sama seperti Ayah yang percaya pada Kak Jonathan, Ara juga percaya dengan pilihan Ayah."
"Semoga Ara tidak salah mengambil keputusan ini ya, Bun."
Memejamkan mata, Ara meletakan lengannya di atas sana. "Maaf.. " gumam gadis itu.
"Maafin aku, Jay."
*********
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Tapi, Adrian masih terjaga dan belum memejamkan mata nya sama sekali.
Bersandar di kepala ranjang sambil menatap sebingkai foto yang ada di tangannya.
Itu foto keluarga mereka, di dalam foto itu ada Ara yang memegang boneka dan Devan memegang bola, keduanya tersenyum begitu cerah. Adrian dan sang istri berada di belakang sambil merangkul keduanya.
Foto tersebut adalah foto liburan terakhir mereka sebelum Adrian mengetahui bahwa Merry mengidap penyakit tumor otak. Penyakit yang membuat dirinya harus kehilangan sang istri dan kedua anaknya kehilangan seorang ibu.
Mengingat masa-masa itu membuat Adrian sesak. Selama belasan tahun ia harus berjuang membesarkan kedua putra putri nya dengan baik seorang diri. Dan besok, putri bungsu nya yang amat ia sayangi dan jaga dengan sepenuh hati akan menjadi milik orang lain.
Menjadi milik lelaki yang ia yakini mampu untuk menggantikannya.
"Ayah tahu kamu berat dan terpaksa menerima perjodohan ini. Tapi ayah yakin suatu hari nanti kamu akan mengerti Ara, apa yang Ayah lakukan ini semua demi kamu.
Jonathan adalah yang terbaik yang bisa menjaga dan mengganti Ayah, dan Ayah yakin itu." gumam Adrian.
Bukan tanpa sebab Adrian begitu yakin pada Jonathan. Ia sudah mengenal dan tahu Jonathan dari puluhan tahun yang lalu, ia tahu seperti apa sifat asli Jonathan yang tak orang ketahui.
Sifat Jonathan saat ini hanyalah bentuk pertahanan diri nya dari rasa sakit. Jonathan sesungguhnya hanyalah seorang anak remaja yang dulu rapuh dan sering kali menangis di pelukannya. Dan Adrian yakin, Jonathan masih tetaplah sama.
Adrian menoleh, saat mendengar pintu kamar hotelnya di ketuk. Sedikit mengerutkan kening, ia berpikir siapa yang datang malam hari begini.
Langsung beranjak, Adrian membuka pintu. Di depan sana, ada seseorang yang sedari tadi ia pikirkan. Sedang berdiri sambil memeluk bantal.
"Ayah.. " ucapnya. Ya itu adalah Ara, si putri bungsu.
"Kenapa? Mau tidur sama Ayah?"
Ara mengangguk sambil memeluk erat bantalnya. "Iya.. "
Sebenarnya Adrian tidak perlu bertanya, karna ia sudah tahu itu. Ara gadis berusia dua puluh empat tahun itu masih sama seperti Ara si gadis kecil yang selalu datang mengetuk pintu pada malam hari saat tak bisa tidur.
Lalu akan berdiri didepan pintu sambil memeluk bonekanya dengan wajah cemberut.
Dan kini kejadian di depan pintu sama persis. Hanya saja Ara si kecil sudah berubah lebih tinggi dan jadi seorang perempuan dewasa.
"Ayo masuk." Adrian merangkul putri kesayangannya itu.
Setelah menutup pintu, ia ikut naik ke atas kasur. Si cantik langsung meringkung seperti bayi ke dalam pelukan Ayah, pelukan hangat yang masih sama sedari dulu.
__ADS_1
"Aduh, ini yang besok mau menikah? Kok masih manja kaya anak kecil seperti ini." ledek Adrian sambil mengusap-usap lembut kepala Ara.
"Emangnya gak boleh manja sama Ayah sendiri? Kan nanti Ara enggak bisa tidur sama Ayah lagi, enggak bisa datangin kamar Ayah lagi kalau Ara enggak bisa tidur." jawabnya.
Adrian terkekeh pelan. "Iya emang enggak bisa. Tapi kan nanti kamu sudah punya teman tidur sendiri, jadi enggak perlu lagi cari Ayah kalau enggak bisa tidur." ucap Adrian.
Hening. Tidak ada jawaban dari Ara setelah kalimat yang Adrian ucapkan. Tapi, Adrian tahu putrinya itu belum terlelap, seperti sedang resah.
"Ara... " panggil sang Ayah.
"Hemm..?" jawab Ara tanpa melepaskan diri dari pelukan Adrian.
"Maafin Ayah ya? Maaf karena Ayah berusaha mengatur masa depan kamu, maaf karena Ayah meminta kamu menikah dengan Jonathan, maaf karena Ayah tidak merestui hubungan kamu dengan Jayden." ucap Adrian.
Ara terdiam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan Adrian ucapkan.
"Ayah tahu mungkin ayah memang termasuk orang tua yang egois karena hal ini. Tapi Ayah hanya ingin kamu tahu, kamu adalah hidup Ayah. Kamu dan Kakak mu adalah segalanya untuk Ayah. Kalian adalah harta, nyawa dan kehidupan bagi Ayah.
Ayah tidak akan pernah bisa bertahan jika tidak ada kalian. Setelah kehilangan Bunda, kalian lah penguat Ayah." ucap Adrian penuh sesak.
Ara yang mendengarnya sudah menangis tanpa suara dalam pelukan Adrian. Air mata gadis itu mengalir, membasahi baju sang Ayah.
Sesak yang sama juga ia rasakan.
"Bagi Ayah tidak ada hal yang paling penting selain memastikan hidup kalian akan selalu bahagia dan baik-baik saja kedepannya meski tanpa Ayah nanti."
"Ayah... " Ara sudah tidak dapat lagi menahan isaknya, ia peluk erat tubuh hangat yang semakin menua itu.
"Jangan bicara kaya gitu, Ara enggak suka. Ayah akan terus sama kita sama-sama. Bersama Ara dan Kak Devan."
"Iya.. iya.. Ayah akan selalu terus bersama kalian. Juga di tambah cucu-cucu Ayah nanti ya." ucap Adrian sambil terkekeh, sambil mengusap sudut matanya yang mulai berair.
Ara semakin terisak kuat. Dan Adrian terus membelai lembut punggung putrinya itu.
"Ara... terima kasih ya."
"Terima kasih karena sudah menjadi putri Ayah, putri yang begitu baik yang Ayah miliki. Setelah menikah nanti, tolong juga kamu menjadi istri yang baik buat Jonathan seperti kamu menjadi putri yang baik.
Dia lelaki yang baik, dan kini masih sama baiknya. Dia hanya mencoba menutupi luka yang dia punya, dan kamu harus bisa menjadi penyembuh buat dia. Ayah yakin kamu bisa menjadikan Jonathan kembali menjadi diri dia yang dulu."
Ara tak menjawab, meski tak mengerti maksud ucapan Adrian tapi ia tetap menganggukan kepalanya.
"Ayah sayang sekali sama Ara, putri kecil Ayah." Adrian kecup puncak kepala milik Ara.
"Ara juga sayang Ayah." ucapnya serak.
Adrian tersenyum. "Ayah tahu."
Dan malam itu begitu hangat, di lalui oleh seorang Ayah yang akan melepas putri kecilnya untuk lelaki lain esok hari.
•
•
•
To be continued...
•
__ADS_1
Maaf update nya lama bgt, aku lagi sakit. Mohon doa nya ya biar cepat pulih semuanya.