
Ryan merasa heran kenapa malah papahnya marah padanya.
"Pah, aku sengaja menggertak mereka supaya mereka takut dan lantas memberikan semua hartanya pada kita. Kenapa malah papah marah padaku?" tanya Ryan heran.
"Papah sekolahkan kamu tinggi tapi percuma saja, karena otakmu tetap otak tempe!" Roy sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Mereka itu tak sebodoh yang kamu kira, mereka juga tidak mudah gentar. Makanya gertakanmu itu tidak mempan. Justru kelakuan kasarmu itu bisa berdampak buruk padamu," ucap Roy kesal.
"Mereka tidak akan berani melapor pada polisi, jadi papah jangan pernah khawatir," Ryan mencoba meyakinkan Roy.
Roy hanya bisa tersenyum sinis mendengar omongan anaknya itu. Dia pun tak berkata lagi. Karena baginya percuma berkata panjang lebar, toh pada akhirnya tetap saja anaknya tak percaya.
Apa yang barusan dikatakan oleh Roy menjadi sebuah kenyataan datanglah beberapa aparat polisi untuk menangkap, Ryan.
"Maaf, pak. Kenapa anak saya di tangkap?" tanya Roy.
"Kami mendapatkan laporan dari seseorang, bahwa anak anda sudah bertindak kasar pada istrinya hingga melukai salah satu pipinya dengan sayatan sebuah pisau," ucap salah satu aparat kepolisian.
"Pak, pelapor itu bohong. Saya sama sekali tak melakukan apapun," sanggah Ryan.
"Anda bisa jelaskan semuanya nanti di kantor, sekarang juga anda ikut kami ke kantor."
Ryan di bawa paksa olah dua aparat kepolisian dan di borgol, Roy pun terpaksa ikut serta ke kantor polisi karena penasaran dengan kasus anaknya.
Sesampainya di kantor polisi, Roy sangat kesal pada saat melihat Betrand dan Keysa.
"Apa yang aku takutkan benar-benar terjadi, mereka melaporkan perbuatan Ryan. Jika seperti ini gagal total rencanaku untuk mendapatkan semua harta milik, Betrand. Bodoh sekali Ryan, terlalu ceroboh dalam bertindak!" batin Roy kesal.
__ADS_1
Pada saat di kantor polisi, salah satu aparat kepolisian sempat memperlihatkan bukti rekaman video CCTV padanya.
"Sekarang apa anda bisa mengelak lagi dengan segala perbuatan yang telah anda lakukan tersebut?" ejek salah satu aparat kepolisian.
"Makanya jika anda ingin bertindak sesuatu itu dipikir terlebih dahulu jangan asal bertindak saja, tidak semua manusia itu bodoh dan tidak semua manusia itu akan terima diperlakukan kasar oleh seseorang," ucapnya lagi.
Setelah melihat bukti rekaman video CCTV tersebut Ryan pun menjadi panik cemas gelisah dia tak habis pikir jika di dalam kamarnya dipasang CCTV.
"Aduh bagaimana ini, jika seperti ini aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena bukti sudah kuat untuk menjerat aku masuk ke dalam penjara," batin Ryan.
"Pak polisi saya itu hanya main-main saja sama istri dan mertua saya. Tapi saya tak sengaja pisau mengenai pipi istri saya. Saya hanya bercanda, ingin membuat prank untuk acara Chanel you tube saya," kilah Ryan.
"Anda pikir sebagai aparat hukum kami mudah percaya dengan ucapan anda barusan. Tak usah lagi mengelak karena bukti sudah sangat kuat, jadi kami akan segera memproses kasus yang menimpa, Nona Keysa ini."
"Anda sungguh kejam, padahal istri anda sedang hamil. Tapi anda tega berbuat kasar padanya. Anda jangan main-main ya, setiap perbuatan pasti ada hukumannya."
Ryanpun beralih ke Keysa, dia ingin membujuknya.
"Sayang, tolong cabut tuntutanmu. Aku akui aku ini salah, aku hilaf. Tolong maafkan aku, pikirkan bagaimana kelak masa depan anak kita bila tidak ada aku. Masa iya anak kita akan punya ayah seorang narapidana?" rayu Ryan.
"Sayang, aku hanya nge prank tak mungkin juga aku benar-benar ingin menyakiti dirimu seperti itu. Semua kan bisa di bicarakan secara kekeluargaan demi anak kita," bujuk Ryan kembali.
Mendengar perkataan Ryan, Keysa hanya tersenyum sinis.
"Apa kamu telah lupa dengan perkataanmu sendiri? katanya aku tak mungkin berani melaporkan dirimu. Lihatlah apa yang aku lakukan."
"Aku tak takut anakku tak punya ayah, dari pada punya ayah tapi jahat dan hanya merongrong harta istrinya."
__ADS_1
"Kamu kan bicara sendiri di dalam rekaman video CCTV juga ada, jika kamu hanya ingin merebut semua hartaku saja."
"Pak polisi, tolong segera di proses kasus saya ini. Jika bisa hukum dia seberat-beratnya. Saya sama sekali tidak masalah walaupun dia itu ayah dari bayi yang sedang saya kandung ini.'
Setelah mengucapkan banyak hal, Keysa mengajak Betrand untuk pulang. Dia sebenarnya sedih tetapi juga lega karena sudah tidak ada lagi ancaman dari Ryan.
Sementara Roy celingukan malu, dia bahkan tak bisa menatap ke arah Betrand. Akan tetapi Betrand justru mendekatinya.
"Roy, seharusnya kesalahan yang pernah kamu lakukan dulu itu bisa membuatmu sadar dan tobat. Bukan malah seperti ini, mengajarkan anakmu hal buruk. Kini malah anakmu yang gantian masuk penjara," ucap Betrand seraya menggelengkan kepalanya.
Setelah itu dia berlalu pergi begitu saja dengan Keysa. Roy segera menemui Ryan.
"Ryan, apa yang pernah papah katakan benar kan? kamu itu terlalu ceroboh dalam bertindak, seperti ini akhirnya. Lain kali kalau ingin bertindak tanya dulu sama papah! hancyir sudah harapan papah!" Roy berlalu pergi begitu saja meninggalkan Ryan di kantor polisi.
"Apa yang dikatakan oleh papah ada benarnya juga, seharusnya aku membicarakan dengan papah tentang apa yang akan aku perbuat bukan hanya aku langsung bertindak sendiri. Entah berapa lama aku akan ada di dalam penjara nantinya, ini semua berkat kebodohan dan kecerobohanku sendiri dalam bertindak," batin Ryan baru menyadari akan tindakan cerobohnya.
Sementara saat ini Keysa dan Betrand dalam perjalanan pulang. Keysa hanya terdiam, pikirannya selalu tertuju pada masa lalunya bersama dengan Johan.
"Aku telah menyia-nyiakan suami yang sangat setia, tanggung jawab, baik, soleh, dan tidak banyak tingkah. Kini aku sudah tak bisa lagi kembali padanya karena dia sudah beristri lagi."
"Tapi mereka kenapa belum juga di karuniai anak ya? hem, apa ini jalan buatku untuk bisa kembali pada Johan."
"Aku punya ikatan anak dengan Johan, sedangkan wanita desa itu kan belum hamil. Apa aku dekati lagi si Johan ya, tapi sepertinya nggak banget dech. Bukan tipe aku menjilat ludahku send sendiri."
Terus saja Keysa traveling otaknya hingga ke mana saja. Bahkan dia punya niatan jahat ingin menghancurkan rumah tangga, Johan.
"Pah, maafkan aku ya. Aku benar-benar telah menyesal," ucap Keysa memecahkan kesunyian di dalam mobil.
__ADS_1
"Sudahkah tak perlu berulang kali kamu minta maaf. Toh apa yang kamu perbuat dan putuskan imbasnya ke kamu sendiri kan? makanya kalau orang tua menasehati jangan di gampangin," ucap Betrand kesal.