Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Arabella


__ADS_3

Arabella, gadis cantik dengan senyuman hangat yang mampu menggetarkan hati siapapun yang melihatnya. Kini ia tengah merendamkan tubuhnya di dalam bathtub berisi air hangat, sabun cair dan wewangian aroma terapi yang dapat menenangkan.


Sambil bersenandung kecil, rasa lelahnya akibat seharian ini berjalan-jalan kini sudah terasa reda. Meski masih sedikit pegal-pegal karena ia terlalu lama berjalan kaki.


Ara biasa gadis itu di panggil, terlalu bersemangat menjelajahi kota baru yang ia tinggali beberapa hari ini.


Negara kelahiran Ayah dan ibu nya, dimana ia bersama keluarganya pindah dan akan terus menetap di sini.


Senandungan Ara terhenti begitu mendengar ponsel nya yang berada di dekat bathub berdering. Meraih benda pipih tersebut, senyum Ara merekah begitu melihat sebuah nama yang tertera di layar ponsel.


"Halo Jay... " Ara berseru senang begitu menerima panggilan sang kekasih.


"Halo Babe. Suara kamu bersemangat sekali."


"Ya tentu saja. Because I Miss you."


"Really? I think you lie. Bukti nya saja seharian ini kamu sibuk, sampai enggak menghubungi ku"


Ara terkekeh mendengar keluhan Jay dari sebrang sana.


"Kan aku sudah izin pada sama kamu buat pergi jalan-jalan seharian ini. Lagi pula sudah seminggu aku datang ke Indonesia. Baru hari ini saja aku enggak menghubungi mu" Ara melakukan pembelaan.


"Yes, I understand Babe. Jadi, gimana jalan-jalan nya?"


Ara tersenyum di balik layar teleponnya, "Menyenangkan. Ternyata banyak tempat indah di sini. Aku mengambil banyak foto tadi, nanti aku kirimkan."


"Baiklah, aku menantikannya."


"Hm... Oh ya kamu lagi apa di sana?"


"Aku? Aku lagi rindu kamu."


Senyum di bibir Ara semakin mengembang, "Pembohong!"


"Aku serius Honey. Mm.. aku sebentar lagi mau tampil, dan jujur aku jadi rindu saat-saat kamu menunggu aku di depan panggung. Sambil memberikanku semangat."


"Maaf aku enggak ada di sana menemani kamu" ucap Ara lirih.


Sejujurnya Ara juga berat untuk pindah ke Indonesia dan harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Jayden.


"It's oke. Aku mengerti Honey, don't worry. I just Miss you"


Wajah Ara berubah sendu, "And I Miss you too."


Jayden melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Di London masih jam 5 sore, itu berarti di sana sudah malam."


"Mm.. di sini sudah jam 10 malam."


"Kalau begitu beristirahat. Jangan tidur terlalu larut dan selalu jaga kesehatan" pesan Jay.


"Sudah mau selesai?"


"Iya Babe. Aku harus segera bersiap."


"Baiklah. Kalau begitu semangat perform nya. Aku selalu mendukung kamu."


"Terima kasih Honey. Aku akan menghubungi mu lagi besok."


"Hm.. baiklah Honey. I love you."


"I love you too. Have nice dream Sweetie."


Setelah panggilan berakhir Arabella menatap layar ponselnya dengan sendu, di sana terpasang foto dirinya dengan Jayden sebagai wallpaper.

__ADS_1


"Semoga Ayah bisa merestui hubungan kita nanti." gumam Ara sambil mengusap layar foto mereka.


Rasa sedih nya kembali menyeruak begitu mengingat hubungan asmara nya bersama Jayden yang sudah berlangsung tiga tahun itu masih tidak di restui oleh Adrian, Ayahnya.


Bahkan sang Ayah sampai harus membawa nya kembali ke Indonesia agar bisa menjauhkan dirinya dengan kekasihnya sendiri.


Namun bagi Ara itu semua tidak masalah, ia akan tetap bertekad untuk berjuang mempertahankan hubungannya dan mendapat restu dari Adrian secara perlahan.


Ya, itu memang tekad dan rencana Ara.


Tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Ia tidak pernah tahu bahwa takdir mampu berubah dalam sekejap.


*********


Matahari pagi sudah mulai naik ke permukaan, memancarkan sinar hangat nya pada setiap insan manusia yang mulai sibuk pada aktivitas nya masing-masing.


Kecuali satu wanita yang masih begitu asik bergelung di dalam selimut hangatnya. Seakan tidak terusik akan cahaya yang mulai masuk melalui celah-celah jendela.


Bahkan ketika pintu kamarnya di buka oleh seseorang, gadis itu masih nyaman tak terusik.


Irena masuk ke dalam kamar adik ipar itu, menggelengkan kepala saat melihat si anak gadis masih terlelap nyenyak.


"Ara, ayo bangun. Ini sudah pagi." Irena menyibakkan semua gorden kamar hingga cahaya matahari dapat masuk dengan terang.


Membuat Arabella mengerenyit kesilauan. "Ara, ayo cepat bangun. Jangan bermalas-malasan, hari ini kamu harus ikut Ayah bukan?"


Ara mulai menggeliat saat Irena menyibakkan selimut tebalnya dan membuat kulit halusnya merasakan kedinginan dari pendingin ruangan yang sudah semalaman menyala.


"Arabella si anak gadis cantik tapi pemalas, ayo bangun. Sudah pagi dan semua orang sudah menunggu kamu sarapan." ucap Irena dengan nada yang di buat-buat mengejek.


Arabella membuka sebelah matanya hanya untuk melihat jam yang tergantung di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Kak.. ini masih terlalu pagi. Aku masih mengantuk." Ara merengek. Hendak menarik lagi selimut miliknya, tapi dengan cepat Irena menahannya.


Sontak saja ancaman Irena membuat mata Ara membulat dan langsung bangkit duduk. "Kakak, kenapa jahat sih. Mengancam seperti itu." rengek Ara.


"Makanya kalau kamu tidak mau di adukan, cepat bangun dan bersiap.Hari ini Ayah kan akan mengajak kamu ke rumah sakit. Sudah waktu nya kamu mulai bekerja lagi, seminggu sudah cukup untuk bermalas-malasan nya."


"Iya, iya aku bangun." Ara beranjak turun dari kasur lalu hendak pergi ke kamar mandi.


"Punya kakak ipar bawelnya bukan main." gerutu Ara pelan.


"Kakak dengar loh apa yang barusan kamu bilang." ucap Irena sambil melipat kedua tangannya di dada.


Ara berbalik, menyengir malu sambil mengacungkan kedua jadi nya membentuk huruf V. "Peace kak, Ara bercanda hehe. Jangan marah ya kakak ku yang cantik." rayunya.


Irena menggelengkan kepala sambil berdecak pelan. "Iya, iya. Sudah sana pergi mandi. Jangan lama-lama bersiap nya."


"Siap Bu." jawab Ara langsung buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.


Irena tersenyum, melihat tingkah Arabella yang kadang masih seperti anak kecil.


"Dasar anak itu."


*********


Kemacetan di pagi hari tentu sudah menjadi hal yang lumrah di setiap kota. Terutama pada hari-hari kerja seperti senin pagi ini.


Ara dan Ayahnya, Adrian sedang menuju ke salah satu rumah sakit besar yang ada di pusat kota.


Hari ini hari pertama Ara akan bekerja di rumah sakit yang baru. Setelah sekitar hampir dua bulan yang lalu ia berhenti bekerja sebagai dokter lalu mengurus-urusi semua kepindahannya ke Indonesia termasuk ke kepindahannya pekerjaannya.

__ADS_1


Rumah sakit tempat Ara akan bekerja kali ini merupakan rumah sakit Adrian dulu bekerja, tempat yang mengukir banyak sejarah perjuangan Adrian sebelum mereka sekeluarga pindah ke London.


Dan Adrian kembali lagi menjadi dokter di rumah sakit tersebut, bahkan putri semata wayangnya juga akan mengabdi kan diri sebagai salah satu dokter di sana.


"Ayah rumah sakit nya masih jauh?" tanya Ara yang mulai lelah dengan kemacetan.


Adrian tersenyum sambil mengusap kepala Ara dengan sebelah tangannya, "Tidak kok. Itu gedung nya sudah terlihat." jawab Adrian.


Ara menoleh, melihat gedung pencakar langit yang bertuliskan 'The Royal Hospital'. Rumah sakit itu besar, hampir sama dengan rumah sakit tempatnya di London dulu.


Ara berharap dalam hati semoga rumah sakit yang baru ini juga nyaman bagi nya.


Mobil Adrian hampir sampai, saat hendak berbelok memasuki jalur khusus untuk memasuki area rumah sakit, Ara tiba-tiba meminta menghentikan mobilnya di sana.


"Ayah berhenti." pinta Ara.


"Ada apa Ara?" Adrian bertanya, mencoba menepi kan mobil nya.


"Ara mau turun di sini. Ara mau membeli bunga dulu." tunjuk gadis itu pada sebuah flower shop yang ada di sebrang rumah sakit.


"Nanti saat pulang kita beli, sekarang kita harus masuk dulu. Di sini tidak ada tempat parkir, Ayah harus langsung jalan."


Ara menengok kesana kesini mencari area parkir yang memang tidak ada, hanya ada di depan toko bunga dan itu harus putar arah yang cukup jauh.


"Enggak mau. Ara mau memajang nya di meja kerja yang baru." rengek gadis itu.


"Tapi sayang--" Belum sempat Andrian menyelesaikan kalimatnya Ara sudah memotong lebih dulu. "Ayah masuk duluan saja, nanti Ara akan menyusul. Sudah ya Ayah, di belakang sudah banyak mobil mengantri."


Gadis itu langsung keluar dari dalam mobil tanpa menunggu persetujuan sang Ayah.


"Jangan lama-lama. Ayah tunggu di lobby." teriak Adrian dari dalam mobil. Ara melingkarkan ibu jari dan telunjuk nya membetuk simbol OK, "Oke Ayah." teriak Ara sambil menyebrangi jalan raya untuk ke toko bunga.


Begitu mobil Adrian pergi, Ara masuk ke dalam toko bunga. Memilih dengan cepat bunga Lily, bunga kesukaannya. Mungkin lebih tepatnya bunga kesukaan mendiang ibunya, karena bunga Lily selalu mengingatkan nya pada sang ibu.


Usai membayar bunga pilihannya, Arabella keluar. Berniat ke rumah sakit dengan segera. Tapi ketika menunggu lampu lalu lintas berubah merah, Ara tercekat kaget saat melihat seorang anak kecil sedang berdiri di tengah jalan raya. Terlebih sebuah mobil sport mewah melaju dengan cepat dari belakang anak kecil itu.


"Hei nak awas!" teriak Ara. Tapi bocah kecil berusia lima tahun itu bergeming sama sekali.


Ara berlari memeluk si anak kecil itu kedalam pelukannya. Jeritan orang-orang sekitar terdengar nyaring saat mobil sport yang melaju kencang itu hampir menabrak keduanya.


Untung saja mobil tersebut dapat berhenti tepat di depan Ara yang masih berjongkok memeluk anak kecil yang tampak kaget.


Belum selesai keterkejutan Ara, tiba-tiba saja si pemilik mobil keluar dan berteriak marah seolah ia tak melakukan kesalahan. Lelaki arogan.


"KAMU INGIN MATI HAH?!"





To be continued ...


Wallpaper handphone Arabella



Uuhh manis nya 😍



Minta dukungan nya Guys. Di vote novelnya.

__ADS_1


Di like dan Coment setiap chapter nya.


Thank you


__ADS_2