Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Menjadi Gelisah


__ADS_3

"Pagi, Pak Betrand," sapa Bu Sarah.


"Pagi juga, Bu. Saya kemari ingin jenguk Abian, mana ya? apa ada di dalam?" tanyanya seraya celingukan mencari keberadaan cucunya.


"Abian ikut kerja Johan, pak. Karena di rumah tidak ada yang jaga, kebetulan Lisa sedang kuliah jadwal pagi. Sebenarnya saya bersedia menjaganya, tetapi Johan tidak mengizinkan dengan alasan khawatir kejadian waktu itu terulang lagi," ucap Bu Sarah merasa tak enak pada Betrand.


"Astaghfirullah aldazim, kenapa nggak di antar ke rumah saya saja. Saya kan bisa menjaganya, bukannya kemarin ada baby sitter?" tanya Betrand.


Kemudian Bu Sarah menceritakan semuanya pada Betrand tentang kelakuan baby sitter.


"Ya sudah, Bu. Jika begitu saya pamit pulang, saya akan menyusul ke kantor Johan saja," pamitnya seraya berlaku pergi.


"Ya, pak. Hati-hati di jalan."


Betrand meminta sopirnya melajukan ke arah kantor Johan. Pada saat sampai di kantor, dia mencari keberadaan Abian yang ternyata tidak ada di ruang kerja Johan.


"Johan, mana Abian? kata ibumu di bawa kemari, tapi kok nggak ada?" tanya Betrand celingukan di ruang kerja Johan.


"Papah, bikin kaget saja. Abian ada di ruang kerja Rinjani, pah. Karena aku belum selesai mengecek semua berkas yang ada di meja ini," ucap Johan menghentikan aktivitasnya mengecek berkas-berkas di mejanya.


"Tunjukkan sekarang juga dimana ruangan Rinjani," pinta Betrand dengan ketusnya.


Johan melangkah keluar ruang kerjanya di ikuti oleh Betrand. Dan pada saat sampai di ruangan Rinjani, Betrand begitu takjub karena melihat Abian begitu ceria bersama dengan Rinjani.


"Ya Allah, gadis itu mampu membuat Abian tertawa bahkan terlihat sangat akrab. Kasihan juga cucuku harus kehilangan kasih sayang ibunya, gara-gara keegoisan ibunya. Maafkan opa ya cu," batin Betrand.


"Tuan, Pak Johan," sapa Rinjani tersenyum ramah seraya menggendong Abian.


"Kemarikan Abian, aku ingin menggendongnya," pinta Betrand namun pada saat di berikan padanya oleh Rinjani, justru Abian menangis.


"Sayang, itu kan opa. Opa kangen loh," ucap Johan.

__ADS_1


Hingga Betrand tak tega, dia memberikan Abian lagi pada Rinjani.


"Siapa namamu, nak?" tanya Betrand.


"Saya Rinjani, Tuan."


"Johan-Rinjani, apa nggak sebaiknya kalian ini menikah saja? papah rasa Abian sudah cocok dengan Rinjani."


Apa yang di katakan oleh Betrand membuat Johan saj Rinjani saling bertatap muka sejenak.


"Kenapa kalian diam?" tanya Betrand.


"Pah, jangan mengatakan hal seperti itu pada Rinjani. Mungkin saat ini dia sudah punya kekasih, dan jujur saja pah jika sampai detik ini aku masih cinta pada, Keysa," ucap Johan jujur.


"Lantas apa selamanya Abian harus ikut bekerja denganmu seperti ini? kasihan juga dia, kamu seharusnya sudaj move on dari anakku yang dari awal tak pernah cinta padamu."


"Rinjani, jika kamu bagaimana? apa memang benar kamu ini sudah punya kekasih?" tanya Betrand menatap ke arah Rinjani yang sedari tadi menatap ke lain arah.


"Rinjani, kenapa kamu diam saja? katakan sejujurnya apa yang sebenarnya kamu rasakan pada Johan dan Abian?" Betrand terus saja memojokkan Rinjani.


"Begini, Tuan. Saya sudah sayang dengan Abian sejak pertama kali bertemu dengannya. Walaupun saya belum pernah punya anak, saya sudah menganggap Abian seperti adik saya sendiri. Dan mengenai pacar, saya sama sekali tak punya pacar, Tuan."


Jawaban polos dari Rinjani membuat Betrand tersenyum.


"Rinjani, apakah kamu mau menjadi ibu sambung Abian? katakan saja sejujurnya tak usah kamu malu," ucap Betrand.


"Saya bersedia, Tuan. Karena saya sudah sangat sayang pada Abian. Jujur saja saya tak bisa jauh dari Abian," ucap Rinjani tertunduk malu.


"Johan, kamu dengar kan? lantas mau sampai kapan kamu menutup dirimu untuk wanita lain? papah sama sekali tak marah atau melarangmu untuk menikah dengan wanita lain. Justru papah senang, dengan begitu Abian punya seorang mamah," ucap Betrand mendukung hubungan antara Johan dan Rinjani.


"Johan, Abian itu butuh sosok seorang ibu. Dan dia tak mendapatkan itu dari Keysa tetapi dia mendapatkan dari Rinjani. Apa selamanya kamu akan membiarkan Abian tumbuh tanpa ada kasih sayang seorang ibu? kamu jangan egois, Johan."

__ADS_1


Mendengar apa yang di katakan oleh mantan mertuanya, Johan memang menyadari jika selama ini dia sangat kerepotan merawat Abian. Tetapi dia belum siap jika menikah lagi, apa lagi tidak ada ikatan cinta diantara dirinya dan Rinjani.


"Jika kamu belum siap, kamu pikirkan lagi. Jika diantara kalian sudah siap, tolong jangan sungkan beritahu papah. Papah yang akan mengurus semua keperluan untuk pernikahan kalian berdua," ucap Betrand seraya berlalu pergi.


Sementara Johan hanya bisa menatap Rinjani dengan penuh kebingungan.


"Rinjani, apa kamu tak menyesal misalnya kita menikah tapi aku belum ada rasa cinta dan sayang padamu? aku nggak ingin membuatmu tak bahagia dengan pernikahan kita kelak. Apalagi aku sudah pernah alami sendiri, bagaimana merasakan cinta bertepuk sebelah tangan. Aku cinta istriku sementara dia tak pernah cinta padaku," ucap Johan menatap serius pada Rinjani.


"Pak Johan, tak usah di pikirkan apa yang barusan Tuan Besar katakan ya. Saya akan tetap bersedia menjaga, tanpa harus kita menikah," ucap Rinjani.


"Maafkan aku ya, Rinjani. Tapi misalkan iya aku akan menikahimu apakah kamu mau?" tanya Johan ragu.


"Saya tidak keberatan kok, pak. Untuk menjadi ibu sambung bagi, Abian. Saya tulus ikhlas menyayangi Abian," ucapnya.


"Ya saya tahu itu, karena itu terbukti dari Abian begitu lengket padamu."


Johan memutuskan untuk pulang lebih awal karena dia membawa Abian. Jam dua siang dia sudah ada di rumah. Pikirannya gelisah sejak mendengar perkataan dari, Johan.


"Hem, kok ada ya seorang mantan mertua seperti Papah Betrand? jika orang tua yang lain pasti tak suka jika mantan menantunya menikah dengan wanita lain," batin Johan masih belum percaya dengan apa yang tadi di katakan oleh Betrand.


"Johan, apa yang membuatmu gelisah?" tegur Bu Sarah.


Johan menceritakan apa yang barusan di katakan oleh Betrand pada saat ada di kantor. Mendengar cerita dari Johan, Bu Sarah pun tersenyum.


"Johan, itu yang namanya orang bijak. Pak Betrand itu orang baik, dia juga tak ingin cucunya terbengkalai. Dia ingin cucunya punya kasih sayang seorang ibu. Ibu juga setuju jika kamu menikah dengan Rinjani."


"Dia itu gadis yang sangat baik, tidak banyak bertingkah, dan sangat lembut penuh kasih sayang."


Johan melongo mendengar ucap Bu Sarah.


"Apa iya aku harus menikah lagi dengan Rinjani? padahal aku sedang berharap jika suatu saat nanti Keysa bisa berubah, dan kami bisa rujuk lagi," batin Johan.

__ADS_1


__ADS_2