Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Kesepakatan


__ADS_3

Ternyata ucapan Ara tentang menerima perjodohan nya dengan Jonathan bukan omong kosong saja. Karena setelah sang Ayah Adrian sembuh dan di perbolehkan pulang ke rumah, Ara mengatakan bersedia untuk di nikahkan dengan Jonathan.


Tentu saja kabar ini membuat semua orang senang, apalagi kedua orang tua Jonathan. Mereka sampai mengadakan pertemuan lagi untuk membahas rencana selanjutnya yang akan di lakukan. Atau lebih tepatnya membicarakan tentang pernikahan.


Jonathan yang semula tahu bahwa Arabella sangat tidak ingin di jodohkan dengan nya, sedikit kaget saat tahu gadis itu menerima perjodohan ini. Padahal awalnya Ara sangat menolak bahkan sampai menemui nya untuk mengajak bekerja sama, tapi gadis itu tiba-tiba berubah pikiran begitu saja?


Merasa tidak bisa menikah begitu saja dengan Arabella, Jonathan memiliki yang sudah ia rencanakan. Untuk itu kini ia ada di sini, di rumah sakit tempat Arabella bekerja, membuat para perawat di sana heboh dan histeris saat seorang Jonathan Harvey yang biasa muncul di majalah dan tv kini ada di sana. Apalagi kedatangan Jonathan untuk menemui seorang dokter muda yang cantik dengan membawa sebuket bunga mawar. Bahkan dalam sekejap rumor tentang ada hubungan apa di antara kedua nya menjadi topik hangat para perawat.


"Mau apa ke sini?" ucap Ara begitu memasuki ruangan miliknya.


Seorang tamu tak di undang itu kini tengah duduk santai di kursi depan meja kerja sang pemilik.


"Begitu ya cara menyambut seorang tamu?" sindir Jonathan yang tak di hiraukan oleh Ara.


Gadis itu berjalan ke belakang meja kerjanya, melepaskan stetoskop juga jas putih miliknya lalu menaruh nya di tempat masing-masing.


Masih berlalu, Ara membuka lebar kulkas mini yang ada tak jauh dari meja kerja nya. Lalu beralih menatap Jonathan. "Mau minum apa?" tanya Ara.


Kening Jonathan sedikit berkerut ketika melihat isi kulkas milik Ara. Di pinggiran pintu kulkas berjejer banyak minuman kemasan, ada berbagai jenis tapi yang paling mendominasi minuman isotonik botol.


"Teh hangat." Jonathan sengaja menjawab sesuatu yang tidak ada di dalam kulkas membuat Ara berdecak pelan.


Menutup pintu kulkas dengan sedikit kesal, Ara berjalan ke bagian ruangan paling sudut. Di sana ada dispenser air juga beberapa perlengkapan seperti gelas, cangkir, teh berbagai aroma.


Membuatkan teh beraroma greentea, Ara menyajikan nya di atas meja. Lalu duduk di kursi miliknya yang berhadapan langsung dengan Jonathan.


Ara terus memperhatikan pergerakan Jonathan yang dengan santai menyesap teh nya. "Kamu ke sini bukan cuma buat minum teh kan?" sindir Ara, kesal melihat Jonathan yang tampak santai.


Sedangkan di luar ruangan nya sedang ribut karena kehadiran lelaki itu di sini.


Meletakan cangkir teh nya di atas meja, Jonathan malah asik memandang setiap sudut ruanagan Ara. "Jonathan Harvey!"


Ara mengeram kesal sambil memandang sengit lelaki yang akan menjadi calon suami nya itu.


"Kenapa? Kamu takut orang-orang membicarakan kamu karena aku datang ke sini?" tanya Jonathan, membalas tatapan Ara.


"Ya tentu saja. Kamu enggak lihat tadi para perawat saling berbisik karena kamu datangan kamu ke sini? Sok manis, bertanya di mana ruangan aku sambil membawa bunga begini. Apa maksudnya?"


Jonathan sedikit menyeringai sambil melipat kedua lengannya di dada. "Ya apalagi, tentu buat ketemu dengan calon istri ku dong."


Ara mendelik begitu mendengar kata calon istri yang Jonathan sematkan untuk dirinya. "Jangan basa basi lagi, cepat bilang tujuan kamu datang ke sini Tuan Jonathan Harvey." Ara menekan nada saat mengucapkan nama Jonathan.


Merasa semakin enggan berlama-lama dengan lelaki yang akan menjadi calon suami nya itu.


Menegakkan tubuhnya, Jonathan merapihkan jas yang membalut tubuh atletis nya. "Baiklah kalau kamu tidak suka berbasa-basi, aku akan mengatakannya dengan cepat." ucapnya.


Terdiam, Ara masih menunggu kalimat selanjutnya dari bibir Jonathan.


"Mari kita buat kesepakatan." sambung lelaki itu.


Mengerutkan kening, Ara bertanya. "Maksudnya?"


Hening sesaat, kedua obsidian mereka bertemu menatap satu sama lain.


"Kesepakatan. Sebuah perjanjian pernikahan." ucap Jonathan seketika membuat mata Ara membulat sempurna.


**********

__ADS_1


Ara tahu Jonathan itu punya trauma pada suatu hubungan. Ara tahu Jonathan itu punya sakit hati mendalam pada sosok perempuan. Ara juga tahu Jonathan tidak ingin menjalani kehidupan pernikahan. Ara tahu, Ara sudah tahu itu semua dari Sofia beberapa waktu lalu saat wanita paruh baya itu bercerita.


Tapi, Ara tidak pernah menyangka kalau Jonathan segila itu. Ia gila. Ara mencap seorang Jonathan seorang pria gila bukan tanpa sebab.


Kedatangan Jonathan yang beberapa waktu lalu di ketempat kerja nya itu memang memiliki maksud lain. Maksud untuk mengajak Ara membuat kesepakatan. Perjanjian pernikahan.


Bukan perjanjian pranikah untuk membuat hubungan lebih erat layaknya pasangan lain. Tapi ini perjanjian di mana malah untuk membuat hubungan mereka semakin rentan.


Isi perjanjian pernikahan yang Jonathan minta di sepakati adalah isi tentang nasib pernikahan mereka yang sudah Jonathan tentukan sedemikian rupa, sesuai dengan keinginannya.


Membuat Ara menggelengkan kepala saat membaca selembar kertas tersebut.


Perjanjian pernikahan :


*1. Usia pernikahan hanya akan bertahan selama 3 tahun dan hanya sandiwara semata.



Hubungan suami istri atau keharmonisan rumah tangga hanya akan terjalin di depan keluarga atau orang tua.


Di larang mencampuri urusan masing-masing.


Di larang menjalin hubungan dengan siapapun selama masa pernikahan.


Di larang melibatkan perasaan satu sama lain*.



"Gila!" umpat Ara. "Dia mau mempermainkan pernikahan dan menipu semua orang?" Ara sampai tak habis pikir.


Ara memang menerima perjodohan itu dengan terpaksa dan belum seutuhnya siap menikah dengan Jonathan. Tapi, bukan berarti ia akan mempermainkan sebuah ikatan suci yang akan mereka buat di hadapan Tuhan.


Tapi, nyatanya Jonathan malah sudah lebih dulu membangun benteng tinggi untuk menghalangi semua nya.


"Sudah jangan terlalu di pikirin." itu suara Bianca.


Gadis cantik itu baru keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman dan beberapa camilan untuk Ara.


Ya, kini Ara sedang berada di rumah Bianca. Seusai jam kerja nya habis Ara langsung datang berkunjung ke rumah Bianca untuk menceritakan tentang Jonathan pada sahabat nya itu.


"Gimana aku enggak pikirin ini Bi. Lelaki itu sudah gila." jawab Ara mengomel.


"Masa dia mau mempermainkan ikatan suci pernikahan seenaknya begini." sambungnya.


Bianca yang baru saja duduk di samping Ara menarik kertas perjanjian yang ada di atas meja, lalu membacanya.


"Ya terus, memang nya kamu mau jadi suami istri sungguhan sama dia?" tanya Bianca.


Ara yang sedang minum langsung tersedak mendengar ucapan Bianca.


Gadis itu sempat terbatuk-batuk sesaat.


"Ya enggak mungkinlah. Kamu ini mikir apa!" bantah Ara.


Bianca tertawa kecil. "Lagian kamu Ra marah-marah terus begini. Kan jadi terlihat nya seolah kamu itu berharap dia jadi suami kamu sungguhan."


"Ish, Bianca. Aku itu marah begini bukan karna itu, kan aku udah jelasin aku marah karna dia mau mempermainkan pernikahan." sangkal Ara lagi.

__ADS_1


"Iya... Iya... udah enggak perlu kamu jelasin lagi aku ngerti kok." jawab Bianca.


Ara memanyunkan bibirnya sambil santai menikmati cemilan yang Bianca sajikan.


"Eh, tapi Ra... aku pikir perjanjian itu enggak buruk juga kok. Seenggak nya kamu enggak perlu jadi istri dia benaran, yang artinya kamu enggak perlu menjalankan kewajibannya kamu sebagai istri. Apalagi kalian enggak saling cinta."


"Maksud kamu?"


"Itu loh... masa kamu enggak ngerti." ucap Bianca.


Ara mengerutkan kening nya. "Apa?"


Bianca berdecak lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Ara. "Hubungan intim suami istri." bisiknya.


Kedua mata Ara melebar, lalu memukul lengan Bianca membuatnya mengaduh pelan. "Bianca!"


"Apa sih. Ya aku kan benar, kalo kalian nikah kalian harus... "


Belum sempat meneruskan ucapannya, Ara lebih dulu membekap bibir Bianca. Geli dan malu sendiri mendengarnya.


Apalagi Ara tak pernah berpikir sampai sejauh itu soal hubungan nya dengan Jonathan sesudah pernikahan nanti.


"Mm.. Le..pas." Bianca menarik tangan Ara yang membekapnya.


"Ih, sesak tahu Ara." protes Bianca. "Ya habis kamu ngomongnya kejauhan."


"Kejauhan apanya, aku kan bilang sesuai fakta." kekehnya.


"Sudahlah jangan di bahas lagi soal itu."


Ara kembali melanjutkan memakan cemilan, dan kini di ikuti juga oleh Bianca.


Tenang. Keduanya mengunyah sambil menyaksikan acara yang sedang berlangsung di tv.


"Ra... " setelah hening beberapa saat Bianca kembali membuka suara.


"Hmm.. " berdehem, mata Ara masih fokus ke depan.


"Aku mau tanya deh. Memang nya kamu sudah benar-benar enggak suka sama sekali sama Kak Jonathan atau seenggaknya muncul lagi sedikit aja perasaan? Bukannya dia itu cinta pertama kamu. Kata orang cinta pertama itu susah di lupain." tanya Bianca yang membuat gerakan Ara berhenti seketika.


Menoleh sekilas pada Bianca, Ara kembali meluruskan pandangan nya ke depan.


Hening.


Ara kemudian menghembuskan nafasnya pelan. "Hem.. benar. Itu mungkin aja terjadi, karna Kak Jonathan benar-benar orang yang sangat berarti buat aku. Tapi Bi, dia... "


Ara menjeda kalimatnya, rasanya menerawang jauh pada masa lalu.


"Dia, bukan Kak Jonathan. Bukan Kak Jonathan yang aku kenal."


Ara sudah tak mengenalnya.




__ADS_1


To be continued...


__ADS_2