
Berjalannya waktu cepat sekali, kini usia kandungan Keysa sudah memasuki usia sembilan bulan. Dan sudah masuk masa Hari Perkiraan Lahir.
Bahkan saat ini Keysa sudah ada di rumah sakit untuk melakukan operasi Caesar. Dia tak ingin melahirkan normal tetapi ingin dengan jalan Caesar.
Johan mulai gelisah gundah gulana kembali.
"Ya Allah, aku senang karena saat ini aku akan menyaksikan anakku lahir di dunia ini. Tetapi aku juga cemas, apakah Keysa tetap pada pendiriannya ataukah dia telah berubah pikiran?" batin Johan penuh tanda tanya.
Hal ini bisa di ketahui oleh Bu Sarah dan Lisa. Mereka juga ikut cemas serta iba. Perlahan Lisa menarik tangan ibunya untuk sedikit menjauh dari Johan dan Betrand.
"Ada apa sih, Lisa?" tanya ibunya lirih pada saat di tarik tangannya untuk segera menjauh dari Johan dan Betrand.
"Bu, apa ini tahu nggak? mbak Keysa itu masih memberlakukan perjanjiannya itu atau sudah membatalkannya?" bisik Lisa bertanya kepada ibunya.
"Sepertinya belum loh, makanya Johan terlihat sangat cemas. Kira berdoa saja supaya Keysa berubah dan mencabut surat perjanjian itu, supaya mereka terus saja bersama selamanya," bisik Bu Sarah pada Lisa.
"Iya, Bu. Kasihan juga anak Mas Johan jika memang ayahnya berpisah dengan ibunya," ucap Lisa lirih.
Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka yang berbisik-bisik sempat membuat Betrand curiga.
"Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan oleh Lisa dan ibunya ya? kenapa kok aku merasa ada hubungannya dengan Keysa? apa sebaiknya aku tanya saja pada, Bu Sarah ya? tetapi rasanya tak sopan juga ya?"
Hingga akhirnya Betrand memutuskan untuk tidak bertanya pada Lisa maupun Bu Sarah.
"Oek oek oek"
Terdengar suara tangis bayi di dalam ruangan operasi caesar.
"Alhamdulillah, anakku telah lahir."
Johan sangat senang mendengar suara tangis bayi.
Tak berapa lama, ruang operasi di buka dan Keysa serta bayinya di pindahkan ke ruang rawat. Kondisi Keysa belum stabil, dia merasakan menggigil dan kepalanya sakit sekali. Itu semua karena efek dari operasi Caesar.
Saat telah sampai di ruang rawat, Jihan langsung menggendong anaknya untuk dia adzani. Seorang bayi laki-laki yang sangat tampan.
"Johan, anakmu tampan sekali seperti dirimu," puji Betrand.
__ADS_1
Johan tak menjawab, dia hanya menyunggingkan senyumnya ke arah Betrand.
********
Setelah dua hari berada di rumah sakit, Keysa sudah di izinkan pulang. Dan pada saat di rumah, dia tak berkata apapun tentang surat perjanjian itu.
"Apakah sebaiknya aku tanyakan tentang surat perjanjian itu pada, Keysa ya? aku belum tenang jika tak tahu akhir dari hubunganku dengan Keysa. Apakah aku akan di cerai atau aku akan tetap menjaga menjadi suaminya," batin Johan masih saja di liputi oleh tanda tanya.
Keysa terlihat sangat senang melihat bayi laki-lakinya tersebut. Tetapi dia sungkan untuk memberinya ASI dengan alasan nanti si anak jadi ketergantungan.
"Keysa, kenapa anak kita tak kamu susui?padahal ASI eksklusif itu baik buat anak kita," ucap Johan mencoba menasehati Keysa.
"Diam kamu, aku tahu apa yang terbaik untuk anakku. Dan kamu jangan coba menasehati atau mengatur aku!" bentak Keysa.
"Astagfirullah alazdim, kenapa sekarang Keysa berubah sikap menjadi Keysa yang dulu lagi?"
Johan merasa kecewa karena ternyata perubahan baik Keysa hanya pada saat dia sedang hamil saja.
"Oh iya, ini surat yang harus kamu tanda tangani. Supaya surat cerai segera keluar." Keysa melemparkan surat cerai yang harus di tanda tangani oleh Johan.
"Johan, apa yang sudah aku putuskan tidak akan bisa berubah. Kamu jangan salah penafsiran jika selama aku hamil merespon segala kebaikanmu. Mungkin itu karena pengaruh bayi ini."
"Keysa, bagaimana jika papah tahu akan hal ini? pasti dia akan sedih sekali."
Selagi Keysa diam, tiba-tiba Betrand masuk begitu saja.
"Memangnya apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Betrand menyelidik.
Johan langsung menyembunyikan surat yang harus di tanda tangani itu di balik punggungnya.
"Nggak ada apa-apa kok, pah," ucap Keysa gugup.
"Johan, apa yang ada di balik punggungmu itu?" Betrand mulai curiga.
"Bu-bukan apa-apa kok, pah. Hanya kertas biasa," ucap Johan mencoba menutupi rasa gugupnya.
"Jika itu kertas biasa mana mungkin kamu sembunyikan dariku. Cepat berikan padaku!" ucap Betrand lantang.
__ADS_1
Johan menatap ke arah Keysa seolah mencoba meminta jalan keluar.
"Pah, bisa minta tolong nggak?" tiba-tiba Keysa berkata.
"Nanti saja, Keysa. Papah penasaran dengan kertas yang di sembunyikan oleh Johan di balik punggungnya itu."
Perlahan Betrand menghampiri Johan yang diam tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Aduh, bagaimana ini? papah sudah semakin dekat dengan ku. Jika dia tahu akan surat cerai ini lantas bagaimana?" batin Johan.
"Cepat berikan pada padaku , kertas yang kamu katakan kertas kosong itu," pinta Betrand menunjuk ke arah punggung Johan.
Dengan perlahan dan dengan berat hati, Johan memberikan surat cerai tersebut pada papah mertuanya.
Betrand terhenyak kaget dan melotot pada saat melihatnya.
"Apa ini, Johan? jadi kamu akan bercerai dengan Keysa, kenapa kamu lakukan ini?" tanya Betrand.
"Pah, itu bukan kemauan Johan melainkan aku yang inginkan hal itu, pah. Kami telah melakukan perjanjian hitam di atas putih beberapa bulan yang lalu. Dan akan berakhir setelah anak ini lahir," ucap Keysa tak lagi menyembunyikan rahasianya.
"Keysa, papah pikir kamu sudah bisa mencintai Johan. Kenapa kamu memilih jalan ini, apa kamu tak memikirkan nasib anakmu ini?"
"Johan, papah tak ingin kamu bercerai dari Keysa. Dan Keysa, papah tak suka dengan tindakanmu ini."
"Papah benar-benar kecewa pada kalian. Pokoknya papah tak ingin ada perceraian diantara kalian berdua!"
Betrand merobek surat cerai milik Johan.
"Ingat satu hal, Keysa. Papah telah merubah surat warisannya, semua atas nama Johan bukan namamu. Dan jika kamu masih saja berniat pisah dengan, Johan. Kamu tidak akan dapat sepeserpun!" ancam Betrand berlalu pergi dari kamar Keysa.
"Puas kamu, Johan! kamu terlalu lambat tak lekas tanda tangan akhirnya ketahuan kan sama papah! jika seperti ini aku harus selamanya bertahan denganmu!" bentak Keysa.
"Keysa, aku yakin walaupun anak ini telah lahir. Pasti masih ada sedikit rasa cinta dirimu padaku," ucap Johan.
"Keysa, mari kita rawat anak ini bersama-sama. Aku suka dengan sifat dirimu pada saat kamu hamil begitu dekatnya denganku. Kenapa sekarang seperti ini, Keysa?"
Johan bingung dengan sifat Keysa yang gampang sekali berubah.
__ADS_1