
Pagi menjelang, Johan begitu terburu-buru untuk berangkat ke kantor. Sementara ibunya sibuk mengurus, Baby Abian. Kini pernikahannya dengan Keysa benar-benar tak sehat.
Bahkan Johan juga sudah tak tidur sekamar dengan, Keysa. Dia memilih tidur di kamar tamu bersama dengan, Baby Abian.
Keysa juga sudah tak manja lagi untuk meminta di buatkan makanan oleh, Johan. Serumah tetapi bagaikan orang asing dan tak saling kenal satu sama lain.
"Kalian kenapa ke kantornya tak bareng sekalian sih?" saran Betrand di sela sarapan.
"Nggak, pah. Kita kan beda arah, lagi pula ribet juga jika aku tak mengemudi sendiri," ujar Keysa ketus.
"Pah, aku berangkat ke kantor ya. Titip Baby Abian juga." Johan menyalami mertuanya tersebut lantas berlalu pergi tanpa menghiraukan istrinya.
"Kenapa sekarang Johan bersikap dingin padaku ya? bahkan seperti tak menganggap aku ada di sini," batin Keysa.
"Bodo amat dech, kebetulan malah jika seperti ini. Jadi dia nggak cari perhatian terus padaku," gumamnya dalam hati.
Ketsa juga berpamitan berangkat kerja, padahal masa pasca operasi Caesar baru satu bulan. Tetapi dia sudah tidak kerasan hanya berdiam diri di rumah saja.
"Ya Allah, kenapa susah sekali merubah sifat Keysa. Aku melihat malah sekarang Johan sudah tak peduli lagi pada Keysa, tidak seperti pada saat Keya sedang hamil," batin Betrand.
"Kenapa aku tiba-tiba cemas jika suatu saat nanti Johan dan Kesya berpisah?" batin Betrand mulai di hantui rasa cemas khawatir anaknya akan berpisah dengan Johan.
Karena menurut Betrand, sosok Johan adalah sosok yang sangat tepat untuk Keysa. Dia tak ingin anaknya berpisah dengan Johan. Baginya tidak ada pria yang seperti Johan, seratus dan tak banyak tingkah.
Tak terasa waktu makan siang telah tiba, semua serba kebetulan baik Keysa maupun Johan sama-sama makan siang di sebuah cafe terkenal di kota. Hanya saja yang membedakan, Keysa tengah makan siang dengan seorang pria sedangkan Johan hanya sendirian.
"Hem, itu ada Johan di sini biar saja aku buat dia cemburu dan panas hatinya," batin Keysa.
__ADS_1
Dia memperalat rekan bisnisnya untuk membuat panas hati, Johan. Tetapi Johan sama sekali tak meresponnya, walaupun dia juga sempat melihat akan kebersamaan antara Keysa dengan rekan bisnisnya.
Kebetulan rekwn bisnis Keysa juga mempunyai rasa suka pada Keysa sejak dia hamil dulu.
"Nona Keysa, anda telah melahirkan dan kini semakin terlihat bertambah cantik dan mempesona. Kenapa saya tak melihat kebersamaan Anda dengan suami?"
"Nona Keysa, jujur saya sampai detik ini masih berharap untuk bisa menjadi pendampingmu."
Tiba-tiba pria itu menggenggam erat jemari Keysa seraya menatap genit ke arahnya. Hal ini juga sempat terlihat oleh Johan akan tetapi dia hanya diam saja sama sekali tak terbakar api cemburu.
"Aneh, kenapa Johan tak merespon akan hal ini? padahal dulu jika ada pria yang dekat denganku pasti Johan langsung melabrak pria itu tak peduli jika banyak orang yang melihatnya," batin Keysa.
"Keysa, silahkan saja kamu mau jalan dengan pria manapun. Aku sudah tidak peduli akan hal itu, yang aku pikirkan hanyalah Abian saja."
"Jika kamu bahagia dengan pria itu, aku tidak akan menghalangi kebahagiaanmu itu." Gerutu Johan di dalam hatinya.
"Nona Keysa, kenapa anda hanya diam saja? siapa pria yang sedang anda lihat itu, apakah anda kenal dengannya?" tanya pria yang sedang menggenggam jemari Keysa.
Pria itu sempat melihat ke arah dimana Keysa melihat ke arah Johan. Sejenak Keysa terhenyak kaget pada saat dirinya mendapatkan teguran dari pria di hadapannya. Keysa melepaskan tangannya dari genggaman pria itu.
"Maaf, Tuan. Pria itu aku tidak tahu siapa, mari kita lanjutkan saja makan siangnya sembari membahas kerja sama kita," ucap Keysa mengalihkan pembicaraannya.
Sementara Johan bangkit duduknya dan akan menyudahi makan siangnya, tetapi dia berhenti sejenak karena ada seorang wanita cantik menyapa dirinya. Wanita cantik ini adalah rekan bisnis Johan.
"Siang, Tuan Johan. Anda makan siang di sini juga, kok sepertinya anda sudah selesai ya," tanyanya.
"Iya, Nona Angel. Bagaimana apakah ada yang ingin di bicarakan?" tanya Johan.
__ADS_1
"Bisa kan saya minta waktunya sebentar saja untuk membahas salah satu point' kerjasama kita yang saya kurang paham?" pinta wanita itu.
Johan pun akhirnya duduk kembali, dan pada saat wanita itu mengeluarkan berkasnya tiba-tiba Keysa datang dan menyiram wajah Johan dengan segelas air putih. Johan pun tersentak kaget.
"Jadi seperti ini kelakuanmu di luaran, jika di dalam rumah kamu sok suci sok setia hah?" ucap Keysa ketus.
"Maaf, maksud anda apa ya berkata seperti itu? saya ini rekan kerja, Tuan Johan. Dan kami tak sengaja ketemu, saya juga ingin menanyakan satu point' yang ada di dalam surat perjanjian kerja sama yang saya kurang paham. Jadi anda jangan salah paham pada kami."
"Tuan Johan, ini adalah pria yang sangat baik. Saya sangat paham itu. Masa anda sebagai istrinya tidak memahami sifat suami anda malah anda bersikap tak etis layaknya seorang anak kecil?' ucap Angel ketus.
"Nona Angel, anda tak usah pedulikan dia. Memang dia sifatnya seperti itu, mari kita bahas saja apa yang tadi akan anda tanyakan pada saya," ucap Johan tanpa peduli dengan Keysa.
Sementara pria yang tadi bersama Keysa datang menghampiri Keysa dan dia menuntun Keysa kembali ke tempat duduknya.
"Nona Keysa, siapa sebenarnya pria itu? anda berkata tidak kenal tetapi anda terlihat marah saat pria itu bersama dengan seorang wanita?" tanyanya menyelidik.
"Itu bukan urusan anda, Tuan."
Keysa malah berlalu pergi meninggalkan pria tersebut, sedangkan Johan melanjutkan pembicaraannya dengan rekan kerjanya.
"Tuan, apa tidak sebaiknya lain waktu saja? kenapa anda diam saja tidak menjelaskan pada istri anda jika kita tidak punya hubungan spesial, kebersamaan kita hanya sebatas reken bisnis," ucap Angel.
"Nona Angel, ini waktu untuk kerja jadi tak etis untuk membahas masalah rumah tangga. Biar nanti masalah itu di selesaikan di rumah saja. Kini yang utama bagi saya pekerjaan kantor dulu," ucap Johan.
"Anda memang luar biasa, Tuan Johan. Jika pria lain pasti sudah marah karena tiba-tiba mendapatkan perlakuan kasar dari istrinya. Tapi tidak dengan anda saya salut anda begitu sabar dan bisa menahan rasa amarah anda," puji Angel.
Johan tak menjawab, dia hanya diam saja mendengar pujian dari Angel.
__ADS_1