
Ara kali ini mengrutuki dirinya sendiri. Mengatakan bodoh sambil memukul kepalanya berkali-kali. Bagaimana ia bisa lupa bahwa hari ini hari pertama nya masuk bekerja dan juga Ayahnya sudah menunggu dan menghubungi nya berkali-kali selama setengah jam.
Kalau saja ia tidak mengeluarkan ponselnya untuk meminta nomor Bianca, mungkin Ara tidak akan tahu ada panggilan dari Ayahnya.
"Dasar Arabella si bodoh." gumam nya terus menerus. Sambil berusaha mempercepat langkah kaki nya menuju lobby rumah sakit.
Memasuki pintu lobby, Ara dapat melihat Ayahnya yang sedang duduk langsung berdiri.
Ara pun langsung menghampiri.
"Ayah maaf... " ucap Ara saat melihat wajah Ayah nya terlihat tak baik.
"Ara kamu tahu apa yang kamu lakukan?" tanya Adrian lembut tapi nadanya terdengar sangat tegas.
"Maaf Ayah Ara salah, Ara lupa." cicitnya takut.
Adrian menggelengkan kepalanya. "Bagaimana bisa kamu sampai lupa."
Adrian menggelengkan kepalanya, tak habis pikir.
"Tadi ada sedikit kecelakaan."
Wajah tegas Adrian seketika berubah khawatir. "Kecelakaan? Kecelakaan apa? Kamu terluka?" Adrian langsung memegang kedua pundak Ara. Memeriksa keadaan putri nya.
"Ara enggak apa-apa Ayah. Nanti Ara ceritakan di rumah, sekarang bukankah kita harus cepat ke ruangan Direktur?"
Adrian melihat pada jam tangan yang di pergelangan tangannya. "Kamu benar. Ayo kita naik ke atas." ajak Adrian.
Ara mengangguk, mengikuti Adrian menuju sebuah lift.
Begitu lift nya terbuka, Ara dan Adrian masuk kedalam. Menuju ke lantai 15.
"Ayah, apa ayah kenal Direktur rumah sakit ini?" tanya Ara.
Adrian menoleh, lalu mengangguk. "Dia teman kuliah ayah, kami sama-sama koas dan bekerja sebagai dokter di rumah sakit ini. Sekarang dia sudah menjabat menjadi direktur.
Waktu dia tahu ayah akan kembali ke Indonesia, dia menawari ayah untuk kembali ke rumah sakit ini sekaligus denganmu."
"Jadi Ara di terima di rumah sakit ini karena ayah?" tanya Ara.
Adrian tertawa sambil menepuk pelan kepala putri bungsu nya itu, "Haha tentu saja bukan. Bagaimana pun ini rumah sakit besar, dia sudah menilai resume mu secara profesional, sayang. Itu sebabnya direktur menerima kamu menjadi salah satu dokter di sini."
"Oh... Ara kira karena Ara putri ayah, makanya Ara di terima."
"Kamu ini! Memang nya ayah ini tipe orang yang suka memanfaatkan koneksi. Tentu saja Ayah merekomendasikan kamu karena kemampuan kamu yang hebat. Bukan karena kamu putri ayah."
"Tentu saja Ara hebat. Kan Ara putri ayah." ucap Ara sambil tersenyum lebar.
Adrian mengulum senyumnya, "Astaga, percaya diri sekali gadis satu ini." ucap Adrian meledek.
Ara tertawa, bersamaan dengan terbuka nya pintu lift. Mereka sudah tiba di lantai 15.
Keduanya keluar, Ara mengikuti sang ayah dari samping sambil berusaha meredakan dirinya yang tiba-tiba gugup.
Selamat memulai dunia baru lagi, Arabella.
Ara berucap dalam hati.
**********
Jika bisa menjabarkan sebuah kebencian dalam sebuah bentuk atau rupa, mungkin kebencian itu akan berbentuk sebesar gunung atau seluas samudera atau mungkin... lebih besar dan luas lagi.
__ADS_1
Tapi semua bentuk yang bisa menjabarkan itu takkan mampu menjabarkan kebencian milik Jonathan. Kebencian yang bahkan sudah terpancar hanya dari kedua sorot matanya. Apalagi saat melihat objek yang selama ini menjadi sumber segala kebenciannya. Seorang lelaki yang bersetelan jas mewah, juga memiliki paras rupawan layaknya dirinya, sedang duduk di sebuah sofa besar mansion keluarga Jonathan.
Jonathan menatap nyalang, dengan langkah tegapnya. Marvel yang menyadari kehadiran sang Kakak, langsung berdiri. Ekspresi wajahnya sedikit terkejut mendapati kedatangan Jonathan secara tiba-tiba.
"Kakak... "
"Mau apa lo ke sini?"
Jonathan sudah berdiri angkuh di depan Marvel. Memasukan kedua tangannya kedalam saku celana, dengan rahang mengeras. Auranya terlihat sangat angkuh dan keras.
Aura yang sudah Marvel dapat rasakan meski sudah lama tak bertemu dengan Kakak nya itu.
"Itu Kak... Mama meminta aku buat datang."
"Cuma karna Mama minta Lo datang terus elo pikir, lo berhak menginjakan kaki di rumah ini?" sela Jonathan.
Sungguh ucapan yang Jonathan katakan sangat kasar. Bukankah Marvel juga termasuk anggota keluarga ini?
Ia putra kedua keluarga Harvey. Ia memiliki hak yang sama seperti Jonathan.
Tapi ucapan Jonathan lontarkan terkesan seperti Marvel hanyalah seorang pengemis yang bahkan tak pantas menginjakan kaki nya di lantai mewah kediaman itu.
"Kak, Mama--"
"Berhenti manggil gue Kakak!" bentak Jonathan keras. Bahkan suara beratnya dapat menggema di seluruh mansion. "Berhenti manggil gue dengan sebutan itu, jangan merasa kalo lo adik gue!" kecamnya.
Marvel bergeming, mencoba menahan kesabaran dirinya. Walau sudah bertahun-tahun merasakan hal seperti ini, Marvel tak mempungkiri masih ada rasa sakit saat menerimanya.
"Ada apa ini?" Sofia baru saja menuruni tangga. Melihat kedua putra nya yang tengah berhadapan itu menoleh. Sebenarnya Sofia tak perlu bertanya, ia sudah tahu pasti apa yang seharusnya terjadi jika keduanya bertemu. Apalagi dirinya juga sedikit mendengar suara gemaan Jonathan.
"Jo, kamu sudah pulang nak?" Sofia mengalihkan pembicaraan.
Mengalihkan perhatian nya pada penampilan Jonathan yang cukup berantakan. "Kemana saja kamu semalaman enggak pulang? Mama khawatir."
"Mama memanggil Marvel untuk minta menemani Mama mencari kamu. Mama khawatir banget, kamu pergi semalam dalam keadaan emosi."
"Jonathan sudah pulang dan baik-baik saja. Jadi Mama suruh dia pergi sekarang juga."
"Tapi Jo-- " Belum usai Sofia berbicara, Jonathan sudah pergi dari sana. Melangkah ke lantai atas, menuju kamarnya. Tidak ingin lagi mendengar pembelaan apapun dari Ibu nya untuk Marvel.
Melihat betapa kerasnya sikap Jonathan pada Marvel membuat Sofia merasa bersalah. Mengusap kepala putra keduanya, Sofia terlihat sedih. "Maafin Kakak kamu ya Vel. Dia mungkin masih emosi karena masalah semalam dengan Papa."
Marvel tersenyum menyentuh tangan wanita paruh baya yang masih tampak cantik dan segar.
"Enggak apa-apa Ma, Marvel mengerti kok. Kak Jo pasti masih kesal karena perjodohan itu."
"Iya nak. Mama akan coba berbicara sama Kakak mu, siapa tahu dia bisa lebih tenang."
"Baiklah. Kalau begitu, Marvel pergi ke kantor saja."
"Iya sayang, hati-hatilah di jalan. Jangan lupa pesan dari Papa buat besok malam ya." Sofia menepuk-nepuk pipi putra bungsu nya, "Hem.. Marvel pergi sekarang ya Ma."
Setelah kepulangan Marvel, Sofia langsung bergegas naik ke lantai atas menuju kamar Jonathan untuk memeriksa keadaannya.
Karena di saat seperti ini satu-satunya yang dapat menenangkan ledakan emosi Jonathan hanya satu, ibu nya seorang.
*********
Di kediaman keluarga Hardid semua sedang berkumpul bersama. Seperti biasa, usai makan malam bersama mereka semua akan berkumpul dulu di ruang keluarga. Mereka akan saling mengobrol, berbagi cerita, atau membahas tentang apapun baik itu sesuatu yang penting ataupun hanya sebuah hal kecil. Adrian sudah menerapkan kebiasaan itu sedari dulu bersama sang istri. Dan ketika istrinya meninggal sepuluh tahun yang lalu, Adrian tetap tidak mengubah kebiasaan itu.
Karena kebiasaan itulah yang menjadi salah satu cara keluarga mereka tetap rukun, serta saling erat satu sama lain.
__ADS_1
Terlebih kini sudah setahun terakhir ini mereka memiliki anggota keluarga yang baru, yaitu Irena yang semakin menambah kehangatan di keluarga ini.
"Jadi Bianca itu teman sekolah kamu dulu? Dan yang kamu tolong itu keponakan nya?" tanya Devano.
"Yaps... " jawab Ara mengangguk.
Mereka semua baru saja mendengarkan cerita Ara tentang kecelakaan yang hampir menimpa nya tadi pagi.
"Aduh, Kakak jadi kesal sendiri habis dengar cerita kamu, Ra. Gimana bisa ada orang setega itu sama anak kecil." ujar Irena kesal.
"Iya sama aku juga masih kesal banget setiap ingat Kak." seru Ara.
"Apa perlu kakak cari tahu siapa orang yang hampir menabrak kalian itu? Kalau dengar dari cerita kamu, kayanya nya orang itu termasuk orang berkuasa." tanya Devano pada Ara.
Sebenarnya setelah mendengar cerita dari adiknya itu, Devano ikut kesal. Berniat ingin mencari tahu, tapi harus bertanya persetujuan dari Ara lebih dulu.
"Sudahlah jangan di perpanjang, kita baru saja pindah ke sini. Ada lebih baik kita selesaikan urusan yang lain saja. Yang terpenting Ara selamat dan baik-baik saja." ujar Adrian.
Ara mengangguk setuju. "Iya kak, gak perlu di cari. Ara juga gak mau bertemu lagi dengan orang itu, apalagi melihat wajah sombong nya lagi."
"Baiklah terserah keputusan kamu saja."
Devano tahu adiknya itu bukan tipe gadis yang akan memperpanjang masalah.
"Oh iya, Ayah mau kasih tahu sama kalian semua. Besok malam sahabat lama ayah dan keluarga nya mau datang bertamu ke sini. Jadi kalian semua jangan kemana-mana dan usahakan ikut hadir makan malam." ucap Adrian.
Devano mengerutkan keningnya. "Sahabat lama ayah? Siapa?"
"Besok kalian bakal tahu. Irena tolong besok pesankan makanan-makanan enak dari restoran ya. Juga minta pekerja di rumah untuk mempersiapkan semuanya."
"Baik Ayah."
Adrian melirik pada putri bungsu nya yang sedari tadi tak bersuara, sedang asik bermain ponsel.
"Ara kamu mendengarkan ayah?"
"Eh?" Ara sedikit terlonjak kaget, menjatuhkan ponselnya ke atas pangkuan. Yang buru-buru ia tutupi dengan bantal untuk menutupi riwayat chatnya dengan Jayden.
"Kamu dari tadi asik bermain ponsel terus. Sedang berhubungan dengan siapa?" tanya Adrian.
Ara menggelengkan kepalanya, sedikit panik. "Tidak ada ayah. Cuma main sosial media." jawabnya bohong.
Adrian terdiam sejenak, masih menatap Ara. Lalu tak lama berdiri.
"Yasudah, ayah mau ke kamar lebih dulu. Kalian jangan istirahat terlalu larut."
Ketiga nya mengiyakan, lalu Adrian pergi menuju kamarnya setelah mengecup puncak kepala sang putri.
Kini hanya mereka bertiga yang tersisa di sana. Ara tentu belum bisa di katakan lega karena setelah ayahnya, kini ada Kakak nya menatap curiga.
"Dek, kalau kamu masih berhubungan sama Jayden lakukanlah sebisa mungkin tanpa membuat Ayah khawatir.
Kamu tahukan bisa berbahaya buat Ayah jika dia sampai tahu?" ucap Devano yang seketika membuat Ara bungkam.
Gadis itu terjepit di pilihan yang sulit.
•
•
•
__ADS_1
To be continued...