Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Kesempatan Kedua


__ADS_3

"Kamu dari pagi hingga sore sibuk kerja, pulang dari kantor kamu main sama Abian, lalu malam hari kamu langsung tidur. Begitu terus selama ini, aku lelah batin mas. Aku masih bisa menahan lelah fisik, tapi lelah batin itu menyakitkan, mas."


Air mata Rinjani kembali menetes. Sesak di dada tak tertahan membuatnya tak lagi bisa menahan air matanya. Selama ini Rinjani memendam sendiri, berusaha menguatkan hati, atas sikap suaminya yang begitu dingin dan cuek kepadanya. Rinjani berusaha bertahan demi Abian, tapi entah dia bisa atau tidak.


"Dan kamu tahu apa yang paling menyakitkan untukku? kamu bisa meluangkan waktu untuk Keysa mantan istrimu, tapi kamu nggak ada waktu sedikitpun untukku."


"Kenapa kok jadi bawa-bawa, Keysa?"


"Kamu masih cinta sama dia kan, mas? Cara kamu menatapnya, cara kamu memperlakukan dia dengan lembut, kamu selalu meluangkan waktu untuk dia, bahkan seperti tadi saja kamu terlihat sangat panik pada saat dia mengatakan perutnya sakit, kamu langsung bawa dia ke dokter."


"Tapi pada saat aku terjatuh, apa kamu peduli padaku. Kamu hanya bertanya, nggak apa-apa kan? tanpa kamu melakukan pergerakan sedikitpun untuk menolong aku."


"Selama kita menikah kamu nggak pernah menyentuhku, sampai aku bertanya-tanya sendiri apakah ada yang salah denganku? apa aku kurang cantik, sehingga tak menarik bagimu? aku hampir gila karena bertanya-tanya sendiri tanpa tahu jawabannya."


Johan hanya diam.


'Kamu nggak perlu jawab apa-apa, aku sudah tahu jawabannya. Aku akan urus surat perceraian kita. Dan kamu akan bebas melakukan apapun dengan Keysa. Apa lagi kalian ada ikatan anak jadi akan lebih erat. Lain denganku, bahkan aku sama sekali tak terjamah olehmu. Keluarlah dari kamar ini aku akan tidur, mas."


Namun Johan tak mau keluar, dia malah duduk di tepi ranjang di samping Rinjani.


"Rinjani, bukankah aku sudah pernah katakan jika aku tidak akan pernah menceraikanmu?"


"Iya aku tahu dan ingat betul, mas. Tapi wanita mana yang akan tahan setiap hari di perlakukan tak adil seperti ini. Iya, dari awal aku mau menikah karenamu karena aku tak tega dengan anak ini. Tetapi bukan berarti kamu bisa seenaknya padaku seperti ini, mas?"


"Ini hati, mas. Bukan untuk di permainkan sesukamu. Masa iya kamu tak bisa merasakan bagaimana sakitnya jika melihat pasanganmu mesra dengan orang lain?"

__ADS_1


"Apa kamu lupa, mas. Pada saat dulu dirimu di perlakukan sama oleh Keysa. Kamu katakan sakit rasanya, bukan?"


"Lantas kenapa kamu perlakukan hal itu padaku? aku pikir seorang Johan itu punya hati nurani, tapi ternyata aku salah. Kamu sama sekali tak punya hati!"


"Jika kamu tak mau menceraikan aku, biar aku yang akan urus perceraian kita. Jadi tak usah merasa bersalah jika rumah tangga kita hanya sampai di sini."


Mendengar akan hal ini, Johan terpaku diam. Dia seolah sedang sadar dengan semua yang di katakan oleh Rinjani.


"Rinjani, aku minta maaf ya. Jujur aku hanya kasihan dan iba pada Keysa, tak lebih dari pada itu. Baiklah, aku akan merubah sifat aku padamu. Tapi aku mohon jangan katakan perceraian, aku sudah berjanji di hadapan Allah dan ayahmu, jika aku akan menjagamu seumur hidupku."


"Rinjani, bukankah di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna? pasti ada saja kesalahan yang kita lakukan, baik di sengaja maupun tidak. Jadi aku mohon dengan sangat, berilah aku waktu dan kesempatan sekali lagi untuk bisa membuktikan padamu jika aku bisa mencintaimu seutuhnya."


Tanpa sadar pembicaraan mereka terdengar oleh Bu Sarah yang kebetulan sedang melintas. Apa lagi kamar Abian tidak di kunci.


"Rinjani, maaf jika ibu ikut campur. Tolong pikirkan ulang jika kamu ingin berpisah dengan Johan. Bukan hanya ibu, Lisa juga. Kami sedang berusaha supaya Keysa bisa jaga sikap. Dan kamu juga tahu sendiri kan, tadi ibu dan Lisa juga menegur Johan."


Mendengar penuturan dari ibu mertuanya yang sudah ia anggap sebagai ganti ibu kandungnya, Rinjani pun merasa tak enak hati juga.


"Baiklah, Bu. Demi ibu aku akan memberikan kesempatan pada Mas Johan sekali lagi. Tapi jika ternyata dia masih saja sama, aku takkan berpikir ulang lagi untuk berpisah. Aku juga ingin melanjutkan hidupku ini, aku tak ingin punya rumah tangga yang hambar dan monoton seperti ini," ucap Rinjani.


"Terima kasih ya, Rinjani. Kamu memang wanita yang sangat baik, ibu senang sekali punya menantu seperti dirimu. Dan kamu Johan, buka matamu lebar-lebar. Apa sifat Keysa ke ibu sama seperti sikap Rinjani?"


"Bukan hanya Rinjani, tali ibu juga tidak akan memaafkanmu jika kamu ternyata masih saja tak berubah."


"Bukan hanya ibu dan Mba Rinjani, mas. Aku juga akan memutus hubungan persaudaraan denganmu jika kamu menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Mba Rinjani. Buka matamu lebar-lebar, mas!" sela Lisa tiba-tiba dari ambang pintu.

__ADS_1


Setelah mengucapkan akan hal itu baik Rinjani maupun Lisa pergi dari hadapan Johan dan Rinjani.


"Mas, tolong kamu keluar. Aku akan tidur karena sudah malam," usir Rinjani ketus.


Namun Johan tak mau pergi, dia hanya diam saja.


"Mas, jika ingin melamun tentang Keysa jangan di hadapan ku. Aku sudah muak dengan semua ini, mas."


"Rinjani, siapa yang sedang melamunkan Keysa? justru aku sedang menelaah apa yang barusan kamu, ibu, dan Lisa katakan. Aku mau tidur di sini bersamamu dan juga Abian," ucap Johan.


Rinjani tak berkata, dia pun lekas berbaring dengan membelakangi Johan. Dan perlahan ia memejamkan matanya.


Sementara di rumah Betrand, Keysa sedang senyam senyum sendiri.


"Aku yakin cara aku ini berhasil untuk memisahkan wanita desa itu dari Johan. Aku bisa melihat betapa cemburunya dia pada saat aku dekat dengan Johan. Tinggal satu langkah lagi, aku bisa meraihnya menjadi milikku lagi," barun Keysa.


"Tok tok tok"


Pintu kamar Keysa di ketuk oleh Betrand.


"Keysa, kamu belum tidur kan? papah ingin bicara sejenak denganmu," ucap Betrand di balik pintu kamar Keysa.


"Ada apa sih, pah?" Keysa pun membuka pintu kamarnya.


"Keysa, papah tak suka dengan caramu itu. Papah tak menyalahkan jika kamu datang ke rumah Johan untuk besuk Abian. Tapi kamu seharusnya bisa jaga etika dan sopan santun."

__ADS_1


"Janganlah kamu terlalu dekat dengan Johan. Dan kamu juga tak perlu setiap hari datang ke sana. Seminggu satu kali saja kan bisa."


"Papah tak suka loh, kamu seperti ini lagi. Jika kamu masih saja belum berubah, papah tidak akan izinkan kamu menemui Abian lagi!"


__ADS_2