
Kondisi Johan tak sadar juga hingga membuat Kesya merasa sangat bersalah.
"Aduh bagaimana ini jika kondisinya seperti ini terus?" batin Keysa mulai cemas.
Beberapa menit kemudian, Johan membuka matanya akan tetapi pandangannya masih samar-samar. Dia juga merasakan nyeri di bagian kepalanya serta sakit di bagian punggung.
"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga Johan, kami semua yang di sini sempat mengkhawatirkan kondisi dirimu," ucap Betrand seraya tersenyum lega.
"Iya pah, Alhamdulillah. Bagaimana kondisimu Keysa dan bagaimana kondisi dengan anak kita?" tanya Johan menatap sayu ke arah Keysa.
Belum juga Keysa menjawabnya pertanyaan Johan sudah disela oleh, Betrand.
"Johan-Johan, di saat kamu terluka parah seperti ini kamu masih saja menanyakan kondisi istri dan anakmu. Lihatlah Keysa, betapa besar rasa cinta kasih suami padamu dan pada anakmu. Jika dia tak menolongmu pasti saat ini kamu yang sedang berbaring di brankar itu," Sela Betrand.
"Ya, pah. Kondisi aku dan anakku baik-baik saja, jadi kamu tak usah khawatir. Sekarang yang perlu kamu pikirkan adalah kondisimu saja. Supaya kamu cepat pulih dan tak merepotkan aku."
Ucapan Keysa sangat menusuk hati, Johan. Akan tetapi dia berusaha untuk tidak membalas perkataan Keysa, dia hanya tersenyum datar.
"Maafkan aku ya, Keysa. Sudah merepotkan dirimu, seharusnya pada saat aku terluka tak usah kamu bawa aku kemari. Biarkan saja aku mati di jalanan hingga tak merepotkan dirimu," ucap Johan seraya tersenyum kecut menatap ke arah Keysa.
Betrand juga merasa kesal mendengar apa yang di katakan oleh anaknya. Dia pun menarik lengan Keysa agak menjauh dari Johan dan Bu Sarah.
"Keysa, seharusnya kamu jangan berkata kasar pada suamimu. Jika kamu tak di selamatkan olehnya, pasti kamu yang sedang terluka!" bentak Betrand kesal.
"Pah, Johan menyelamatkan aku itu sudah wajarlah karena aku ini istrinya. Jadi dia harus bertanggung jawab dengan keselamatan istri dan calon anaknya. Jadi tak usah di buat seolah apa yang Johan lakukan adalah hal yang sangat istimewa," ucap lantang Keysa sampai terdengar oleh Johan dan Bu Sarah.
"Nak Keysa, jika kamu tak bersedia menawar dan menjaga Johan. Biar ibu saja yang menjaga dia selama ada di rumah sakit," ucapnya menatap ke arah Keysa.
__ADS_1
"Baguslah, memang seharusnya seorang ibu yang menjaga anaknya yang sedang sakit. Jadi tak merepotkan aku, apa lagi aku harus bekerja dan saat ini aku sedang hamil. Aku malas jika bolak-balik ke ruang sakit ini," ucap Keysa ketus.
"Keysa, kenapa kamu tak mendengar nasehat yang selalu papah katakan? harus bagaimana lagi supaya kamu ini hormat pada suamimu?" Betrand hanya bisa menghela napas panjang, dia sana sekali tak bisa berbagi apa-apa lagi.
"Pah, sudahlah tak usah berkata apapun. Lagi pula segala yang di katakan oleh, Keysa memang ada benarnya. Semua yang aku lakukan sudah menjadi tanggung jawab aku, pah."
"Jadi tak perlu di permasalahkan sama sekali. Lagi pula, ibu mau menjaga aku. Nanti biar Lisa yang bergantian dengan ibu untuk menjagaku."
Johan mencoba mencairkan suasana, supaya tidak ada lagi selisih paham antara Betrand dan Keysa.
"Kamu lihat, Keysa. Setelah apa yang kamu katakan barusan, bukannya suamimu marah padamu. Tetapi malah membelamu," ucap Betrand.
"Hah, dia kan hanya cari muka dan cari perhatian dari papah. Supaya dia terlihat baik hingga pura-pura membela aku di depan, papah."
Keysa berlalu pergi dari ruang rawat Johan. Dia sama sekali tak ada rasa iba sedikitpun padanya. Hanya pada saat Johan belum sadar saja, Keysa merasa khawatir. Tetapi setelah Johan sadarkan diri, dia berbalik ketus lagi pada suaminya.
"Johan, maaf kan Keysa ya. Papah benar-benar malu, karena papah merasa telah gagal dalam mendidik Keysa."
Mendengar apa yang di katakan oleh Betrand membuat Johan merasa iba. Dia sangat paham dengan sifat papah mertuanya.
"Pah, sudahlah tak usah di pikirkan mengenai sifat Keysa. Aku yakin di balik sifatnya itu sebenarnya Keysa adalah seorang wanita yang sangat baik," ucap Johan.
"Iya, Pak Betrand. Apa yang di katakan oleh Johan ada benarnta juga. Kami sama sekali tak ada rasa marah atau apapun pada, Keysa. Apa lagi dia sedang hamil, bisa saja itu karena bawaan kehamilannya. Kadang ada juga wanita hamil yang seperti itu. Ada pula yang gampang menangis. Jadi setiap wanita hamil berbeda-beda," ucap Bu Sarah.
"Baiklah, kalau begitu saya akan pulang sejenak. Nanti malam saya datang lagi kemari," pamit Betrand.
"Pah, sebaiknya papah istirahat saja di rumah. Toh aku di jaga oleh ibu, dan pasti sebentar lagi Lisa juga datang kemari Sehingga ibu ada temannya," ucap Johan.
__ADS_1
"Baiklah, nak. Jika ada apa-apa jangan sungkan telpon papah, ya?" Betrand menepuk lengan Johan.
"Iya, pah. Hati-hati di jalan ya pah," pesan Johan.
Seperginya Betrand Bu Sarah berkata banyak hal pada Johan.
"Johan, mau sampai kapan istrimu bersikap acuh padamu? dan mau sampai kapan pula kamu selalu mengalah padanya?" tanya Bu Sarah penasaran.
"Bu, ada hal yang akan aku ceritakan pada ibu. Tapi tolong jangan beritahukan ini pada, Papah Betrand ya?" ucap Johan lirih.
"Ceritakan saja, ibu tidak akan mengatakan apa pun pada, Pak Johan."
Akhirnya Johan menceritakan tentang surat perjanjian yang dia buat bersama dengan Keysa. Di mana setelah Keysa melahirkan, dia dan Keysa akan berpisah.
"Astagfirullah alazdim, jadi hal ini yang sempat membuat kamu murung akhir-akhir ini?" Bu Sarah menggelengkan kepalanya.
"Iya, Bu."
"Johan, kenapa kamu mau saja untuk mengadakan perjanjian macam itu?' tanya Bu Sarah memicingkan alisnya.
"Bu, waktu itu Keysa yang memaksanya. Aku juga tak bisa menolaknya, ibu tahu sendiri kan? jika selama ini Keysa sama sekali tak cinta padaku?" ucap Johan.
"Lantas ibu ingin tahu, apakah kamu cinta padanya?" tanya Bu Sarah menyelidik.
"Bu, jika aku tak cinta padanya aku tak akan murung pada saat setelah melakukan perjanjian hitam di atas putih tersebut. Jika aku tak cinta padanya, aku takkan sampai mengorbankan nyawaku pada saat ada mobil yang akan menabrak dirinya," ucap Johan.
"Johan, berarti pernikahan kalian tinggal empat bulan lagi. Lantas jika kalian bercerai, secara tidak langsung kamu kan harus pergi dari rumah nya? lantas bagaimana cara menjelaskan pada, Pak Betrand? apa kamu sudah siap berpisah dengan anakmu?"
__ADS_1
Mendengar akan hal itu, Johan sama sekali tak bisa berkata. Dia juga bingung.