Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Lelaki Arogan


__ADS_3

"KAMU MAU MATI HAH?!"


Lelaki itu keluar dengan emosi, membanting pintu mobilnya dengan keras. Ara yang masih kaget sedikit menoleh, mendapati seorang lelaki berdiri di belakangnya.


"Kamu enggak apa-apa, nak?" tanya Ara pada si anak kecil tanpa memperdulikan si pengendara yang marah padanya.


Anak kecil itu mengangguk, wajahnya tampak kaget.


"Hei kamu tidak dengar? Benar-benar mau mati!" teriak lagi si lelaki arogan.


Anak itu berjengkit ketakutan, menggenggam jemari Ara yang berada di pundak nya.


"Kakak.. " mata anak itu tampak berkaca-kaca.


Ara yang melihat anak kecil nya takut karena bentakan si pengendara mulai terpancing emosi. Berdiri lalu berbalik, Ara menyembunyikan anak itu di belakang tubuhnya.


Mendekat pada si pengemudi, Ara dapat melihat jelas wajahnya. Seorang pria yang terlihat sangat tampan tapi arogan.


"Pak bisa tolong jaga ucapan anda? Anda hampir menabrak seorang anak kecil, bagaimana bisa anda malah berkata kasar?" ucap Ara.


Sebisa mungkin ia menahan emosinya, ia sudah terbiasa bertemu berbagai orang dengan berbagai karakter. Ia harus bisa mengatasinya.


Dan juga Ara tidak ingin berkata buruk di depan anak kecil.


Apalagi anak itu terlihat masih syok.


"Apa itu salahku? Anak itu yang berdiri di tengah jalan. Bukannya kamu yang harusnya di salahkan karna teledor menjaga anak."


Ara menutup hidung nya saat pria itu berbicara, bukan karena bau. Pria itu sangat harum, bahkan harumnya sangat mewah. Tapi ada aroma alkohol yang sangat menyengat saat dia berbicara.


"Ya saya memang salah, tapi sepertinya kesalahan anda lebih parah. Anda mengemudi dalam keadaan pengaruh alkohol. Bukankah itu lebih buruk." Telak balik Ara.


Lelaki itu mengeram kesal. Mengepalkan tangannya telapak tangannya saat mendengar Ara memojokkan nya dengan sebuah fakta.


"Kamu--" hendak menimpali meluapkan emosi nya, tapi lelaki itu berhenti saat tak sengaja menangkap ucapan salah satu orang yang kini sedang mengerumuni mereka.


"Bukan nya itu Jonathan Harvey? Apa dia mengemudi dalam keadaan mabuk?"


Jonathan menoleh, mendapati banyak orang di pinggiran jalan yang sedang menonton mereka. Bahkan ada beberapa yang sedang merekam kejadian itu dengan ponsel.


"Apa?" tantang Ara saat melihat melihat Jonathan yang tiba-tiba terdiam.


Jonathan tahu situasinya saat ini akan berdampak buruk jika ia kembali melanjutkan perdebatan dengan gadis keras yang ada di hadapannya ini.


Maka alih-alih menimpali ucapan Ara, Jonathan lebih memilih pergi dari sana. Masuk ke dalam mobilnya, yang seketika membuat Ara bingung.


Melajukan kendaraannya kembali masih dengan arogan, pagi Jonathan sudah di awali dengan buruk.


Sepanjang perjalanan ia mendengus kasar, emosi Jonathan tak pernah seburuk ini setelah beberapa tahun terakhir.


Mengaktifkan fitur bluetooth di mobilnya, Jonathan coba menghubungi nomer Daniel, asisten pribadinya.


"Halo Daniel, aku hampir menabrak seseorang. Tolong kamu cek semua portal berita dan sosial media, jika ada berita, video atau apapun yang di tersebar luas segera blokir semuanya.


Jangan biarkan satu situs pun bisa di akses. Jangan sampai ada berita buruk." ucap Jonathan.


Lalu ia mematikan panggilannya setelah Daniel mengiyakan perintahnya.


Jonathan tidak akan membiarkan ada satu pun berita buruk tentang dirinya tersebar di luar sana. Karena itu akan memberikan keuntungan bagi para pesaing bisnis nya dan yang terutama bagi Marvel.

__ADS_1


Jonathan sudah banyak bertaruh untuk mempertahankan posisi nya saat ini, demi bisa mengalahkan Marvel. Untuk membalas kebenciannya.


Dan mungkin Jonathan juga akan bertaruh lagi kali ini. Yaitu menuruti kemauan Papa nya untuk menikah dengan putri sahabatnya.


Meski Jonathan sangat benci harus mengambil keputusan ini, tapi itu setidaknya lebih baik dari pada Jonathan harus kembali melihat miliknya di rebut Marvel. Oleh adiknya.


*********


Selepas kepergian Jonathan yang masih dnegan arogannya, Arabella membawa anak kecil yang ia selamatkan itu ke sebuah cafe yang ada di dekat rumah sakit.


Anak itu sudah tampak lebih tenang setelah Ara memberinya minum dan mencoba mengajaknya bicara dengan lembut.


"Jadi nama kamu Morgan. Lalu kamu ke sini sama Aunty kamu tapi kamu hampir tertabrak karena mengejar tukang balon?" ulang Ara setelah mendengar penjelasan dari si bocah kecil bernama Morgan tersebut.


Morgan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Lalu kenapa tidak meminta pada Aunty mu sayang? Di luar itu berbahaya, kamu tidak boleh berjalan sendirian ke jalanan seperti itu. Kamu bisa saja tertabrak mobil tadi."


"Aunty Morgan itu menyebalkan. Dia tidak mau mendengarkan, dia terus saja memilih barang. Maka itu Morgan ingin pergi membeli sendiri." ucap Morgan lucu.


Ara tersenyum, mengusap kepala Morgan dengan lembut. "Itu artinya Aunty mu sedang sibuk, Morgan seharusnya menunggu Aunty sampai dia selesai. Kalau nanti terjadi sesuatu sama kamu bagaimana? Nanti Aunty mu dan juga orang tua kamu bakal sedih."


Wajah Morgan berubah murung mendengar ucapan Ara. "Enggak mau, Morgan enggak mau Mami Papi sedih. Enggak mau juga Aunty sedih."


Ara tersenyum melihatnya.


"Nah kalau begitu Morgan janji ya tidak boleh lagi pergi sendiri. Berjanji akan jadi anak yang baik?" ucap Ara lembut sambil mengacungkan jari kelingking nya.


Morgan menautkan jari kelingking mungilnya dengan Ara. "Iya Morgan berjanji."


Ara tersenyum hangat, mengusap-usap lembut kepala Morgan membuat kedua mata mungil itu berbinar-binar menatapnya.


Ara tertawa, mendekatkan wajahnya. "Oh ya? Apa Kakak cantik?"


Morgan mengangguk. "Iya Kakak cantik lebih cantik dari Aunty Bianca dan Mama."


Ara kembali tertawa lebih keras mendengar kepolosan Morgan.


"Astaga, Mama kamu bisa sedih kalau mendengarnya." ucap Ara sambil mengacak-acak gemas rambut Morgan.


Saat Ara dan Morgan masih tertawa, tiba-tiba dari arah pintu cafe seorang perempuan muda berteriak memanggil nama Morgan. Eksistensi kedua nya beralih pada perempuan yang kini berlari kecil lalu langsung merengkuh Morgan ke dalam pelukannya.


"Morgan.. Ya Tuhan. Aunty mencari kamu kemana-mana."


Perempuan itu melepaskan pelukannya lalu memeriksa tubuh Morgan. "Kata orang kamu hampir tertabrak. Apa ada yang luka sayang?" nada bertanya nya terdengar khawatir sekali.


"Enggak apa-apa Aunty Morgan baik-baik saja, tadi Morgan di tolong sama Kakak peri." jawab Morgan sambil menatap Ara.


Baru menyadari kehadiran Ara, Bianca langsung berdiri di depan Ara. "Terima kasih ya sudah menolong Morgan. Aku enggak tahu apa yang akan terjadi kalau gak ada kamu."


"Sama-sama. Lain kali lebih hati-hati menjaganya, anak seusia Morgan memang sedang aktif-aktif nya."


"Iya aku akan lebih berhati-hati lain kali. Sekali lagi terima kasih. Oh iya, aku belum memperkenalkan diri. Aku Bianca, Aunty nya Morgan."


Bianca mengulurkan tangannya yang langsung di sambut baik Ara. "Arabella."


Sama-sama melepaskan jabatan tangannya, Bianca masih menatap Ara.


"Aku kaya nya kenal kamu."

__ADS_1


Ara mengerutkan keningnya. "Apa kita pernah ketemu sebelumnya?" tanya Ara.


"Tidak tahu." jawab Bianca.


"Hem?"


"Sebentar biar aku ingat-ingat, aku kayanya pernah melihat wajahmu dan kenal nama kamu." ucap Bianca coba mengingat-ingat.


"Mungkin kamu salah orang."


"Sebentar, sebentar, kayanya nya aku ingat. Apa kamu Arabella Hardid?"


Ara kaget mendengar Bianca mengetahui nama keluarganya, "Ya? Apa kamu kenal aku?"


"Astaga jadi benar. Arabella kita pernah satu sekolah waktu Sekolah menengah pertama, kamu enggak ingat aku? kita teman satu meja. Bianca Julian, kamu lupa?"


Ara terdiam sejenak, mencoba mengingat. Lalu ia tiba-tiba berseru heboh. "Bianca! Bianca si tomboi itu?"


Bianca mengangguk kepalanya. Keduanya berpelukan sambil berseru heboh.


Morgan mendongkak, menatap kedua orang dewasa itu bingung.


"Astaga aku enggak sangka bisa bertemu lagi sama kamu." seru Bianca.


"Sama aku juga."


"Bukannya kamu pindah keluar negeri?"


"Iya, tapi aku baru saja pindah lagi ke Indonesia."


"Benarkah? Wow kabar bahagia." ucap Bianca.


"Apa Kakak peri teman Aunty?" tanya Morgan sambil menatap Ara dan Bianca berganti.


Bianca mengangguk, "Iya dia teman Aunty."


"Aku senang bisa bertemu kamu Bi." ucap Ara.


"Sama aku juga. Tidak sangka kamu kembali ke Indonesia."


Kedua kembali duduk dan asik bercengkrama, tanpa Ara sadari ponselnya dari dalam tas terus bergetar. Ada puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari Ayahnya yang mulai khawatir.





To be continued ...



Arabella and bianca in junior high school



Jangan lupa di Vote novelnya


Di like dan Coment setiap episode nya.

__ADS_1


__ADS_2