Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Ribut


__ADS_3

Keysa menjadi gelisah setelah mendengar cerita tentang Roy dan Ryan dari papahnya. Dia bingung ingin mengambil keputusan seperti apa untuk rumah tangganya yang baru berjalan beberapa bulan itu.


"Betapa bodohnya aku yang terlalu cepat menikah dengan, Mas Ryan. Padahal aku belum sepenuhnya mengetahui sifat asli dia."


"Awalnya aku mengajak menikah Mas Rian karena aku tak ingin kalah dengan Johan yang telah menikah dengan gadis desa itu."


"Apa iya aku harus menggugat cerai dirinya padahal pernikahan kami baru berjalan dua bulan lamanya? sepertinya itu tidak mungkin, aku pasti akan merasa malu dan mendapat hujatan dari banyak orang apalagi posisi aku sebagai seorang CEO."


Keysa gelisah dia bingung harus mengambil keputusan seperti apa untuk permasalahan yang saat ini dia alami di dalam rumah tangganya.


"Sialan gara-gara Johan menikah dengan gadis desa itu aku jadi harus buru-buru menikah supaya aku tidak kalah selain olehnya," batinnya terus saja gelisah.


Semakin hari Keysa semakin gudah gulana memikirkan hal itu. Kerja pun dia tak fokus, sementara Ryan semakin hari semakin menjadi sebelum dia mendapatkan keputusan yang pasti dari Keysa. Ryan juga selalu memojokkan dalam berbagai pertanyaan padanya.


"Keysa, sudah satu minggu berlalu dari waktu itu. Apa kamu sudah mempunyai keputusan yang tepat untuk menyerahkan kepemimpinan padaku?" tanya Rian.


"Aku belum mendapatkan keputusan yang tepat untuk hal ini, karena bagiku ini suatu keputusan yang sangat besar yang harus aku tempuh. Jadi aku perlu berpikir secara matang, tolong kamu sabar sedikit mas," ucap Keysa ketus.


"Aku harus bersabar sampai kapan lagi, apa kamu mau aku meninggalkanmu sekarang juga dan mengakhiri pernikahan kita?" ancam Rian.


"Terserah kamu, Mas. Jika kamu memang mau berpisah denganku saat ini juga aku bisa terima kok," jawab Keysa dengan entengnya.


Belum juga Rian berkata kembali sesuatu terjadi pada Keysa.


"Hoek Hoek Hoek"


Keysa tiba-tiba merasakan perutnya mual dan ingin muntah, ia pun lekas berlari ke dalam kamar mandi.


Sementara Rian hanya diam saja melihat istrinya berlari ke kamar mandi, ia tidak ada rasa iba sedikitpun atau menyusulnya.


"Kenapa sifat Mas Rian tidak seperti Johan? dulu pada saat aku merasakan mual muntah Johan langsung menyusul ke kamar mandi dan memijat tengkuk leherku," batin Keysa.

__ADS_1


"Aku takut jika apa yang aku rasakan ini adalah suatu gejala kehamilan. Apa iya aku hamil, padahal aku baru menikah dia bulan dengan, Mas Rian," batinnya bimbang.


Keysa memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan yang kebetulan lokasinya tak jauh dari rumahnya. Dan dia begitu shock pada saat dokter menyatakan dirinya memang hamil. Dan pada saat ini usia kehamilannya baru memasuki umur dua Minggu.


"Astaga, apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Padahal aku sudah menyerah jika memang Mas Rian ingin bercerai dariku. Tetapi jika seperti ini bagaimana aku bisa bercerai?" batin Keysa sedih.


"Akan harus bertahan dengannya untuk waktu yang lebih lama lagi. Apa aku mampu ya?" batinnya lagi.


Keysa tak yakin jika dirinya akan bisa bertahan lama membina rumah tangga dengan Rian.


****""*


Waktu berjalan begitu cepatnya hingga tak terasa usia kehamilan Keysa sudah memasuki empat bulan. Dan sejak hamil, Rian sama sekali tak peduli apa lagi perhatian dengan kehamilan, Keysa.


Justru Rian semakin bertindak curang. Dia berhutang hingga ratusan juta, dan mengatas namakan Keysa. Hingga para penagih hutang datang menagih pada Keysa.


"Mas, kenapa kamu hutang hingga ratusan juta uang nya untuk apa?" tanya Keysa di suatu senja.


"Lantas kenapa kamu memakai nama aku untuk hutang-hutangmu itu?" tanya Keysa lagi.


"Kan kamu kaya raya, jadi uang ratusan juta bagimu itu tidak seberapa kan? bagaikan uang ribuan rupiah saja," ucap Rian sinis.


"Astaga, mas. Aku kerja banting tulang mati-matian di saat aku hamil seperti ini. Kamu malah seenaknya menghabiskan uangku," ucap Keysa dengan mata berkaca-kaca.


"Uangmu adalah uangku juga kan? salah siapa juga aku tak di izinkan untuk menggantikan posisimu itu," ucap Rian.


"Mas, apa kamu sama sekali tak merasa iba padaku? apa kamu juga tak ingin berinteraksi dengan anakmu yang ada di kandungan aku ini?" tanya Keysa.


"Iba kenapa, sudah kodratnya seorang wanita alami hamil dan melahirkan. Bukannya dulu kamu juga pernah hamil?"


"Iya, mas. Tapi dulu Johan sangat perhatian padaku. Di saat aku hamil, dia selalu menjaga ku dan memberikan apa pun yang aku butuhkan."

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan oleh Keysa, Ryan menjadi emosi.


"Kenapa kamu membanding-bandingkan aku dengan mantan suamimu yang bekas sopir pribadi itu?" tiba-tiba Rian menggebrak meja yang ada di dalam kamar hingga membuat Keyda terlonjak kaget.


Hal ini terdengar hingga kamar Betrand, dia pun lekas melangkah ke kamar Keysa yang kebetulan tidak dikunci.


"Keysa-Rian, ada apa sih ribut-ribut? Rian, kenapa semakin hari kamu semakin kasar pada istri?" tanya Betrand menyelidik.


"Diam, pah! nggak usah ikut campur urusan rumah tangga aku dengan Keysa! urus diri papah sendiri!" bentaknya kasar.


"Rian, kenapa kamu tak sopan padaku? berani sekali kamu membentaku? apa kamu lupa di rumah ini siapa yang berkuasa, lagi pula kamu ini hanya menumpang kan? kamu hanya bisa menghabiskan uang kami saja!" bentak Betrand.


Keributan antara menantu dan mertua tak bisa dihindarkan lagi, Keysa mencoba melerai tapi tak berhasil.


Akhirnya Betrand memutuskan untuk berlalu pergi dari kamar Keysa karena dia tak ingin kesehatannya lebih buruk lagi.


"Mas, seharusnya kamu tak bersikap seperti itu pada papahku. Bagaimanapun dia sudah menjadi papahmu sendiri," tegur Keysa.


"Kamu masih berani juga melawan aku, apa ingin aku berbuat lebih kasar dari tadi dan melakukan KDRT terhadapmu dan anak yang ada di dalam kandunganmu itu?" bentak Rian.


"Mas, kenapa kamu semakin hari bukannya semakin berubah lebih baik tapi malah semakin hari semakin bertindak keterlaluan sekali," tegurnya lagi.


"Masih saja kamu seperti itu, hah? harus berapa kali aku katakan kamu sebagai seorang istri kamu itu tidak boleh membantah apa yang diinginkan oleh suamimu!" bentak Rian.


Dan pada akhirnya Rian berlalu pergi dengan membanting pintu kamar tersebut.


"Astaghfirullah aladzim, ya Allah. Kenapa sikap Rian jauh sekali di bandingkan dengan Johan."


"Keysa telah membuang berlian hanya demi sebuah baru kali. Sebenarnya aku ingin sekali pindah saja ke rumah Johan yang lebih nyaman dan tak pernah ada keributan seperti ini."


"Tetapi aku tidak tega meninggalkan Keysa sendiri apa lagi sedang hamil."

__ADS_1


__ADS_2