Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Baby Abian Ikut Ke Kantor


__ADS_3

Hari berikutnya, Bu Sarah sudah pulang ke rumah. Kebetulan dia sempat bertemu dengan, Rinjani.


"Nak Rinjani, terima kasih selama ibu ada di rumah sakit kamu yang jaga Abian. Maaf ya sudah merepotkan?" ucap Bu Sarah seraya menggenggam jemari Rinjani.


"Sama-sama, Bu. Saya sama sekali tak merasa di repotkan kok. Saya senang sekali malah, karena saya suka sekali dengan anak kecil," ucap Rinjani.


"Rinjani, gajimu sudah saya transfer ke nomor rekeningmu ya?" ucap Johan


Pagi itu semua berkumpul di teras halaman, karena kebetulan hari libur.


"Johan, sepertinya Abian sudah ketergantungan pada Rinjani. Lantas kedepannya bagaimana? dia kan harus ke kantor juga?" Bu Sarah merasa bingung.


"Biar nanti aku carikan baby sister saja untuk Abian," ucap Johan.


Setelah percakapan tersebut, Johan pun mencari seorang baby sitter di sebuah yayasan khusus untuk semua baby sitter. Dan dia mendapatkan satu wanita muda yang menurutnya cocok untuk merawat Abian.


Akan tetapi tidak seperti apa yang di bayangkan, ternyata baby sitter ini tidaklah baik. Dia tak layak merawat seorang bayi karena perangainya yang kasar dan galak.


Bahkan pernah sekali waktu, Bu Sarah melihat sendiri di baby sitter berbuat kasar pada Abian dengan mencubit pahanya.


'Huh, tidur sih kenapa? sudah malsm nggak tidur-tidur kan aku cape juga!" bentaknya seraya mencubit paha si baby hingga menangis.


"Heh, kamu apaksn cucuku? jahat banget sih masa kamu cubit, dia itu masih sangat kecil loh!" bentak Bu Sarah hingga terdengar sampai ke kamar Lisa.


Lisa pun menghampiri kamar tersebut.


"Bu, ada apa sih malam-malam kok teriak seperti itu? hingga terdengar sampai kamarku loh," tegur Lisa


"Dia mencubit paha Abian, tadi ibu sempat melihatnya," Bu Sarah melotot kesal ke arah sang baby sitter.


"Nggak, non. Ibu saya lihat, saya sama sekali tak mencubit Abian. Justru saya akan menggendongnya karena dia menangis," sanggahnya pada Lisa.


"Mba, kita bisa lihat mba bohong atau nggak lewat rekaman video CCTV," ucap Lisa.

__ADS_1


"Aduh, mampus dah aku. Kalau sudah seperti ini pasti ketahuan bahwa aku telah berbohong,' batinnya kesal.


"Mba, jika mba tak melakukan hal itu kenapa mesti panik sih?" tegur Lisa yang sempat melihat kepanikan pada wajah sang baby sitter.


Tak berapa lama, Johan pulang dari kantor. Hari ini dia kerja sampai malam karena banyak kerjaan yang harus di selesaikan malam itu juga.


Johan heran pada saat semua orang berkumpul di kamar, Abian.


"Ada apa ini, kok wajah kalian terlihat tegang semuanya?" tanya Johan menatap ke semua orang yang ada di kamar Abian.


Bu Sarah menceritakan semuanya pada Johan. Johan sangat kesal melotot ke arah baby sitter tersebut. Baby sitter tak berani menatap Johan, dia terus saja tertunduk panik dan ketakutan.


Sejenak Johan diam, dia meraih ponsel dalam saku bajunya dan mengecek rekaman CCTV di kamar Abian. Setelah melihatnya, matanya melotot marah ke arah baby sitter.


"Heh, kamu baru bekerja berapa hari di sini sudah berlaku kasar pada anakku. Jika seperti ini aku tidak akan mempergunakan kamu lebih lama lagi, aku pecat kamu sekarang juga!" bentak Johan kesal.


"Maaf saya tuan, saya khilaf. Tolong jangan pecat saya," rengeknya.


Tapi Johan tak menghiraukannya, dia pun berlalu pergi dari kamar Abian.


Dengan penuh rasa takut, baby sitter lekas berkemas dan pergi dari rumah itu secepat kilat karena dia tak ingin di laporkan ke kantor polisi.


Sementara di dalam kamarnya, Johan langsung membersihkan badannya. Beberapa menit kemudian, dia pun melamun sendiri karena bingung.


Selagi bingung, ponselnya berdering, yakni panggilan telpon dari Rinjani.


Kring kring kring kring


"Hallo, Rinjani. Ada apa ya?"


"Maaf, pak. Jika saya mengganggu. Saya hanya kepikiran dengan Abian, apakah dia baik-baik saja? karena entah kenapa kok tiba-tiba saya deg-degan tetapi yang di ingatan saya Abian."


Sejenak Johan menceritakan apa yang telah terjadi barusan pada, Abian lewat panggilan telpon.

__ADS_1


"Ya Allah, pak. Kasihan sekali Abian, apakah pahanya sampai luka memsr atau tidak, pak?"


"Saya belum sempat melihatnya, karena begitu pulang hanya memecat si baby sitter dan saya langsung pergi mandi."


"Cepat di cek pak, pahanya semoga saja tidak luka atau lecet. Kulit bayi kan masih sangat rapuh."


Setelah cukup lama menelpon, Rinjani berpamitan karena dia tak enak jika menelpon lama-lama. Johan langsung mengecek paha Abian apakah luka atau lecet atau memar. Ternyata tidak sama sekali.


"Alhamdulillah, tidak ada luka sedikitpun pada anakku. Lantas bagaimana aku bisa kerja jika tidak ada baby sitter yang menjaga Abian? sementara ibuku sudah tak di izinkan untuk terlalu cape."


Johan tak ingin mencari baby sitter lagi karena dia sudah jera, dan tak percaya lagi dengan kinerja baby sitter.


Pagi menjelang, akhirnya Johan memutuskan untuk membawa serta Abian ke kantor dari pada dia bingung.


"Mas, aku minta maaf ya. Jika hari ini aku tidak ada jadwal kuliah pagi, pasti aku mau menjaga Abian," ucap Lisa merasa tak enak hati pada kakaknya.


"Ya Lisa, nggak apa-apa. Abian kan anak penurut, pasti dia takkan rewel jika di bawa ke kantor apa lagi di kantor ada, Rinjani."


"Johan, apa sebaiknya Abian sama ibu saja?" ucap Bu Sarah.


"Nggak usah, Bu. Aku nggak ingin ibu kecapean lagi, biar saja aku bawa Abian ke kantor."


Akhirnya Johan benar-benar membawa Abian ke kantor. Walaupun Johan sangat repot karena harus membawa makanan, susu, dan peralatan baby. Tapi dia harus melakukan hal itu.


Beberapa menit kemudian, sampailsj Abian di kantor dengan membawa stroller berisikan Abian, dan satu tangan membawa tas besar berisi peralatan bayi dan makanan serta susu untuk Abian.


Semua karyawan dan karyawati merasa iba melihat bos mereka kerepotan ke kantor saja membawa anaknya.


"Pak, Abian ikut ya?" sapa Rinjani.


"Iya, Rinjani. Karena di rumah tidak ada yang menjaganya, jadi terpaksa aku bawa ke kantor," ucap Johan mencoba tersenyum walaupun sebenarnya hatinya sedih.


"Pak, biar Abian sama saya saja ya? saya bawa ke ruang kerja saya kebetulan tugas saya juga tidak begitu banyak, boleh ya pak?" ucap Rinjani memelas.

__ADS_1


"Baiklah."


Saat itu juga Rinjani membawa stroller baby Abian menuju ke ruang kerjanya. Sementara di rumah, Betrand datang ke rumah Johan dengan maksud ingin menjenguk Abian tetapi Abian tidak ada.


__ADS_2