Pernikahan Terpaksa

Pernikahan Terpaksa
Demi Ayah


__ADS_3

Jonathan itu bukannya tidak mengerti atau tidak tahu cara memperlakukan perempuan dengan baik atau menenangkan seorang perempuan yang sedang menangis. Ia tahu dan ia mengerti, karena dulu pernah mengalami hal itu dengan kekasihnya. Tapi, lelaki itu enggan. Sangat tidak ingin lagi berlaku manis pada perempuan manapun lagi semenjak mengalami kekecewaan besar.


Maka saat melihat Ara yang terus menangis dan takut terjadi sesuatu hal buruk pada Ayah nya, Jonathan bukan menenangkan malah melontarkan kata yang membuat gadis cantik itu geram.


"Berhenti menangis, tangisan kamu enggak akan membantu apapun. Om Adrian sudah di tangani dengan baik oleh para medis di rumah sakit." ucapnya sambil fokus menyetir.


Ara menoleh, sambil berucap. "Sudah di tangani oleh para medis juga enggak menjamin seratus persen Ayah baik-baik aja." timpalnya sesegukan.


Ara tahu hal itu, karena ia seorang dokter. Ia mengalami nya sendiri. Para medis memang selalu berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan atau menangani pasien nya. Tapi itu tidak menjamin tidak akan terjadi hal yang tidak di inginkan. Karena Tuhan lah yang sesungguhnya mentakdirkan.


"Ya tapi menangis juga enggak ada guna nya. Lebih baik kamu diam, berdoa saja."


"Ya namanya juga panik dan takut." jawab Ara kesal.


Kenapa sih lelaki ini tidak bisa mengerti sekali.


"Justru itu, aku jadi ikutan panik karena kamu menangis terus." bentak Jonathan.


Ara bungkam seketika, setelah menerima bentakan dari mulut Jonathan. Merasa marah dan kesal bercampur dengan rasa khawatirnya nya pada sang Ayah.


Andai ia lebih mementingkan egonya, mungkin Ara akan lebih memilih turun dan pergi ke rumah sakit sendiri. Tapi Ara tidak melakukan itu, ia sudah tak peduli lagi pada egonya. Yang terpenting saat ini, ia bisa sampai di rumah sakit dengan cepat saja.


Sementara itu Jonathan ikut terdiam begitu setelah melontarkan teriakan pada gadis di sampingnya. Sambil tetap mengemudi, Jonathan terlihat sesekali melirik ke arah samping. Melihat dari ekor matanya Ara yang menatap ke jendela samping, gadis itu menutup mulutnya dengan satu telapak tangan seperti menahan isak tangis nya agar tak terdengar.


Tapi Jonathan tahu benar gadis itu masih saja menangis, terlihat dari air mata yang terus mengalir dari kedua mata indah tersebut.


Dan sudut hati Jonathan rasanya seperti di cengkram kuat.


Sial, kenapa ia jadi merasa bersalah?


*********


Begitu sampai di rumah sakit, Ara tak henti mengikuti langkah Jonathan menuju tempat Ayahnya di tangani saat ini. Menuju ruang ICU.


Penampilan gadis itu terlihat sedikit berantakan. Masih mengenakan piyama milik Bianca, rambutnya yang di ikat tak rapih, mata yang bengkak dan wajah memerah karena menangis.

__ADS_1


Orang-orang dan beberapa karyawan rumah sakit yang mengenali nya sampai memperhatikannya. Terlebih ia datang dengan seseorang yang cukup terkenal. Seorang CEO muda yang namanya sedang ramai di mana-mana.


Tak memperdulikan tatapan sekitarnya, Ara langsung berlari begitu melihat eksistensi Devan dan Irena, juga kedua orang tua Jonathan yang sedang duduk menunggu di depan ruang ICU.


"Kakak... " Gadis itu berlari mendekat, langsung di sambut dengan pelukan dari sang Kakak.


Mencoba menenangkan dengan menepuk-nepuk punggung nya dengan lembut. "Kakak, bagaimana keadaan Ayah?" tanya Ara parau, sambil melepaskan diri dari pelukan Devan.


"Ayah masih di tangani di dalam. Kamu tenang dulu ya." ucap Devan.


Ara menggeleng, tangis nya kembali pecah. "Kenapa bisa begini? Kenapa Ayah bisa tiba-tiba masuk rumah sakit lagi? Ayah masih baik-baik saja dua hari lalu." ucapnya sambil menangis.


"Ara kamu tenang dulu. Ayah pasti baik-baik saja."


"Ini pasti gara-gara aku. Gara-gara aku pergi tanpa pamit Ayah jadi begini."


"Enggak dek."


"Aku salah kak. Ini salah aku, maaf kak maaf." Ara terus mengalah dirinya sendiri.


"Enggak, ini bukan salah kamu Ra. Kesehatan Ayah memang lagi menurun beberapa hari ini."


Ara sungguh marah, ingin mencaci maki dirinya sendiri jika terjadi hal fatal pada Ayah nya.


"Kakak, gimana kalau terjadi hal buruk sama Ayah? Gimana kalau Ayah ninggalin kita sama kaya Bunda? Ara takut. Takut Kak." ucapnya pilu.


Tangis Ara semakin deras, membuat Devan lemah. Ia juga ingin menangis, tapi ia berusaha menahannya. Devan seorang Kakak, ia harus lebih kuat demi adiknya. "Ara... " Devan berusaha menenangkan.


Tapi Ara masih saja menangis dalam pelukannya.


Irena yang melihat itu ingin menghampiri, mencoba juga memenangkan adik iparnya. Tapi Sofia lebih dulu bangkit, lalu menahan Irena.


"Biar Tante aja." ucap Sofia, Irena mengangguk mengiyakan.


Sofia mendekat pada Ara dan Devan. Lalu mengusap lembut pundak Ara sambil berujar lembut. "Ara... Sayang... "

__ADS_1


Gadis itu melerai pelukan sang Kakak lalu berbalik menatap Sofia dengan mata yang bengkak dan wajahnya yang memerah.


Tangan Sofia terulur untuk menghapus air mata di kedua pipi Ara. "Kamu tenang ya.. Ayah kan sudah di tangani oleh dokter, dia pasti baik-baik."


"Tapi Tante, Ara takut. Ara enggak mau kehilangan lagi." ucapnya serak.


Sofia tersenyum sambil mengurai lembut rambut berantakan Ara.


"Kamu pernah dengarkan kalimat ini?


Apa yang kita pikirkan itu bisa menjadi suggest untuk apa yang akan terjadi kedepannya. Jika kita berpikiran positif, maka hasil yang akan di terjadi juga bisa jadi positif. Begitu pula sebaliknya. Jika kita berpikiran negatif, maka bisa jadi hal yang buruk juga akan terjadi karena suggesti dari kita sendiri."


"Maka itu, kamu harus hilangkan pikiran negatif itu. Kamu harus yakin kalau Ayah akan baik-baik saja. Ayah pun pasti bisa merasakan nya dari dalam, kalau kalian semua di sini menunggu dia sadar. Jadi jangan jangan memikirkan hal-hal buruk lagi ya, lebih baik pikirkan semua hal baik?"


Ara mengangguk pelan. "Iya Tante." jawabnya pelan.


"Nah, anak cantik sekarang jangan menangis lagi. Sekarang kita berdoa saja sambil menunggu kabar baik dari dokter." ucap Sofia sambil mengajak Ara untuk duduk


Ara menurut, duduk di kursi panjang depan ruang ICU. Devan juga sudah ikut duduk dan lebih tenang saat Jeremy menepuk pundaknya, memberi kekuatan.


Sedang Ara duduk di tengah-tengah Sofia dan Irena, Ara terus berdoa dalam hati. Semoga Ayahnya sadar kembali. Semoga dokter saat keluar nanti memberikan kabar baik. Semoga apa yang ia takutkan tidak akan terjadi.


Memejamkan kedua matanya, kali ini Ara berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon pada Tuhan. Bahkan ia berjanji, jika Tuhan menyelamatkan Ayah nya kali ini maka ia akan rela melakukan apapun.


Melakukan apa saja yang Ayah nya minta, segala yang Ayah nya inginkan. Termasuk berpisah dengan Jayden atau...


Menikah dengan Jonathan sekalipun.


Ara akan melakukannya. Demi Ayahnya.




__ADS_1


To be continued...



__ADS_2