
Daniel langsung memeluk sang istri lalu mengacak rambut Alya.
"Stop, Kak," titah Elsa.
"Sini, Sayang. Aku peluk," seloroh Johan.
"Najis," ketus Elsa langsung berpindah tempat duduk.
Daniel dan Alya hanya tertawa melihat kekonyolan Johan dan Elsa.
****
Selesai berendam Velicia mengambil ponselnya. Velicia masih berpikir perkataan Elsa tempo hari. Daniel sudah menikah dia menjadi nomor dua. Velicia mencoba searching di medsos. Tidak ada kabar jika Daniel sudah menikah, pikirnya Elsa telah membohonginya. Velicia mencoba menghubungi Daniel berulang kali ternyata teleponnya tak dijawab.
Aaakh....
Velicia membanting ponselnya sambil berteriak, ia sangat frustasi. Menjadi ibu hamil membuat Velicia sedikit stres, karena hormonnya tak stabil. Velicia tiba-tiba menangis, ia merasakan kesepian tidak ada Daniel.
"Daniel ke mana sih!" umpatnya.
"Apa benar dia punya yang lain?" lanjutnya.
Velicia terus bermonolog seperti orang gila yang berbicara sendiri. Hampir saja Velicia membenturkan kepalanya ke dinding. Untuk mencari perhatian Daniel.
****
"Mas, kita mau ke mana? Kenapa tidak ke arah rumah Oma." Alya bingung.
"Nanti kamu akan tau, kita ke mana,"
"Ish, rahasia-rahasiaan gini, nggak seru," protes Alya.
"Nggak usah maju-maju gitu geh, bibirnya. Nanti aku cium loh," goda Daniel.
Lima belas menit kemudian mereka berdua memasuki kawasan elite. Banyak perumahan mewah mereka lewati. Alya tampak takjub dengan desain rumah di sana. Ada salah satu rumah menjadi perhatian Alya. Rumah yang bercat putih dengan desain rumah minimalis.
"Sayang, maaf. Sementara kita tinggal di sini sampai rumah baru kita jadi," ucap Daniel memegangi tangan sang istri.
"Rumah cantik ini, rumah kita?" Alya meneteskan air matanya.
__ADS_1
Daniel menyeka air mata Alya dengan lembut. "Kamu suka?" tanyanya.
"Aku suka sekali, Sayang." Alya memeluk Daniel.
Alya turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Pintu telah terbuka, Alya semakin takjub desain interior dalamnya. Alya mencoba berkeliling rumah minimalis itu.
"Maaf, ruangannya tak sebanyak rumah Oma, Sayang."
"Ini sudah cukup, Mas. Lagian kita belum punya anak. Beberapa kamar cukuplah." Alya menenangkan hati suaminya.
"Jadi, kamu mau punya anak dariku?" Pertanyaan konyol yang terlontar dari mulut Daniel.
"Kamu." Alya memukul dada Daniel.
"Kenapa?"
"Jika tak mau punya anak dari mu, aku malas sekali tidur bersama mu," cibir Alya.
****
"Ini, Kak. Minumannya." Bartender memberikan minuman.
Elsa hanya menganggukkan kepalanya, ia hanya memandangi gelas kaca yang berada dihadapannya. Dari kejauhan Johan hanya tersenyum melihat gadis kecilnya, duduk di bar. Johan ingin menghampiri Elsa yang duduk sendirian. Tetapi ia kalah duluan dengan Andreas yang sudah duduk di dekat Elsa. Akhirnya Johan duduk di belakang Elsa untuk menguping pembicaraan mereka berdua.
Deg...
Sialan, jadi ini pacar, Elsa, pikiran Johan sudah memanas.
"Apa sih, pegang-pegang!" ketus Elsa.
"Kamu di sini merindukanku, kan," ucapnya tanpa dosa.
"Siapa yang nyuruh lo ke sini, nggak ada kan? Sana pergi," usir Elsa.
Andreas mendekati Elsa lalu ingin membelai rambutnya. Belum menyentuh rambut Elsa, Johan sudah memegang tangan Andreas. Johan menatapnya dengan tajam, rasanya ia tak rela gadis kecilnya di sentuh orang lain.
"Aaau!" teriak Andreas, membuat Elsa menoleh ke sumber suara.
"Kak Johan," gumam Elsa.
__ADS_1
Setelah meremas tangan Andreas, ia menghempaskan tangan itu. Hingga Andreas hampir terhuyung ke samping. Johan mendekati Johan ingin membalasnya. Belum sempat membalas Johan sudah menendang tubuh Andreas hingga terjatuh.
"Sialan!" umpatnya.
Johan hanya tertawa melihat Andreas tersungkur.
"Jangan pernah, kau sentuh calon istriku!"
Johan meraih tangan Elsa, langsung membawanya pergi. Johan membukakan pintu mobil, matanya hanya melirik Elsa agar masuk ke dalam mobil. Elsa sedikit takut dengan tingkah Johan, ia hanya bisa menurutinya.
"Kamu, kenapa nakal sekali," ucap Johan dengan dingin.
Elsa hanya menundukkan kepalanya, tak berani menjawab pertanyaan Johan. Elsa memainkan ujung bajunya seperti anak kecil. Elsa tetap bergeming enggan menatap Johan.
"Elsa," panggil Daniel.
"Hem." Hanya gumaman yang terlontar.
"Kamu kenapa? Tidak menjawab pertanyaanku," cecar Johan.
Elsa tetap setia dengan bergeming, Johan mulai tak sabar dengan tingkah Elsa yang diam saja. Johan menangkup wajah Elsa, ternyata Elsa menangis. Johan binggung dengan Elsa mengapa dia menangis.
"Hei, kamu kenapa?" tanyanya lagi sambil menyeka air mata Elsa.
Tak ada jawaban dari mulut Elsa, Johan langsung memeluk Elsa. Tak disangka Elsa pun menyambut pelukan Johan, ia balas dengan erat. Elsa mampu mendengar jantung Johan berdegup kencang.
"Aku hanya butuh, sandaran," terangnya.
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤
__ADS_1
Hai guys, jangan lupa mampir ke karya Kak kiss, ceritanya ngena dihari pokoknya ♥️