Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Fitting


__ADS_3

"Demi semuanya, sudah tidak ada lagi yang perlu dipertahankan, Alya," ucapnya dengan tegas.


"Tapi, Mas."


"Sudahlah, aku mau tidur." Daniel pun tidur lalu menarik selimutnya, membenamkan wajahnya di bawah selimut.


****


"Pagi, semuanya," sapa Elsa dengan wajah sumringahnya.


"Bahagia sekali, Els?" tanya Riyan dengan menyeruput kopinya.


"Iyalah seneng, Ri. Orang mau fitting baju pertunangannya," sindir Oma Sintia.


"Ih, Oma sok tahu deh," ucap Elsa malu-malu.


"Pakai ngelak lagi," goda Oma Sintia.


"Pagi, Oma," seru Alya dari kejauhan sedikit berlari lalu memeluk Oma Sintia.


"Pagi, Sayang." Oma Sintia membalas pelukan Alya.


"Pagi, Oma, Pa," sapa Daniel.


"Hem." Riyan hanya berdehem, terlihat dari wajahnya ia masih merasa kesal dengan Daniel.


"Pa maafkan, Daniel. Daniel akan segera ceraikan Velicia," ucapnya penuh keyakinan.


"Bagus jika kamu tahu itu." Riyan sedikit acuh.


Astaga, Mas. Jadi kamu menceraikan Velicia bukan demi aku, tapi, karena Papa Riyan. Bagaimana nasib Velicia saat dia berbaring lemah seperti ini, kamu malah ceraikan dia, batin Alya merasa kasihan.


"Sayang, sini duduk," pinta Daniel.


"Emb, iya Mas."


"Kamu mikir apa? Dari tadi banyak melamun, aku lihat dari tadi."

__ADS_1


"Nggak ada, Mas. Perasaan Mas aja," kilah Alya.


Alya pun dengan telaten melayani sang suami. Mengambilkannya makanan di atas meja makan terlihat dari wajah Alya, ia sedang memikirkan sesuatu. Sampai Elsa menatap Alya sedikit curiga. Sarapan pagi pun selsai, Elsa meraih tangan Alya agar mengikutinya. Sampai di taman belakang rumah. Elsa sedikit mendesak Alya, ia bertanya apa yang tengah mengganggu pikirannya.


"Keren ya, Kak. Tamannya baru saja di renovasi oleh Papa, banyak sekali permainan anak kecil. Katanya, nanti kalo cucunya sudah besar bisa main sepuasnya," ucap Elsa, pandangannya ke arah Alya yang masih sibuk dengan pikirannya.


"Oh iya, Els." Tanggapan Alya sedikit tidak bersemangat.


"Ada masalah apa, Kak? Dari tadi aku bicara, Kakak cuma ngelamun aja," cecar Elsa.


"Nggak ada, Els," elak Alya.


"Jangan bohong, Kak. Aku tidak mudah dibohongi olehmu. Bukannya kita teman? Apa yang akan kau rahasiakan dariku?" Elsa mencoba meyakinkan Alya lagi.


"Aku kasian, jika harus melihat Velicia, diceraikan oleh Kakakmu," jawab Alya sendu.


"Aneh sekali Kakak ini, memilih di madu ketimbang menjadi satu-satunya."


"Bukan gitu, Elsa. Dia baru saja kehilangan anaknya, coba kamu di posisi dia. Betapa sakitnya kehilangan sesuatu." Alya tetap teguh dengan pendapatnya.


"Coba Kakak pikir lagi, jika Velicia di posisi Kakak, apa dia akan sedih melihatmu diceraikan oleh, Kak Daniel?" Elsa menyentuh pundak Alya.


"Nanti, setelah kita fitting untuk acara kita besok. Kita mampir ke rumah sakit, ya? Kita tengok Velicia, kita liat keadaannya."


"Kita berdua saja, nggak usah ajak Kak Daniel," pinta Elsa.


"Kenapa?" Alya binggung.


"Agar Kak Daniel nggak berubah pikiran, jadi jangan boleh dia ikut. Nanti kasian sama Velicia, malah nggak jadi cerai lagi," seloroh Elsa.


"Kejam sekali kamu, Elsa," balas Alya, sambil memukul bahu Elsa.


"Biarin, wlee." Elsa berlari meninggalkan Alya sambil menjulurkan lidahnya.


****


"Kalian berdua dari mana sih?" tanya Daniel kesal.

__ADS_1


"Ya ampun dewa bucin, ditinggal sebentar aja, udah nyariin," celoteh Elsa


"Biarin, kenapa memangnya? Kasian ya, nggak ada yang nyariin kamu," balas Daniel.


"Ih, Kak Daniel!" Elsa kesal sendiri.


"Kenapa, Mas?" tanya Alya.


"Nggak pa-pa cuma khawatir aja sama kamu, Sayang."


"Hoek... jijik deh," timpal Elsa.


"Menyahut aja kamu nih, mana Johan? Jam segini belum sampai sini, kita mau berangkat ke butik, Elsa."


"Ya udahlah, Kak. Ayo, kita berangkat. Ngapain coba, nunggu Kak Johan."


"Memangnya, Kak Johan nggak ikut, Els?" tanya Alya lagi.


"Bisa nyusul ke butik kan, nggak usah repot deh, Kak Daniel itu. ayo, kita masuk mobil, Kak Alya." Elsa menarik tangan Alya, agar duduk di belakang bersamanya.


"Hei, Elsa! Aku bukan supir, kenapa istriku kamu suruh duduk di belakang," sungut Daniel.


"Ya udah si, Kak. Tinggal gas aja repot ih," balas Elsa.


"Nggak jadi berangkat," ancam Daniel.


"Astaga, kalian berdua, berantem terus. Aku capek, Mas." Alya mulai kesal dengan suaminya tingkahnya seperti anak kecil.


"Maaf, Sayang." Daniel mengalah demi kestabilan bumil.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤


__ADS_2