Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Talita


__ADS_3

Elsa berlari ke mobilnya untuk mengambil obat P3K untuk diberikan kepada Johan. Beberapa menit kemudian Elsa kembali lagi ke kantin. Johan ternyata tidak ada di kantin.


"Oh, my God, Kak Johan di mana sih," gerutu Elsa dengan panik.


Elsa menaruh obat P3K di atas meja, lalu ia mengambil ponselnya di dalam tasnya. Elsa mencoba menelepon Johan berulang kali tak ada jawaban. Membuat Elsa semakin kesal dan panik.


"Di mana sih," gumamnya berkali-kali.


"Kamu kenapa, Els?"


"Kak Johan, tuh, dari mana aja sih? Aku cariin dari tadi, telepon lagi nggak di angkat," omel Elsa.


"Maaf, aku tadi ke toilet, udah ke kebelet banget ini," jawabnya.


"Ya udah, duduk sini aku obati lukanya," pinta Elsa.


"Uluh-uluh, Calon istri aku," goda Johan sambil memegang kedua pipi Elsa.


"Malu, ih." Elsa menghempaskan tangan Johan dengan pelan.


Johan duduk dengan manis, menerima obatan dari Elsa dengan telaten memberikan obat antiseptik ke wajah tampan Johan. "Aauu... sakit," rengek Johan dengan manja.


"Masih sakit, sempat-sempatnya manja gitu," ejek Elsa.


"Biar di urusin kamu terus," goda Johan.


****


Seorang gadis berharap cintanya di balas dengan memberikan perhatian penuh. Perhatiannya di tolak mentah-mentah oleh pria tersebut. Gadis tersebut menyalahkan orang lain untuk kejadian ini.


"Kenapa, Dre? Kamu menolak perhatianku? Kurang ku apa? Jawab," pintanya dengan lugas


"Kamu tahu, aku tidak mencintai kamu, Talita!" bentak Andreas.


"Minggir!" Andreas sedikit mendorong tubuh Talita dan pergi meninggalkannya.


Baru saja Andreas melangkah Talita berteriak. "Apa sih yang membuatmu mencintai Elsa, sampai kamu tak mau berpaling dariku?" tangisnya pecah.


Andreas memutar tubuhnya lalu ia berkata. "Dia gadis yang baik, berbeda denganmu."


"Apa maksudmu?"


"Jika kamu, mau mengkhianati sahabatnya sendiri, demi cinta mampu melakukan segala cara, kamu ingat? Di mana kamu memberiku alkohol, sampai aku mabuk, lalu kamu memfitnah ku telah tidur bersamamu? Padahal aku ingat semuanya, aku tidak tidur denganmu."


"Lalu, kenapa kamu tidak mengelak? Waktu kejadian itu, kenapa baru sekarang kamu mengatakan ini, Andreas."


"Aku tidak mau, kamu malu dihadapan sahabat-sahabat mu, jika aku mengelak, mereka juga tidak akan percaya, Talita. Karena mereka melihat dengan mata mereka sendiri. Jika kita di atas ranjang berdua tanpa busana."


Jedar...


Seperti terkena sambaran petir di siang bolong. Elsa merasa lemas kedua kakinya, dengan sigap Johan menangkap tubuh Elsa. Andreas tersenyum melihat Elsa dan Johan telah berdiri di belakang Talita.

__ADS_1


"Apa maksud semua ini, Talita?" Elsa sedikit bergetar saat bicara.


"Elsa," gumamnya seperti orang malu sendiri, aibnya telah terbongkar.


"Jadi selama ini? Aku salah paham?"


"Iya! Aku memang memfitnah Andreas, tidur bersamaku, kenapa? Kamu menyesal meninggalkan Andreas." Talita menantang Elsa.


"Tidak, aku tidak menyesal meninggalkan Andreas, karena aku sudah menemukan orang yang tepat untukku." Elsa mencoba menguatkan hatinya, ia berdiri dengan tegap menerima kenyataan ini.


Andreas mendekati Elsa dan Johan, "Jagalah dia, Bro. Aku ikhlas jika kalian menikah, aku percaya jika kalian berdua pasti akan bahagia, jika bersama," ucap Andreas sambil menepuk pundak Johan.


Johan bergeming, Elsa langsung menyenggol lengan Johan agar cepat bicara. "Pastinya aku akan menjaga Elsa dengan baik. Tak perlu kau beritahu," ketus Johan.


Talita seperti orang orang bodoh, bukannya meminta maaf. Ia memilih pergi dari sana di susul oleh Andreas. Tinggallah Elsa dan Johan mereka berdua saling menguatkan dengan bergandengan tangan menuju parkiran mobil mereka.


****


"Di mana Johan ini, nganter berkas ke kampus saja lama sekali," gumam Daniel, sambil menatap berkas-berkas yang menumpuk.


"Maaf, Nona. Anda tidak bisa masuk. Tuan Daniel sedang sibuk dengan berkas-berkasnya," larang Nina.


"Kamu tidak tahu, saya siapa?"


"Saya tahu, anda istri sirih Tuan Daniel!" teriak Nina batas kesabarannya sudah habis.


"Berani kamu membentak saya," sungut Velicia.


"Kamu!" teriak Velicia. "Plak..." Terdengar sangat keras tamparan Velicia di pipi mulus Nina.


****! Kalo bukan istri, Bos. Sudah ku tampar balik nih orang, umpat Nina dalam hati.


"Velicia!" seru Daniel.


"Sayang," gumamnya, Velicia memeluk Daniel.


"Lepaskan," titahnya, Velicia pun melepaskan pelukannya.


"Dia melarang ku bertemu denganmu," rengek Velicia.


"Nina, siapa yang menyuruhmu?" selidik Daniel.


"Oma, yang menyuruhnya, kenapa?" Oma Sintia menimpali.


"Siapa dia, Dan?" tanya Riyan.


Daniel menelan ludahnya dengan kasar, jantungnya dag, dig, dug... berdetak lebih cepat seperti akan meledak. Mendengar suara sang papa, terlihat wajahnya sedang marah. Velicia mendekati Riyan untuk menyapa.


"Hai, Papa. Saya Velicia istri Daniel." Velicia mengulurkan tangannya.


"Daniel!" teriak Riyan lalu menampar Daniel hingga terhuyung ke samping.

__ADS_1


Sampai berdarah pipi Daniel, Velicia syok langsung membantu Daniel berdiri. "Pa, sudah Pa. Jangan, pukuli Daniel. Aku tidak tega, melihatnya." Tangis Velicia pecah, hormon ibu hamil membuatnya semakin sensitif.


"Dengarkan, saya. Jangan pernah kamu panggil saya, Papa. Saya tidak sudi. Ayo, Ma. Kita pulang." Riyan pergi bersama Oma Sintia, meninggalkan Daniel dan Velicia.


Nina hanya bisa berdiam diri, tidak bisa membantu sang bos. Secara diam-diam Nina merekam kejadian tadi mengirimkan ke Johan.


*****


Tring...


Notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Johan. Johan langsung menatap ponselnya ingin membuka pesan dari Nina. Belum jadi terbuka ponselnya di rebut oleh Elsa.


"Pesan dari siapa?" Nadanya terlihat cemburu.


"Nina, Sayang. Buka saja, jika kamu tidak percaya," titah Johan.


Elsa menuruti interupsi dari Johan langsung membuka pesan dari Nina dengan tidak sabar. "Astaga, Papa," gumamnya.


"Ada apa?" tanya Johan sedikit panik.


"Kak Daniel ditampar Papa," jawabnya pelan.


"Coba volumenya dikeraskan, Els."


Terdengar suara keributan, "Oh, ternyata, biang keladinya, Velicia. Memang minta dimusnahkan." Elsa kesal.


"Ayo, kita cari Daniel sekarang, sebelum Alya tau, bisa bahaya."


"Kenapa memangnya?"


"Daniel lebih takut Alya marah, ketimbang Papamu pastinya."


"Dasar manusia bucin," ucap Velicia sambil menggelengkan kepalanya. "Eh, makanannya Kak?"


"Sudah, nanti kita cari makan lagi. Bukannya Alya mau ke perusahaan."


"Oia, aku lupa, aku coba hubungi dia, sudah sampai mana dia sekarang."


Johan bergegas membayar makanan mereka pesan, belum sempat di makan mereka pun sudah pergi karena urgent. Elsa sedikit panik, telepon dari Alya tak kunjung ada jawaban. Elsa berpikir harus menghubungi siapa agar Alya tidak bertemu Velicia di perusahaan.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2