Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Operasi


__ADS_3

Tiba-tiba ada seseorang menepuk pundak Johan lalu berkata, "Gantilah," lirihnya.


Otomatis Johan mendongakkan kepalanya ke atas melihat seseorang itu. Bak malaikat penolong, Elsa senyum sekilas kepada calon suaminya itu. Johan ingin sekali memeluk Elsa tapi pakaiannya berlumuran darah. Akhirnya, ia menahan keinginannya lalu berganti pakaian terlebih dahulu. Elsa duduk di kursi tunggu, sambil menunggu kedatangan Johan.


"Els, di mana Alya?" tanya Johan dengan lembut setelah berganti pakaiannya.


"Masih di IGD, Kak." Elsa mencoba tegar.


"Tapi, keadaannya tidak apa-apa kan?"


"Tadi sempet sadar sebentar, tapi Kak Alya histeris seperti trauma lalu pingsan lagi, ada Chika dan Larisa yang menunggui," jawab Elsa setenang mungkin.


"Kamu, sudah hubungi Papa dan Oma?" Johan duduk di samping Elsa.


"Sudah, masih dalam perjalanan, Kak." Elsa meraih tangan Johan ia mencoba mentransfer energi positifnya, matanya menatap Johan seperti berkata-kata. Tenang semua akan baik-baik saja, jangan khawatir.


****


Alya yang berada di ruang IGD telah sabar kembali, ia mencoba tenang. Ia duduk walaupun pandangannya kosong melihat sekitar. "Aku boleh bertemu dengan, Mas Daniel?" lirihnya.


Perawat yang berada di sana pun mengizinkan pergi jika keadaannya sudah tidak lemah lagi. Alya pun langsung bersemangat, ia mencoba meyakinkan orang sekitar jika ia baik-baik saja. "Kamu yakin, Al?" tanya Chika.


"Yakin, ayuk ke sana, tapi biayanya?"


"Tenang, sudah di urus sama Elsa, jadi kita tinggal pergi saja." Chika membantu Alya turun dari brankar.


Mereka bertiga pun berjalan ke arah ruang operasi, untuk menemui Elsa dan Johan. "Els," panggil Alya.


"Kak Alya, kenapa di sini? Istirahat saja, atau mau aku pesankan kamar inap?" tanya Elsa sedikit panik.


"Nggak perlu, aku baik-baik saja, Els," tolak Alya.

__ADS_1


Alya duduk di kursi tunggu di sebrang Elsa dan Johan, Chika dan Larisa duduk di samping Alya. Mereka berlima menunggu operasi Daniel yang memakan waktu yang lama. Dengan sabar Alya tetap terjaga menunggu kabar dari dokter. Sedangkan Elsa tertidur di bahu Johan, Johan tetap terjaga menanti operasi ini selesai. Chika dan Larisa jangan di tanya lagi, mereka berdua sudah masuk ke alam mimpi masing-masing duduk saling bersandar. Tiba-tiba pintu operasi telah terbuka, Dokter Yang mengoperasi Daniel keluar memberitahu jika keadaan Daniel baik-baik saja.


"Keluarga Tuan Daniel?" tanya Dokter.


"Iya, Dok. Saya istrinya," timpal Alya.


"Operasinya, telah berjalan lancar, karena pengaruh obat bius, Tuan Daniel belum sadar, mungkin sebentar lagi akan di pindahkan ke kamar inap, Keluarga bisa menunggu di sana," terang Dokter lalu pergi meninggalkan Alya.


Johan yang mendengar kabar baik dari Dokter, bahwa Daniel baik-baik saja ia merasa tenang hatinya. "Els, bangun." Johan menggoyangkan tubuhnya Elsa.


"Emb, kenapa?" ucap Elsa masih belum sadar seratus persen.


"Kita pindah, ke kamar inap," ajak Johan.


"Hah? Siapa yang sakit, Kak," jawab Elsa cengo.


"Kamu yang sakit, Els," ejek Alya sambil berjalan menuju kamar inap Daniel.


Elsa pun menuruti membangun Chika dan Larisa sedang tertidur pulas. "Woi, bangun. Kita pindah ke kamar inap, buruan."


Chika dan Larisa langsung membuka mata mereka berdua. "Operasinya sudah selesai, ya?" tanya Chika.


"Hah? Operasi," jawab Elsa lupa jika Daniel di operasi.


"Iya, Kak Daniel," timpal Larisa.


"Astaga, aku lupa," ucap Elsa sampai terkekeh dengan tingkah konyolnya sendiri.


****


Daniel yang belum siuman, sudah dipindahkan ke dalam kamar inap. Alya di samping Daniel dengan menggenggam tangannya. Sedangkan yang lain bercengkrama duduk di sofa. Oma Sintia mendekati Alya, "Istirahatlah, Al. Kasian anakmu nanti, kalo kamu kurang istirahat," nasihat Oma Sintia.

__ADS_1


"Iya, Oma. Alya akan istirahat, jika Mas Daniel sudah siuman," tolak Alya secara halus.


"Daniel, Daniel. Kamu punya istri sebaik ini, masih bisa mendua," timpal Riyan dengan gemas melihat kelakuan Daniel.


"Sudahlah, Pa. Sebentar lagi Mas Daniel akan menceraikannya." Alya mencoba membela Daniel.


"Alasannya apa? Daniel mau menceraikan Velicia?" Riyan sangat penasaran.


"Mas Daniel menikahi, Velicia Karena dia hamil, Pa. Tapi, kata Mas Daniel itu bukan anaknya, karena semenjak bersamaku dia tidak pernah menyentuhnya," terang Alya.


"Kamu percaya begitu saja, Al?" Riyan mencoba menggoyahkan kepercayaan Alya kepada Daniel, ia ingin melihat Alya tulus atau tidak mencintai Daniel.


"Aku mencoba percaya, Pa. Walaupun hati ini meragu, aku akan tetap percaya dengan suamiku," jawab Alya dengan yakin.


Riyan mendekati Alya sambil mengusap bahunya, "Terima kasih, Al. Sudah mencintai anak Papa dengan tulus."


"Iya, Pa."


Tiba-tiba Daniel bergerak membuat Alya terkejut bercampur bahagia.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2