Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Elsa Galau


__ADS_3

Johan melihat Elsa meneteskan air matanya, ia takut membuat Elsa kecewa. Niatnya hanya ingin bercanda ternyata Elsa menganggapnya serius. Akhirnya Johan meninggalkan Elsa tanpa berkata sepatah kata pun.


Maaf, El. Bukan maksudku buat kamu nangis. Jika ini yang kamu mau, aku akan pergi, batin Johan, sambil menutup pintu tanpa melihat Elsa.


Elsa tambah menangis tersedu-sedu di tinggal oleh Johan. Elsa berlari menjatuhkan dirinya di atas ranjang lalu menutupi wajahnya dengan selimut. Elsa merasa menyesal telah mengusir Johan pergi.


Kak, maafin aku, bukan maksudku seperti itu, gumamnya dalam hati.


****


"Itu mengelapnya yang bersih, Mas," titah Alya.


Menyuruh Daniel mengelap air kencingnya tadi di lantai. Oma yang mengetahui Daniel mau membersihkan itu. Oma sangat kagum dengan Alya, mampu merubah Daniel Danuarta menjadi suami-suami takut istri.


"Iya, itu yang bersih mengelapnya," sahut Oma Sintia.


Daniel hanya acuh mendengar ejekan omanya. Ia lalu berdiri membersihkan tangannya karena sudah selesai. Oma Sintia mendekati Alya sedang duduk di atas brankar.


"Selamat ya, Sayang." Oma Sintia mencium pipi Alya tanda sayangnya.


"Oma, baru ke sini," ucap Alya manja.


"Oma, baru tau tadi Elsa, kasih tau sampai dirumah."


"Terima kasih, Oma. Sudah mau ke sini jengukin aku."


"Oia, Oma mau tanya, tadi Daniel mengelap apa?" tanyanya penasaran.


"Aku kencing di celana, Oma," bisik Alya lalu tertawa terbahak-bahak.


"Kok bisa,"


"Gara-gara Mas Daniel, suruh siapa dia nahan aku mau ke kamar mandi, Oma. Sebenarnya bisa manggil cleaning service, tapi aku kerjain aja dia."


"Oma, suka cara kamu, Al."


Daniel keluar dari kamar mandi, ia mendekati mereka berdua yang asik bercerita. "Ini pasti pada ghibah 'kan?"


"Apa si, Mas. Orang lagi curhat, kamu nih motong aja sukanya."


"Ngomongin, aku ganteng 'kan," ucapnya dengan yakin.


"Duh, males banget, ya. Ghibah-in kamu," kilah Alya.


Daniel mendekati Alya dengan sedikit menggelitik pinggangnya. "Mas geli, nanti infus ku, lepas gimana?"


Daniel langsung menghentikannya, "Maaf, Sayang."


Oma Sintia tersenyum sekaligus terharu, melihat sang cucu bahagia dengan istrinya. Arsen langsung masuk saja ke dalam ruangan Alya. Dengan wajah kesal, kecewa, campur aduk seperti gado-gado.


"Mau ngapain, kamu di sini?" Daniel menatap Arsen dengan senyumnya memudar menggantinya dengan kebencian.


"Velicia di tangkap security, apa kamu tidak peduli?"

__ADS_1


"Dia sendiri yang membuat ulah, urus saja kamu, udah tau di rumah sakit, banyak tingkah," cibir Daniel.


"Dia sendiri yang membuat ulah, urus saja kamu, udah tau di rumah sakit, banyak tingkah," cibir Daniel.


"Itu juga istri kamu, jangan pilih kasih kasih, dong," sungut Arsen.


"Terserah, kamu! Saya sudah tidak peduli, dengan Velicia."


Arsen mendekati Daniel, ia merasa diacuhkan oleh Daniel. Tanpa aba-aba Arsen memberi tanda cinta di pipi Daniel. Daniel tak mau kalah, ia membalas pukulan dari Arsen. Alya histeris berteriak agar Daniel menghentikan perkelahiannya.


"Mas Daniel, hentikan!" Alya menangis.


Oma Sintia memegangi dadanya sakit yang dirasakan olehnya. Daniel tidak memperdulikan Alya dan oma Sintia, ia tetap memukuli Arsen. Oma Sintia akhirnya pingsan baru Daniel menghentikan perkelahiannya.


"Oma!" teriaknya.


Daniel berlari menghampiri oma Sintia lalu membopongnya membawanya ke ruang IGD. Arsen mencoba berdiri sambil mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Alya acuh melihat Arsen kesakitan.


Ini orang, kenapa nggak mati aja sih, gerutu Alya dalam hatinya.


"Apa kamu lihat-lihat," ketus Arsen.


"Kalo nggak mau, saya lihat pergi sana dari ruang ini, gitu aja kok repot," sungut Alya.


"Berani kamu, ya."


"Memangnya, kamu siapa? Saya harus takut." Alya menatap Arsen sini.


Arsen mendekati Alya yang berada di atas brankar, lalu Arsen mencengkram dagu Alya ia berkata. "Jangan senang dulu, semua ini belum di mulai. Tunggu pembalasanku," ancam Arsen sambil membuang wajah Alya ke samping.


...****...


Arsen tak menanggapi perkataan Alya, ia memilih pergi meninggalkannya. Alya menangis karena hatinya merasakan sakit hati yang begitu dalam. Ia takut jika ancaman Arsen memang benar terjadi. Bagaimana nasib rumah tangganya dengan Daniel.


"Sayang," panggil Daniel, berlari mendekati sang istri.


"Keadaan oma gimana, Mas?"


"Baik, kok. Dia hanya syok saja. Sekarang di rawat di ruang sebelah. Jantung oma masih belum kuat, takut terjadi apa-apa, jadi harus di rawat dulu," terangnya.


"Coba beritahu Elsa, Mas. Nanti dia nyariin oma lagi."


"Iya, nanti aku telepon."


"Sekarang," titah Alya.


"Oke."


Daniel menuruti permintaan sang istri langsung menelepon Elsa. Sudah beberapa kali Daniel menelpon tidak ada jawaban membuatnya kesal. Akhirnya, Daniel mengirimi Elsa pesan saja.



Elsa

__ADS_1


El, oma masuk rumah sakit,


Jantungnya kambuh,


"Kenapa, Mas?"


"Aku kirim pesan saja kepada, Elsa. Dari tadi udah ku telepon tidak diangkat, membuatku kesal saja." Daniel berkacak pinggang.


"Istirahatlah, Sayang. Kamu pasti lelah." Alya mengayunkan tangannya tanda Daniel akan tidur disampingnya.


"Aku, tidur di brankar?"


"Iya, sini," pinta Alya.


Daniel tersenyum terasa rasa kesalnya hilang setelah Alya menyuruhnya tidur disampingnya. Daniel bersemangat tidur di samping Alya dengan memeluknya dengan erat. Alya mencium kening suaminya.


"Good night," ucapnya.


"Good night, baby," balas Daniel sambil mengelus perut Alya.


*****


Sampai di rumah sakit, Elsa sambil mengingat-ingat kamar nomor berapa sang oma berada. Elsa dengan pelan masuk ke dalam kamar sang oma. Ternyata sudah ada Johan tertidur di sofa dengan kemejanya sudah berantakan. Elsa tertegun melihat Johan begitu perhatiannya dengan orang ia sayang.


Elsa duduk di samping sang oma lalu ia berkata," Oma, lekas sembuh, jangan buat Elsa khawatir," lirihnya, lalu berdiri mencium kening Oma Sintia.


Johan menyentuh bahu Elsa, "Sudah istirahatlah, Oma perlu istirahat," titahnya.


Elsa berdiri lalu menghadap Johan, ia memeluk Johan ia menangis. "Menangislah jika membuatmu lega." Johan membalas pelukan Elsa.


"Maaf," lirihnya.


"Untuk apa?"


"Untuk tadi, Kak." Elsa tetap gengsi untuk berbicara.


"Ya, Sudah," jawabnya pasrah.


Elsa malah mengerucutkan bibirnya, tanda ia tidak puas dengan jawaban Johan. Sedangkan Oma Sintia sedang berpura-pura tidur sambil sedikit mengintip Elsa dan Johan. Oma Sintia bangun karena mendengar isakan tangis Elsa.


"Sudah, jangan nangis. Nanti Oma bangun kasian, El."


Akhirnya menuruti kemauan Johan, mereka berdua sedang duduk di sofa. Entah apa yang merasuki Elsa malam ini. Elsa terlihat sangat manja dengan Johan. Padahal yang sakit adalah Oma Sintia, begitu banyak drama Elsa buat malam ini.


Bersambung.....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.

__ADS_1


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤


__ADS_2