Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Pak Suhendar


__ADS_3

Berbeda dengan reaksi Pak Suhendar, untuk menghadapi Elsa. "Mau apa kamu? Ngandelin keluarga kamu? Itu maksudmu," tanya Pak Suhendar dengan dingin.


"Tentu saja, Pak." Elsa memainkan ponselnya.


"Kamu itu tidak sopan!" teriak Pak Suhendar.


"Bapak nggak usah cari masalah deh, jangan buat emosi saya naik, ya," ancam Elsa kesal dengan tingkah Pak Suhendar karena tidak mau mendengar penjelasannya.


"Berani kamu, melawan saya!"


"Lihat saja, besok Bapak tidak akan bekerja di sini lagi," ucap Elsa sudah sangat emosi. Elsa tetap memainkan ponselnya menunggu video yang akan membuat Pak Suhendar diam, dan membuat Talita akan terancam di DO (Drop Out).


"Saya tidak takut, karena saya benar kamu salah," tuduh Pak Suhendar.


Elsa tersenyum sinis, ia langsung menunjukkan bukti video CCTV kepada Pak Suhendar dan Talita. Mereka berdua tercengang saat melihat itu, wajah Pak Suhendar langsung memucat. Mata Talita seperti akan lepas, saat melihat dirinya dalam video sedang menampar Elsa.


"Els, maafkan aku, jangan kau laporkan ini, aku akan melakukan apa saja, asal tidak dikeluarkan dari kampus," ucap Talita mengiba.


"Gampang sekali, kamu ngomong."


"Emb, maafkan Bapak, Elsa. Bapak salah paham," ucap Pak Suhendar.


Elsa bukannya menjawab, ia malah pergi meninggalkan ruangan Pak Suhendar. Dia berjalan ke parkiran mobil, ia masuk ke dalam mobil. Tanpa menyadari ada Johan sedang mengikuti dari belakang. Elsa di dalam mobil sedang menangis, lalu Johan mengetuk jendela mobilnya. Elsa buru-buru menyeka air matanya, lalu ia tekan tombol kunci agar pintu yang disebelahnya terbuka. Johan masuk ke dalam mobil, ia tahu Elsa baru saja selesai menangis.


"Ada apa, Els?" tanya Johan dingin.


"Nggak pa-pa kok, Kak," elak Elsa mencoba tersenyum, tapi terlihat kaku di mata Johan.


"Jangan bohong," selidik Johan.


Bukannya menjawab Elsa malah menangis di pelukan Johan. Johan hanya bisa diam, membiarkan Elsa tetap menangis di dalam pelukannya. Menunggu Elsa tenang membiarkannya bercerita dengan kemauannya sendiri.

__ADS_1


Flashback on


Saat Pak Suhendar menyuruh Elsa dan Talita keluar dari kelas. Walaupun Elsa sedang emosi iya tetap berpikir jernih. Elsa langsung mengirimi Ana pesan agar membantunya mengecek CCTV agar dirinya nanti tidak disalahkan oleh Pak Suhendar. Dengan cepat Ana mengajak Hendrik ke bagian CCTV. Sampai di sana mereka ditolak oleh petugas CCTV.


"Eh, buruan kamu ketuk," titah Ana malu-malu.


"Boleh nggak ya? Aku takut ditolak oleh nih," ucap Hendrik meragu.


Dengan sangat terpaksa Hendrik pun mengetuk pintu petugas CCTV. Hanya satu kali saja mengetuknya langsung dapat jawaban dari dalam. Sang petugas pun keluar untuk menanyakan apa keperluan Hendrik dan Ana.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Petugas.


"Pak, saya boleh periksa CCTV kelas, saya?"


"Memang ada apa di kelas kalian berdua?" tanya Petugas dengan nada tidak bersahabat.


"Kita mau cari bukti, Pak. Untuk diberikan ke Dosen, boleh ya, Pak," rengek Ana.


"Aduh, Pak. Jadi teman kita bagaimana, dong?"


Bukannya di jawab petugas CCTV malah meninggalkan Ana dan Hendri yang masih berdiri di depan pintu. "Aduh, gimana ini?" tanya Ana penuh kepanikan, memikirkan nasib Elsa.


"Diakan anak yang punya saham terbesar di kampus ini, lagian juga Kakaknya pemegang yayasan, jadi nggak binggung, Na," ucap Hendrik mencoba mengingatkan.


"Tapi ...." Tiba-tiba mata Ana melihat Johan masuk ke gedung Yayasan sambil membawa berkas. Tanpa aba-aba Ana berlari menghampiri Johan. Hendri yang tak mengerti dengan tingkah Ana hanya bisa ikut mengejar Johan.


"Tuan," panggil Ana dengan ngos-ngosan.


"Kenapa?" tanya Johan dingin.


"Bisa bantu saya?"

__ADS_1


"Katakan saja," titah Johan.


"Saya butuh bukti untuk membantu, Elsa."


"Kenapa dengan Elsa? Ceritakan yang jelas." Suara Johan mulai meninggi.


"Dia tadi berantem dengan Talita, Tuan. Talita telah menyerang Elsa, yang tidak tahu apa-apa," ucap Ana dengan hati-hati.


"Apa masalah tentang Andreas?" tanya Johan datar.-


"Benar, Tuan."


"Baik, akan saya bantu."


Terlihat sangat jelas wajah Ana dan Hendrik langsung tersenyum bahagia. Mereka berdua merasakan beban telah berkurang, dengan bantuan Johan di belakang mereka. Urusan telah selesai Ana dan Hendrik pamit pergi, Johan dengan peka mencari keberadaan Elsa di ruang Pak Suhendar. Saat Johan berdiri di depan ruangan Pak Suhendar, ia mendengar semua pertanyaan Elsa. Tanpa disadari Johan tersenyum sekilas, ia merasa bangga melihat calon istrinya sekuat itu. Tidak mudah ditindas oleh orang lain pikirnya.


Bagus, Elsa. Kamu pasti bisa, gumam Johan dalam hati sambil menguping pembicaraan mereka.


Saat Elsa keluar dari ruangan Pak Suhendar, Johan yang mengetahui itu langsung bersembunyi.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2