
"Ya udah, kamu makan dulu, pasti lapar kan, kasian anak yang berada dalam perutmu," titah Victor.
"Oke, Ka."
Akhirnya Alya memakan makanannya secara lahap. Hampir saja selesai makan, tiba-tiba Alya merasakan pusing di kepalanya. Matanya terasa kunang-kunang melihat benda sekitar.
"Al, kamu kenapa?" tanya Victor berpura-pura panik.
"Kepalaku sakit, Kak," lirih Alya sambil memegangi kepalanya.
"Sini aku bantu berdiri, kita pulang saja, ya?" Victor lalu berdiri meraih bahu Alya dan mencoba membantunya.
Belum saja Alya berdiri, ia sudah pingsan jatuh ke dalam pelukan Victor. Victor tertawa bahagia di dalam hatinya. Setelah melunasi makanannya, Victor membawa Alya ke dalam mobil. Victor keluar dari restoran, Larisa dan Chika pun masuk ke dalam restoran dengan tergesa-gesa.
"Sa, nggak ada mereka berdua," ucap Chika panik.
"Duh, ke mana ya?" Larisa mencoba menghubungi Victor tidak di angkat sedangkan ponsel Alya mati.
Dengan terpaksa Larisa mencoba menghubungi Elsa. Larisa memberitahu Elsa bahwa Alya di bawa pergi oleh Victor. Chika lebih pintar dari Larisa, ia mencoba menemui manager restoran. Untung saja keluarga Chika sering makan di sana jadi pihak restoran banyak hafal dengannya.
"Chik, mau ke mana?" tanya Larisa dengan mengekor di belakangnya.
"Diem aja dulu," titah Chika sedikit berlari.
Sampai di ruangan manager, Chika mencoba mengetuknya. Setelah itu Chika menceritakan tentang masalah yang ia alami. Meminta bantuan agar Chika bisa melihat cctv yang berada di restoran.
"Tolong kami, Pak," pinta Chika sedikit mengiba.
"Baiklah, Nona. Saya akan mengantarkan Anda keruangan cctv."
Chika dan Larisa merasa lega, akhirnya sedikit ada titik terang. Siapa tau dari melihat cctv mereka berdua bisa menemukan sesuatu. "Lihat, Nona. Teman Anda yang mana?" tanya Manager restoran.
Larisa dan Chika mencoba mengamati layar monitor begitu besar membuat mereka berdua mudah menemukannya. "Ini, Pak!" teriak Larisa sambil menunjuk monitor.
Setelah mereka bertiga melihat rekaman cctv, mereka tahu jika Alya pingsan setelah makan. Tubuh Alya telah di gendong Victor menuju mobil. "Coba, Pak tolong di lihat kembali, kenapa Kakak saya lama sekali dia perginya, sebelum mereka berdua makan," usul Larisa.
__ADS_1
"Baik, Non."
"Astaga, siapa dia, Pak? Bertemu Kakak saya di luar toilet pria," Larisa kembali curiga.
"Itu pelayan kami, Non," jawan Manager restoran.
"Tolong bawa ke sini," titah Chika tidak sabar ingin mengintrogasi pelayan tersebut.
Sempat menunggu beberapa menit, datanglah sang pelayan yang di suruh oleh Victor tadi. Chika dan Larisa mencoba menahan amarahnya. Perempuan dengan kemeja berwarna biru muda itu tampak binggung saat menemui Chika dan Larisa.
"Bella, sini kamu," titah Manager restoran.
"Kamu!" bentak Larisa tubuhnya di tahan oleh Chika.
"Maaf, Pak? Ada apa ya, saya di suruh kemari?" tanya Bella.
"Lihat ini," ucap Manager restoran sambil menunjuk monitor.
"Emb, itu," jawabnya santai.
"Itu cuma minta bantuan saya, untuk menganti tissue toilet, Pak," jawab Bella bohong.
"Bohong, kamu itu. Jelas-jelas di monitor itu terlihat kalo kamu menerima sesuatu, apa itu!" teriak Larisa sudah tidak tahan dengan semua ini.
"Kamu, saya pecat!" teriak sang Manager.
Bella langsung mengemis kepada manager, ia bersimpuh di kaki manager lalu menjelaskan semuanya. "Pak, saya mohon. Jangan pecat, saya. Orang tersebut telah menyuruh saya untuk memberi sesuatu di minumannya. Saya tidak tahu itu apa," ucap Bella dengan dramatis.
"Astaga kamu!" Larisa menampar pipi Bella.
"Stop, kamu jangan gegabah gitu, Larisa. Ayo, kita pergi, cari keberadaan Elsa. Agar dia bisa membantu kita. Untuk menyelesaikan masalah ini," ajak Chika.
******
"Emb, pusing," lirih Alya sambil membuka matanya dengan pelan.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Victor sedang duduk di kursi putar sambil memutar kursinya ke kiri dan ke kanan.
Alya sedang di atas ranjang sedikit bingung. "Apa yang terjadi, Kak?"
"Aku akan membuatmu bahagia, Alya." Victor berjalan ke arah Alya.
"Aku di mana, Kak?" Alya menangis.
"Kenapa menangis? Kita akan bahagia di sini, Sayang. Hidup berdua berdua selamanya," ucap Victor lalu tertawa.
"Kakak sudah gila ya?"
"Aku gila karena mu, Alya. Aku tidak bisa hidup tanpamu," ucap Victor tanpa ragu.
Victor menyeka air mata Alya, lalu membelai rambut Alya dengan lembut. Tanpa di duga, reaksi Alya di luar ekspektasi Victor. Alya langsung menghempaskan tangan Victor dari atas kepalanya.
"Jangan sentuh aku!" Alya kesal.
"Aku bisa lebih baik, dari suamimu, Alya." Victor menjambak rambut Alya.
Terlihat sekali Alya merasa kesakitan, tapi ia tahan rasa sakit itu. Alya mencoba melawan apa daya tenaganya tidak cukup untuk melawan Victor.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤
karya M anha
__ADS_1