Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Makan Malam


__ADS_3

Mbak Ani merasa senang melihat majikannya harmonis, walaupun kenyataannya rumah tangga Alya dan Daniel masih banyak yang belum terselesaikan.


"Aku siap-siap dulu ya, Mas."


"Aku tunggu di sini, dandan yang cantik, Sayang. Nyonya Daniel harus cetar," candanya.


Alya pun bersiap-siap untuk makan malam keluarga di rumah Oma Sintia. Untuk menyambut kedatangan papa Daniel pulang dari luar Negeri. Beberapa menit kemudian Alya pun keluar dari kamar lalu menemui Daniel.


"Mas, yuk," ajak Alya yang sudah cantik.


"Istri Daniel Danuarta, memang tiada duanya," puji Daniel.


"Iya, tiada duanya, tapi diduakan," seloroh Alya sambil mengejek Daniel.


Daniel menelan ludahnya dengan kasar, ia lupa jika mempunyai dua istri. Ya, Tuhan. Aku bodoh sekali bisa lupa jika mempunyai Velicia. gumamnya dalam hati.


"Maaf," ucapnya dengan cengengesan.


"Kamu, tuh, ya. Nyebelin banget. Ganggu mood aku banget."


*****


Velicia yang masih duduk di sofa di ruang tengah, Arsen telah pulang dari bekerja tidak pulang dalam semalam. Membuat Velicia bertanya-tanya kemana keberadaan Arsen. Setahu Velicia, Arsen adalah laki-laki biasa yang butuh uang untuk hidupnya pekerjaannya hanya barista di sebuah coffee shop. Velicia tidak tau jika Arsen bekerja open BO.


"Kamu dari mana, Ar? Tidak pulang semalaman," selidik Velicia.


"Aku semalam bekerja, bukannya kamu butuh uang, katanya pengen makan enak?" ejeknya sambil membuang uang segepok di wajah Velicia.


"Kamu, serius Ar. Kamu kerja dimana?"


"Sudahlah yang penting kebutuhanmu tercukupi dan calon anak kita."


Velicia tersenyum menerima uang begitu banyak dari Arsen. Ia tak perlu menjual jam tangan dan tas mahalnya demi untuk bertahan hidup. Arsen merebahkan tubuhnya di sofa.


Ternyata kebahagiaanmu cukup segini, Vel. Hanya uang, kenapa kamu masih terobsesi dengan Daniel. Mau kamu apa? Aku binggung dengan kemauan mu, batin Arsen sambil menatap Velicia dengan uang pemberiannya.


Arsen membuka pembicaraan tentang Velicia harus di bawa ke psikiater. Depresi Velicia tentang Daniel harus hilang demi anak yang dikandungnya. Arsen duduk dengan tegap lalu mengambil tangan Velicia.


"Vel."


"Apa," ketusnya.


"Besok kamu, harus ikut aku, ke suatu tempat," ajak Arsen.


"Ke mana?"


"Sudahlah, surprise pokoknya," jawab Arsen ngasal.


****


Elsa yang berada di dalam kamar telah mondar-mandir di depan meja riasnya. Ia sangat gugup yang akan bertemu dengan calon suaminya. Sampai ia berpikir akan kabur dari rumah jika calon suaminya itu tua dan jelek.


"Kabur nggak, kabur nggak, aduh pusing aku tuh."


Tiba-tiba ponselnya bergetar tanda ada sebuah notifikasi pesan masuk. Elsa dengan semangat membuka pesan tersebut. Ternyata pesan dari Johan.

__ADS_1


Johan


Aku sudah sampai nih, di bawah.


Kamu nggak turun?


^^^Elsa^^^


^^^Aku kabur saja apa ya,^^^


^^^Malas keluar, bertemu dengan calon suamiku.^^^


Johan membaca pesan dari Elsa rasa khawatir langsung bermunculan dipikirannya. Membuatnya was-was dengan tingkah Elsa kekanak-kanakan. Johan duduk di ruang tengah bersama kedua orang tuanya. Semua orang sedang sibuk bercengkrama diruang tengah sambil menunggu kedatangan Daniel dan Alya. Tidak lama menunggu ternyata Daniel dan Alya datang.


"Papa," panggil Daniel langsung memeluknya.


"Bagaimana kabarmu nak?"


"Baik, Pa. Kenapa Papa terlihat sangat kurus?"


"Banyak kerjaan yang Papa urus jadi suka telat makan, Papa ini."


"Al, sini. Beri salam kepada Papa."


"Selamat malam, Pa," sapa Alya, yang binggung harus memberi salam seperti apa.


"Cantik sekali istrimu Dan, kata Johan istrimu sedang hami, Benarkah?"


"Iya, Pa. Disini ada Danuarta junior," ucap Daniel sambil mengusap perut sang istri.


"Sepertinya kamu, sangat bahagia Dan."


"Di mana Elsa, Oma?" tanya Alya.


"Masih di atas, coba panggil ke bawah Al, suruh turun," titah Oma Sintia.


"Jangan biar aku saja, Oma," timpal Johan.


"Ya udah sana, pergi." Alya mengizinkan.


Oma Sintia pun mengizinkan Johan pergi ke atas untuk menjemput istri kecilnya. Johan melangkahkan kakinya dengan semangat, ia menaiki anak tangga dengan mantap. Sampai di depan pintu kamar Elsa ia ketuk dengan pelan.


"Masuk!" teriaknya dari dalam kamar.


Elsa duduk dengan anggun di depan meja riasnya. Johan masuk ke dalam kamar dengan perlahan ia buka pintu kamar. Johan tersenyum saat melihat Elsa sangat cantik dimatanya.


"Ayo keluar, Elsa," titahnya.


Elsa tak menjawab ia berlari memeluk Johan dengan erat. "Kamu kenapa?" Johan melepas pelukannya.


"Aku takut." Elsa memeluk Johan kembali.


"Apa yang kamu takutkan Elsa? Ada semua keluargamu di sana, apa yang harus kamu takutkan?"


"Aku takut kehilanganmu," lirihnya.

__ADS_1


Johan senang mendengar pengakuan Elsa, ia naikkan dagunya dengan tangannya. Johan tatap mata indah Elsa, ia ***** bibir mungil Elsa dengan lembut. Elsa menerimanya dengan seneng hati.


Kak Johan, semoga ciuman ini, salam perpisahan untuk kita. Semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, gumamnya dalam hati.


Selesai mereka berdua berciuman, "Ayo, keluar."


"Sebentar, liptikku hilang, aku mau pakai lagi."


"Kak Johan, sih," omelnya.


"Suruh siapa kamu menggodaku, Els," kilah Johan.


"Hu, nyebelin," balasnya.


Keluar dari kamar Elsa, Johan mengandeng tangannya. Elsa sempat menolak nanti jadi banyak orang salah paham dengan tingkah mereka berdua yang sangat mesra pikirnya. Johan tetap memaksa tetep menggenggam tangan Elsa.


"Wah, mesra sekali pasangan ini," seloroh Daniel.


"Kayanya udah nggak tahan, Mas." Alya menimpali.


"Maksudnya, apa?" Elsa binggung dengan semua orang tengah menggodanya.


"Kamu belum cerita, Jo?" tanya Riyan.


"Belum, Pa."


"Papa," gumam Elsa semakin bingung. "Jangan-jangan..."


"Jangan-jangan apa, Elsa?"


"Yang mau di jodohkan denganku, Kak Johan maksudnya,"


"Memang iya, Sayang." Oma Sintia ikut menimpali.


"Jahat ih, Kak Johan." Elsa memukul dada Johan.


"Hei, jangan nangis, nanti make-up kamu luntur, kan sayang make-upnya" celoteh Johan.


"Kakak!" teriaknya dengan manja.


Johan langsung memeluk Elsa sedang menangis gara-gara ulahnya. Akhirnya Elsa mengetahui jika calon suaminya adalah Johan. Ia sangat bersyukur dengan keadaan ini. Ternyata perjodohan itu tidak salah, yang salah adalah pemikirannya. Seseorang berhak menolak jika ia enggan dijodohkan. Jika takdir sudah berbicara, manusia hanya bisa menjalaninya dengan baik. Syukurilah apa yang telah digariskan oleh Tuhan. Tetap berusahalah dengan baik untuk menjalani hidup ini.


Selsai makan malam Johan dan Elsa duduk berdua di taman belakang. Johan melirik Elsa sedang kedinginan karena gaunnya sedikit terbuka. Membuat Johan melepaskan jasnya lalu memakainya di tubuh Elsa.


Bersambung.....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤

__ADS_1


Yuk kak masuk grup promo di Facebook, banyak novel recommended.



__ADS_2