
"Iya, tahu." Alya berpikir sesuatu tiba-tiba.
"Sudahlah, aku lelah," ucap Daniel sambil mengendurkan dasinya.
"Mas, jangan salah paham, aku hanya bernyanyi tidak lebih. Jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu, aku akan pergi jika kamu sudah tidak menginginkanku lagi," terang Alya sambil menangkup wajah sang suami.
Daniel merasa lega mendengar pengakuan Alya. Daniel membawa Alya masuk ke dalam kamar. Alya dengan telaten membantu suaminya melepaskan kemejanya. Daniel malah melepaskan semua kain yang berada ditubuhnya. Alya yang terkejut langsung menutup matanya.
"Hei, kamu kenapa? Buka sekarang matamu," titahnya.
"Aku malu melihatnya."
"Semalam kamu bersemangat melakukannya, kenapa sekarang baru merasa malu?"
Iya, juga ya. Kenapa aku sok polos begini, batin Alya tiba-tiba ia tertawa mengingat kejadian semalam.
"Are you ok?" tanya Daniel binggung melihat Alya tertawa sendiri padahal tidak hal lucu baginya saat ini.
"Udah, ah aku mau turun ke bawah, aja."
Daniel mencegah Alya keluar dari kamar mereka berdua. Malah menarik Alya ke dalam kamar mandi. Daniel membuka kain yang menempel di tubuh sang istri.
"Mau ngapain, Mas?" Alya sedikit terkejut.
"Temani aku berendam, aku sedikit lelah, butuh teman bercerita."
Akhirnya mereka berdua berendam di dalam bathtub dengan menggunakan air hangat di beri sedikit sabun aromatherapy yang berbau aromanya lavender. Bau wanginya menyeruak ke seluruh penjuru ruangan. Membuat Alya tenang dan rileks sambil menggosok punggung sang suami. Tiba-tiba ada suara yang menganggu mereka berdua.
"Non, maaf. Diluar ada Tuan Johan dan Nona Elsa," serunya.
"Iya, Mbak. Suruh tunggu, lagi mandiin bayi besar," timpal Alya tanpa malu.
****
Mbak Ani berjalan keluar kamar, mencari keberadaan Johan dan Elsa, sedang duduk di ruang tengah. "Maaf, Non. Tunggu sebentar. Nona Alya lagi mandiin bayi besar katanya," ucap Mbak Ani dengan polosnya.
"What! Sejak kapan Kak Alya melahirkan dan punya bayi?"
Johan tertawa mendengar pernyataan Mbak Ani, apa lagi tanggapan Elsa juga polos sekali. Elsa menyergitkan dahinya saat melihat Johan tertawa. Mbak Ani memilih pergi ke belakang.
"Ada yang lucu?" Elsa lagi-lagi tidak peka.
__ADS_1
"Lucu sekali," jawab Johan dengan tawanya.
"Apaan sih," sebal Elsa.
Johan mendekati Elsa dan membisikkan sesuatu di telinganya. "Mereka berdua mandi bersama."
Elsa langsung bergidik mendengar bisikkan Johan di telinganya. Ya, Tuhan. Memangnya jadi istri harus begitu ya? Kira-kira aku sanggup nggak ya, pikiran Elsa yang berada di dalam hati membuat melayang entah ke mana.
"Hei," panggil Johan sambil menepuk pundak Elsa.
"Eh, iya, Kak?"
"Kamu tuh ngelamun apa? Jangan-jangan..." ucapan Johan terpangkas.
"Jangan-jangan apa," ketus Elsa.
"Kamu lagi bayangin kita mandi bareng, kan? Hayo, ngaku," goda Johan.
Najis banget sih, gaya calon suami aku, hu... pengen tapi, gumam Elsa di dalam hatinya lagi.
"Mana mungkin, aku membayangkan seperti itu, mesum ih, Kak Johan," kilah Elsa.
"Udah kelar mandiin dede bayinya, Bun?" goda Elsa.
"Ini udah ganteng udah wangi lagi," ucap Alya sambil mencium pipi Daniel.
"Iuh ... kamu telah menodai mataku, Kak," sungut Elsa.
"Aku juga mau Els, kalo kamu mau begitu, aku tak akan menolaknya, Sayang," goda Johan.
"Ih, kalian telah meracuni otakku."
****
"Arsen! Kenapa kamu tidak membelaku di hadapan Elsa dan Johan," sungut Velicia.
"Kenapa aku harus membelamu? Apa alasannya, Velicia. Kamu berulah hanya tentang Daniel. Aku tak sudi jika bersangkutan dengan Daniel."
"Oh, jadi mau kamu begitu? Oke."
Velicia marah, bercampur kesal dengan Arsen yang tidak mau membelanya dihadapan Elsa dan Johan. Velicia memilih meninggalkan Arsen di halaman restoran. Banyak mata yang melihat mereka berdua bertengkar diparkiran mobil. Arsen mencoba mengejar Velicia sudah pergi entah ke mana. Velicia menaiki taksi pergi jauh, tapi ia tidak pulang ke apartemen.
__ADS_1
"Aduh, ke mana lagi Velicia ini, pakai kabur segala. Aku lupa jika dia masih dalam pengobatan," gumam Arsen sambil berkemudi.
Arsen mencoba pulang ke apartemen untuk mencari keberadaan Velicia. Nyatanya Velicia tidak ada di apartemen. Semakin galau Arsen memikirkan Velicia pergi, sampai belum pulang ke apartemen. Arsen takut jika terjadi sesuatu dengan Velicia. Arsen harus berpikir keras mencari Velicia di mana, ia pergi.
Dengan suara deburan ombak yang memecah keheningan. Velicia duduk di tepi pantai di sore itu. Velicia berpikir mungkin gara-gara ia hamil, Daniel sudah tidak mau dengannya. Sampai Velicia ingin menggugurkan kandungannya sudah berumur 8 minggu. Ponsel Velicia terus bergetar di dalam tasnya. Velicia tidak memperdulikannya karena ia tahu, pasti itu Arsen yang telah meneleponnya.
"Jadi benar? Aku memang tidak ada artinya di hidupmu? Sampai aku berulang kali menelepon mu, tetap kamu tak mau menjawabnya."
Terdengar suara Arsen begitu sendu di telinga Velicia. Mungkin karena Velicia telah sedikit mati rasa dengan Arsen. Jadi hubungan mereka menjadi hambar setelah mengetahui Velicia hamil.
"Kenapa kamu bisa tahu, aku di sini?"
"Apa yang tidak ku ketahui tentangmu? Mau mu apa Vel! Aku lelah sebenarnya, jika tidak karena dia di perutmu..." Arsen rasanya ingin menangis sesak sekali rasanya. Mencintai seseorang yang tak pernah menganggapnya ada.
Velicia berdiri lalu menampar pipi Arsen lalu ia berkata. "Akan ku gugurkan kandungan ini, biar kau jauh dariku. Kamu pikir cuma kamu yang lelah dengan semua ini, aku rasanya ingin mati saja!"
Deg...
Suara jantungnya berdegup kencang, karena emosinya terlalu tinggi. Arsen sangat menahan amarahnya. Tiba-tiba Arsen punya ide untuk membawa Velicia pulang, dengan cara menggendongnya. Velicia sempat berontak apa yang dilakukan Arsen. Sampai Arsen memasukkan Velicia ke dalam mobil dengan kasar. Velicia menangis tiada henti. Bukan karena Velicia merasa bersalah tapi ia menangis menyesal telah mengenal Arsen.
****
"Makan malam sudah siap," seru Elsa.
Johan dan Daniel saling menatap, mereka berdua seolah-olah berbicara dengan mata mereka masing-masing. "Dan, buruan makan, itu kan adek kamu, kamu harus kasih contoh yang baik, buat aku untuk menghargai wanita." Johan memainkan matanya.
"Hei, kamu Johan. Kamu itu calon suami Elsa. Kamu duluan saja, rasanya pasti nggak enak. Bisa keracunan nanti aku," balas Daniel sambil menatap Johan lebih lekat.
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤
karya nophie ,keren nih karya kakak pertama ♥️
__ADS_1