
"Nggak mau," ngototnya. Alya tetap memaksa.
"Ya, ampun. Bumil."
"Aku nangis nih," rengek Alya.
"Oke."
Daniel pasrah yang sekarang menjadi budak nafsu Alya yang menggebu-gebu. Alya dengan agresif membungkam mulut suaminya dengan bibirnya. Apapun yang dilakukan oleh Alya, Daniel hanya bisa mengiyakan. Sampai akhirnya mereka lelah bertarung di atas ranjangnya.
*****
"Pagi, Oma," sapa Elsa dengan wajah ayunya jika tersenyum.
"Kamu kenapa, Sayang? Sepertinya bahagia sekali, hari ini kita pulang," serunya sambil memeluk sang nenek.
"Benarkah, Oma sudah tidak sabar, pulang ke rumah."
Tiba-tiba pintu terbuka ternyata laki-laki yang ia cintai telah pulang. "Papa!" teriak Elsa lalu memeluknya.
"Apa kabar, putri kecilku," sapa Riyan.
Ternyata di belakang Riyan ada Johan telah menghantarkannya ke rumah sakit. Elsa acuh saat menatap Johan, ia tidak yakin telah jatuh cinta dengan Johan. Riyan melepaskan pelukannya lalu mendekati sang ibu duduk di atas brankar.
"Mama," panggilnya.
"Bagaimana kabarmu, nak?"
"Baik, Ma. Ayo, kita pulang."
"Mama siap-siap dulu, ya." Oma Sintia di bantu Elsa bersiap di dalam kamar mandi.
"Bagaimana, Jo." Riyan menepuk pundak calon mantunya.
"Apanya, Om?"
"Beberapa hari lagi kamu kan, mau bertunangan dengan Elsa, kok tanya."
"Elsa belum tahu, Om, jika calon suaminya adalah saya."
"Kenapa, Jo?"
"Surprise aja, Om."
"Kamu, itu ada-ada saja. Bagaimana kabar Daniel dengan istrinya? Waktu pernikahannya Om, tidak bisa pulang, karena kerjaan numpuk."
"Baik, Om. Sekarang telah mengandung 5 minggu, jika tidak salah."
"Ya Tuhan, aku jadi Kakek." Riyan tertawa sangat bahagia.
Dari kamar mandi Elsa mendengar gelak tawa Riyan sangat renyah di telinganya. "Papamu, sangat bahagia, jangan sedih ya, El. Apa lagi kamu nolak perjodohan ini," nasihat Oma Sintia.
"Iya, Oma."
"Kalau dia jelek, tua lagi. Aku bunuh aja," gumamnya pelan.
"Astaga, niatmu jelek sekali Elsa," omel Oma Sintia.
__ADS_1
"Lagian, dirahasiakan gitu, padahal aku belum tau orangnya, Oma," protes Elsa.
"Nanti malam dandan yang cantik, calon suamimu akan datang dengan orang tuanya."
"Mau ngapain, Oma?"
"Makan malam bersama, menyambut kedatangan Papamu."
"Oh," jawab Elsa, tiba-tiba Elsa teringat Daniel dan Velicia. "Oma, Papa sudah tahu belum, tentang Kakak nikah lagi sama Velicia wanita murahan itu," sungutnya.
"Belum, jangan cerita dulu, nanti pestanya nggak jadi malah Kakakmu dicoret dari daftar warisan."
"Baguslah, itu jika dicoret dari daftar warisan, jadi semua bisa jadi milikku," ucap Elsa penuh keyakinan.
"Kamu!" Oma Sintia memukul bahu Elsa.
"Sakit, Oma. Orang bercanda kok, nggak serius," keluhnya.
"Ayo, keluar."
Akhirnya Oma Sintia keluar dari kamar mandi di susul oleh Elsa. Riyan dan Johan duduk di sofa masih asik dengan cerita mereka yang lama tidak bertemu. Elsa mendekati sang papa dengan bersandar di bahunya.
"Pa," panggil Elsa.
"Apa, Sayang."
"Memangnya, Papa sudah ikhlas, melihatku menikah?" Alya mencoba memancing sang papa.
Ini anak, sudah diperingati masih saja, tidak mengerti, gerutu Oma Sintia di dalam hatinya.
"Memangnya kamu, menolaknya?"
"Belum tahu, Pa. Aku belum mengenal calon suamiku dengan baik."
Untung jawabnya seperti itu, jika langsung menolak aku bisa terjun dari gedung rumah sakit sekarang juga, batin Johan.
"Baiklah, Papa dan Oma pergi dulu ya, El. Kamu pulang dengan Johan, sambil bawa barang-barang Oma," titah Riyan.
"Iya, Pa."
Riyan dan Oma Sintia pergi dari kamar inap tinggallah Elsa dan Johan hanya berdua. Elsa mengambil tas Oma Sintia berisi pakaian. Tiba-tiba Johan menghadang jalannya Elsa.
"Minggir," titah Elsa.
Johan melangkah maju ke depan dan Elsa melakukan langkah mundur. Sampai Elsa menabrak dinding, "Don't touch me (jangan sentuh saya)," gertak Elsa.
"Aku tidak peduli." Johan menaikkan dagu Elsa dengan jari telunjuknya.
"Kak, please," lirihnya.
"Sebentar lagi kamu, akan jadi milik orang lain, Elsa. Bolehkah, aku memelukmu sekali saja," pinta Johan.
Elsa hanya mengiyakan dengan hanya mengangguk. Elsa peluk lalu mencium bibir Johan sekilas. Elsa tersenyum dihadapan Johan sangat manis membuat Johan mabuk kepayang. Hati Elsa tidak baik-baik saja, rasanya ia ingin menangis menjerit sekuat mungkin. Untuk menahan amarahnya sulit sekali baginya.
"Terima kasih, Kak Johan sudah melindungi aku selama ini," ucapnya sendu.
"Aku cinta kamu, El." Johan mencium kening Elsa.
__ADS_1
Deg ...
Hancur berkeping-keping hati Elsa mendengar pengakuan Johan. Air mata Elsa menetes di pipinya. Johan menyekanya lalu memeluknya. Rasanya Johan ingin tertawa telah mengerjai Elsa. Mungkin jika Elsa tahu pasti ia akan habis dipukuli olehnya. Sebenarnya yang Johan butuhkan adalah pengakuan Elsa, yang telah mencintainya juga.
"Aku ... juga," ucap Elsa terhenti, ia terlalu gengsi untuk mengungkapkan isi hatinya.
"Apa, Els?" Johan menanti-nanti jawaban Elsa.
"Aku malu," seloroh sambil menutup wajahnya.
"Apa kamu mencintaiku juga?" Johan mencoba memastikannya.
Elsa menganggukkan kepalanya, Johan melihat Elsa mengakui isi hatinya itu. Johan merasa menang, ternyata cintanya terbalas. Pikir Johan jika Elsa tidak mencintainya, ia tidak akan melanjutkan perjodohan ini.
"Maaf, jika kita tidak bisa bersama." Elsa menangkup wajah Johan.
"Aku punya kejutan untukmu, sebelum kamu menikah," janji Johan.
****
"Mbak, aku pengen buat kue buat Oma, tapi aku tidak bisa, Mbak bisa bantu aku ajarin buat kue?"
"Ah, Nona. Pasti Mbak bantu, dong."
"Oma sukanya kue apa ya, Mbak?"
"Kita buat, fudgy brownies saja, Non. Pasti Oma suka."
"Ide Mbak Ani boleh juga."
Alya dan Mbak Ani berkutat dalam dapur untuk membuat kue yang akan diberikan kepada Oma Sintia. Daniel yang mencium bau harum dari ruang tengah, ia bergegas menuju dapur tiba-tiba perutnya merasa lapar. Daniel memeluk Alya dari belakang menaruh tangannya di pinggang, ia tempelkan kepalanya di bahu Alya.
"Aku lapar," bisik Daniel.
"Mas, mau coba? Ini buatan ku loh, pasti enak," ucap Alya penuh keyakinan.
"Sini Mas coba." Tiba-tiba ekspresi Daniel berubah total membuat Alya panik.
"Nggak enak, ya? Udah buang aja Mas, jangan di makan, nanti sakit perut loh."
Daniel tertawa melihat ekspresi Alya, "Mas bercanda, Sayang. Enak banget buat kamu, mah."
"Mas, nih. Aku udah panik tahu, ini akan aku bawa ke rumah Oma, nanti malam."
"Iya maaf, Sayangku."
Mbak Ani merasa senang melihat majikannya harmonis, walaupun kenyataannya rumah tangga Alya dan Daniel masih banyak yang belum terselesaikan.
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤