
"Astaga, lama sekali, Mas. Elsa gantinya," gerutu Alya di luar ruang ganti sedang menunggu bersama Daniel.
"Sebentar, Sayang. Kamu capek, ya?"
"Sedikit, Mas," manjanya.
Daniel langsung menggedor pintu kamar ganti Elsa. Pelayan langsung berlari di kira terjadi sesuatu. Daniel tetap acuh dengan sekitar, ia melanjutkan.
"Els, buruan gantian."
"Pakai yang lain, Kak."
"Ini anak," gerutu Daniel, "Penuh, Elsa," lanjutnya.
Elsa yang berada di dalam kamar ganti, rasanya dag-dig-dug jantungnya terasa mau meledak karena takut dengan Daniel. Matilah aku, gumamnya dalam hati.
"Nggak usah, takut buruan ganti, aku keluar." Johan menenangkan calon istrinya yang takut dengan kakaknya.
"Tapi... ."
"Sudahlah, Daniel aku yang tangani," ucap Johan sambil membenarkan kemejanya yang kusut.
Daniel keluar dari kamar ganti tanpa dosa, Daniel terkejut apa yang terjadi dihadapannya. "Gila, kamu ya. Malah bercumbu di kamar ganti," ucap Daniel sambil memukul kepala Johan.
"Lagian...." Johan mendekati Daniel sambil membisikkan sesuatu. "Adikmu, agresif banget."
"Sialan kamu, Jo!" Daniel memukul kembali kepala Johan lalu tertawa.
"Kalian bisikin apaan si, aku kan pengen tahu, Mas." Alya penasaran.
"Bukan apa-apa, Sayang," jawab Daniel lembut.
Alya hanya mengerucutkan bibirnya. "Hu...," protesnya.
Tiba-tiba Elsa keluar dari kamar ganti dengan memakai gaun pilihannya. Terlihat sangat cantik, Johan sampai tercengang melihatnya. Daniel menepuk pundak Johan untuk menyadarkannya.
"Hei, Jo," panggil Daniel.
"Emb i-iya, Dan. Kenapa?" Mata Johan tetap menatap Elsa dengan begitu takjub.
__ADS_1
"Ya ampun, Jo. Segitunya kamu liat Elsa. Kaya nggak pernah liat perempuan aja," gerutu Daniel.
"Astaga, ini orang seneng banget buat aku emosi." Elsa memukul lengan Daniel.
"Apa si, Els." Daniel acuh.
"Orang adiknya mah, bukan dibelain malah di ejek terus," omel Elsa.
"Idih, ngambek," balas Daniel sambil mencubit kedua pipi Elsa.
Tanpa disadari Alya sudah masuk ke dalam kamar ganti untuk menganti pakaiannya dengan gaun pernikahan. Pintu di buka oleh Alya dengan pelan Daniel menatap sang istri tanpa berkedip. Johan dan Elsa begitu sangat kagum dengan penampilan Alya.
"Cantik," gumam Daniel.
"Luar biasa, bumil," timpal Elsa.
"Di mataku cuma ada Elsa seorang," Johan menimpali padahal di dalam hatinya, ia ikut kagum melihat penampilan Alya.
"Kalian itu kenapa? Jelek ya?" tanya Alya.
"Kamu memang tidak ada tandingannya, Sayang," puji Daniel.
"Iya, Sayang," ucap Daniel penuh penekanan.
****
Akhirnya fitting baju sudah selesai, Mereka berempat berpisah. Daniel dan Johan pergi ke kantor, sedangkan Alya dan Elsa pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Velicia. Daniel sempat menawarkan untuk mengantarkan mereka berdua untuk ke kampus, tapi, Alya menolak dengan alasan Daniel pasti sibuk di kantor.
"Aku antar ya?"
"Nggak usah, Mas."
"Iya, Kakak ke kantor aja sana," timpal Elsa.
"Kamu capek, Sayang." Daniel sedikit memaksa.
"Beneran, Mas. Nggak usah. Mas semalam cerita, mau bertemu klien hari ini," kilah Alya.
"Ya ampun, aku hampir lupa, Sayang. Ya udah, aku pergi dulu ya," pamit Daniel sambil mencium kening Alya.
__ADS_1
Johan masih berdiri di samping Daniel, ia gengsi mau berpamitan dengan calon istrinya. Menurutnya sangat canggung harus mencium kening Elsa. Dari tampang Elsa mulai mengiri kepada Kakak ipar. Dengan terpaksa Johan mencoba peka daripada diamuk oleh Elsa lagi.
"Aku berangkat ya, Els," pamit Johan.
"Udah gitu doang?" tanya Elsa berharap mendapatkan mencium kening dan memeluknya.
"Mau apa lagi?" Johan pura-pura bodoh.
Elsa mendekati Johan dengan mencium pipinya, "Hati-hati di jalan ya."
Johan membalas dengan mencium kening Elsa lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Alya mulai memesan taksi online untuk menuju rumah sakit. Cukup lama mereka berdua mendapatkan taksi online. Elsa sudah kesal menunggu kedatangan taksi online-nya.
"Lama banget sih," gerutu Elsa.
"Sabar, bentar lagi datang," ucap Alya sambil menunjukkan aplikasi di ponselnya.
Tiba-tiba yang diharapkan telah datang si taksi online. Elsa dan Alya buru-buru masuk ke dalam taksi. Alya merasa gugup akan bertemu Velicia di rumah sakit. Entah apa yang dipikirkan Alya sampai membuatnya gugup. Elsa melirik ke arah Alya yang sedang memainkan jarinya.
"Kenapa, Kak?"
"Nggak tahu nih, rasanya gugup aja."
"Nggak usah mikirin yang aneh-aneh, pikirin aja nasib Kakak, rumah tangga Kakak lebih penting daripada Velicia."
"Tapi...."
"Aku berharap Velicia meninggal," ucap Elsa tanpa dosa.
"Astaga, Elsa. Kamu tuh ngomong apa sih?" Suara Alya sedikit meninggi.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
__ADS_1
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤