
"Waktu kamu, koma." Arsen mencoba berdiri dibantu oleh Andini.
"Tidak, ini tidak mungkin!" teriaknya kembali.
Velicia berlari meninggalkan Arsen dan Andini yang masih tetap mematung. Andini tidak peduli melihat kepergian Velicia. Andini lebih mementingkan keadaan Arsen yang butuh perhatian ekstra.
"Mas, sudahlah. Tinggalkanlah Velicia," pinta Andini sambil menuntun Arsen berjalan.
"Aku mencintainya, Din." Arsen berbicara dengan santai. Arsen tidak memperdulikan perasaan Andini, karena memang Arsen tidak tahu jika Andini menyukai Arsen. Mereka berdua berjalan meninggalkan rumah sakit.
***
"Ini tidak mungkin!" teriak Velicia seperti orang gila.
Velicia berjalan di pinggir jalan sambil mencari taksi. Velicia ingin menghampiri Daniel untuk meminta kejelasan hubungan mereka berdua. Sampai di kediaman Oma Sintia, Velicia terkejut dengan banyak mobil terparkir di luar rumah.
"Ada apa ini?" Velicia tampak kebingungan.
Velicia turun dari mobil, lalu berjalan mendekati rumah Oma Sintia. Velicia mencoba bertanya dengan tamu undangan. "Maaf, kenapa ramai sekali?" tanyanya.
"Ini ada pesta besar-besaran, Nona," terang Tamu undangan.
"Boleh saya tahu? Acara apa ya?"
"Ini resepsi pernikahan Tuan Daniel dan pesta pertunangan Nona Elsa." Orang tersebut pun pergi setelah memberi tahu Velicia.
"Apa?" Velicia syok.
__ADS_1
Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar, tepat di belakang Velicia. "Woi, cari mati ya!" Orang itu berteriak di dalam mobilnya.
"M-maaf," ucap Velicia dengan gugup. Tanpa sadar Velicia berjalan ke tengah jalan, membuat Velicia tak mampu berpikir jernih.
Akhirnya Velicia ingin memasuki acara pesta, tetapi belum sempat masuk ke dalam. Velicia sudah dihalangi oleh security, karena tidak membawa undangan pesta. "Jangan pegang-pegang saya!" teriak Velicia.
"Maaf, Nona. Anda tidak membawa undangan tidak diperbolehkan masuk ke dalam," tegas Security.
"Apa, katamu! Bilang sekarang, kepada Tuhanmu, jika istri keduanya telah datang, untuk mencari keberadaannya," titah Velicia, dengan keras kepalanya.
Security kebingungan dengan tingkah Velicia yang selalu memberontak. Karena itu, security merasa terancam ia masuk ke dalam mencoba berbicara dengan Daniel, tetapi dihalangi oleh Oma Sintia. Oma Sintia curiga pasti ada masalah, sampai security masuk ke dalam pesta.
"Ada apa?" tanya Oma Sintia.
"Itu, Nyonya ...." Security sulit sekali ingin menceritakan kejadian sebenarnya.
"Di luar ada yang mengaku, istri kedua Tuan Daniel."
"Apa katamu!" teriak Riyan sedikit geram.
"Iya, Tuan. Itu memang benar," jawab Security dengan hati-hati.
"Usir dia," titah Oma Sintia.
"Tidak mau pergi, Nyonya. Dia mengancam akan membuat keributan."
"Sudah, Mama di sini saja, biarkan Riyan yang mengurusnya." Riyan pergi menghampiri Velicia.
__ADS_1
Oma Sinta berjalan mendekati cucu kesayangannya, siapa lagi jika bukan Daniel Danuarta. "Oma ada apa?" tanya Daniel penasaran.
Oma Sintia membisikkan sesuatu di telinga Daniel. "Apa!" teriak Daniel spontanitas.
"Ada apa Mas?" tanya Alya penasaran.
"Bukan apa-apa, Sayang," sahut Oma Sintia dengan cepat.
"Benar, Al. Bukan apa-apa," ucap Daniel agar Alya tidak curiga.
Tiba-tiba ada salah satu tamu undangan datang mendekati Daniel dan Alya untuk memberi selamat. "Dan, kukira kau akan menikah dengan Velicia," ucapnya.
Bersambung ...
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤
yuhuu ... mampir punya Mama Ingflora ♥️
__ADS_1