Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Dokter Angel


__ADS_3

"Saya takut, Bos tak percaya denganku," kilahnya.


"Astaga, Johan!" Daniel memukul kepala Johan.


Johan terkejut dengan pukulan Daniel, langsung mengerem mobilnya secara mendadak. "Sakit, Bos!" ucap Johan sedikit ngegas.


"Kamu, tahu sampai sekarang aku masih mencari alasan untuk meninggalkannya."


Untung calon Kakak ipar, coba bukan aku turunin di jalan mampus, biar tahu rasa, umpatnya dalam hati.


"Hei, cepat jalankan mobilnya," titah Daniel.


Johan menjalankan kembali mobilnya, lalu menuju perusahaan. Johan mencoba diam akan lebih baik dari pada ia akan mendapatkan pukulan dari Dari Daniel. Daniel hanya bisa mengumpat di dalam mobil.


"Bos, sampai."


"Kenapa, diam saja! Bukakan pintunya."


Johan dengan senang hati turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Daniel. Walaupun hatinya sedikit terluka, dengan tingkah Daniel yang semena-mena. Tetapi, Johan sudah paham dengan sikap sahabatnya sekaligus calon Kakak ipar. Jika mood-nya sedang tidak baik-baik saja memang begitu sikapnya. Arogan dan pemarah entah apa lagi, tapi Johan tetap setia dengan Daniel.


"Jo," panggil Daniel.


"Iya, Dan kenapa lagi?"


Daniel dan Johan akan masuk lobi tapi tangan Johan sudah memberi kode. Kepada semua karyawan lewat di depan Daniel harus memberi salam. Semua karyawan paham dengan sikap bosnya yang pemarah.


"Jadi, apa?" tanya Johan lagi setelah masuk lift.


"Nggak jadi," jawabnya.


Johan tahu, jika Daniel akan memarahi karyawannya yang tidak memberi salam kepadanya. Saat pintu lift terbuka sang sekertaris Nina sudah menyambutnya. Johan memberikan kode kepada Nina dengan menaruh jari telunjuknya di bibir. Jika Nina tidak boleh banyak bicara dan menyuruhnya pergi. Johan akan kasian melihat Nina juga terkena imbasnya. Begitu menyeramkan Daniel Danuarta di mata semua orang. Hanya Alya Alcie yang mampu mengendalikan Daniel setelah Oma Sintia.


"Jo, ini semua harus ditandatangani? Sepertinya aku baru tidak berangkat beberapa hari saja, sudah numpuk," gerutu Daniel.


Banyak omong banget si, Dan. Tinggal dikerjain pakai ngomel dulu kaya emak-emak, gerutu Johan dalam hati.


"Iya, Bos Dan," jawabnya penuh penekanan.


"Bantu, aku periksa ini," titahnya.


"Sudah di diperiksa oleh Nina, Dan." Johan mulai kesal.


Tiba-tiba ponsel Daniel berbunyi saat di lihat id caller-nya sang istri telah meneleponnya. Dengan cepat Daniel mengangkat telepon dari Alya. Johan sedikit heran melihat Daniel sedikit panik saat mengangkat telepon membuatnya Johan penasaran.


"Halo, Sayang."


"Video call sekarang," titahnya.

__ADS_1


"Oke." Daniel langsung mengubah panggilannya menjadi video call.


"Tuh, aku tu di kantor, Sayang."


"Awas kamu ya, sampai menemui Velicia, aku jamin kamu akan mendapatkan hukuman, dariku," ancam Alya, lalu mematikan panggilannya.


Johan yang berada di hadapan Daniel hanya berpura-pura tidak mendengar. Jika ia memberi tanggapan membuat Daniel marah pasti Johan sendiri yang akan mendapatkan masalah. Johan sibuk membuka berkas tanpa melihat Daniel di dalam hatinya, Johan sedang menertawakan Daniel.


*****


"Pagi Oma, Papa," sapa Elsa dengan wajahnya berseri-seri.


"Agaknya ada yang lagi bahagia ni, Ma." Riyan mencoba menggoda anak gadisnya.


"Iya, nih. Dari tadi senyum-senyum sendiri, udah kaya orang gila." Oma Sintia ikut menimpali.


"Ih, Oma sama Papa. Jahat banget, sama aku, nggak bisa lihat orang bahagia," omel Elsa.


"Ah, siyaap," jawab Riyan.


"Papa, sok asik ih."


"Memang Papa asik kali, cuma kamu aja nggak sadar, Els."


"Udah, ah. Aku mau ke kampus," pamit Elsa sambil mencium pipi Oma Sintia dan Papanya.


Elsa berjalan ke arah mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah. "Mang Ujang, mah baik banget. Mobil udah disiapin."


"Mang, keluar," pinta Elsa.


"Maaf, Non. Pesan dari calon suami, Non."


"Kak Johan," ucap Elsa kesal.


Elsa langsung mengambil ponselnya di dalam tasnya. Elsa sambil modar mandir menelepon Johan tapi tidak diangkat. Akhirnya Elsa menyerah mau tidak mau mengikuti Mang Ujang. Elsa duduk di kursi penumpang di bagian belakang.


"Jalan, Mang."


Sampai seketika Elsa berhenti di lampu merah, mau tidak mau harus berhenti mobilnya. Tiba-tiba ada motor sport yang berhenti di samping jendelanya dengan mengetuk jendela kaca mobil Elsa. Elsa pun membukanya ia juga penasaran. Jendela kaca sudah diturunkan oleh Elsa. Andreas pun membuka kaca helm-nya, lalu ia berkata.


"Hai, cintaku," sapa Andreas.


"Jalan, Mang!" Elsa langsung menutup jendelanya lagi.


"Tau gitu, tadi nggak aku bukain, kalo tahu Andreas." Elsa bermonolog.


Mang Ujang hanya bisa menatap Elsa dari kaca tengah mobil yang sedang berbicara sendiri. "Kenapa, Mang?" tanya Elsa.

__ADS_1


"Nggak pa-pa, Non." Mang Ujang jengah sendiri.


****


"Kenapa kita ke sini?" Velicia terkejut saat di bawa ke rumah sakit.


"Yaudah kita turun dulu, aku sudah buat janji dengan dokter Angel, Vel. Nggak mungkin dibatalkan. Cepat turun," titahnya.


Dengan sangat terpaksa Velicia turun dari mobil. Velicia kira mereka berdua akan bertemu dokter kandungan, tapi kenyataannya bukan. Mereka berdua akan bertemu dengan dokter psikiater. Velicia akan melakukan terapi untuk mengobati mentalnya, terlalu terobsesi dengan Daniel. Depresi yang di timbulkan oleh Velicia terkadang membuat Arsen takut tiba-tiba jika ingin bunuh diri. Terakhir kali Velicia mencoba membawa mobil dengan kencang hampir di tangkap polisi.


"Ayo, Vel. Kita masuk." Arsen menggandeng tangan Velicia.


"Bukannya berapa hari lalu kita sudah, periksa kandungan," tolak Velicia.


"Kita tidak sedang memeriksakan kandungan."


"Lalu, apa?"


"Ikut saja."


Akhirnya mereka berdua telah sampai di ruangan dokter Angel. Velicia sempat menolak untuk masuk ke ruangannya. Arsen tetap memaksa Velicia masuk ke dalam.


"Aku tidak gila, Arsen!" tolak Velicia.


"Yang bilang kamu gila siapa, Vel?"


"Kenapa kita di sini, kita pulang saja."


"Bukannya kamu butuh teman curhat? Ayo, masuk," pinta Arsen.


"Tidak, mau!"


"Aku akan menemanimu, Vel." Arsen mencoba meyakinkan.


Akhirnya Velicia mengalah dan masuk ke dalam ruangan dokter Angel. Untuk melakukan pengobatan lebih lanjut. Obsesi yang dialami Velicia adalah Obsessive love disorder (OLD) yaitu suatu kondisi di mana seseorang menjadi terobsesi terhadap orang yang sangat dicintainya. Hal ini bisa terjadi pada orang yang sudah menjalin hubungan pernikahan maupun pacaran.


"Silakan duduk, Nona." Dokter Angel mempersilahkan Velicia dan Arsen.


mereka berdua pun duduk di hadapan Dokter angel yang sudah siap mendengarkan cerita Velicia dan Arsen.


Bersambung.....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤


__ADS_2